Sabtu, 10 desember 2022

Sabtu, 10 desember 2022

Pagi ini Kenli sudah pergi untuk bekerja. Sudah tiga hari kenli tidak di panggil untuk kerja sehingga keuangan keluarganya sudah tipis.

Fanti tidak tidur sejak dia bangun pukul 02.00 dini hari hingga pagi ha. Fanti menonton siaran sepak bola jagoannya, yaitu Belanda.

Walaupun Belanda kalah dalam pertadingannya melawan Argentina, klub sepak bola yang terkenal tapi Fanti tidak sekecewa Kenli.

Fanti segera membagi tugas pekerjaan rumah dengan kesyi.

Kesyi yang sekarang berusia 13 tahun, Fanti sudah mulai mengajarkannya untuk bekerja di rumah dengan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Kesyi pun selalu mengerjakan pekerjaannya, walau sering kali harus sedikit memaksa.

Saat ini kesyi sedang menyapu halaman, pekerjaan yang di bagi Fanti untuk Kesyi adalah menyapu halaman dan mencuci piring. Sedangkan Fanti sendiri mencuci baju mereka semua.

Dafa pergi bermain bermain dengan teman-teman sebayanya. Sedangkan Rici sendiri sibuk dengan permainannya sendiri.

"Kes, tolong lihat Rici di halaman belakang!" Minta Fanti pada anak sulungnya.

"Em. Ya, Ma. Rici sedang main." ujar Kesyi.

"Iya, lihat-lahat saja, yang penting tidak berbahaya." Fanti Sedang mengisi air di dalam mesin cuci.

Dafa baru saja bangun dari tidurnya. Sedangkan Fanti sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu pakaiannya di mesin cuci berhenti berputar.

"Daf, beli 'kan rokok mama dulu!" Pinta Fanti.

"Iya. Sebentar." Dafa bangkit dari tidurnya dan segera berjalan kearah belakang.

Setelah kembali Dafa segera menyambar Uang di sofa untuk membeli rokok.

Tak lama kemudian Dafa kembali dengan 5 batang rokok di tangannya.

"Ini!" Dafa memberikan rokok yang dibelinya kepada Fanti.

******

Fanti meneruskan pekerjaannya, membasuh baju yang telah dicuci. Mesin cuci yang di gunakan Fanti adalah mesin cuci manual, dan tempat pengeringnya pula sudah rusak. Jadi Fanti harus membasuh bajunya sendiri memakai tangan.

Setelah selesai membasuh bajunya, Fanti menggantung pakaiannya ditali jemuran belakang rumah.

Kesyi sudah selesai menyapu halaman dan sekarang dia bersama Rici bermain sambil menonton tv bersama Dafa juga.

Saat sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Dafa menemui Fanti untuk meminta ijin pergi bersama temannya.

"Ma," Panggil Dafa.

"Apa?" Tanya Fanti singkat dengan terus menggantung pakaian yang masih basah.

"Ma, aku mau pergi sama mereka ya?" Ucap Dafa meminta ijin.

"Kemana?" Tanya Fanti penasaran.

Ke tempat kerjanya opa Agi." Jawab Dafa.

"Tidak bisa." Ucap Fanti tegas.

"Ya Ma. Boleh ya?" Bujuk Dafa.

"Tidak!!" Bentak Fanti. "Disana itu banyak setannya." Jelas Fanti lagi.

"Pergilah jika itu maumu! Jangan tanya lagi." Kesal Fanti tidak peduli.

"Enggak jadi." Jawab Dafa lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Selesai menggantung pakaian, Fanti kembali kembali mengisi pakaian sisa yang belum di cucinya.

"Key, masih ada sisa nasi 'kah?" Tanya Fanti.

"Habis, Ma! Suruh Dafa Minta nasi pada uak saja ya?" Usul Keysi.

"Ya, terserah kamu." Jawab Fanti.

"Dafa." Panggil Kesyi.

"Ya." Sahut Dafa.

"Pergi minta nasi sama uak!" Pinta Kesyi pada Dafa yang baru datang.

"Haa, kamu aja yang pergi!" Jawab Dafa tidak terima.

"Hei, itu buat mama." Jelas Kesyi ketus.

"Haa, baiklah." Dafa pun mengambil piring di dapur dan pergi meminta sepiring nasi pada Ranti karena nasi di rumahnya belum masak sedangkan Fanti sudah sangat lapar.

******

Siang ini Pri mampir di rumah Fanti Yogi. Pri adalah kakak ketiga Fanti. Pri sedang membawah putra ketiganya jalan-jalan.

Yogi merasa sunyi di rumah karena tidak ada teman untuk bermain. Yogi adalah anak bungsu dari Pri, berusia hampir 3 tahun.

"Hai..," Sapa Pri pada Fanti yang duduk di meja.

"Kemana?" Tanya Fanti.

"Lagi ngajak Yogi jalan-jalan. Di rumah nangis terus, nggak ada temannya. Makannya ke mari ajak dia jalan-jalan padahal pekerjaan di rumah masih banyak." Jelas Pri.

"Lalu Sarla?" Tanya Fanti.

Pri tidak menjawab pertanyaan Fanti yang satu ini. Sarla adalah anak kedua Pri, baru berusia hampir 12 tahun. Biasanya Sarla yang membawah Yogi jalan-jalan.

"Kalah ya Brasil semalam!" Ucap Pri tiba-tiba.

"Iya. Kasian udah pulang." Jawab Fanti.

"Benderanya udah di turunin?" Tanya pri memastikan setelah melihat bendera di pohon sudah tidak ada.

" Iya, tadi pagi. Sama Kenli." Jawab Fanti.

"Punya Canda juga udah di turunin." Sambung Pri.

"Iya, kasian! Canda di ledekin Pandi, hampir nangis." Ungkap Fanti.

"Iya. Semalam juga pas nurunin itu bendera, Si Pandi vidioin!" Sambung Pri.

"Ya sama juga, Belandaku juga udah pulang kampung." Lanjut Fanti.

"Iya, tinggal tunggu entar malam. Inggris sama Prancis. Kalau Inggris kalah, di balas ledekin itu sama Canda. Hahaha..." Ujar Pri lalu tertawa.

"Iya, itu pasti. Habislah Pandi di ledekin Canda, pasti dia balas dendam." Sambung Fanti lagi.

Pandi adalah anak dari Ranti, yaitu keponakan Pri dan Fanti. Dan Canda adalah istrinya yang juga menantu dari Ranti.

Karena mempunyai klub jagoan yang berbeda, Canda dan Fandi suka saling meledek. Tapi hati Canda sangat sensitif, pas diledek Pandi suaminya sendiri Canda langsung merajuk dengan mata berkaca-kaca.

"Yogi, pulang yuk." Ajak Pri pada anaknya, tapi Yogi lagi asyik-asyiknya bermain bersama Dafa.

"Kenapa nggak tinggal sama Sarla saja!" Saran Fanti.

"Ah, nggak. Yogi nakal, biar ku ajak pulang saja." Jawab Pri. "Yogi ayo. Kita beli snak di qarung situ, trus pulang ya!" Bujuk Pri pada anaknya.

"Iya, ayo beli nek!" Jawab Yogi dengan suara cadel khas anak-anak.

Akhirnya Pri dan Yogi pamit pulang, karena masih banyak pekerjaan Pri di rumah yang belum selesai.

******

Sore harinya Kenli sudah pulang dari bekerja.

"Sudah pulang?" Sambut Fanti dengan pertanyaan.

"Iya, lapar." Jawab Kenli lalu masuk ke dalam rumah.

"Nggak ada ikan ini! Cuma nasi yang sudah masak." Jelas Fanti.

"Ya, sudah. Ada uang? Buat beli ikan masak." Tanya Kenli.

"Ada. Kamu mau balik beli ikan?"

"Iya." Jawab Kenli singkat lalu mengambil kembali kunci motor.

"Tadikan aku bilang, bawah saja uangnya. Supaya pas kamu pulang tinggal singgah beli." Fanti mengeluarkan uang dari kantong bajunya dan menyerahkan pada Kenli.

******

Selesai makan Kenli berbaring di sofa karena lelah habis bekerja, ditambah semalam kurang tidur karena menonton tv. Akhirnya Kenli pun terlelap di sofa.

"Aku mau pergi, pertemuan mingguan ibu-ibu, anggota Pkk." Ujar Fanti pada suaminya yang masih belum tertidur.

"Di mana?" Tanya Kenli masih dalam keadaan berbaring.

"Ditetangga sebelah sana." Jawab Fanti sambil menunjuk rumah yang akan di adakan pertemuan.

"Iya. Pergilah." Jawab Kenli memberi ijin.

Fanti pun siap-siap untuk pergi ke pertemuannya, sedangkan Kenli sudah terlelap di kursi sofa ruang tamu.

.

.

.

.

By...by...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!