Rupanya Damian mengajak Lisa pergi ke lantai dua. Tepatnya kesebuah kamar bernuansa abu yang berada disudut kiri ruangan. Namun, langkah keduanya harus terhenti ditengah jalan saat Zades tiba-tiba muncul untuk memberikan informasi.
"Hormat hamba, My Alpha!" ucap Zades sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Ada apa Zades?" tanya Damian dingin.
"Tuan meminta Anda untuk bertemu di aula."
"Maksudmu, Ayah?" Kepala Zades mengangguk.
"Baiklah, katakan saja aku akan segera tiba."
Sekali lagi Zades menganggukkan kepalanya pelan, lantas melesat pergi setelahnya.
Lisa yang melihat hal itu sedikit kaget, namun sebisa mungkin dirinya memasang ekspresi biasa saja. Apalagi jika di depan Damian. Dia yakin sekali, jika sampai ketahuan, Damian akan mengejeknya habis-habisan nanti.
"Sepertinya itu hal yang mendesak, kenapa kau tak pergi saja?" celoteh Lisa.
Damian langsung menolehkan kepala dengan salah satu alis terangkat sebelah. "Lalu membiarkan gadis ceroboh sepertimu mengacau di Mansionku? Begitu?"
Tersentak, Lisa buru-buru mengelak. "Tidak! Lagipula apa yang bisa mortal lemah sepertiku lakukan ditempat ini, huh?"
Tersenyum miring, Damian kontan mendekatkan wajahnya pada Lisa. "Tumben, otakmu encer. Kalau begitu tetaplah diam dan menurut di sini. Aku janji tidak akan lama pergi."
Lisa yang mendengarnya langsung melotot tajam. Tak terima dengan reaksi Damian yang seolah-olah berpamitan pada kekasihnya sebelum pergi. Huft, sial! Mana mungkin itu terjadi, raut wajah pria itu malah terkesan mengolok-olok Lisa saat ini.
"Terserah! Kalau perlu tak usah kembali sekalian!" pekik Lisa sebal.
Yang dibalas kekehan ringan Damian. "Tampaknya, aku memang harus kembali secepatnya."
Tak lama setelah kepergian Damian, terlihat dua orang pelayan wanita datang kehadapan Lisa.
Mereka berdua lantas menuntun Lisa untuk masuk kedalam ruangan bercat abu untuk mengganti pakaian. Betapa terkejutnya Lisa saat tiba di dalam. Rupanya, ia masuk ke dalam kamar yang sepertinya milik Damian.
Kamar bernuansa elegan dengan dekorasi yang simpel tapi kekinian. Malah tak tampak seperti kamar di dalam hutan. Puas mengagumi sesaat, lamunan Lisa harus disadarkan saat melihat sebuah gaun berwarna merah polos yang tergantung di dalam lemari kaca.
"Apa itu pakaian milikku?" tanya Lisa, kedua pelayan itu saling pandang.
"Sebenarnya, baju milik Luna ..."
"Diam!" sentak Lisa ketus. Meskipun dia termasuk tamu tapi tidak seperti ini juga caranya. Rasanya harga dirinya sebagai seorang gadis sedang terinjak-injak. "Pakaikan saja, aku mau lihat sendiri bagaimana reaksinya nanti," pintanya kemudian yang hanya dibalas anggukan ringan para pelayan.
***
Di dalam aula gelap itu, seseorang menunggu Damian tiba dengan gusar. Berkali-kali tampak ia memukulkan tangannya sendiri diatas kursi kebesarannya.
Pla ...
Pla ...
Pla ...
Tak lama setelahnya, terdengar suara sepatu pantofel melangkah diatas permukaan lantai. Membuat seutas senyum simpul terbit pada bibir pria setengah baya itu.
"Apakah Ayah memanggilku?"
Tak perlu bahasa formal untuk Damian memangil pria tua yang sedang duduk dikursi kebesarannya itu. Karena Dean sang ayah sudah melarangnya sejak ratusan tahun yang lalu.
"Ya," jawab Dean.
Sejenak, Damian terlihat membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam penghormatan. "Apakah ada hal penting yang perlu dibicarakan?"
"Kenapa buru-buru sekali? Toh, kita bisa membicarakan hal ini santai sambil minum anggur."
Terkekeh pelan, Damian langsung melihat tajam ke arah sang Ayah.
"Seharusnya kau paling tau, jika aku tidak suka pembicaraan yang tidak perlu, Ayah!" kata Damian penuh penekanan.
Bisa dibilang hubungan mereka berdua tidaklah akrab sebagai Ayah dan anak. Apalagi setelah Dean memilih untuk mencari Ibu pengganti bagi Damian. Hal itu membuat keretakan paling signifikan pada hubungan keduanya.
Jujur, Damian begitu membenci Ayahnya. Meskipun pria setengah baya itu sering dielu-elukan namanya oleh klan serigala. Tapi, bagi Damian tidak. Baginya, Dean itu Ayah yang buruk. Pimpinan sampah yang berani bersembunyi dibalik punggung seorang wanita. Lagipula, mana ada pria sejati yang malah mengorbankan nyawa kekasihnya untuk menjamin kekuasaan?
Ah, sial! Mengingat hal itu lagi, membuat kepala Damian berkedut-kedut tak karuan. Rasa-rasanya ia ingin segera pergi meninggalkan ruangan luas yang sangat memuakkan ini.
"Oke, kapan kau akan menemukan matemu?" pertanyaan itu membuat Damian segera memalingkan wajah ke arah samping.
Itu karena, Damian sangat benci sekali dengan topik yang sama dan terus Ayahnya layangkan bak cambuk yang terus-menerus dihujamkan kepada luka basah dipunggung.
"Entahlah, mungkin takkan pernah."
"Dam!" teriak Dean sarat emosi. "Kau tahukah, nanti malam akan diadakan pengangkatanmu sebagai seorang Alpha baru."
Tersenyum sinis, Damian memaksakan diri menatap wajah Dean yang menatap dirinya kesal."Terus?"
"Aku juga perlu penerus untuk bangsa kita."
"Hhh ... Kalau begitu kenapa tak kau cari wanita baru saja untuk melahirkan penerusmu? Lagipula, aku tak terlalu berminat untuk duduk di singgasana itu," jawab Damian telak.
Dean seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat buku-buku jarinya tampak memutih.
"Beraninya, kau! Dasar anak tak tahu diri! Kau memang mirip sekali dengan wanita sial-"
"Jangan pernah kau menyangkut-pautkan Ibuku dengan hal ini!" potong Damian cepat.
Dirinya bahkan sudah melesat jauh ke arah Dean, lantas mencekik leher Ayahnya itu. Tak tanggung-tanggung, Damian mencekik leher itu kuat hingga menonjolkan beberapa urat dipermukaan leher Dean.
"Sekali lagi kau menyebut nama Ibuku, aku tak akan sungkan untuk mengoyak kepalamu detik ini juga," ancam Damian tepat didekat telinga Dean.
"Ah, ya satu hal lagi. Kau tak perlu khawatir dengan mate atau apalah itu. Lagi pula ini urusanku, jadi kau tak perlu repot-repot untuk berkoar-koar hal yang tak perlu. Tenang saja, jika sudah tiba waktunya aku pasti akan membawanya kehadapanmu. Jadi, tunggulah dengan manis disinggasamu, Ayah."
Setelah mengatakan itu, Damian pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Dean yang masih termenung karena mencerna tiap ucapan putranya barusan.
Huft, tampak Damian menghela napas berat setelah keluar. Air wajahnya memang terlihat begitu tenang, namun pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam hal.
Dari berbagai kasus tentang Rogue liar, pemberontakan klan sendiri dari wilayah Utara, serta persoalan tentang asmara. Jujur, terkadang Damian heran kenapa Moon Goodnes bisa menciptakan memori yang besar cakupannya pada daging merah kecil dalam kepalanya itu.
Mungkin perlu sentuhan magis yang luar biasa dalam proses pembuatannya.
"Heuh ..."
Sekali lagi pria itu mendesah berat. Menyapu sekeliling dengan ekor matanya, sampai netranya terpaku pada satu sosok dibawah cahaya rembulan.
Siluetnya nampak indah dihujami sinar sang bulan. Anak rambutnya juga sesekali terombang-ambing dimainkan semilir angin malam. Lalu, saat kepalanya menoleh kearah samping membuat Damian terkesima untuk kesekian kalinya.
Hanya saja ...
"Dasar pria sinting tanpa urat malu! Kau benar-benar berniat menjebakku, yah?!"
Sepertinya, Damian harus menarik kembali ucapannya tadi. Ah iya, lain kali dia juga harus melihat Lisa dua kali, sebelum memuji.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Leo Nil
si Damian ka
2022-11-25
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
kenapa memangnya.?
siapa yg d bilang sinting..
2022-11-24
1