"Pagi!"
Sapaan hangat sekaligus senyuman manis yang terukir dibibir Damian menjadi pemandangan yang tak pernah Lisa duga pagi ini.
Mata gadis itu juga dibuat menyipit saat melihat ekspresi wajah Damian yang tak seperti biasanya. Terlihat lebih ramah sekaligus ceria.
Fyi, sepertinya pria itu dalam keadaan mood yang bagus? Batin Lisa.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu yang baik, katakan hal apa yang membuat es diwajahmu mencair pagi ini, Dam?" ujar Lisa, seraya merubah posisinya menjadi menyamping dan berhadapan dengan Damian.
Entah mengapa, Lisa menjadi cukup penasaran pada suatu hal yang dapat membuat Damian berubah drastis begini.
"Kalau kujawab karenamu, apa kau akan percaya?"
Uhukkk!
Tersedak ludahnya sendiri, Lisa jadi terbatuk kecil seketika.
"Heh, kenapa jadi salting begitu. Apa jangan-jangan kau diam-diam menyimpan rasa padaku, yah?" ujar Damian menggoda.
Lisa terbatuk sekali lagi, parahnya kali ini tenggorokannya terasa begitu gatal hingga membuatnya sulit untuk mengontrol batuknya sendiri.
"Minum ini," kata Damian seraya menyodorkan segelas air putih yang dia ambil dari atas meja.
"Eum, terima kasih." Lisa menjawab cepat setelah meminum seteguk airnya.
"Bagaimana, apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Damian cemas.
Lisa menggelengkan kepala cepat sebagai jawaban. "Yah, lumayan. Lagian, kau sih kalau bercanda itu dipikir dulu."
"Siapa yang bercanda? Aku serius kok!"
"Hah?" ucap Lisa kaget.
"Serius untuk mengerjai dirimu pagi ini, wkkwkw ..." lanjut Damian tanpa dosa.
Sialan! Batin Lisa.
Gadis itu merasa hampir kecolongan, untuk mengatur debaran jantungnya sendiri. Apalagi, wajah Damian tadi benar-benar pandai sekali menipu dirinya. Huft, Lisa jadi curiga kalau Damian itu bukan seekor serigala melainkan rubah.
"Ah, karena kau sudah bangun apa kau mau ikut denganku ke suatu tempat?" tawar pria itu.
Lisa langsung menganggukkan kepala pelan. "Oke."
***
Rupanya Damian mengajak Lisa pergi untuk berkeliling mansion. Ya, sekadar basa-basi saja jika suatu waktu Damian pergi berperang. Gadis itu sudah paham seluk-beluk tempat di seluruh mansionnya.
Itu karena, Damian cukup khawatir pada Lisa. Dirinya takut, gadis itu tak mampu bertahan hidup ditempat ini bila tak ada Damian disisinya.
Mengapa begitu?
Mungkin, Damian harus berterima kasih pada Zades. Berkat pria itu dia jadi tahu apa yang orang-orang mansionnya lalukan pada Lisa jika Damian tak berada bersamanya.
"Itu tempat apa?" tanya Lisa membuyarkan lamunan sesaat Damian.
Tangan mungil nan lentik itu menunjuk ke arah sebuah batu besar yang tengahnya sengaja dilubangi seperti pintu. Lalu, diatasnya ditumbuhi berbagai macam tumbuhan bersulur serta lumut.
Sempat Lisa menebak jika itu ruang rahasia. Namun, jawaban dari Damian cukup membuatnya syok.
"Penjara."
"Eh!"
"Kenapa reaksimu seperti itu? Kau pikir memangnya apa lagi?" tanya Damian datar.
Lisa terkekeh pelan. "Tidak ada hehehe ..."
"Ngomong-ngomong apa kau mau melihat-lihat ke sana?" tawar Damian seraya menunjuk ke arah batu besar itu dengan jari telunjuknya.
"Memangnya boleh? Kau tahukan, kalau aku ini orang asing, jadi ..."
"Kenapa tidak? Lagian aku yang membawamu ke tempat ini. Tenang saja, tak akan ada yang berani melarang," potong Damian cepat.
Awalnya, Lisa tampak ragu. Dia bahkan cukup lama terdiam ditempatnya berdiri. Namun, Damian sudah lebih dulu menarik tangannya. Pria itu menggenggam tangan kanan Lisa erat lantas berlari kecil ke arah batu besar. Tentu saja, hal itu membuat Lisa hanya bisa terdiam seraya mengekori Damian dari belakang.
Sesampainya di depan batu besar itu, keduanya terdiam dengan tangan yang masih bergandengan. Lalu, dengan sentuhan telapak tangan kiri Damian pintu besar itu seketika terbuka hingga membentuk sebuah jalan yang begitu panjang nan gelap.
"Ayo!" ajak Damian sekali lagi.
Dia semakin menggenggam erat tangan Lisa. Hingga, membuat gadis itu tersenyum tipis tanpa sadar.
Saat kaki mereka mulai melangkah masuk. Perlahan satu persatu cahaya obor dari masing-masing sisi menyala memberi penerangan. Begitu juga dengan suara dari rantai-rantai tua yang berkarat terdengar juga saling bergesekan satu sama lain. Menandakan jika ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini.
"Dam, sebenarnya selain penjara tempat ini apa? Kenapa gelap sekali dan tertutup. Ah iya, kenapa aku baru sadar jika tidak ada penjaga, yah?" tanya Lisa hati-hati.
Mata cokelat gadis itu menatap tiap tempat yang netranya bisa lihat. Meskipun cukup takut dan membuat beberapa helai bulu kuduknya meremang, namun Lisa masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Damian. Jangan sampai, gadis itu menjerit histeris ditempat ini dan membuat kekacauan yang tak diinginkan.
"Kuburan," jawab Damian lagi-lagi santai.
Saking santainya, Lisa sempat mendengar suara tawa yang sengaja Damian samarkan diakhir ucapannya itu.
"Yang benar saja? Ah, sial kenapa tadi aku mau-mau saja mengikuti ajakanmu ini, yah?" tukas Lisa sebal.
Seketika dia merasa jika dirinya telah ditipu lagi oleh Damian. Dan bodohnya lagi, Lisa tidak curiga, aish!
"Kau marah?" tanya Damian menghentikan langkahnya.
Pria itu bahkan membalikkan tubuhnya, hingga membuat posisinya kini berhadapan dengan Lisa.
"Sedikit."
Tersenyum tipis, Damian tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah telinga Lisa lantas berbisik, "Bagus. Habisnya jika kau menunjukkan emosimu ditempat ini. Para makhluk yang kami sengaja rantai pasti akan mulai berontak. Kau tahu kenapa?" ucap pria itu sengaja menjeda ditengah jalan.
Kepala Lisa kontan menggeleng. "Tidak, memangnya kenapa?"
"Karena mereka suka gadis cantik dan pemarah, persis seperti dirimu."
"Yak!" pekik Lisa kesal.
"Ssttt ... Jangan berteriak, aku tidak bercanda mereka itu ..."
Grrr ...
Trang!
"Dam!" teriak Lisa terkejut.
Tanpa sadar, gadis itu sudah bersembunyi dan memeluk erat tubuh Damian.
"Benar, kan apa kataku barusan. Eum, ngomong-ngomong kapan kau akan melepaskan pelukanmu ini, huh?" tanyanya.
Lisa segera mendongakkan kepalanya ke atas. Membuat sepasang netra cokelat miliknya bertemu pandang dengan manik gelap malam milik Damian.
Untuk sesaat, Lisa terdiam. Pikirannya seperti terhipnotis akan manik gelap itu. Kesadarannya seolah dibuat terjatuh semakin dalam ke sebuah tempat antah berantah yang membuat gelenjar aneh menghinggapi hatinya. Terlebih lagi, paras Damian yang begitu tampan bak dewa Yunani.
Itu mengingatkan Lisa pada seorang tokoh fiksi yang biasanya dirinya baca lewat komik atau novel. Hanya saja, melihat wajah Damian yang benar-benar terpampang nyata dihadapannya membuat Lisa sadar jika di dunia ini memang ada pria tampan.
"Hhh ... Mengagumi ketampananku, Nona? Hati-hati nanti bola matamu, bisa lepas loh, kalau terlalu lama."
Sayangnya, lamunan Lisa harus disadarkan oleh ucapan percaya diri tingkat tinggi nan menusuk milik Damian.
Segera mungkin, Lisa membuat jarak dengan pria itu yang kini tengah menahan tawa, karena melihat raut wajah Lisa yang berubah kesal sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments