Hadiah?

Terlihat dari kejauhan seorang pria berkulit pucat berjalan seorang diri ditengah hutan. Langkah kakinya terseok-seok hingga menimbulkan bunyi gesekan pada rumput. Tak hanya itu, darahnya juga mengucur deras hingga meninggalkan jejak di atas tanah dan pucuk tanaman.

Wajahnya dipenuhi lebam, dan punggungnya dipenuhi cakaran panjang dari ujung bahu sebelah kanan sampai pinggul bawah bagian kiri.

Entah, kejadian apa yang baru saja pria itu alami. Yang pasti, mulutnya tak berhenti mengumpati kata-kata kotor sedari tadi.

Cleon--panggil saja begitu. Salah satu pangeran vampir yang semalam baru mendapat mandat dari sang Ayah untuk memimpin pertempuran diperbatasan melawan bangsa serigala.

Sayangnya, strategi yang dia buat mengalami kesalahan. Begitu juga dengan perhitungan dirinya mengenai jumlah lawan. Itu menyebabkan penyerangan semalam berakibat fatal dan berujung kalah telak dalam segi apapun.

Tak hanya itu, dirinya juga harus menerima kenyataan pahit dengan menerima kekalahan ini. Menjadi satu-satunya bangsa vampir yang selamat dengan cara melarikan diri dari pertempuran.

Ah, jika Ayahnya tahu. Cleon jamin kepalanya pasti bakal terpisah dari tempatnya.

Mendesah pelan, pria itu akhirnya memilih untuk beristirahat dan menyandarkan tubuhnya sejenak di bawah pohon Cemara.

Terlihat ia menyeka keringat dingin yang membasahi wajahnya, serta mengobati luka ditangan dengan membalutnya menggunakan ujung bajunya sendiri yang sempat Cleon robek beberapa saat yang lalu. Setelah itu, ia memilih untuk mendongakkan kepalanya ke atas.

Melihat awang-awang yang mulai menampakkan rona jingga disebelah barat.

"Cih, sial hari sudah hampir petang namun aku belum juga sampai kastil. Fiks, si tua itu pasti akan menghukumku," monolognya kesal.

Kembali Cleon mendesah berat. Menjatuhkan pandangannya ke arah rerumputan hingga dirinya harus dibuat waspada setelah mendengar lolongan serigala yang lumayan dekat.

"Sialan! Apa para anjing kumal itu berhasil mengejarku?"

Netra hijaunya seketika berubah memerah. Dengan kemampuan bangsa vampirnya itu dirinya dapat melihat pergerakan dari jauh, meskipun jaraknya puluhan meter dari tempatnya sekarang.

"****!" geramnya hingga membuat gigi gerahamnya saling bergemeletuk.

Secepatnya, Cleon berdiri dari posisinya untuk berlari lagi. Namun, moncong Zades sudah lebih dulu mengigit lengan kiri pria itu hingga membuat Cleon memekik keras.

Entah bagaimana bisa, serigala berbulu cokelat itu muncul mendadak. Yang jelas, Cleon benar-benar tak dapat memberikan perlawanannya kali ini.

Pangeran vampir itu memilih berpasrah dan menyerahkan diri. Meskipun awalnya Cleon membelot.

"Jika kau ingin kepalamu masih ditempat, sebaiknya ikut kami dengan baik-baik bertemu sang Alpha," ucap Zades dingin.

Ditatapnya wajah Cleon tajam hingga membuat pangeran vampir itu tak berkutik. Setelah Zades merasa jika Cleon tak akan memberikan perlawanan nanti. Zades pun membawa pangeran vampir itu kembali ke Axces pack.

***

Lisa dan Damian masih berada di area penjara. Setelah insiden yang lumayan menggetarkan hatinya. Gadis itu jadi memilih untuk menjaga jarak dari Damian.

Lalu Damian?

Seperti sebelumnya, pria itu kembali bersikap acuh tak acuh seperti tak pernah terjadi apapun.

Dengan wajah datar, dia berjalan cepat tanpa memedulikan Lisa yang lumayan tergopoh-gopoh mengejar langkah kakinya yang panjang dibelakang.

"Damian brengsek!" maki Lisa pada akhirnya.

Kontan hal itu membuat langkah Damian terhenti. Lalu tanpa wajah penuh dosa, pria itu menolehkan mukanya ke samping dengan eskpresi cuek. "Apa?"

"Tidak!" balas Lisa masih kesal.

Segera ia mempercepat langkahnya hingga menyalip Damian, kemudian berganti meninggalkannya dibelakang.

"CK, apanya yang tidak? Jelas-jelas kau marah."

"Lalu, apa pedulimu huh?" sahut Lisa lagi, hingga membuat Damian tersenyum tengil.

Berjalan mendekat, pria itu mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Lisa. "Ya, memang bukan peduliku sih. Cuma sayang sekali ..."

Mendengar ucapan Damian yang sengaja dijeda, Lisa secepatnya membalas.

"Sayang kenapa?"

"Wah, wah apa telingaku tak salah dengar? Kau barusan memanggilku sayang loh, hayo jangan-jangan kau memang menyimpan rasa padaku, yah?" ucap Damian pura-pura kaget.

Dalam batin Lisa menjerit, 'Kutu kupret! Rupanya si pria tanpa urat malu ini sedang mengerjaiku. Asem-asem.'

"Terserah, berdebat denganmu memang tak akan ada ujungnya." Lisa kemudian melangkah kembali dan meninggalkan Damian yang masih tertawa ditempatnya.

Zhask yang merasakan perubahan akan sikap Damian akhir-akhir ini pun tiba-tiba menyela lewat mindlik.

'Tsk! Sepertinya seseorang yang kemarin sempat mengumpati gadis itu kini menelan ludahnya sendiri. Apa benar begitu, Dam?' tanyanya menohok.

Tawa bahagia Damian seketika memudar. Raut wajahnya pun berubah drastis menjadi kaku hanya dalam sepersekian detik. Mungkin, jika kalian lihat Damian seperti seseorang yang punya kepribadian ganda saat ini.

'Siapa bilang? Lagi pula aku hanya memanfaatkan keberadaannya.'

'Maksudmu?' tanya Zhask tak mengerti.

Senyum yang sempat hilang itu kembali muncul dibibir Damian saat ini. Hanya saja bukanlah sebuah senyuman manis nan berseri, melainkan sebuah senyum penuh tipu daya milik pria itu.

'Bisa dibilang, aku membutuhkan dia agar tak dijodohkan oleh Ayah dengan wanita dari klan manapun. Toh, jika hal itu tercapai aku juga akan membunuh gadis itu pada akhirnya.'

'Kau benar-benar kejam, Dam!' ucap Zhask.

'Ya, itulah aku!' balas Damian cepat.

Lisa yang merasa Damian tak berada disisinya segera menolehkan kepala kebelakang. Benar saja, pria itu masih saja berdiri ditempatnya tadi dan menatap lurus kedepan. Tepatnya, ke arah wajah Lisa hingga membuat kedua netra beda warna itu bertemu.

"Kenapa masih berdiri di situ? Kau bilang mau mengajakku jalan-jalan? Kalau iya, ayo cepat, aku benar-benar penasaran dengan tempat ini tahu!" seru Lisa.

Suaranya menggema ke setiap penjuru. Membuat Damian yang mendengar hal itu langsung mendekat. Menjitak jidat gadis itu pelan lantas berbisik, "Ceroboh! Kalau kau diserang penghuni tempat ini bagaimana?"

Terkekeh pelan Lisa pun menjawab santai. "Kan ada kau, kenapa aku harus merasa takut?"

Deg!

Tiba-tiba, jantung Damian berdetak tak menentu dan untuk pertama kalinya, pria itu takut jika suara dari debarannya dapat Lisa dengar.

"K-kau percaya padaku?" tanya Damian tergagap tanpa sadar.

"Sedikit sih, apalagi setelah kejadian dimana aku hampir diperkosa karena terlalu percaya pada seorang pria. Sampai detik ini, aku menjadi lebih hati-hati," jelas Lisa seraya menertawakan kenangannya waktu itu.

Diperkosa? Siapa yang berniat melakukan hal keji itu padanya?Batin Damian.

Entah mengapa, mendengar hal itu membuat dirinya merasa kesal. Saking emosinya Damian bahkan mengepalkan tangan tanpa sadar.

"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Lisa tatkala melihat sikap Damian yang mulai berubah.

"Tidak, aku baik-baik saja." Sekali lagi Damian membalas ucapan Lisa dingin.

Hal itupun membuat keduanya menjadi memilih untuk tenggelam dalam isi kepala masing-masing. Sampai, suara berat seseorang seketika membuyarkan lamunan mereka.

"My Alpha, hamba sudah kembali dan membawa sebuah hadiah untuk Anda."

Terpopuler

Comments

Leo Nil

Leo Nil

wkwkkw... dia kan pemimpin bangsa serigala masa kabur sih

2022-11-25

1

Leo Nil

Leo Nil

eh bukanya Lisa yg kena jebakan batman

2022-11-25

2

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

hadiahnya Vampir...
kalo aku jadi kamu mending lari Dam😁😁😁😁😁
Takkuuutttttt🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃

2022-11-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!