"Halo, ******!"
Suara yang sengaja dilembut-lembutkan itu seketika menyeruak memasuki gendang telinga Lisa.
Tak perlu repot-repot menolehkan kepala kebelakang, toh Lisa sudah bisa menebak itu suara milik siapa. Jadilah, gadis itu dengan cueknya berjalan kembali tanpa menggubris Clara yang rupanya langsung memasang wajah dongkol melihat reaksi Lisa.
"Hey, kau!" panggilnya kali ini berteriak.
Clara juga sempat menghentakan sepatu high heelsnya ke atas tegel hingga menimbulkan bunyi yang cukup menganggu.
"Dasar mortal tak tahu diri, kau pikir memangnya kau hebat, huh?" sentak Clara setelah sampai dihadapan Lisa.
Mata gadis itu menatap Lisa tajam diselimuti kabut amarah. Mungkin, gadis itu masih belum lupa dengan apa yang Lisa lakukan padanya dimalam penobatan Damian.
Mendengus pelan, Lisa balas menatap wajah Clara dengan tatapan tak suka. Sejujurnya, Clara adalah orang yang paling tidak ingin Lisa temui ditempat ini. Hanya saja, semesta seolah tak mendengar doanya.
"Terus?" ucap Lisa kemudian.
Sorot matanya begitu acuh tak acuh menyoroti netra hitam milik Clara.
Tersenyum miring, Clara lantas menjawab. "Cepat, cium ujung sepatuku sebagai ucapan permintaan maaf," tukasnya tanpa beban.
Seketika itu, mata Lisa langsung melotot. Dalam hati, ingin sekali dia mengumpati sosok Clara dihadapannya ini.
"Heh, wanita serigala berbulu domba!" sentak Lisa membalas.
Kali ini dia menatap Clara penuh intimidasi, dengan wajah hanya bersisa beberapa centi. Ya, Lisa mencoba meniru apa yang biasanya Damian lakukan padanya saat menakut-nakuti atau hanya sekadar membisikkan kata-kata ancaman.
"Jangan kira, aku takut padamu yah! Bahkan jika Damian tak ada disisiku sekalipun, aku masih bisa melawan dirimu. Camkan itu!" ancam Lisa penuh penekanan.
Sudah sepatutnya dia harus mengambil sikap berani tanpa ada embel-embel nama Damian sebagai tameng.
Setelah mengatakan hal itu, Lisa kembali melangkah pergi. Meninggalkan Clara yang terlihat mengepalkan tangan kanannya tidak terima.
"Awas saja kau! Aku pasti akan membalas semua penghinaan mu ini padaku!"
***
Malam harinya, saat semua orang sudah terlelap. Begitu juga dengan penjagaan ditiap tempat Axces pack yang memulai pertukaran shift jaga. Seseorang berjubah hitam tampak melesat dengan begitu cepatnya menuju batu besar di dekat taman.
Sosok itu berhenti di depan pintu masuk penjara. Lalu mengulurkan tangan untuk membuka kunci dari luar.
Krak ...
Pintu berhasil terbuka, lantas dengan kecepatan kilat. Sosok itu melesat masuk ke dalam penjara yang bagai gua itu tanpa diketahui oleh siapapun.
Ditengah-tengah kesunyian malam, Cleon meringis tatkala luka cambuk yang dia dapatkan tadi sore kembali mengeluarkan darah.
Jika ditanya bagaimana rasa sakitnya? Cleon tak bisa menggambarkan lewat kata-kata.
Saking sakitnya, mungkin memilih kematian adalah jalan terbaik.
Sekali lagi dia meringis, mengepalkan tangannya sendiri menahan rasa kesal yang memberontak dari dalam hati. Sampai, sebuah suara terdengar menyapa indera pendengarannya.
"Kau mau keluar?"
Entah mengapa, mendengar tawaran yang menggiurkan itu membuat Cleon kehilangan kemampuan berbicaranya. Lidahnya seolah kelu dan otaknya tak dapat beroperasi seperti biasanya.
Alih-alih menjawab dengan antusias, Cleon malah menatap nyalang ke arah sel sebelah kiri yang kurang pencahayaan. Dirinya yakin, suara tadi berasal dari sana.
"Siapa kau?" tanya Cleon balik.
Meskipun dirinya begitu ceroboh ketimbang saudara kembarnya, James. Tapi Cleon juga tak kalah waspada.
Terkekeh pelan, sosok dibalik jeruji besi itu menjawab, "Kau tak perlu tahu siapa diriku. Namun, jika kau ingin keluar dari tempat ini aku bisa membantumu dengan senang hati. Tentunya, dengan sebuah syarat."
"Syarat? Syarat apa?" ulang Cleon penasaran.
"Kau tahu gadis mortal yang bersama Damian, kan?" tanya sosok itu.
Kepala Cleon mengangguk. "Ya, seseorang dengan pupil berwarna cokelat yang tadi siang aku temui. Mengapa?"
"Habisi dia, maka aku akan membantumu keluar."
Untuk sesaat terjadi keheningan yang cukup lama. Sampai Cleon akhirnya memutuskan.
"Kapan?" tanyanya lagi pada sosok itu.
"Malam ini."
"Sepakat!" balas Cleon menerima titah tersebut.
Setelah itu, Cleon benar-benar bisa menghirup udara segar diluar penjara. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung mengerjakan niatnya untuk membunuh gadis mortal itu. Kali ini, dia bersembunyi di dekat pepohonan tak jauh dari kamar Lisa. Meskipun, dia harus mengintai dari bawah karena penjagaan yang begitu ketat di area Mansion. Terlebih lagi, kamar Lisa berada dilantai dua.
Sebelumnya, dia sudah meminum sebuah ramuan yang dapat menyembuhkan luka-luka disekujur tubuh, sekaligus menyamarkan aromanya sebagai vampir. Hal itulah, yang membuat Cleon belum juga ketahuan sampai detik ini.
"Sial, aku tak bisa mendekat!" umatnya kesal.
Manik hijau xaviernya menatap lurus ke arah balkon kamar dilantai dua yang menunjukkan sosok Damian yang kelihatannya sedang mengawasi sekeliling mansionnya dari atas. Berdiri dengan wajah arogan serta tatapan mata yang begitu menusuk.
Ah, melihatnya saja membuat nyali Cleon mendadak ciut.
"Dam!"
Masih ditempat persembunyian untuk mengintai kamar itu. Kali ini netra Cleon menangkap siluet tubuh seorang gadis yang ukuran tubuhnya lebih mungil dari tubuh Damian.
Entah apa yang terjadi, tapi menyaksikan raut wajah cemberut gadis itu Cleon bisa menyimpulkan jika mereka berdua sedang mengalami konflik.
Kesempatan! batinnya.
Dia semakin mengawasi gerak-gerik Lisa dan Damian sampai tak sadar, mata Damian tiba-tiba bertemu pandang dengan netra hijaunya.
****! Dirinya ketahuan.
"Siapa di sana?" ucap Damian lantang.
Pria itu langsung meloncat turun dari atas balkon sesaat setelah melihat sepasang mata berwarna hijau yang diam-diam mengamati dirinya dan Lisa dari atas balkon.
Cleon sendiri yang menyaksikan hal itu segera bergegas untuk melarikan diri. Dirinya berjalan menuju pintu keluar dengan hati-hati. Ya, masih ada sisa waktu beberapa menit lagi sampai efek ramuan yang menyamarkan aroma tubuhnya itu bekerja.
Sialnya, langkahnya harus terhenti saat melihat Damian yang sudah berada di depan pintu keluar.
"Siapa kau?" tanya Damian. Netra hitamnya menatap penuh telisik pada sosok Cleon yang sempat membuang wajah ke arah lain.
"Sepertinya, aku baru melihat warior baru seperti dirimu. Apa kau ditugaskan Ayah untuk menggantikan David sementara menjaga area bawah?" tanya Damian yang membuat seutas senyum muncul dibibir Cleon.
Mendongakkan kepalanya segera. Cleon lantas menatap mata Damian untuk menjawab, "Ya, itu benar hamba, Tuan."
"Baik, kalau begitu cepat ikut aku."
Cleon hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Dia segera mengekor dibelakang tubuh Damian yang sepertinya berjalan terburu kembali ke dalam Mansion.
Rupanya, Damian mengajak Cleon untuk naik ke atas lantai dua. Tepatnya, ke atas kamar Lisa dan dirinya. Lalu, tanpa curiga sekalipun. Damian menyuruh Cleon untuk menjaga di depan kamar Lisa sampai pria itu kembali dari tempat latihan.
"Untuk sementara waktu kau bisa berjaga di sini. Hanya dua puluh menit saja, setelah itu kau bisa kembali ketempat jagamu semula di area bawah, oke?"
"Baik, Tuan." Cleon menjawab dengan menahan senyuman yang hampir merekah dibibirnya. Dalam hati dia bersorak kegirangan.
Terlalu mudah. Batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Leo Nil
neon? y Allah ngakak 🤣
2022-11-28
1
Leo Nil
bisa jadi
2022-11-28
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Damian....
kenapa malah d suruh naik, itu si Neon Ehh maap cleon maksudnya ...🤦
Lisa dalam bahaya itu....🙈🙈🙈🙈🙈
2022-11-27
1