Kamis,15 desember 2022

Kamis, 15 desember 2022

Pagi ini Fanti sangat kesal dengan Kenli, pasalnya Kenli di ajak kerja hari ini namun dia hanya berleha-leha di rumah.

Wajah Fanti cemberut sejak pagi tadi, ketika Kenli pergi mengantar Kesyi dan Dafa ke sekolah dia sangat lama kembali ke rumah. Dia kembali tepat pukul 08.30.

"Kenapa lama?" Tanya Fanti.

"Tadi bantuin Beni! Bikin becahnya!" Kawab Kenli.

Rici agak rewel hari ini karena mangalami demam Sejak semalam. Pagi ini demamnya sudah turun tapi masih agak rewel, munkin karena belum pulih seutuhnya. Fanti memberi kembali obat penurun panas pada Rici dan menyuapinya makan.

"Rici, sini makan dulu sayang!" Ucap Fanti.

Kenli yang sedang duduk di sofa tidak mendapat kesempatan untuk bersama Rici. Fanti tak membiarkan Rici pada Kenli walau sebentar saja.

Bukan tidak sengaja Fanti melakukan itu. Fanti tak memberi kesempatan pada Kenli, agar Kenli pergi untuk bekerja.

Tak berapa lama kemudian Kenli telah bersiap untuk pergi bekerja. Dia tahu jika Fanti sekarang sedang tidak mood dengannya.

"Rici, papa pergi dulu ya!" Ucap Kenli.

Fanti hanya diam, tak menjawab ucapan kenli. Fanti tahu kalau Kenli pergi dengan perasaan terpaksa. Terserahlah, yang penting dia pergi bekerja. Pikir Fanti.

Kenli telah pergi tak lama kemudian Dafa pulang dari sekolah. Sepatu sampai sejengkal celana berwarnah merah yang Dafa pakai basah.

"Assalamualaikum," Dafa memberi salam saat masuk rumah.

"Waalaikumsalam." Jawab Fanti. "Sudah pulang! Kenapa basah?" Tanya Fanti.

"Iya. Tadi 'kan Ma! Aku jalan sambil makan kue sambil jalan, nggak liat jalan. Ternyata di depan ada lubang yang berair. Aku masuk ke situ, gara-gara nggak liat jalan. Untungnya aku nggak jatuh keduduk." Jelas Dafa.

"Ya, dudah. Taruh sepatunya di belakang kulkas." Pinta Fanti.

Dafa membuka pakaian sekolahnya dan meletakan di keranjang baju kotor, kemudian sepatu dan meletakan di belakang kulkas.

Rici sedang tidur saat ini, jadi Fanti menggunakan kesempatan untuk memulai pekerjaannya.

Belum juga pekerjaan selesai Rici sudah terbangun dan merengek pada Fanti. Terpaksa Fanti harus mengurus Rici dulu karena Rici yang juga sedang kurang sehat.

"Assalamualaikum!" Terdengar suara Kesyi memberi salam. Dia telah pulang dari sekolah.

"Waalaikumsalam!" Jawab Fanti dan Dafa.

"Kakak, salam dulu." Ucap Dafa karena Kesyi langsung masuk menuju kamarnya.

"Iya. Aku mau ganti baju dulu." Ucap Kesyi.

"Sudahlah Daf. Dia sudah lupa cara menghormati orangtua. Mentang6mentang sudah besar jadi berbuat sesukanya." Ujar Fanti menyindir Kesyi.

Kesyi hanya diam tak mengubris perkataan Fanti. Fia takut ketika Fanti sudah berbicara seperti itu, dengan nada yang lain. Kesyi tidak akan berani membantah Fanti.

"Kesyi, teruskan pekerjaan rumah. Mama mau menidurkan Rici lagi. Dan kau ingat Kesyi, hormatilah orang yang lebih tua darimu. Bukan hanya orangtuamu saja yang harus kau hormati, tapi orang lain yang lebih tua darimu semuanya harus kau hormati." Ujar Fanti.

Kesyi hanya mendengarkan, tanpa membantah sedikit pun. Kemudian dia pergi menyelesaikan pekerjaan Fanti yang tertunda setelah selesai Fanti memberikan cerama padanya.

Setelah Fanti menidurkan lagi Rici, dia mulai memasak. Mengambil ikan dari dalam kulkas beserta juga bumbu-bumbu yang akan dipakainya.

Selesai Fanti memasak Kesyi segera mengambil makanan untuknya dan Rici. Dafa, juga mengambil makanan untuknya sendiri. Dan mereka makan bersama di depan tv.

******

Pukul 03.15 Kenli telah pulang dari bekerja. Fanti terbangun dari tidurnya saat Kenli masuk.

Fanti melihat Kenli mengeluarkan air es dari dalam kulkas. Kenli mengambil piring lalu menyendok nasi untuknya makan. Kenli makan di teras depan sambil melihat anak-anak yang bermain di halaman rumah Fanti.

Rici yang melihat Kenli, menangis untuk menemuinya dan Kesyi segera membawah pulang Rici kr rumah.

"Papa! Papa." Pekik Rici pada Kesyi, saat Kesyi sedang bermain bersama temannya.

"Ayo. Kita pergi papa." Ajak Kesyi pada Rici.

Kesyi mengendong Rici lalu mengantarnya pada Kenli yang sedang makan.

"Fia mau sama papa, katanya!" Jelas Kesyi setelah pulang.

"Sini! Mau makan?" Tanya Kenli pada Rici.

"Itan!" Ucap Rici meminta ikan pada Kenli.

"Ini!" Kenli memberikan ikan pada Rici dan dia mengambilnya dengan ceria.

"Mama ada di dalam. Ayo!" Pinta Kenli, agar Rici pergi pada Fanti.

"Ma! Ma!" Panggil Rici dan langsung berbaring di samping Fanti.

"Hm, mau apa Rici!" Tanya Fanti sambil memluk anaknya dari samping.

"Deda! Deda!" Entah apa artinya Fanti hanya mengiyakan saja.

Badan Rici menghangat lagi, sepertinya Rici belum sehat betul, pikir Fanti.

"Kes, ambil obat Rici." Pinta Fanti.

Kesyi segera mengambil toples yang berisikan obat-obat yang di beli dari apotik. Keluarga Fanti sangat jarang pergi ke dokter, kecuali keadaan yang sudah mendadak. Fanti akan mencari tahu penyebab penyakit di aplikasi google serta mencari obat yang pas dwngan penyakit dan gejalanya. Dan itu ternyata sangat manjur, dari gejala-gejala penyakit Fanti akan tahu penyakit apa yang di disebabkan dari gejalanya, kemudian akan mencari obat yang pas dengan sakit serta gejalanya. Karena itu sudah semenjak berumah tangga Fanti sangat jarang ke dokter apalagi ke rumah sakit. Fia akan mengandalkan dokter ketika dia tidak menemukan apa yang dia cari untuk mengobati sakit mereka. Fanti juga suka memakai obat-obat ramuan dari pil atau tablet yang di belinya di apotik atau yang dia dapat dari dokter. Fanti akan bertanya pada sepu-sepu yang mengetahui obat- obat ramuan lalu akan meraciknya sendiri. Menurut Fanti itu adalah obat-obat yang alami dan tidak memiliki efek samping.

Setelah memberi obat pada Rici, Fanti bergegas untuk menyelesaikan pekerjannya.

Setelah selesai bekerja, Fanti kembali untuk menemani Rici. Bermain dan menghiburnya, Fanti sangat memperhatikan saat anak-anaknya sakit, walaupun sebagian orang berpikir kalau Fanti berlebihan dan keras anak-anaknya. Tapi sebenarnya Fanti hanya tegas saja, sebelum memarahi anak-anaknya dia akan melihat tempat dan keadaan agar anak-anaknya tidak malu, dia tidak akan marah pada saat berada di jalan atau sedang ada tamu di rumah, walaupun hanya tetangga-tetangga sekitar yang mampir di rumahnya. Fanti juga akan tegas saat anak-anak berbuat kesalahan, dan tidak akan memberikan toleransi saat kesalahan mereka itu sudah fatal.

Pada waktu menjelang malam, Kenli sudah sibuk mencari makanan. Hanya ada nasi di penanak tidak ada lauk atau apapun untuk teman makan nasi, Kenli berpikir untuk beli telur saja.

"Apa kau mau makan telur?" Tanya Kenli.

"Tidak. Masih ada ikan satu ekor lagi di kulkas!" Ujar Fanti.

"Ada ikan?" Tanya Kenli memastikan.

"Iya. Tadi aku hanya buat seekor saja terus di campur sayur!" Jelas Fanti.

"Aku pikir sudah habis!" Ucap Kenli seraya berjalan kearah kulkas, membenarkan apa yang di katakan Fanti.

"Ada. Mau bikin dari tadi! Tapi cabenya sudah habis." Ucap Fanti yang melihat Kenli mengeluarkan ikan dari dalam kulkas.

Kenli memasak ikan itu seadanya setelah itu dia makan.

Fanti tak ikut makan karena sudah diserang kantuk. Kesyi dan Dafa pun sudah tertidur lebih dulu. Kenli menyusul mereka tidur setelah makan, dan akhirnya seluruh keluarga Tama tertidur.

.

.

.

.

By... By....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!