Niat Sam

Sejam kemudian setelah semua bus sampai di tempat tujuan. Semua siswa langsung dibariskan untuk mendapat amanat singkat sekaligus informasi apa saja yang harus ditaati selama melakukan karyawisata di sini.

Dari menjaga ucapan, tata krama bahkan tidak membuang benda-benda apapun yang dapat merusak lingkungan sembarangan. Pengalaman dari kejadian kebakaran hutan beberapa tahun silam, membuat pihak pengelola cagar alam ini lebih hati-hati lagi.

Lisa tampak mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di atas paha. Pikirannya kalut, seraya sesekali matanya mengamati sekeliling. Seperti mencari-cari sesuatu.

Sialnya, dia tidak menemukan sosok itu, Rose, si gadis dukun yang sering dijauhi anak-anak seumuran, dimana dia?

"Kenapa dengan wajahmu? Apa ada sesuatu yang sedang kau cari?"

Sam--cowok dingin yang seringkali duduk di pojok kelas itu, rupanya diam-diam memperhatikan gerak-gerik Lisa. Dia bahkan repot-repot berganti posisi hanya untuk lebih dekat dengan gadis berponi ini.

"Hm," balas Lisa singkat.

Gadis itu bahkan tak memalingkan wajah ke arah Sam saat menjawabnya. Kepala cokelatnya masih sibuk mengawasi sekitar, kalau-kalau mendapati sosok Roselin menyelip disalah satu barisan kelas lain.

"Lis?" tanya Sam lagi.

Dia sudah tak memperhatikan amanat guru di depan. Sebaliknya, cowok jangkung berkulit sawo matang itu lebih tertarik dengan raut wajah gadis imut di sampingnya ini.

"Mau aku bantu mencari orang itu?"

Tepat setelah mengatakan itu, kepala Lisa langsung menoleh dengan cepat ke arah Sam. Membuat cowok dingin yang suka sekali tidur saat pelajaran itu, menyunggingkan seutas senyum simpul di bibirnya.

"Kenapa?" tanya Lisa penuh selidik.

Matanya yang tajam seketika menyipit ke arah Sam.

"Mungkin saja, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padanya dan itu penting. Jadi aku, hanya-"

"Hanya?" ulang Lisa.

"Menawarkan bantuan saja," tukas Sam kemudian.

Jujur dia sempat menahan napas tadi saat di tatap Lisa tajam begitu.

"Oke."

Kepala Lisa mengangguk. Lantas dengan cekatan tangannya menarik kerah kemeja Sam, sampai membuat jarak diantara mereka berdua cukup dekat.

Saking dekatnya, Sam bisa mencium aroma manis permen karet rasa blueberry dari napas Lisa yang berhembus pada permukaan wajahnya.

"Nanti. Setelah amanat ini selesai, aku tagih kata-katamu tadi."

Benar saja, setelah pemberian amanat dari guru selesai. Lisa dan Sam bergegas meninggalkan anak-anak yang lain. Mereka berdua berencana mencari Roselin yang tiba-tiba menghilang setelah sampai di tempat karyawisata.

Tentunya, tidak secara terang-terangan. Lisa dan Sam berjalan mengendap, meninggalkan anak-anak yang sibuk mendirikan tenda untuk kegiatan camp mereka selama dua hari kedepan.

Keduanya berniat kembali ke bus untuk mengecek jejak kaki si gadis dukun itu. Kebetulan bus belum beranjak pergi dari tempatnya. Jadi, Lisa dan Sam bisa mengendap diam-diam untuk masuk ke dalam.

Sayangnya mereka berdua tidak menemukan apapun. Sosok Roselin seperti lenyap ditelan bumi setelah sampai di tempat ini. Hutan Cemara yang digadang-gadang angker itu.

Justru Mr. Petrus lah yang Lisa dan Sam temui saat keduanya hendak pergi. Mereka kepergok dan dikira sedang berduaan saat amanat masih berlangsung di lapangan.

"Kalian berdua ngapain, huh?" teriak Mr. Petrus membuat Sam dan Lisa terperanjat ditempat.

Saking kagetnya, keduanya langsung lari terbirit-birit meninggalkan Mr. Petrus yang masih saja berusaha mengejar Lisa dan Sam sembari membawa tongkat bisbol ditangan kanan.

"Dasar anak-anak nakal, awas saja nanti jika tertangkap! Bapak nggak bakal kasih kalian ampun!"

Merasa situasinya kurang kondusif, Sam pun menarik pergelangan tangan Lisa lantas mengajaknya berlari untuk memasuki hutan. Ya, sepertinya bersembunyi di sana kini lebih baik dari pada harus mendengar sumpah serapah dari Mr. Petrus jika tertangkap.

Sekiranya dirasa jarak mereka sudah jauh.

Lisa pun memilih untuk berhenti berlari sejenak. Dia menyenderkan tubuhnya yang begitu pegal pada batang pohon Cemara yang tak sengaja dia lalui. Di depannya ada Sam yang tengah meneguk air mineral dan mengecek ponselnya.

"Tak ada sinyal," ucap cowok itu.

Terlihat dia sedikit mendesah kecewa sebelum akhirnya menawarkan air mineral yang tinggal setengah botol itu pada Lisa.

"Terus bagaimana? Apa kita kembali saja?" tanya Lisa.

Raut wajah Sam tampaknya tak setuju. Terlihat dari salah satu sudut alisnya yang naik satu, seolah melayangkan protes tak bersuara. Lagipula dia juga yakin, jika Mr. Petrus pasti masih mencari mereka berdua.

"Tanggung! Toh kita sudah setengah perjalanan. Oh iya, jangan lupa sama Mr. Petrus. Pak tua itu pasti masih mencari keberadaan kita, Lis!" katanya yang langsung membuat langkah Lisa terhenti.

"Benar, tapi jika terlalu lama di sini juga tidak baik Sam. Lihatlah, senja sudah mulai tiba," tunjuk Lisa dengan dagu ke ufuk barat yang mulai berwarna oranye kemerahan.

"Nikmati saja Lis, toh kita jarang sekali liburan berdua begini, kan?" celetuk Sam kemudian.

"Maksudmu?" tanya gadis itu heran.

Habisnya hari sudah mulai petang, dan sedari tadi pencarian mereka tak menghasilkan apapun. Sebaliknya, justru lelah dan penat yang mereka dapatkan setelah berlari jauh karena hampir ketahuan mengendap-endap pergi.

Langkah Sam ikut terhenti. Perlahan cowok itu membalikkan tubuhnya dengan senyum yang sulit diartikan ke arah Lisa.

Sorot matanya berubah meredup, serta penuh hasrat saat melihat Lisa di depannya. Entah itu nyata atau hanya pikiran Lisa sesaat. Tapi, gadis itu merasa jika Sam punya maksud terselubung dalam hal ini.

"Menurutmu, apa yang akan dilakukan seorang pria dengan gadis cantik di hutan? Ah, kebetulan juga, kan, kita hanya berdua di sini?" ucap Sam seraya tersenyum nakal.

Tatapannya begitu penuh nafsu dan tangannya berusaha menarik tubuh Lisa agar lebih dekat padanya.

Lisa sendiri yang mengerti jika situasinya sudah tidak beres segera melangkah mundur. Otaknya juga ikut berpikir keras mencari cara kemana dia harus berlari menjauh.

Itu karena kabut tebal yang mulai terlihat dimana-mana sekaligus suasana yang mulai menggelap. Membuat pandangan gadis itu tak bisa menelisik ke arah lain, selain dua buah pohon berdiri sejajar di bagian sudut dekat batu besar itu.

Sekuat tenaga kakinya berlari menuju tempat itu. Sialnya, pergelangan tangannya sudah dicekal terlebih dahulu oleh Sam dari belakang. Itu membuat tubuh Lisa mau tidak mau, menubruk dada bidang cowok dingin itu mendadak.

"Sam, sialan! Lepaskan aku!" makinya kesal.

Lisa masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Sam yang begitu erat dan menyakiti tubuhnya. Cowok itu bahkan berani membuka resleting jaket Lisa secara paksa, serta merobek kaos putih gadis itu kurang ajar.

Di saat, cowok itu fokus akan tubuhnya, Lisa berusaha menggapai batu berukuran sedang yang tergeletak tak jauh dari tangannya. Susah payah dia meraih batu itu. Sampai ....

Bugh!

"Pria brengsek!"

Terpopuler

Comments

El Nino

El Nino

Sam nakal 😩

2022-11-15

2

Leo Nil

Leo Nil

kasih nilai buat rating juga dong

2022-11-15

3

Sin

Sin

Nice beginning..

2022-11-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!