Pagi ini, Irwan masih berada di teras depan rumahnya. Sudah sejak tadi, Irwan berjemur di depan rumah.
Sepulangnya dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, Irwan sudah tidak bisa berjalan normal seperti biasanya.
Dia sekarang harus menggunakan kursi roda, karena ke dua kakinya dinyatakan mengalami kelumpuhan oleh Dokter.
Sementara di sisi yang lain, Irene
tampak masih berada di depan meja riasnya. Seperti biasa, setiap akan pergi, dia memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan lipstik.
Pagi ini, Irene akan pergi ke rumah Ifan untuk bekerja. Setelah rapi, Irene mengambil tas kecilnya. Dia kemudian melangkah ke luar rumah dan menghampiri Irwan suaminya.
"Mas, aku berangkat dulu ya." Irene berpamitan pada suaminya.
Irwan tersenyum sembari menatap lekat wajah ayu istrinya. Irene terlihat sangat cantik dan bersemangat pagi ini. Dan Irwan tidak tahu Irene itu kerja di mana sekarang. Karena Irene tidak pernah cerita tentang pekerjaannya yang sekarang.
Irene tidak mau, membuat Irwan marah. Mungkin jika saja Irwan tahu kalau Irene kerja di rumah mantan suaminya, Irwan akan sangat marah besar pada Irene. Suami mana yang tidak akan marah, kalau tahu istrinya itu dekat dengan mantan suaminya.
Irene meraih tangan Irwan dan mencium punggung tangannya. Setelah itu, dia menatap suaminya.
Sebenarnya Irene tidak tega harus meninggalkan Irwan sendiri di rumah. Apalagi kondisi Irwan saat ini lumpuh.
Irene terpaksa harus meninggalkan Irwan, karena hari ini, dia sudah harus mulai bekerja lagi di rumah Ifan. Saat ini, sudah tidak ada lagi, orang yang bisa Irene andalkan untuk membantu kesulitan ekonominya.
Irene sudah banyak berhutang budi pada Ifan. Dia tidak mau menerima uang Ifan dengan cuma-cuma. Dia harus bisa untuk membayar hutangnya pada Ifan, dengan cara bekerja dengan Ifan. Karena sekarang cuma itu yang bisa Irene lakukan untuk kesembuhan suaminya.
"Ren. Kalau kamu kerja, siapa yang akan ngurusin aku sayang?" tanya Irwan menatap Irene lekat. Dia tampak sedih harus ditinggal kan Irene pergi.
"Mas, aku sudah telpon Fatma adik kamu. Katanya dia mau ke sini untuk menemani kamu."
"Untuk apa Fatma ke sini?" tanya Irwan.
"Ya untuk membantu kamu di sinilah Mas. Kamu itu tidak bisa sendirian di rumah. Kalau kamu mau ke kamar mandi, atau kamu mau makan gimana. Aku kan pulangnya sore Mas. Kamu harus ada yang nungguin di rumah."
Irwan diam. Dia sekarang sadar, kalau dirinya sudah menjadi orang cacat. Dia tidak bisa melakukan apapun sendiri.
Irwan juga sudah tidak bisa lagi memaksa istrinya untuk tetap di rumah menjaganya. Karena Irene, pasti juga butuh uang untuk memenuhi semua kebutuhannya. Dan Irwan sekarang sudah tidak bisa menafkahi Irene lagi karena kakinya yang lumpuh.
"Emang Fatma nggak kuliah?" tanya Irwan.
"Fatma kuliah kan cuma sebentar Mas. Dan dia juga ambil kuliah sore. Jadi, pagi kan dia bisa temani kamu. Kamu nggak perlu khawatir Mas. Aku sudah bilang semua sama Fatma."
"Ya udahlah Ren. Terserah kamu aja. Aku sekarang sudah tidak bisa melarang kamu lagi untuk kerja. Karena aku sadar, aku sudah cacat. Sekarang aku sudah tidak berguna lagi. Jalan aja aku ngga bisa. Apalagi kerja."
Irene tersenyum.
"Kamu jangan bicara seperti itu Mas. Kamu itu lelaki yang sangat bertanggung jawab. Kamu sayang dan setia sama aku. Aku beruntung Mas, mendapatkan suami seperti kamu. Kamu jangan pernah putus asa ya, dan kamu jangan sekali-kali bicara kalau kamu itu tidak berguna. Karena aku sangat sayang banget sama kamu, dan tidak mau kehilangan kamu."
Sejak Irwan lumpuh, Irwan seperti sudah mulai putus asa. Irwan selalu menganggap dirinya tidak berguna karena selalu merepotkan orang lain.
"Tapi, aku sudah selalu merepotkan kamu Irene. Maafkan aku Irene," ucap Irwan penuh kesedihan.
"Iya Mas. Nggak apa-apa. Aku pergi dulu ya. Udah kesiangan nih." Irene menatap jam tangannya. Waktu ternyata sudah menunjuk ke angka delapan. Hari ini, Irene sudah kesiangan.
"Iya. Hati-hati ya Irene."
"Iya."
Setelah berpamitan pada suaminya, Irene kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Dia melangkah ke arah jalan raya untuk menunggu taksi.
Beberapa saat kemudian, taksi pun berhenti tepat di depan Irene berdiri. Irene langsung masuk ke dalam taksi. Dia kemudian meluncur ke rumah Ifan dengan taksi itu.
Sesampai di depan rumah Ifan, Irene pun turun. Dia melangkah ke halaman depan rumah Ifan. Tampak di sana, Ifan dan anaknya sudah siap untuk pergi. Irene buru-buru melangkah menghampiri Ifan dan Alma.
"Maaf Pak Ifan. Saya terlambat," ucap Irene mengejutkan Ifan dan Alma.
"Tante Iren..." Alma melebarkan senyumnya saat melihat Irene.
"Iren. Kamu kok nggak bilang dulu kalau kamu mau ke sini?" tanya Ifan.
"Alma mau ke sekolah ya? biar Tante antar ya?" Irene menatap Alma lekat.
"Nggak Tante. Aku dan papa mau ke panti asuhan," jawab Alma.
Irene fikir, Alma mau ke sekolah. Tapi ternyata, Alma mau ke panti asuhan.
Irene mengernyitkan alisnya bingung.
"Untuk apa kalian ke panti asuhan?" tanya Irene.
"Seperti biasa Ren. Setiap sebulan sekali, aku dan Alma selalu berkunjung ke panti untuk memberikan santunan pada anak-anak panti."Ifan menjelaskan.
"Oh, gitu?" Irene manggut-manggut.
Dia baru tahu, kalau ternyata mantan suaminya itu, suka sekali berkunjung ke panti untuk memberikan santunan ke anak-anak yatim piatu.
Selain dia tampan, dia juga lelaki yang sangat dermawan. Mungkin karena keberkahan itu, yang membuat Ifan bisa sukses seperti sekarang.
"Kamu mau ikut Ren? " tanya Ifan pada Irene.
"Em... gimana ya." Irene tampak bingung.
Dia harus meminta persetujuan dulu dari Alma. Karena Irene takut, Alma akan bersikap dingin lagi seperti sejak pertama kali Alma bertemu dengan Irene.
Irene menatap Alma lekat.
"Alma, apa boleh Tante ikut?" tanya Irene.
"Boleh banget Tante," ucap Alma sangat bersemangat.
Sepertinya Alma sudah mau menerima Irene sebagai pengasuh barunya.Irene tersenyum, setelah Alma membolehkannya ikut bersamanya.
"Ya udah deh. Kalau Alma ngizinin Tante untuk ikut, Tante akan ikut kalian," ucap Irene.
Ifan tersenyum, saat menatap wanita yang ada di depannya. Wanita yang sudah lama dia rindukan, akhirnya sekarang wanita itu kembali di kehidupan Ifan.
Walau sekarang Irene sudah bukan miliknya lagi. Tapi Ifan tetap bahagia karena dia sekarang bisa menatap wajah Irene setiap hari.
Ifan selalu berharap, kalau Irene itu masih mempunyai perasaan yang sama seperti perasaannya saat ini. Karena sampai sekarang, Ifan belum bisa melupakan cintanya untuk Irene.
"Ya udah. Tunggu apa lagi, ayo Ren masuk mobil..!" Ifan mengajak Irene untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Iya Mas."
"Kamu duduk di depan saja Ren. Biar anak aku yang duduk di belakang. Karena Alma lebih suka duduk di belakang," ucap Ifan tiba-tiba.
"Oh. Gitu?"
"Iya. Kadang dia suka tidur dan berbaring di jok belakang," jelas Ifan.
"Aku duduk di belakang aja Mas, sama Alma. Aku mau temani dia." Irene merasa tidak enak, jika dia harus duduk di depan bersama Ifan.
"Ya terserah kamulah Ren."
Irene kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang, tepat di samping Alma. Dia tidak enak, jika dia harus duduk di samping Ifan. Irene tidak mau, perasaan yang sudah terkubur lama untuk Ifan itu, kembali lagi dalam hatinya.
Karena Ifan lelaki yang terlampau baik. Irene tidak mau, jatuh cinta untuk yang ke dua kalinya pada Ifan. Karena cintanya saat ini, hanya untuk suami tercintanya Irwan.
"Oh, gitu ya. Ya udah deh, papa nggak mau bicara apa-apa," ucap Ifan.
Irene sejak tadi, hanya bisa senyam-senyum sendiri melihat tingkah Alma yang menggemaskan. Alma memang masih kecil, tapi gaya bicaranya selalu meniru gaya orang tua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments