Secarik Kertas

Mungkin hampir satu minggu lebih semenjak kepergiannya ke air terjun. Kini Lisa merasa begitu bosan berada di Mansion sebesar ini tanpa teman.

Itu karena, Damian tengah pergi berperang serta memberantas beberapa pemberontakan di wilayah Utara bersama Zades. Tak tanggung-tanggung, Damian sempat mengatakan jika kemungkinan dia akan pulang hampir setengah bulan lamanya.

Rindu?

Sepi?

Ah, Lisa rasa dirinya merasakan keduanya. Meskipun dia begitu membenci sikap Damian yang suka sekali menggoda hingga membuat dirinya emosi. Tapi, tanpa Damian di sini, Lisa juga merasa kesepian.

Ibaratnya, Damian itu seperti gula di dalam kopi. Tak terlihat namun kadang dicari-cari keberadaannya.

Mendesah berat, Lisa akhirnya memilih untuk menelungkupkan wajahnya diantara tangan dan bantal. Berniat untuk tidur sebentar sebelum kembali menerima kenyataan hidup yang pahit.

Sayangnya, suara ketukan dari pintu kamar menarik atensinya. Membuat Lisa yang sudah berniat untuk tertidur, seketika bangkit dari posisi rebahannya untuk membuka pintu.

Cklek!

"Siapa?" tanya Lisa.

Dia hanya membuka sedikit pintu kamarnya untuk mengecek siapa yang mengetuk tadi.

Rupanya, sudah ada seorang pelayan wanita yang menunggu di depan pintu. Dia berdiri dengan kepala tertunduk seraya memegangi nampan cokelat yang berisi secangkir teh dengan secarik kertas dibawah cangkir.

Apa itu sebuah pesan rahasia? Batin Lisa.

"Kurasa aku tak meminta dibuatkan teh," ujar Lisa seraya menatap wajah pelayan wanita yang masih menunduk itu.

"Memang benar, tapi hamba hanya menjalankan tugas dari sang Alpha."

Menaikkan sebelah alisnya curiga, Lisa langsung membalas. "Maksudmu, Damian?"

Pelayan itu hanya menggelengkan kepala ringan sebagai balasan.

"Untuk apa, pria itu bersikap repot begini? Padahal dia bisa ..."

"Luna, maaf jika hamba menyela. Tapi, menurut hamba sang Alpha hanya ingin Luna tidak merasa kesepian di sini. Jadi, beliau tetap mencurahkan segala rasa cinta dan kasihnya lewat perantara, yah seperti hamba ini."

Benar juga. Hanya saja, Lisa masih merasa tidak sepenuhnya yakin dengan ucapan pelayan wanita tersebut.

"Sebaiknya Luna segera meminum teh ini, jika terlalu dingin nanti rasanya tidak akan enak lagi," ujar si pelayan seraya menyerahkan nampan berisi teh itu pada Lisa.

Beberapa menit sepeninggalnya pelayan wanita yang cukup mencurigakan itu. Lisa segera kembali memasuki kamarnya lantas mendudukkan pantatnya di atas ranjang.

Lalu dengan secangkir teh tadi? Ah, gadis itu tak berniat meminumnya. Malahan, Lisa hanya menatap secangkir teh hangat itu yang masih mengepulkan asap tipis setelah dirinya letakkan di atas meja rias.

Setelahnya, netra cokelat itu beralih menatap secarik kertas di atas nampan. Perlahan, jari-jemari lentiknya terulur untuk mengambil surat berwarna putih itu.

'Sendu itu perlahan memudar. Tergantikan dengan binar yang kian makin bersinar. Begitu juga dengan hatiku yang dingin. Ia menghangat hanya karena mengingat wajahmu, senyummu, bahkan aroma tubuhmu.'

'Bak semacam nikotin alam, kau membuatku candu. Hingga untuk menahan rindu saja aku tak sanggup.'

'Lis ...'

'Aku ingin kau tahu, jika aku sangat-sangat merindukan dirimu. Jangan lupa untuk menanti kedatanganku, aku akan menunggumu di dekat air terjun sekarang.'

~Damian.

"Surat cinta?" monolog Lisa.

Terlihat alisnya terangkat sebelah karena masih merasa heran dengan isi secarik surat ini.

Terlebih untuk Damian yang notabene terlihat tak romantis. Lisa rasa, pria itu tak dapat merangkai kata-kata yang cukup manis ini tanpa bantuan dari seorang pakar puitis. Seperti Zades, mungkin? Tapi ...

"Bagaimana jika dia benar-benar menungguku didekat air terjun? Hmm ... Kurasa aku harus pergi untuk memastikannya," ucap Lisa setelah lama berpikir.

Gadis itu segera merapikan tempat tidurnya sebelum meraih jaket yang tergantung dibalik pintu kamar. Lalu, dengan kepercayaan diri yang memuncak, Lisa segera melangkah keluar untuk menemui Damian.

Namun, gadis itu tidak tahu jika diam-diam ada dua pasang mata yang mengamati kepergiannya sembari tersenyum tipis.

"Kena kau!"

***

Dilain sisi, tepatnya di wilayah perbatasan sebelah Utara. Terlihat Damian beserta Zades dan beberapa pasukannya tengah beristirahat sembari mendirikan kemah.

Ya, mereka berniat untuk bermalam di wilayah itu. Apalagi, Damian mendapat laporan dari salah seorang wariornya, jika malam ini akan muncul sekumpulan Rogue liar yang akan melewati daerah yang mereka tempati.

Tentu saja, Damian tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Terlebih lagi, dia begitu membenci Rogue! Jadi, dirinya berencana untuk membantai habis-habisan makhluk menjijikan itu nanti.

"Bagaimana kabar di Mansion, apa semuanya masih damai seperti biasa?" tanya Damian membuka pembicaraan.

Saat ini, Damian dan pasukannya tengah duduk memutari api unggun sembari membakar hewan hasil buruan untuk disantap makan malam.

"Tentu, My Alpha! Apalagi, Anda sudah menempatkan beberapa warior kelas satu untuk menjaga Mansion sebelum pergi. Sudah pasti, keamanannya akan tetap saja terjaga, seperti saat ada Anda di sana," jawab Zades.

Kepala Damian terlihat mengangguk, menanggapi ucapan Zades barusan.

"Lalu, bagaimana dengan kamar Luna? Apa sudah dijaga dengan benar seperti apa yang aku perintahkan?"

Seketika gerakan tangan Zades yang hendak mengambil sepotong daging terhenti. Dengan penuh rasa takut, kepalanya menoleh ke arah Damian yang kini menatapnya tanpa ekspresi.

Seolah-olah tuannya itu tahu, jika Zades baru saja melakukan kesalahan besar.

"Zades?" panggil Damian.

Nada bicaranya masih sama, namun raut wajahnya tiba-tiba berubah menggelap. Dan itu, membuat Zades seketika kehilangan fungsi mulutnya untuk berbicara.

"A-ampun My Alpha! Kalau soal itu, hamba ..."

"Jangan bilang kau tak menjaga kamar Luna dengan benar?" potong Damian cepat membuat Zades makin tak karuan saja.

"Sialan! Kalau begitu malam ini aku akan pulang!" ucap Damian kesal.

Dia bahkan langsung berdiri dari posisi duduknya, untuk bersiap-siap berubah kewujud serigala Zhask.

"Tunggu, My Alpha! Anda tidak bisa membuat keputusan secara sepihak begitu, apalagi kita berada di daerah rawan musuh. Hamba hanya khawatir, bagaimana jika setelah Alpha pergi, para Rogue liar itu menyerang? Lantas bagaimana dengan kami?" tukas Zades menjelaskan.

Raut wajahnya yang sempat ketakutan tadi, kini berubah menjadi raut wajah penuh kecemasan. Membuat Damian langsung menggeram tak suka.

"Jangan menghalangi keputusanku!" teriak Damian sarat emosi.

"T-,tapi My Alpha! Kali ini saja, tolong terima saran hamba."

Sesaat Damian terdiam. Dia segera membuang wajahnya kesamping lalu berkacak pinggang.

Jujur, entah mengapa pikirannya begitu kalut malam ini. Apalagi, dia meninggalkan Lisa seorang diri di Mansion. Kira-kira apa yang akan gadis itu perbuat tanpa dirinya di sana yah?

Damian harap sih, Lisa akan tetap mengurung dirinya di dalam kamar. Serta tak mencoba untuk mencari masalah dengan sang Ayah Dean maupun Clara.

Habis, hanya mereka berdua yang meskipun masih satu darah dan keluarga. Tapi bisa menusuk diri Damian kapan saja.

Apalagi saat ini Damian tak ada di sana. Pria itu jadi khawatir, hal ini malah menjadi kesempatan bagi mereka yang tak begitu menyukai Lisa yang seorang mortal, untuk melakukan hal-hal buruk padanya.

Terpopuler

Comments

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

jebakan Lisa..!!
kamu harus hati²..

2022-12-02

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Aasseekk😁😁😁😁

2022-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!