Dua, Tiga, Domba Terbang

"Hai, Lisa. Jujur aku suka sekali caramu menegur adik tiriku tadi."

Yeah, ini barulah Damian. Dingin, ketus dan lumayan misterius. Terkadang Lisa sendiri tak bisa menebak jalan pikiran pria itu.

Bisa dibilang, Damian ibarat teka-teki silang berjalan, baginya.

"Oh!" jawab Lisa singkat sembari berlalu.

Kakinya melangkah menuju ke atas ranjang bersprei putih dibelakang tubuh Damian. Lalu tanpa rasa malu, Lisa langsung menjatuhkan diri dengan posisi tengkurap. Dia bahkan tak meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik kamar.

"Ah, kasur. Akhirnya aku bisa menemukanmu juga," monolog Lisa seraya tertawa ringan.

Yang diam-diam tentunya Damian perhatikan dari ujung ekor matanya.

"Mau tidur bersama?"

Pertanyaan yang meluncur itu seketika membuat Lisa langsung mengubah posisinya menjadi terduduk di atas kasur. Tak lupa, kepalanya juga menoleh seraya menatap Damian tajam.

"Hey, kau!" teriak gadis itu kesal.

Namun tak Damian gubris sepertinya. Itu terbukti dari Damian yang malah menyusul untuk tiduran juga disebelah sisi ranjang yang kosong. Dengan posisi menumpu kepala pada salah satu tangan sebagai bantal, seraya menatap Lisa nakal.

"Apa? Bukannya kau yang sengaja mengkode diriku untuk ikut rebahan juga?" tukasnya sembari mengerling genit. Lisa mati-matian menahan diri untuk tidak muntah ditempat.

"Kau terlalu percaya diri, lagi pula aku memang berniat untuk tidur lebih awal."

"Oh, iya?" sekali lagi Damian menggodanya.

"Ayolah Dam, bisa tidak sih sehari saja kau berhenti untuk mencari masalah denganku? Aku pusing tahu!" gerutu Lisa mirip anak kecil.

"Kalau begitu istirahatlah. Lagipula kasurnya muat kok untuk kita berdua," ujar Damian seraya menarik tangan Lisa paksa hingga membuat tubuh mungil itu jatuh menimpa dada bidangnya.

"Dam!" pekik Lisa.

Namun, Damian malah semakin memeluk tubuh gadis itu erat. Untuk menenggelamkan kepala Lisa  diantara kedua tangan kekarnya.

"Ssstt ... Tidurlah!"

"Tapi, aku punya insomia," cicit Lisa pelan. Sempat dia meremas ujung kaos Damian sebelum berujar kembali. "Dan takut dingin. Mungkin, malam ini aku juga tidak bisa tidur nyenyak di sini."

Mulanya terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka. Namun, hanya beberapa detik setelah Damian semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lisa.

"Kau bisa memelukku sebagai guling. Ah iya, jika belum bisa tidur juga, coba hitung anak domba sampai matamu terpejam."

"Memangnya bisa?" sentak Lisa cepat.

Kepalanya mendongak paksa, hingga membentur dagu Damian mendadak. Membuat pria itu meringis sesaat. "Coba saja."

Seperti anak kecil, kepala cokelat Lisa mengangguk. Lantas gadis itu mulai menghitung anak domba seperti yang Damian sarankan.

"Satu, dua, tiga, empat ... Tunggu! Apa induk domba dihitung juga?"

Entah mengapa, pertanyaan konyol itu tiba-tiba terlontar keluar. Membuat Damian dan Lisa langsung pandang lantas terbahak-bahak bersama.

"Sudah-sudah pejamkan matamu, aku janji aku akan berada disini sampai kau tertidur lelap," ucap Damian lembut.

Lisa yang mulai merasa mengantuk, hanya manggut-manggut.

"Oh iya, apa kau suka mendengar dongeng sebelum tidur?" tanya Damian.

Kepala Lisa menggeleng pelan. "Tidak terlalu sih, tapi jika itu membantu mengatasi insomnia, mungkin bisa kucoba."

"Baiklah, dengarkan ini. Dahulu kala saat dunia immortal masih terpecah menjadi tiga bagian dan saling bertentangan. Dewa mengirimkan seorang gadis yang diutus sebagai cahaya kehidupan. Orang-orang menyebutnya, Eve. Mulanya kedatangan Eve ke bumi, berhasil mencegah pertumpahan darah antar klan. Dia bahkan diangkat sebagai Ratu di dunia immortal. Sayangnya, hal itu tak berlangsung lama karena ... " ucapan Damian terjeda saat mendapati Lisa yang sudah jatuh terlelap akan ceritanya barusan.

Gadis itu bahkan menyenderkan kepalanya tanpa rasa takut pada lengan kanan Damian yang kini berubah menjadi bantal. Mendengkur sesekali, dikarenakan rasa lelah dan penat yang beberapa hari yang lalu Lisa hadapi.

"Kupikir, dia makhluk cerewet yang pernah kutemui!" ujar Damian.

Perlahan tangannya membelai lembut tiap lekukan wajah Lisa. Dimulai dari puncak kepala sampai berakhir dengan menyelipkan anak rambut gadis itu kebelakang telinga. Senyum Damian juga tampak merekah, tatkala tindakannya tak sengaja membuat  Lisa mulai menggeliat tak suka dalam tidurnya.

Jujur, ini pertama kalinya dalam hidup Damian bisa berdekatan dengan wanita. Sempat, pria itu berpikir jika dirinya tak akan pernah mengalami momen-momen manis seperti ini. Jangankan membayangkan, mau memikirkannya saja sudah membuat Damian naik pitam.

Lalu sekarang? Mengapa mendadak hatinya tergerak saat bersama Lisa?

Seolah-olah berada didekat Lisa mengingatkan Damian akan sosok itu. Seseorang yang begitu Damian sayang dan tak akan pernah dirinya lupakan.

Melihat Lisa yang sudah tertidur pulas, membuat Damian ikut mengantuk tanpa sadar. Apalagi, posisi mereka yang sudah pewe begini. Damian jadi berniat untuk memejamkan matanya sejenak.

Hampir saja, Damian ikut memejamkan mata. Namun Zades lebih dulu memindliknya. Dia bilang, malam ini akan terjadi penyerangan besar-besaran diperbatasan oleh musuh bebuyutan mereka.

Mendengar kabar itu, Damian segera beranjak dari tempat tidurnya. Sebelum pergi, dia memberikan sebuah selimut hangat pada tubuh Lisa sekaligus kecupan ringan didahi.

Baru setelahnya, Damian melompat segera dari atas balkon. Merubah wujudnya yang semula manusia menjadi serigala berwarna abu keputihan hanya dalam hitungan detik.

Au ...

Lolongan dari para warior yang ditugaskan dimasing-masing pos terdengar saling bersahutan. Seolah memberi petunjuk pada Damian dimana tempat persembunyian para makhluk pucat nan haus darah itu.

Ditengah kegelapan malam, wolf Damian yang bernama Zhask itu berlari kencang membelah hutan. Bulunya yang berwarna abu keputihan terlihat bersinar dihujami sinar rembulan. Tampak memukau memang, namun sedari tadi matanya menatap tajam kesegala penjuru.

Grrr ...

Au ...

Crash!

"Argh!"

Kurang dari sepuluh menit, Zhask sudah mendapatkan mangsa. Dirinya bahkan mengoyak tanpa ampun kepala para makhluk pucat itu sampai terpisah dari tubuh mereka.

Sadis? Kejam? Gila?

Damian dan Zhask pikir mereka melakukan hal seharusnya sebagai seorang pemimpin. Apalagi, bagi makhluk pucat itu yang notabene rival abadi mereka. Cukup dengan kata 'tak ada ampun' sudah bisa menjelaskan semuanya.

Sialnya, masih ada satu sosok yang berhasil lolos. Meskipun Damian bisa memastikan jika luka yang vampir itu terima cukup parah.

"My Alpha, apa kita kejar saja dia?" usul Zades. "Hamba yakin, kita masih bisa menyusulnya."

"Tidak perlu," jawab Damian datar.

"Mengapa? Padahal kita masih bisa mem-" ucapan Zades langsung terhenti saat mendapat tatapan tajam nan membunuh milik Damian.

"Ikuti saja, aku yakin dia pasti akan membawa kita ke markas mereka. Dan jika itu terjadi, segera habisi semuanya tanpa tersisa."

Zades tersenyum tipis mendengarnya. Pasalnya, Zades yakin jika tuannya itu punya niat lain dalam hal ini.

"Dimengerti, My Alpha!" jawabnya antusias, kemudian.

Damian yang melihat pemberontak ini telah usai segera mengubah wujudnya kembali menjadi serigala. Entah mengapa, dia ingin secepatnya pergi menemui Lisa sebelum pagi tiba.

Terpopuler

Comments

Leo Nil

Leo Nil

saya bingung mau pakai kata apa ka

2022-11-25

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

d dunia serigala ada juga bahasa Pewe ya Thor😊

2022-11-24

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Ya harus d hitung, nanti induk domba mencari anaknya.
😁😁😁😁

2022-11-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!