Bab.3 kejar aku, kalau bisa

21 pas

Masih di perusahaan Ditama Group

"Kalau begitu, bisakah kita berteman?" Lanjut Adnan lagi.

"Haa. Jangan bercanda Tuan. Lagi pula, saya berteman punya tim, dan harus dengan persujuan mereka juga." Jelas Reina.

"Aku tidak bercanda!" Kesal Adnan. Entah apa yang terjadi, dia tak menerima jika Reina menolaknya walau hanya untuk berteman.

Reina menundukan kepalanya, "maaf!" Reina menjadi bingung dengan sikap bosnya itu. Kenapa juga harus berteman dengannya. Orang-orang akan berpikir macam-macam padanya, jika seorang bos di perusahaan sebesar itu berteman dengannya yang hanya staf karyawan biasa.

"Duduklah. Lalu apa alasannya?" Pinta Adnan, sambil menunjuk kursi di depannya.

Dengan perlahan dan juga hati-hati, Reina duduk ditempat yang Adnan tunjuk padanya. Reina berpikir, apa jawaban yang pas dengan pertanyaan Adnan. Dia mulai bosan di sidang oleh Adnan, yang permasalannya apa dan arah tujuannya ke mana, pikirnya.

"Berapa usia Tuan sekarang?" Tanya Reina tiba-tiba.

"Apa maksudmu? Apa kau pikir aku sudah tua dan tidak pantas berteman dengan kalian." Ketus Adnan.

Reina mulai bosan, "bukan begitu Tuan! Tapi itu penting dalam tim kami." Jelasnya.

"Baiklah. Aku 27 tahun." Jawab Adnan sambil bersandar di kursinya.

"Nah, itu masalahnya!" Ucap Reina dwngan sedikit keras. "Opss, maaf Tuan. Reflek." Belah Reina, yang melihat Adnan telah melotot kepadanya.

"Dulunya kami bersahabat hanya 3 wanita saja, sebelum Tuan Viko bergabung." Ujar Reina, dan Adnan mendengarkan dengan seksama. 'Sekarang kenapa kaya aku yang jadi bosnya! Kenapa dia hanya diam saja.' Batin Reina😁 "Tuan kami sudah sepakat, kalau kami bersahabat dengan usia kami yang sama. Dan sekarang usia kami semua 21 pas, termasuk Tuan Viko. Kalau Tuan 'kan sekarang sudah 21+." Jelas Reina panjang lebar.

Adnan memicingkan matanya. "Kenapa, harus seperti itu?"

Reina bingung, sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Bagaimana ya. Intinya seperti itu, saya jadi bingung."

"Apa kau mengerti arti 21+!" Tanya Adnan tiba-tiba.

"Haa!!! Bu-bukan yang seperti itu Tu-tuan." Jawab Reina terbata saat Adnan berdiri dan mulai berjalan kearahnya.

"Siapa namamu?" Adnan duduk di meja samping Reina duduk sambil mencondongkan kepalanya kearah Reina.

"Rei-reina Tuan."

Adnan menegakan badannya, "hmm, wangi!" Ucap Adnan, sambil menyembunyikan senyumnya.

"Tuan, apakah sudah selesai?" Tanya Reina dengan hati-hati. Reina mulai merasa tak nyaman.

"Belum!" Tegas Adnan. "Kau telah membuat kesalahan, jadi kau harus menerima hukuman." Ujar Adnan.

"Tuan. Tolong jangan pecat saya Tuan. Saya masih ingin bekerja di sini Tuan." Minta Reina, dengan menyatukan kedua telapak tangannya.

"Baiklah! Aku tidak akan memecatmu, tapi..." Adnan menjeda ucapannya.

"Tapi, nanti akan ku beri tahu. Sekarang kau ambil tugas pada tim kerjamu. Dan kerjakan sendiri. Itu satu hukuman untukmu." Adnan kembali ke kursinya.

"Apa hanya itu saja Tuan!"

"Tidak. Kau pintar juga menangkap kata-kataku. Itu hanya satu hukuman untukmu. Karna kau mempunyai 2 kesalahan, jadi kau harus mendapat 2 hukuman." Terang Adnan.

"Apa yang satu lagi Tuan?" Tanya Reina penasaran.

"Akan ku beri tahu nanti setelah hukuman pertama selesai!"

"Baiklah." Reina berdiri dengan malas memikirkan hukumannya, yang harus membuat lembur malam ini. "Saya permisi." Reina membungkukan sedikit badannya lalu berbalik hendak pergi.

"Apa tidak kissbay, untuk teman 21+ ini?" Goda Adnan.

"Haa, tidak Tuan!" Reina segera mempercepat langkahnya menuju luar ruangan. Sedangkan Adnan tersenyum melihat tingkah Reina. "Fiuuhh..." Reina membuang nafasnya, serasa bisa bernafas lega setelah keluar dari ruangan itu. "Dasar, bos 21+." Umpat Raina.

Hari sudah menunjukan pukul 06.30. Reina masih berkutat dengan berkas-berkas di mejanya, padahal badannya sudah serasa pegal sejak siang tadi pekerjaan tambahan karna hukumannya. Sampai, Viko tiba di bilik Reina dan menyapanya.

"Belum selesai Na?" Tanya Viko.

Reina menatap Viko yang berdiri tak jauh darinya. Reina hanya menganggukan kepalanya.

"Sori ya Na. Gara-gara aku, kamu harus menerima pekerjaan sebanyak ini." Ujar Viko.

"Nggak apa-apa kok!" Ucap Reina sembari tersenyum. "Lagian memang akunya aja yang ceroboh. Masuk nggak ngetuk pintu, tumpahin air lagi." Rutuknya pada diri sendiri.

"Udah! Aku bantuin ya!" Tawar Viko.

"Ehh, nggak usah!" Ucap Reina sambil mengambil berkas dari tangan Viko.

"Nggak apa-apa kok Na. Aku cuma mau bantuin kamu aja, biar cepet." Jawab Viko.

"Iya, Aku tau! Tapi nanti kalau ketauan, nanti pekerjaannya nambah loh. Apalagi ini baru hukuman pertama." Aduh Reina.

"Emangnya ada lagi?" Viko mengernyitkan dahinya.

"Ada! Tapi, belum tau apaan tugas selanjutnya." Jawab Reina dengan sumbang.

"Nanti, aku bicara sama kak Adnan, besok." Ujar Viko lagi.

"Nggak usah! Aku bisa kok!" Ucap Reina.

"Ya sudah. Aku tau kamu nggak suka di bantah. Aku nungguin kamu pulang aja ya." Ujar Viko sambil mengambil kursi dan duduk di samping Reina.

Reina tak menjawab, namun membiarkan saja Viko duduk dan melihatnya bekerja. tiga puluh lima menit kemudian, akhirnya pekerjaan Reina selesai. "Huuf..! Akhirnya." Reina merenggangkan tangannya karena merasa sedikit pegal.

"Udah?" Tanya Viko di angguki oleh Reina. "Hebat! Pekerjaan sebanyak ini kamu kerjakan dalam hitungan jam saja." Puji Viko.

"B aja kali. Nggak usah muji-muji, nggak mempan akunya di puji." Ucap Reina tersenyum.

"Bener loh. Kalau orang lain belum tentu akan selesai hari ini." Belah Viko.

"Udah-udah. Aku capek. Mau pulang sekarang." Reina mengambil tas slempangnya lalu mengaitkan ke bahunya.

"Ok. Berangkat." Viko berdiri lalu mengikuti Reina dari belakang. "Serasa jadi anak buah aku." Sindir Viko, karna Reina berjalan dengan langkah cepat.

Reina berbalik, lalu meraih jemari Viko. "Ayo! Aku udah lapar juga." Viko menatap genggaman tangan Reina, sedangkan yang menggenggam nampak biasa saja.

Viko, sangat bahagia dengan reaksi Reina. Kenapa tidak, semenjak bertemu dengan Reina, Viko sudah menaruh simpatik padanya. Namun apa daya dia tak berani mengatakan perasaannya pada Reina.

Tiba di lobby kantor. Reina melepaskan genggaman tangannya pada Viko. Ada perasaan tak Rela saat Reina melepas jemari-jemarinya. "Baiknya kita kemana ya? Aku mau makan dulu!" Ujar Reina pada Viko. Namun yang di tanya, hanya diam entah apa yang ada dipikirannya. Pikir Reina. "Woy!! Kesambet loh." Teriak Reina di dekatnya.

Viko mengusap-ngusap telinganya. "Kenapa teriak sih Na." Kesal Viko.

"Gimana nggak teriak, orang nanyain malah begong!" Reina berjalan menuju taksi yang di parkir di pinggir jalan.

"Na, mau ke mana?" Panggil Viko lalu mengejarnya.

"Mau pulanglah!" Jawab Reina berbalik.

"Sama aku aja! Aku bawah mobil, masa pulang sendiri." Ajak Viko.

.

.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!