Senja pun mulai terlihat diufuk barat. Membuat Damian, Zades beserta warior yang lain segera menuju tempat persembunyian masing-masing.
Yah, mereka telah menunggu segerombolan Rogue dan juga para vampir yang katanya akan muncul malam ini. Tentunya dengan siasat sekaligus strategi yang tak main-main.
Tak terasa sudah satu jam berlalu semenjak mereka berada diposisi masing-masing. Tetapi belum ada juga tanda-tanda dari para Rogue liar itu akan muncul.
"Bagaimana?" tanya Damian lewat telepati pada Zades.
Posisinya, Zades memang berada di pos jaga atas. Tepatnya disalah satu pohon Cemara paling tinggi di tempat itu, untuk mengintai dari atas.
"Belum ada tanda-tanda, My Alpha!" balasnya serius.
"Oke. Coba pertajam lagi penglihatanmu!" titah Damian.
Mengangguk ringan tanpa sadar, Zades langsung mempertajam penglihatannya. Netra berwarna hazel itu seketika menyoroti setiap penjuru hutan.
***
Lain halnya dengan Lisa. Rupanya gadis itu telah sampai di air terjun beberapa menit sebelum senja bergulir. Namun gadis itu tak menemukan Damian di sana. Meski begitu, dia bertekad untuk menunggu saja hingga hari mulai petang.
5 menit ...
20 menit ...
Tak tampak tanda-tanda akan munculnya sosok Damian di sana. Membuat Lisa mulai kehilangan rasa percaya diri sekaligus mendesah berat akibat kecewa.
Sambil menunggu Damian yang kelihatannya hanya membual. Lisa memainkan sebatang ranting pohon yang cukup panjang.
Pelan, mulutnya mulai mengucapkan kata-kata layaknya dalam adegan sinetron yang sering Ibunya tonton.
Krek!
"Dia datang ..."
Krek!
"Tidak datang!"
Krek!
"Dia datang ..."
Krek!
"Tidak!
Krek!
"Dia dat-tidak!"
Mendesah berat sekali lagi, akhirnya Lisa memilih untuk membuang ranting ditangannya karena kesal.
"CK, apa-apaan dengan diriku ini. Sudah tahu itu hanya lelucon tapi kenapa masih penasaran? Dasar, gadis payah!" ucap Lisa menyalahkan dirinya sendiri.
Segera dirinya bangkit dari posisi duduknya. Sayangnya, saat melihat ke sekeliling ternyata hari telah berubah menjadi gelap.
Rupanya, karena asyiknya melamun tadi Lisa sampai tidak sadar menunggu Damian sampai larut begini.
Secepatnya gadis itu bergegas untuk kembali pulang ke Mansion dengan langkah biasa. Mulanya sih begitu. Apalagi, Lisa tak merasakan apapun selain kesunyian hutan. Bahkan, dirinya tak mendengar suara dari serangga yang biasanya terdengar ataupun kicauan burung gagak saat malam tiba.
Namun, firasatnya mendadak buruk. Entah hanya halusinasi saja atau pikirannya yang memang tidak beraturan saat ini. Lisa merasa jika dirinya tengah diikuti.
Seketika dia mencoba mempercepat langkah kakinya. Berjalan dengan langkah terburu sambil sesekali melompat kecil.
Hingga, tiba-tiba saja Lisa kembali mendengar lolongan serigala yang saling bersahutan. Jujur, hal itu membuat langkahnya seketika terhenti.
Seperti ada trauma tersendiri padanya ketika mendengar lolongan serigala yang saling bersahutan begitu.
Srak!
"Dam?" panggil Lisa.
Kepalanya langsung menoleh ke arah semak yang tadi sempat menimbulkan suara.
"Jangan bercanda! Apa itu kau?" tanyanya lagi. Kali ini sedikit berteriak.
Sayangnya, tak ada apapun di sana. Lisa kembali mendapati keheningan malam yang entah mengapa, makin lama terasa semakin menakutkan.
Dengan degup jantung yang mulai tak beraturan. Lisa mencoba memantapkan dirinya. Ia bahkan mensugesti dirinya sendiri jika itu hanyalah halusinasi saja.
Tapi pada kenyataannya, Lisa kembali dibuat mati kutu saat mendengar suara lolongan serigala kembali. Terlebih lagi, suara itu benar-benar terdengar jelas dan begitu dekat dengan posisinya saat ini.
Tak hanya itu, selain lolongan serigala yang kian lama mengeras. Lisa juga harus melihat kemunculan beberapa makhluk hitam yang melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan cepat.
Sosoknya begitu gesit, berpindah dari satu tempat ketempat lain. Terlebih lagi, kulitnya yang pucat terlihat begitu mencolok ditengah kegelapan malam. Begitu juga dengan matanya yang berwarna merah menyala. Entah mengapa, Lisa merasa jika netra itu menyorot ke arah Lisa lapar.
Takut?
Panik?
Lisa rasa semua rasa itu bercampur aduk sekarang. Bahkan untuk menghela napas saja, Lisa rasa sangat sulit.
Nafasnya terasa tercekat diantara kerongkongan dan kakinya. Sial! Anggota gerak tubuhnya itu tak mau berfungsi.
"Hhh ... Manusia! Kupikir aku tidak akan menemui kalian ditempat seperti ini. Tapi sepertinya, alam semesta sedang memberikan berkat padaku. Ah, apalagi aroma darahmu begitu memabukkan. Aku jadi ingin segera meneguknya habis tanpa sisa malam ini."
Gila!
Lisa rasa dia berjumpa dengan salah satu makhluk mitos yang seharusnya tak pernah dia temui sepanjang hidupnya. Terlebih lagi, para vampir itu suka sekali menghisap darah mangsanya sampai mati.
Kenapa dia harus sial sekali sih, malam ini?
"Jadi, bagaimana jika kita langsung pada intinya saja?" ucap sosok itu yang kontan membuat Lisa menelan ludahnya susah payah.
***
"Bagaimana? Apa kali ini sudah terlihat?" tanya Damian lewat telepati pada Zades.
Pasalnya, dirinya sudah lelah menunggu di tempat persembunyiannya saat ini. Selain itu, Damian juga merasa jika ini melebihi waktu perkiraan penyerangan mereka.
Yah, seharusnya jika perhitungan pria itu tepat. Mereka sudah menyerang para makhluk itu sejak tadi. Tapi, mengapa sampai detik ini tak ada satupun Rogue atau vampir yang muncul?
Seolah-olah, para makhluk itu tahu. Jika Damian dan semua pasukannya telah menunggu mereka ditempat ini. Bukankah, itu aneh?
"Belum, My Alpha."
Menggeram sesaat, Damian lantas meninju salah satu batang pohon Cemara hingga berbekas.
"Sial! Apa mereka tahu rencana penyerangan kita?" monolognya sendiri.
Netra hitamnya segera mengamati sekeliling hutan dengan begitu bengis.
Cukup! Damian rasa memang telah terjadi sesuatu dengan penyerangan ini. Entah benar-benar informasinya bocor atau memang ini hanya jebakan seseorang semata. Damian rasa sebuah hal buruk telah terjadi disuatu tempat yang jauh.
Sampai ... Suara Zhask kembali terdengar memenuhi isi kepalanya.
'****! Ini jebakan Dam! Aku ... Aku ... Kembali mencium aroma tubuh mate kita!' pekik Zhask mulai tak sabaran.
Jika benar, Zhask mencium aroma tubuh matenya. Tapi, mengapa Damian mendadak tak suka.
Pikirannya seketika teringat dengan wajah Lisa yang tengah tersenyum lebar menatap penuh suka cita padanya. Begitu juga, ketika gadis itu menangis kencang dalam pelukan Damian. Lalu, malam dimana Damian berhasil mencuri ciuman pertama harus itu? Ah, semua hal mendadak berputar layaknya adegan film tua di dalam kepala Damian.
Di satu sisi dia cukup senang karena Zhask menemukan matenya. Namun disisi lain, Damian juga merasa sedih. Sebab, jika Zhask benar-benar menemukan sosok matenya. Damian dan Lisa mungkin tidak akan bersama.
'Dam! Tunggu apalagi, aku merasa mate kita dalam bahaya!' teriak Zhask menyandarkan lamunan Damian.
Lantas tanpa ba-bi-bu, Damian segera berlari menuju arah berlawanan seorang diri untuk mencari sosok yang Zhask sebut-sebut sebagai mate lewat aroma manis yang perlahan-lahan mulai terasa dipenciumannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Leo Nil
sebenernya ini pengalamanku sih ka wkwk
2022-12-03
1
Leo Nil
iyakah?
2022-12-03
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Kalo aku jadi kamu udah pingsan mungkin Lis ....
malam² d hutan ada yg mengintai pula .🤦🤦
2022-12-03
2