Tentang Si Kembar

Terlalu mudah. Batin Cleon.

Dia sangat percaya diri sekali, jika kesempatannya untuk membunuh Lisa benar-benar sudah didepan mata.

Sayangnya, itu cuma jebakan dari Damian. Karena pria itu sudah mencurigai Cleon sejak di depan pintu gerbang.

Bukan tanpa alasan Damian bersikap seperti itu. Nalurinya mengatakan jika Cleon bukanlah seorang warior, terlebih lagi mana ada bangsanya yang berkulit putih mencolok seperti itu. Terlebih lagi, dia memakai pakaian lengkap, tidak seperti kebanyakan klannya yang suka bertelanjang dada.

Bukankah itu mencurigakan sekali?

"Kalau begitu, aku pergi dulu." Damian berucap sembari berpura-pura melangkah menjauh.

Meninggalkan Cleon yang terlihat segera berdiri di dekat pintu kamarnya.

Setelah tiba di lorong sebelum menuruni tangga, Damian segera berbalik ke arah jendela di ruang makan.

Pria itu bergegas keluar jendela lalu mulai berjalan hati-hati di atas genting sampai ke balkon kamarnya.

Bruks!

Lisa yang baru saja selesai mandi seketika melihat ke arah balkon. Di mana di sana sudah ada sosok Damian yang tengah berdiri menatap dirinya.

"Bukannya kau-hmpp!"

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, mulut Lisa sudah dibekap oleh Damian terlebih dahulu. Dia lantas menarik tubuh Lisa untuk ikut bersembunyi dengannya dibalik lemari.

Tak berselang lama kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka. Lalu munculah sosok Cleon yang terlihat begitu bersemangat untuk segera melancarkan aksinya.

"CK, kenapa para anjing kumal itu mudah sekali ditipu? Bahkan untuk seseorang seperti Damian. Kupikir dia akan sulit sekali untuk dikelabui, ternyata malah dia sendiri yang memberikan kesempatan padaku untuk membunuh gadis mortal itu. Dasar payah!" celotehnya sembari tertawa.

Cleon lantas mendudukkan diri di atas ranjang setelah melihat sesuatu dibalik selimut yang menyembul.

"Gadis mortal yang malang," ucapnya seraya menyentuh permukaan selimut itu.

"Sayangnya, mata cantikmu tak bisa lagi menikmati pemandangan fajar esok. Sebaliknya, justru malaikat maut lah yang akan kau temui. Hahaha-akh!" lanjut Cleon yang tiba-tiba memekik.

Bagaimana tidak?

Sewaktu dirinya tertawa dan kurang fokus. Permukaan lehernya langsung dicengkeram dengan kencang oleh tangan seseorang. Parahnya lagi, orang itu adalah Damian.

Padahal jelas-jelas Cleon menyaksikan kepergian pria itu beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa, Damian sudah ada di sini?

"Hhh ... Sepertinya dirimu yang tak akan bisa menikmati cahaya mentari esok. Ah tidak, bahkan malam ini dapat kupastikan, kau tidak bisa melihat cahaya rembulan." Damian berucap seraya mencekik leher Cleon erat.

"S-sial! Ba-bagaimana bisa k-kau ada di si-ni?" tanya Cleon terbata.

Matanya menyoroti netra hitam milik Damian yang kini menatap diri Cleon seolah mengejek.

"Rahasia."

"Cih, bangsat!" balas Cleon mulai melakukan penyerangan.

Pangeran vampir itu segera meninju perut Damian dengan salah satu tangannya yang bebas. Lalu tanpa ba-bi-bu, Cleon segera melesat secepat mungkin untuk melarikan diri.

"Dasar pecundang!" maki Damian setelah melihat Cleon yang kabur begitu saja.

Lisa yang merasa situasinya sudah membaik bergegas keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu berjalan mendekati sosok Damian yang masih terduduk di atas ranjang. Karena berakting sebagai Lisa yang tengah tidur tadi.

"Dam!" panggilnya lembut.

Detik itu juga, kepala Damian menoleh ke arah Lisa.

"Ya?"

Mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar sejenak, Lisa lantas berucap. "Terima kasih."

"Untuk?"

"Karena menepati kata-katamu untuk menjaga diriku," lanjut gadis itu malu-malu.

Terlihat dari semburat rona kemerahan yang tiba-tiba menghiasi kedua pipinya. Damian sendiri yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Entah apa yang dirinya pikirkan, yang pasti tak ada raut berbinar yang terlihat diwajahnya.

"Hm, oke."

***

Cleon berhasil melarikan diri dan keluar dari wilayah Axces pack. Meskipun, setelah itu kondisi tubuhnya seketika memburuk akibat efek dari obat yang diberikan sosok berjubah itu telah habis.

Lukanya juga kembali terasa sakit meskipun telah tertutup kulit baru. Ya, selain memiliki penglihatan serta lari yang cepat. Bangsa vampir juga memiliki regenerasi luka yang cukup baik. Namun, lain cerita jika mereka mendapat luka atau tusukan dari sesuatu berbahan perak. Sistem regenerasi sel kulitnya seakan melambat dan kemungkinan buruk terbesarnya adalah tak berfungsi sama sekali.

Bruks!

Tubuh Cleon mendadak limbrung di atas tanah. Meskipun posisinya sekarang cukup jauh dari perbatasan dan wilayah Axces pack. Tapi, tetap saja berada di hutan dengan kondisi penuh luka begini bukan pilihan yang baik. Bisa saja, Cleon malah dibunuh oleh klan lain yang tak sengaja lewat.

Hanya saja, mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Belum ada 10 menit setelah kejadian jatuhnya. Cleon malah melihat siluet saudara kembar, James.

"James!" telepatinya memanggil.

Cleon yakin saudara kembarnya itu pasti akan segera muncul untuk menyelamatkan dirinya. Terlebih, mereka berdua memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat.

Hanya perlu waktu kurang dari beberapa detik saja, Cleon langsung mendapati balasan telepati dari James.

"Kau di mana?" tanya James terburu-buru.

Bukanya pria itu khawatir pada keadaan Cleon. Melainkan karena urusannya yang begitu sibuk sampai membuat James terkadang tak punya kesempatan untuk melihat Cleon di Castil.

"Hutan Cemara dekat wilayah bangsa vampir. "

Tanpa Cleon bisa melihatnya, kepala James segera mengangguk.

Lima menit berlalu, kemudian munculah sosok James ditengah keheningan malam. Rambutnya yang berwarna blonde keperakan terlihat bercahaya dihujami sinar rembulan lalu pupil matanya yang berwarna sebiru samudra terkadang membuat diri Cleon iri.

Ya, meskipun mereka berdua kembar tapi punya warna mata yang berbeda. Tak hanya itu, selain karakter yang lebih hangat. James juga memiliki kemampuan yang lebih di atas Cleon. Hal itulah yang menjadikan James sebagai kandidat nomor satu sebagai raja vampir kelak.

Tentunya berbeda sekali dengan diri Cleon yang ceroboh dan tak becus dalam hal apapun.

"Maaf karena membuatmu menunggu lama, apa kau masih bisa berdiri?" tanya James seraya berjongkok dihadapan Cleon.

Netra birunya menatap saudara kembarnya itu penuh kekhawatiran yang kentara sekali.

"Mungkin kali ini aku butuh bantuanmu," jawab Cleon mendengus.

"Kapanpun kau juga bisa meminta tolong padaku, kok!"

Tertawa sinis Cleon pun menjawab lagi. "Sayangnya, aku tak menginginkannya. Terlebih lagi, jika Ayah tahu. Dia pasti akan memuji-muji dirimu sampai orang-orang diseluruh kota tahu jika kau itu putra tercintanya."

"Le!" sentak James.

"Anak Ayah itu kita, bukan hanya aku. Jadi jangan pernah berpikir jika Ayah tak mencintaimu."

"Terserah!" ucap Cleon masih kesal. "Ah iya, sebaiknya kau panggil salah satu pelayan dari istana untuk menjemput diriku saja."

Begitulah hubungan keduanya yang tak pernah dekat. Mungkin dulu, saat semua kasih sayang yang mereka dapatkan masih sama rata satu sama lain. Sampai pada satu titik dimana, Cleon sadar jika hanya James yang Ayahnya selalu banggakan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!