Tak Tertahan

Lisa terpaku saat melihat sosok berkulit pucat dan penuh luka dibalik punggung Zades. Netra cokelatnya menatap penuh iba pada sosok itu yang beberapa kali tertangkap meringis, menahan sakit.

Sejujurnya, Lisa memang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Tapi, melihat seseorang yang sedang kesakitan begitu membuat rasa simpati Lisa timbul.

Perlahan, tanpa Lisa sadari. Kakinya mulai melangkah mendekati sosok itu. Sampai, gadis itu merasakan genggaman yang begitu erat mencengkram pergelangan tangannya.

"Mau kemana?" tanya Damian dingin.

Sorot matanya begitu tak acuh hingga membuat Lisa merasakan aura membunuh disekitarnya.

Takut-takut, gadis itu menunjuk sosok dibelakang tubuh Zades dengan jari telunjuknya.

"Membantu, dia. Kasihan, orang itu terluka parah."

Bukannya menjawab, Damian malah menyeret pergelangan tangan Lisa hingga membuat gadis itu mepet sekali dengan tubuhnya. Setelah itu, Damian pun berbisik lirih, "Mau membantu? Tsk, bukankah keadaanmu sendiri tak memungkinkan, Nona? Kenapa begitu peduli dengan orang lain?"

Benar sih, hanya saja Lisa tak sepenuhnya setuju dengan ucapan Damian. Toh, sebagai manusia yang berbudi luhur juga harus membantu makhluk hidup lainnya supaya alam semesta menjadi seimbang.

Ya, sepertinya itu baru benar.

Mengikis jarak, Lisa segera mendorong dada bidang Damian hingga membuat jarak diantara keduanya.

"Sayangnya, aku tak kejam sepertimu." Membalikkan tubuhnya, Lisa kembali mendekati sosok pucat dibelakang tubuh Zades.

Kali ini, tak ada ungkapan protes dari Damian. Sebaliknya, justru pria itu menyuruh Zades untuk memberi jalan pada Lisa.

Sesampainya dihadapan pria itu. Lisa sedikit mencondongkan tubuhnya, itu karena si pria pucat dibuat membungkuk dengan tangan diborgol dimasing-masing sisi. Seperti dipasung.

Namun, hal tak terduga terjadi saat wajah Lisa hanya bersisa beberapa centi untuk mengamati luka si pria pucat. Pipi kirinya tiba-tiba mendapat sabetan dari kuku runcing pria itu hingga membuat darah seketika mengalir.

"Lisa!" pekik Damian.

Segera pria itu melesat hingga membawa Lisa menjauh dari sosok vampir yang berhasil betanya tangkap.

Amarahnya memang tampak, namun manik gelap itu menatap wajah Lisa penuh cemas. Seolah-olah gadis itu ibarat sekuntum mawar yang mudah rusak bisa disentuh.

"Kau baik-baik saja? Kenapa kau tak mengindahkan ucapanku dan selalu ceroboh sih?" ucap Damian seraya menangkup kedua pipi Lisa hingga menggembung lucu.

"Eum ... Dammm ... Aku ... tak bisa bernapas!"  celoteh Lisa tak begitu jelas.

"Zades!" panggil Damian seraya menolehkan kepala ke betanya.

"Pokoknya aku tidak mau tahu, cepat ikat vampir sialan itu lalu siksa dia dengan seratus kali cambuk!" titahnya mutlak.

Zades yang mendengar hal itu langsung membungkukkan tubuhnya lantas pergi sembari menyeret Cleon yang masih berusaha berontak bersama beberapa warior lainnya.

Saat itulah, netra cokelat Lisa tak sengaja bertemu pandang dengan netra hijau xavier milik Cleon.

"Kau pasti akan mati ditangan bangsa kami, aku jamin itu!" teriak Cleon keras yang membuat Lisa kembali terdiam.

Entah mengapa, ucapan serta sorot mata membunuh itu mengingatkan Lisa akan kejadian malam itu. Tentang temannya Sam yang tiba-tiba menggila dan berniat memperkosa dirinya. Serta, seekor serigala dengan ukuran tiga kali lipat yang hampir menerkam Lisa bulat-bulat.

Semuanya mendadak berputar layaknya potongan karset rusak dipikirannya. Membuat air matanya seketika mengalir deras tanpa sadar.

Ya, Lisa terisak dihadapan Damian sekarang. Meskipun gadis itu mencoba menahan tangisannya agar tidak pecah, tapi bulir-bulir air matanya terus-menerus mengalir hingga membasahi ibu jari Damian.

"Ada apa?" tanya Damian lembut.

Entah kemana perginya sosok Damian yang sempat marah-marah barusan.

"Lis!" panggilnya lagi.

Kali ini, ibu jarinya mengusap pelan air mata yang jatuh membasahi permukaan gadis itu.

"Bo-boleh, aku memelukmu sebentar? A-aku ..."

Tanpa sempat menyelesaikan perkataannya, tubuh Lisa sudah lebih dulu dipeluk erat Damian.

"Tidak perlu meminta izin, kau bisa melakukan apapun sesukamu. Bahkan jika menangis bisa membantu melegakan perasaanmu, kau boleh menangis sekencang-kencangnya dalam dekapanku."

Detik itu juga, Lisa menangis sekeras-kerasnya dalam dekapan hangat Damian. Rasa-rasanya, dia ingin melampiaskan semua emosi yang dirinya pendam sejak lama.

Tentang teman, rumah, lalu hidupnya. Lisa berharap semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin hampir satu jam lebih, Lisa menangis dalam pelukan Damian. Dan saat, tangisnya mulai mereda, seketika kesadarannya ikut pulih.

Mendadak Lisa menjadi hilang berani hanya untuk mendongakkan kepala menatap wajah Damian. Untuk bersuara saja, nyalinya ikut menciut. Tatkala membayangkan bagaimana kacaunya dia saat menangis tadi. Lisa sendiri ingat, dia sempat memukul-mukul punggung Damian untuk meredam emosi.

Ternyata jika diingat kembali, sungguh memalukan. Batin Lisa  berujar.

"Bagaimana, merasa jauh lebih baik? Apa perlu aku gendong juga untuk kembali ke kamar?" tawar Damian yang langsung mendapat plototan tajam dari Lisa.

"Heh, jangan karena aku menangis dipelukanmu tadi, kau jadi bersikap seenaknya, yah! Aku bisa kok jalan sendiri," balas Lisa ketus.

Terlihat seutas senyum muncul dibibir Damian. "Oke-oke."

***

Diantara sel gelap itu, tampak Cleon yang sudah digantung kedua tangannya tinggi-tinggi menggunakan rantai berkarat. Wajahnya yang pucat, semakin terlihat memutih akibat penyiksaan yang dirinya terima secara bertubi-tubi.

Tak hanya itu, darah segar juga ikut merembes lagi dari sela-sela luka yang belum kering.

Meringis pelan, Cleon sempat membuang ludah berisi cairan merah berbau besi ke samping kiri. Niatnya tadi, dia ingin meludahi wajah Zades yang tampan. Sialnya, pipi kanannya keburu mendapatkan bogeman mentah nan keras dari Zades.

Tersenyum tipis, Cleon lantas menggoda Zades. Sejujurnya, dia tahu mungkin kesempatan untuk hidup dan melarikan diri dari tempat ini begitu kecil. Jadilah, dia memanfaatkan waktu yang ada untuk bermain-main dengan Beta Axces pack itu.

"CK, kenapa kau tak membunuhku saja?" tanyanya sambil tertawa.

Zades yang melihat itu kontan menghentikan tinjuannya seketika. Pria itu lantas mendongakkan kepala ke atas, guna melihat raut wajah sang pangeran vampir yang sudah babak belur dari bawah.

"Belum saatnya," balasnya singkat.

Lalu kembali memukuli perut Cleon hingga membuat vampir itu blingsatan.

"Jangan mati dulu. Kami bahkan belum mencambuk dirimu sebanyak seratus kali seperti perintah sang Alpha. Jadi, tetap jaga nyawa dan kesadaranmu, yah!" tukas Zades dibarengi senyuman mautnya.

Cleon yang mendengar hal itu hanya bisa menelan ludahnya berat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika hukuman cambuk itu benar-benar dirinya dapatnya.

***

Setelah kejadian itu, Lisa pun memilih untuk kembali ke kamarnya. Meskipun, Damian sempat bersikukuh untuk mengantar gadis itu ke Mansion. Tapi, Lisa menolak permintaannya mentah-mentah.

Jadilah, saat ini Lisa berjalan seorang diri menuju kamarnya. Namun, entah apes atau kebetulan dirinya malah bertemu dengan Clara di taman, yakni seseorang yang paling Lisa tidak ingin temui ditempat ini.

"Halo, ******!"

Terpopuler

Comments

Leo Nil

Leo Nil

disensor ngk tuh sama sistem

2022-11-26

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Iya Halo...☎️

2022-11-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!