Aku Bukan Jalang!

Lisa tak pernah menduga jika dia akan kehilangan ciuman pertamanya secara mendadak dan didepan umum seperti ini.

Jujur, ini tidak seperti yang gadis itu harapkan. Pasalnya, Lisa menginginkan sesuatu yang lebih romantis nan tenang, serta hanya ada dia dan pasangannya saat melakukan itu. Tetapi, semua keinginannya sirna saat Damian tiba-tiba mencium bibirnya secara membabi-buta ditengah kerumunan seperti ini.

Sial!

Sungguh!

Rasanya, Lisa ingin mengumpat. Apalagi para gadis kini menatap dirinya nyalang. Mungkin, jika tak ada Damian yang berdiri disebelahnya saat ini. Lisa yakin seratus persen, dirinya akan langsung diserang habis-habisan.

Lalu, Damian?

Jangan tanya bagaimana reaksinya. Pria itu langsung melangkah pergi begitu saja, seolah tak pernah melakukan apapun pada Lisa. Berjalan menuju altar lantas berdiri di dekat pria setengah baya, yang Lisa pikir mungkin dia Ayahnya.

Setelah itu, tak ada apapun yang terjadi. Lisa memilih untuk bungkam sembari menatap ujung sepatu high heelsnya. Kebiasaan, gadis itu jika pikirannya mulai semrawut. Sedikit menjijit pelan sesekali sembari membuang napas berat.

Terlihat kekanankan memang. Namun, hal itu membuat Lisa merasa jauh lebih baik daripada beberapa menit yang lalu. Hingga, ditengah kesendiriannya itu. Sebuah tepukan cukup keras mampir dibahu kirinya. Membuat Lisa sedikit meringis pelan.

"Kau!" tunjuk seseorang langsung, saat Lisa menolehkan kepalanya.

"Dasar wanita ******! "

Plak!

Teriakan disertai suara tamparan itu seketika membungkam hiruk-pikuk orang-orang yang tengah melihat acara penobatan Damian. Fokus mereka langsung teralih pada dua orang gadis yang tampaknya akan berkelahi di sudut kiri lapangan, jika tidak segera dilerai.

Clara--panggil saja begitu. Seorang gadis bergaun Hitam yang digadang-gadang akan menjadi tunangan Damian. Sayangnya, gadis itu selalu mendapat penolakan dari Damian karena mereka masih memiliki ikatan persaudaraan.

Sebenarnya bukan hanya karena itu, alasan lain ya, karena Damian sendiri menganggap Clara seperti adik kandung. Meskipun mereka beda Ibu.

"Kau beri Damian apa, huh? Sampai dia bisa bertekuk lutut denganmu, apa kau menjual tubuhmu? CK, dasar wanita murahan!" maki Clara seraya tertawa merendahkan.

Lisa sendiri hanya memutar bola matanya malas, sama sekali tak menggubris ucapan cewek sinting di depannya ini.

Gadis itu bahkan berniat memutar tubuhnya untuk pergi, namun segera ditahan dengan perlakuan yang tak manusiawi.

Ya, rambut Lisa secara spontan langsung ditarik Clara. Sampai membuat tubuh Lisa hampir limbung kebelakang. Untungnya, gadis itu masih bisa menahan bobot tubuhnya sendiri. Kemudian mencekal tangan Clara sebagai gantinya.

"Kau tahu, betapa susahnya aku menahan rasa sabarku, hari ini huh?" bentak Lisa didekat telinga Clara.

Posisinya telah berubah, malah membuat Clara terpojok sekarang.

"Sungguh, mati-matian aku menahannya hingga rasanya aku ingin menjedotkan kepalaku sendiri sampai berdarah kedinding. Tapi kau ..."

Lisa sengaja mendongakkan wajah Clara, supaya membuat mereka saling bertatapan.

"Hhh ... Kau berani mengusikku? Aku yang tak pernah melihatmu, kau pukul seenaknya, kau jambak rambutku hingga pedih kulit kepala. Kau pikir kau siapa, huh? Berani berbuat seperti itu padaku?"

"Tuhan?!"

"Ratu?!"

"CK! Jangan kira karena aku ini tampak lemah, kau bisa seenaknya, yah! Kau bahkan belum tau betapa menakutkannya sisi gelap diriku."

Setelah mengatakan itu, Lisa langsung melepaskan cengkeramannya pada dagu Clara begitu saja. Dia bahkan tak merasa iba, saat gadis itu meringis kesakitan, kemudian berakting tak berdaya diiringi dengan isak tangis ala-ala sinetron.

Yang jelas Lisa hanya ingin dirinya segera pergi ketempat yang lebih tenang. Sungguh dia benci dengan keramaian ini.

Damian yang melihat hal itu dari atas altar hanya bisa terdiam. Matanya memang begitu awas menatap sosok bergaun merah di sana. Namun, kekhawatiran begitu kentara dari raut wajahnya. Tak berlangsung lama sih, karena didetik berikutnya bibir pria itu tampak melengkung membuat senyuman yang sulit diartikan.

***

Lisa akhirnya memilih kembali ke dalam kamar. Moodnya yang tadinya jelek semakin buruk saja karena kejadian tadi.

Jujur, mungkin jika bukan karena takut nyawanya bisa menghilang malam ini. Lisa pasti sudah membuat wajah gadis itu babak belur.

Enak saja, mukanya yang kiwoyo mirip Lisa Black Pink ini mendapat cap tangan. Memang gadis itu pikir, pipi Lisa kertas HVS apa?

Main cap saja pakai tangan. Benar-benar buat ektra sabar pemirsa.

Gadis itu lantas berjalan ke arah balkon. Berdiri ditepian dengan tangan bersedekap didepan dada. Entah, apa yang sedang Lisa lihat. Netranya terus menerus melihat-lihat hamparan warna kelabu langit malam.

Tenang. Lisa begitu menikmati kesendiriannya ini. Meskipun gadis itu tak bisa memungkiri jika sebenarnya dirinya amat rindu dengan tempat yang disebut 'rumah'.

Perlahan, telapak tangannya menjalar menuju permukaan pipinya yang sempat ditampar Clara. Dirabanya Lisa pelan, namun masih saja membuat gadis itu meringis.

"Ya Tuhan, gadis sinting itu menamparku keras. CK! Pasti butuh waktu lama untuk menghilangkan bekas tangannya ini," gerutu Lisa.

Dirinya bahkan tidak sadar jika sudah ada Damian yang berdiri dibelakang tubuhnya, beberapa meter.

"Kau terluka?" tanya pria itu yang kontan membuat Lisa menolehkan kepala ke arahnya.

Terlihat pupil mata gadis itu membulat akibat terkejut saat melihat kedatangan Damian yang tak terduga. Namun, Lisa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain pada detik berikutnya

"Menurutmu?"

Dalam batin Lisa mengumpat kembali. Menurutnya? Apa perlu dia jelaskan bagaimana kondisinya saat ini. Apakah tanda merah dipermukaan pipinya tidak cukup untuk menjelaskan semuanya?

Melangkah pelan, Damian berjalan ke arah Lisa. Langkah pria itu terhenti hanya beberapa meter dihadapan gadis mungil itu.

Didongakkannya dagu Lisa perlahan membuat kedua netra mereka saling bertemu.

"Maaf, seharusnya aku tak menempatkan dirimu disituasi bahaya itu. Dan soal Clara, kau tak perlu memikirkan adikku secara berlebihan. Dia memang posesif sekali padaku jadi ..."

"Tunggu! Ada apa denganmu?" sentak Lisa seraya mengikis jarak diantara mereka.

Pasalnya, gadis itu merasa begitu aneh dengan perubahan diri Damian yang mendadak begitu lembut dan perhatian. Apalagi, pupil mata pria itu juga terasa berbeda.

Dia seperti bukan Damian yang Lisa kenal. Lantas jika begitu, siapa pria dihadapannya ini?

"Aku Zhask!" ucap Damian seolah tahu kebingungan pada wajah Lisa itu.

"Kau tidak perlu terkejut begitu Lisa, karena aku dan Damian itu sama. Kami memang berada didalam satu tubuh dengan karakter masing-masing," jelasnya lagi.

Lisa hanya mengerutkan keningnya. Mencoba mencerna ucapan pria itu yang kelihatan mengada-ada. Habis, setahu Lisa didalam psikologi ada yang namanya kepribadian ganda. Jadi gadis itu sempat mengira jika Damian memang memilikinya.

"Kau masih bingung, yah?" tanya Zhask lagi.

Lisa hanya menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban. "Ya sedikit."

"Kenapa?"

"Karena aku tak terbiasa dengan ucapan lemah lembut dan perhatian darimu. Jujur itu sangat mengganggu."

Detik itu juga, pupil mata Damian berubah warna menjadi hitam. Begitu juga dengan raut wajahnya yang tadinya ramah, kini terkesan lebih dingin. Yang menandakan jika dirinya telah sepenuhnya kembali.

"Hai, Lisa. Jujur aku suka caramu menegur adik tiriku itu!" ucapnya disertai dengan sebuah senyum mematikan.

Terpopuler

Comments

renjana biru

renjana biru

mampir lg kak, nyicil dulu ya😁 smangatttt
salam balik dari Faith, jgn lupa mampir🤗

2022-12-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!