Berburu

James dan Cleon akhirnya sampai di depan Castil mereka. Dengan Cleon yang dipapah oleh dua orang pelayan.

Mereka berdua terlihat berjalan beriringan melewati koridor Castil yang masih-masing sisi kanan-kirinya diapit oleh tiang-tiang dari beton dengan ukiran kuno yang tinggi menjulang.

Untuk sesaat terlihat James melirik Cleon dari ekor matanya. Sejujurnya, pria itu masih merasa khawatir dengan kondisi kakak beda dua menitnya itu. Namun, karena hubungan mereka yang tidak terlalu dekat. Membuat James akhirnya mengurungkan diri untuk sekadar membuka percakapan.

Saat keduanya menemukan persimpangan dan akan berpisah. Tiba-tiba muncul seseorang yang diutus Raja untuk menyampaikan pesan.

"Hormat hamba, Pangeran!" ucap seseorang yang mirip seperti ajudan, seraya meletakkan tangan kanannya di depan dada sebelah kiri.

James dan Cleon langsung mengehentikan langkah keduanya.

"Iya?" jawab keduanya kompak.

"Yang Mulia Raja menyuruh hamba untuk menyampaikan sebuah pesan, jika beliau menunggu para pangeran untuk segera datang ke aula pertemuan."

"Untuk apa?" sahut Cleon cepat.

Tampak ia memasang raut wajah cukup kesal. Lain halnya dengan James yang langsung menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan.

"Hamba hanya dapat menyampaikan hal itu saja, selebihnya sebaiknya para pangeran segera bertemu dengan Yang Mulia.

Tak perlu waktu lama lagi, keduanya segera mengubah haluan yang semula akan kembali kekediaman masing-masing menuju ke aula pertemuan. Sebenarnya tak perlu waktu lama untuk ketempat itu, hanya berjalan lurus saja melewati beberapa koridor lalu berbelok ke arah kiri, lurus sedikit sebelum kemudian berbelok ke arah kanan.

Setibanya di aula pertemuan. James dan Cleon rupanya sudah ditunggu beberapa tetua dari klan vampir serta sang Ayah yang sudah duduk di atas singgasana.

Hal itu membuat, James menyimpulkan jika pertemuan ini merupakan pertemuan yang cukup penting. Apalagi, adanya sosok para tetua yang biasanya jarang muncul.

"Hormat Ananda Yang Mulia Raja, serta para tetua!" ucap James dan Cleon bersama.

Kedua pangeran vampir itu segera memposisikan dirinya untuk bersujud dihadapan sang raja.

"Hm," balas sang raja singkat.

"Mohon izin untuk bertanya, kira-kira ada apa gerangan Yang Mulia memanggil kami untuk hadir di aula pertemuan begini?" James inisiatif bertanya.

Sesaat terjadi keheningan diantara mereka. Bahkan para tetua tampak memasang raut wajah lesu tak seperti biasanya.

"Aku ingin kau menggantikan Cleon untuk melakukan misi, James!" ucap sang Ayah terus terang.

Cleon yang mendengar itu hanya bisa mengepakkan tangannya erat-erat.

"Tapi, bukankah itu tugas Kakak. Bagaimana mungkin, aku mengambil alih tugas orang la-"

"Kakakmu itu tidak becus dan ceroboh! Bahkan dalam misi penyerangan kali ini hampir sebagian besar pasukan yang kita buat diam-diam lenyap tak bersisa," ungkap Ayahnya sambil berdecak sebal.

"Maka dari itu, aku ingin menugaskanmu untuk mengambil alih misi ini. Selain itu, aku juga akan mengurung Cleon selama beberapa minggu untuk introspeksi diri atas semua perbuatannya."

Mendengar hal itu membuat James hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Meskipun dia tau, jika sedari tadi Cleon mengeluarkan sikap emosionalnya dengan mengepalkan kedua tangannya erat, sampai membuat kuku-kuku jarinya memutih.

***

Seiring berjalannya waktu kehidupan yang dijalani Lisa aaa berada di Axces pack pun berjalan dengan baik. Tak hanya itu, hubungannya dengan Damian juga semakin lama semakin mengerat bak dua orang sejoli yang tengah dimabuk cinta.

Lisa juga dipanggil Luna saat ini oleh para warior serta Beta Damian. Hal itu mencerminkan jika posisi Lisa, tidak lagi dipandang remeh oleh mereka.

Tentunya, tidak untuk Dean dan Clara. Mereka berdua justru merasa jika Lisa adalah batu sandungan. Bahkan keduanya mempunyai niat tersendiri untuk mencelakai Lisa diam-diam.

Hari ini mungkin hari dimana Lisa dapat menjelajahi hutan sendirian. Ya, sebelum pergi tadi pagi gadis itu sudah menagih janji pada Damian untuk tidak melarang-larang dirinya kemanapun, serta bisa berkeliaran bebas dimana saja.

Meskipun diam-diam Damian mengutus beberapa warior untuk mengawasi Lisa dari jauh. Namun, gadis itu sudah cukup bahagia.

Terlihat Lisa berjalan riang gembira seraya bersenandung pelan. Ditangan kanannya terdapat sebuah keranjang berisikan buah-buahan hutan. Dan ditangan kirinya terlihat beberapa tangkai bunga warna-warni.

Niatnya, gadis itu ingin membuat piknik ala-ala untuk dirinya sendiri di dekat air terjun. Hanya saja, cuaca yang tadinya terang benderang tiba-tiba berubah menjadi mendung.

Awan-awan diatas langit juga berubah warna menjadi gelap. Pertanda jika hujan deras akan segera mungguyur tempat ini.

Lisa mendesah kecewa melihatnya. Segala tentang semua hal yang ingin gadis itu lakukan saat piknik seketika hancur total. Dengan langkah pelan, gadis itu mulai berbalik arah. Pergi untuk kembali ke Mansion sebelum hujan turun.

Namun, langkahnya mendadak terhenti saat netra cokelatnya tadi tak sengaja menangkap sepasang mata yang tengah mengawasi dirinya dari balik pohon Cemara.

"Siapa?" tanya Lisa sedikit berteriak.

Matanya awas melihat ke sekeliling. Mencari-cari, sosok apakah yang dia lihat barusan. Apakah seorang manusia yang tersesat seperti dirinya atau sosok lain seperti yang Damian bilang waktu itu?

"Siapa di sana? Haloo ... Apa ada orang?" tanya Lisa lagi.

Kali ini gadis itu berniat untuk mengecek sendiri si pemilik sepasang mata itu. Dengan langkah penuh kehati-hatian, Lisa melangkah mendekati pohon Cemara di dekat batu besar.

Sebentar lagi, kakinya akan sampai. Namun, sebuah cekalan pada pergelangan tangan Lisa seketika menghentikan langkahnya.

"Mau kemana?"

Kepala Lisa langsung menoleh ke arah belakang. Dimana di sana sudah ada sosok Damian yang tengah menatapnya seraya bertelanjang dada.

"Ya ampun Dam! Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Lisa sedikit kaget.

"Eum, mungkin sudah lebih dari sejam semenjak kau meninggalkan Mansion."

Spontan kedua mata Lisa melotot lebar mendengarnya. "Kau mengikutiku, yah?!"

Terkekeh pelan Damian hanya berdeham sebentar seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. "Mungkin?"

"Heh! Bilang saja, ya atau tidak?" ujar Lisa sembari menyipitkan matanya curiga.

Entah mengapa dirinya yakin sekali, jika Damianlah yang diam-diam mengamati dari kejauhan tadi.

"Oke-oke aku memang mengikutimu."

"Tuh, kan! Benar," kata Lisa dibarengi tawa penuh kemenangan karena benar menyimpulkan.

"Kau, mengkhawatirkan diriku yah? Hayo, ngaku!" tambah gadis itu, kali ini menuntut.

Damian sendiri hanya mengangkat bahu cuek untuk menanggapi. Toh, dia ke sini bukan hanya untuk bertemu Lisa. Melainkan untuk berburu hewan sebagai stok persediaan makanan.

"Sayangnya, aku ke sini untuk berburu."

"Berburu?" tanya Lisa.

Kepala Damian mengangguk.

"Aku mau ikut, bisakah kau mengajakku pergi juga?"

Menggeleng pelan Damian langsung menolak permintaan Lisa dengan tegas. "Tidak! Yang ada kau malah jadi beban buatku nanti."

"Ish, dasar pria tanpa urat malu!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!