"Tu-tunggu!"
Ada sedikit keraguan terdengar dari nada suara Lisa. Hanya saja, gadis itu kembali menampiknya dengan mendongakkan kepala ke atas, guna melihat Damian yang sudah balik menatap matanya beberapa detik yang lalu.
"Aku terima tawaranmu."
Damian tertawa kecil di dalam hati. 'Kena kau! batinnya.
"Gadis pintar," kata pria itu singkat sembari mengacak puncak kepala Lisa.
Awalnya sempat terjadi keheningan beberapa saat diantara keduanya. Sampai kemudian, Lisa kembali ngajukan pertanyaan sekali lagi.
"Tapi sebelum kesepakatan itu dimulai, aku juga punya permintaan lain."
Terlihat Damian mengangkat sebelah alisnya, raut wajah sumringah dari wajahnya juga perlahan memudar dari parasnya yang tampan.
"Apa?" tanya pria itu dingin.
Lisa tampak menghela napas sejenak. Berdeham pelan, lantas menatap manik gelap milik Damian serius.
"Aku minta nyawaku terjamin, serta aku juga bebas melakukan aktivitas apapun di sana tanpa terkecuali."
"Hanya itu?"
"Ya, setidaknya untuk saat ini," jawab Lisa tanpa ragu.
Sekali lagi Damian tersenyum manis ke arah Lisa.
"Baik, aku bersedia. Tapi jika sampai kesepakatan ini bocor keluar, aku tak akan menjamin kepala cantikmu itu masih berada ditempatnya," ancamnya penuh penekanan.
"Karena ..." ucapan Damian sengaja dirinya jeda. Perlahan pria itu membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menyetarakan tingginya dengan badan Lisa. "Aku sendiri yang akan membunuhmu jika sampai ketahuan."
Deg!
Sesaat, Lisa membatu saat mendengar bisikan Damian barusan. Namun, kesadaran gadis itu kembali saat pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal Damian yang membuatnya kontan terseret masuk ke dalam dekapan hangat pria itu.
"Ka-kau!" pekik Lisa kaget. Ia hampir meninju wajah tampan Damian. Jika saja, pria itu tak menghentikan tindakan bar-barnya dengan cepat.
"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya sedang berlatih, agar kita berdua tidak begitu kaku saat di depan orang-orang nanti."
"Cih, alasan. Bilang saja mau modus," sentak Lisa ketus, Damian hanya tertawa.
"Oke-oke, lain kali aku akan meminta izin padamu Nona Garang."
"Ck, terserah!"
Setelahnya, mereka berdua langsung memasuki portal dunia immortal. Tentunya, dengan Lisa yang digendong masuk ala bridal style oleh Damian.
Tidak perlu waktu lama, Lisa dan Damian tiba di Axces pack semenit sebelum matahari terbit. Mungkin, hanya selang beberapa menit saja bila dibandingkan dengan dunia nyata.
Hal pertama yang mata Lisa lihat adalah betapa begitu banyaknya, laki-laki yang bertelanjang dada di tempat ini. Selain itu, mereka juga memiliki tubuh mirip atlet binaragawan dan berotot. Berkulit cokelat terang dengan rambut sedikit ikal. Namun, memiliki pupil mata terang layaknya seekor anak anjing.
Eh, tunggu pemikiranmu sungguh tidak sopan Lis! batin Lisa merutuki pemikirannya barusan.
Damian yang sedari tadi diam-diam mengamati gerak-gerik Lisa dari ekor matanya hanya bisa tersenyum setan.
"Berhentilah menatap mereka lapar, Nona. Kau di sini bukan untuk cuci mata, tapi untuk melakukan misi," ucap Damian pelan.
"Misi?" ulang Lisa sembari mengernyitkan alisnya, seolah tak mengerti.
Tampak Damian mendekatkan wajahnya sekali lagi ke arah telinga Lisa. "CK, selain payah, kau rupanya pelupa, yah?"
"Heh!" teriak Lisa tak terima. "Aku bukannya lupa, hanya saja... sedikit khilaf di sini."
Memang benar yah, semua wanita itu sama saja. Baru saja disuguhi pemandangan yang menggoda iman sudah terpedaya, apalagi jika ditambah harta dan tahta? Mungkin, bisa merusak segalanya. Batin Damian.
"Jadi, apa sekarang kekhilafanmu sudah hilang?" tanya Damian, kepala Lisa menggeleng pelan.
"Belum, hehehe ... Eh! Apa yang kau lakukan?" pekik Lisa tatkala melihat tindakan Damian yang langsung menggenggam erat tangan kanannya.
"Kau lupa, sebagai pasangan pura-pura kita juga harus terlihat mesra. Ah iya, satu hal lagi, kesepakatan kita sudah dimulai semenjak kau menginjakkan kaki di tempat ini, Nona Garang."
***
Rupanya, berbaur dengan klan immortal bukanlah hal yang mudah bagi Lisa. Selain, mendapat tatapan sinis sebagai kesan pertama. Dirinya juga diam-diam ditertawakan dibelakang hanya karena, seorang manusia biasa.
Namun, lain cerita jika ada sosok Damian disampingnya. Boro-boro Lisa ditatap, melirik sedikit saja, mereka semua tak berani. Padahal, Damian hanya diam dan menatap lurus ke depan. Tapi, aura mengintimidasinya begitu tinggi.
Hanya saja, apa iya, Lisa harus terus-menerus bergantung pada Damian? Toh, Lisa bukanlah orang yang suka bergantung pada orang lain. Apalagi, Damian juga punya kesibukan sendiri saat tak beradu akting dengannya sebagai pasangan palsu.
Huft, mungkin ke depannya selain mengandalkan diri sendiri. Lisa juga harus punya teman ditempat ini supaya bisa berbagi keluh kesah.
Berbicara soal teman, tiba-tiba Lisa jadi teringat dengan Roselin lagi. Ah, pasti hari-hari yang dilalui gadis itu sangatlah berat. Lihat saja, Lisa yang baru sehari ditempat ini juga merasa terasingkan sekali.
Apalagi Roselin yang dikucilkan selama bertahun-tahun?
Sungguh, membayangkannya membuat Lisa merasa kasihan.
"Sedang memikirkan sesuatu?"
Lisa menoleh cepat saat mendengar suara Damian berada tepat di sebelahnya. Jujur, pada mulanya dia sedikit kaget, saat mendapati pria itu sudah ada disisinya.
Habis, Lisa sudah berdiri menatap air danau sendirian sejak ditinggalkan Damian tadi. Tapi, pria itu tiba-tiba muncul seenak jidat tanpa permisi.
"Menurutmu?" tanya Lisa balik.
Damian terkekeh pelan, membuat Lisa menatap dirinya heran. "Kau? Kukira tidak bisa tertawa."
"Enak saja, kau pikir aku ini manusia batu? Ah iya, aku hampir lupa, kau kan belum mengganti pakaian. Mari, kuantar kau ke ruang ganti," tawar Damian.
Sekali lagi, Lisa menatapnya was-was.
"Kau, pasti punya maksud tersembunyi denganku? Cepat katakan, kau mau apa, huh?"
Damian tersenyum lebar mendengarnya. " Hey Nona, terlalu mencurigai orang secara berlebihan itu tidak baik. Apalagi, sekarang kita ini adalah rekan. Harusnya, kau lebih percaya sedikit denganku."
Benar juga sih, ditempat ini hanya Damian seorang yang Lisa kenal dan mungkin bisa dirinya percaya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa dengan mudah memercayai seseorang hanya karena mereka sudah sepakat menjalin kerjasama.
"Baiklah, tapi jujur saja, aku lebih tenang dengan sikap dinginmu saat pertama kali kita bertemu," ujar Lisa.
Damian menggelengkan kepalanya cepat. "Ya, ya, terserah padamu saja."
Mereka berdua pun terlihat berjalan masuk ke dalam mansion. Awalnya, langkah Lisa sedikit tertinggal dibelakang. Namun, Damian yang mengetahui hal itu langsung menggandeng tangan Lisa agar langkah kaki mereka berdua bisa sejajar.
"Tak perlu gugup, kau hanya perlu mengangkat wajahmu ke atas lalu menatap lurus ke depan," kata Damian seolah tahu perasaan yang dialami Lisa saat ini.
"Jika kau ragu, mereka semua malah akan semakin meremehkan dirimu," tambahnya yang membuat seutas senyum tipis tersungging dibibir Lisa.
Entah kenapa, Lisa seperti merasakan perubahan sikap pada diri Damian. Hanya saja, Lisa akui dia lebih suka saat pria itu bersikap dingin dan irit bicara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
jangan gugup Lisa....💪💪💪💪
2022-11-24
2