Perayaan

"Dasar pria sinting tanpa urat malu, kau memang berniat untuk menjebakku, yah?" ucap Lisa kesal.

Gadis itu bergegas menuruni anak tangga pada jembatan kayu, untuk menghampiri Damian yang masih terdiam dengan senyuman miring ditempatnya berdiri.

Sengaja, menggoda Lisa agar dia semakin dongkol sepertinya.

"Damian Abigail!" pekik Lisa. "Aku sedang berbicara denganmu jadi tolong jangan diamkan aku, brengsek!"

Melihat raut wajah Lisa yang semakin memerah karena amarah membuat Damian ingin tergelak. Hanya saja, mati-matian pria itu menahan diri agar imagenya tak turun saat berada dihadapan mortal lemah itu.

Wolfnya sendiri yang melihat itu mengumpati Damian karena tak jujur pada perasaannya sendiri.

'Kau memang bedebah brengsek, Dam!' ejek Zhask dalam pikiran.

'Kau pikir kau suci, Zhask? Kau juga paling suka melihat orang-orang menderita karena ulahmu, kan?' jawab Damian enteng. Wolfnya hanya bisa mendecih sengit.

'Ya, ya, lakukanlah sesukamu, Dude!'

"Dam!" panggil Lisa sekali lagi menyadarkan lamunan sesaat Damian tadi.

"Selain tak punya urat malu kau juga tuli, yah?"

Huft, bisakah saat ini gadis itu berhenti mengomel? Cukup persoalan seputar Rogue dan mate saja yang membuat Damian kesal hari ini, jangan ditambah yang lain.

"Aku mendengarmu. Sangat jelas, sampai-sampai aku ingin mencium bibirmu itu jika kau terus mengumpati diriku, Nona Garang."

Hening, detik itu juga Lisa langsung menutup mulutnya rapat-rapat tanpa kompromi. Damian yang melihat hal itu jadi semakin ingin menggoda Lisa lagi.

"Kenapa mendadak diam? Kau tak mau mendapatkan ciuman dari pria paling tampan di sini, huh?" goda Damian.

Lisa melotot sembari bergidik ngeri. "No!"

Tolak gadis itu cepat. Membuat Damian terkekeh dalam hati.

'Terkutuklah kau, Dam!' pekik Zhask.

Entah mengapa, Damian merasa wolfnya itu mulai bereaksi secara berlebihan jika menyangkut soal Lisa. Ck, apa ini yang disebut cemburu? Benar-benar tak lucu.

'Apa? Kau cemburu karena aku menggoda mortal lemah ini, begitu?' tanya Damian lewat mindlik. Zhask hanya mendengus.

'Jika cemburu pun, gadis itu takkan pernah jadi milikku. Ketahuilah Dam, aku hanya iri dengan para warior serta anak buahmu yang lain. Kenapa mereka begitu cepat sekali menemukan mate mereka? Sedangkan kita... sial! Apa jangan-jangan kau serigala yang dikutuk tak punya pasangan?'

Sontak saja, pertanyaan tiba-tiba itu membuat Damian kesal. Tanpa aba-aba, pria itu langsung memutuskan mindliknya begitu saja dengan Zhask.

Lisa yang masih berdiri dihadapan Damian hanya bisa mengernyitkan alisnya. Terlebih saat matanya menangkap perubahan mimik wajah Damian yang begitu drastis. Ah, dia jadi punya kesimpulan pasti ada sesuatu yang tak beres dengan otak pria itu.

"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu? Kau tak berniat untuk menggoda para warior dan betaku, kan?" tanya Damian kendati melihat Lisa dengan pakaian yang bisa dibilang mengekspos bagian depan dadanya. Sontak saja, itu membuat kemarahan Lisa yang sempat hilang kembali muncul kepermukaan.

Gadis itu tak salah dengarkan? Sengaja berpakaian seperti ini untuk menggoda warior dan betanya? Memangnya Lisa gadis murahan apa? Kalau saja, bukan karena terpaksa mana mau dia memakainya.

"Enak saja! Justru ini karenamu!" balas Lisa tak terima. Dirinya bahkan sudah mendelik tajam ke arah Damian.

"Aku?"

Inhale ...

Exhale ...

Sepertinya stok sabar Lisa harus banyak ditempat ini. Jangan sampai, keluar dari dimensi immortal muka Lisa sudah lebih tua sepuluh tahun dari teman sebayanya.

"Iya, kau Damian Abigail!" tunjuk Lisa dengan salah satu jari telunjuknya.

"Kapan?" Kali ini Lisa hanya bisa menepuk jidatnya pasrah.

Sepertinya percuma saja deh, berbicara dengan makhluk tanpa urat malu itu.

Terlebih lagi, saat Lisa tak sengaja melihat tatapan mata Damian yang seperti sedang menelanjangi dirinya dari atas rambut sampai ujung kaki. Uh, benar-benar menyebalkan pokoknya.

"Bisa tidak, kau berhenti untuk melihat diriku seperti itu. Sungguh, mungkin jika aku tak punya empati, sudah kucolok kedua bola matamu sampai berlubang, Dam!"

Tertawa pelan Damian menjawab dengan tanpa dosa. "Apa kau yakin, Lis?"

"Tentu mengapa tidak?"

"Baiklah, kali ini aku mengalah. Hanya saja, aku perlu bantuanmu untuk nanti malam," kata Damian mulai serius.

"Bantuan apa?" tanya Lisa balik yang membuat Damian langsung mendekati dirinya untuk membisikkan sesuatu.

***

Malam semakin larut, dan cahaya rembulan semakin berpendar begitu terang di atas langit. Membuat pesta perayaan kali ini semakin menakjubkan saat diadakan ditempat terbuka. Tampak juga kerlap-kerlip dari obor yang sengaja dipasang di setiap sudut sebagai penerangan. Memperlihatkan kesan yang lebih alami saat dipandang.

Beberapa meja jamuan juga telah lengkap dipenuhi hidangan dari berbagai macam masakan. Selain itu, banyak sekali orang yang mulai berkerumun. Terutama di dekat altar keramat.

Ya, itu karena malam ini merupakan malam yang begitu bersejarah bagi bangsa serigala. Terutama untuk kesejahteraan dan masa depan Axces pack.

Mungkin lebih dari beberapa ribu tahun sekali. Pack itu akan mengganti pimpinannya dengan seorang Alpha baru. Sayangnya, kali ini perlu waktu yang cukup lama karena penolakan mutlak seorang Damian Abigail.

Fyi, tampaknya ada paksaan serta pergolakan batin yang begitu kentara untuk pengangkatan Alpha kali ini.

Dean sendiri sudah datang lebih awal dan berdiri di dekat altar. Menunggu sang anak semata wayangnya, muncul dari arah kerumunan disebelah kanan.

Ditangan kanannya, sudah ada sebuah belati untuk menyayat tangan sebagai sumpah perjanjian darah nanti. Sedangkan ditangan sebelah kiri, Dean memegang sebuah kotak kayu kecil yang nantinya akan dirinya serahkan pada Damian.

Tepat saat orang-orang dalam kerumunan semakin bergosip ria hingga menimbulkan gema. Sosok Damian muncul dari sisi kiri dengan kemeja hitam yang sengaja tak dikancingkan atasnya.

Pria itu berjalan penuh wibawa dengan sikap arogan yang tinggi saat melewati beberapa gadis seusianya yang menjerit hanya karena pesona Damian yang tak bisa ditampik oleh mata wanita manapun. Parasnya yang tampan serta memiliki tubuh berotot dan seksi membuat Damian begitu digilai oleh siapapun.

Sayangnya, semua antensi mereka harus teralihkan kepada satu sosok mungil nan jelita yang berjalan tepat dibelakang punggung Damian dengan tangan saling bertautan. Tak terkecuali Dean. Hatinya mendadak tersentak begitu hebat saat tak sengaja menangkap senyuman manis sang gadis bergaun merah itu.

"Sial! Siapa gadis itu?" umpatnya kelewat lirih mirip bisikan.

Damian sendiri yang melihat reaksi Ayahnya itu tanpa sadar menampilkan sebuah senyuman miring yang kontan membuat para gadis semakin histeris. Terlebih lagi, saat pria itu menarik pinggang ramping Lisa untuk merapat pada tubuhnya. Banyak sekali raungan histeris gadis yang tak terima.

"Kau sengaja ingin membunuhku, yah?" cicit Lisa.

"Jika kau terbunuh, lalu siapa yang akan bekerjasama denganku?" balas Damian tenang.

Netranya masih sibuk menerawang ke depan. Tepatnya, melihat sang Ayah yang kelihatan makin uring-uringan.

"Lalu apa ini? Kau bilang ingin menjaga nyawaku, tapi kau juga yang menempatkan diriku disituasi bahaya. Kau itu sebenernya ingin apa, sih?" tanya Lisa mulai kesal.

"Mauku?"

"Iya! Maumu itu ap--mmh!"

"Aku hanya ingin mencium bibirmu supaya kau berhenti mengoceh," bisik Damian diantara teriakan histeris orang-orang.

Terpopuler

Comments

El Nino

El Nino

Luna n Lisa itu orang yg sama kah ?? atau aq yg salah baca hhmm

2022-12-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!