***Kamar pasien VVIP Healing Hands Hospital***
Suster jaga membersihkan luka di tangan William dengan telaten, lalu membungkus kepalan tangan pria muda itu dengan perban.
"Sudah selesai, Tuan William. Saya permisi dulu," ucap suster dengan sopan.
William menjawab dengan anggukkan kepala dan wajah tanpa ekspresi.
Kedua bodyguard yang berada di kamar pasien VVIP mengikuti suster jaga dari belakang dan kembali ke posisi mereka semula yaitu berjaga di depan pintu kamar.
Kedua bodyguard sedang menunggu kedatangan tambahan dua bodyguard lainnya atas perintah Hans Pattinson.
Sementara William duduk bersandar di atas tempat tidur pasien sambil memejamkan rapat kedua matanya.
William bukanlah tidur, melainkan memikirkan rencana untuk membalas dendam. Tentu saja bukan balas dendam terhadap Emma dan Keluarga Watson, tetapi balas terhadap pria asing, suami sah Emma sekarang.
Sepengetahuan William, dirinya tidak pernah bertemu ataupun melihat wajah Chris di Bali sehingga William tidak mengerti mengapa Emma bisa memilih Chris sebagai suami.
Harga diri dan ego William yang tinggi membuatnya sangat percaya bahwa dirinya lah pria yang paling pantas menjadi suami Emma.
Handphone William yang berada di atas meja berdering sehingga membuatnya tersadar dari lamunan dan menerima panggilan telepon dengan cepat, saat melihat nama Jonathan muncul di layar handphone.
Saat ini William masih berada dalam pengawasan bodyguard atas perintah Hans sehingga William tidak bisa bertindak sesuka hatinya, tetapi William bisa meminta bantuan Jonathan.
"Halo!"
"Will! Kamu sudah tahu Emma menikah dengan pria lain?" tanya Jonathan tanpa basa-basi.
"Iya," jawab William dengan singkat.
"Are you okay, Will?" tanya Jonathan.
"Jo! Aku ingin bantuanmu!" ucap William, tanpa menjawab pertanyaan Jonathan.
"Aku pasti akan membantumu," jawab Jonathan.
"Tolong selidiki asal usul suami Emma. Aku akan menghancurkannya!" ucap William sambil menggertakkan giginya.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti," jawab Jonathan.
***
William membuka galeri foto di handphone setelah menutup sambungan telepon dengan Jonathan. Matanya terpaku menatap satu foto di sana.
Foto Emma dengan baju toga wisuda. Emma tersenyum sambil memegang satu buket bunga di tangannya. Foto yang sengaja diambil William dari postingan sepupunya, Roy di media sosial.
Kebetulan Roy kuliah di universitas yang sama dengan Emma. Pada saat itu William tertarik dengan wajah cantik dan sempurna Emma sehingga menyimpan foto gadis muda itu di galeri handphone nya.
Pada saat William mengetahui Emma adalah putri bungsu Keluarga Watson dan ternyata Hans berniat melakukan pernikahan bisnis, membuat William langsung menyetujuinya.
William menyetujui semua syarat yang diberikan oleh Keluarga Watson, termasuk medical check up pranikah dan juga menghentikan kebiasaan buruknya berhubungan mesra dengan wanita lain.
William juga mengajukan syarat untuk bertemu dengan Emma satu kali setiap bulan. Mereka akan dinner bersama dan saling mengenal satu sama lain agar menjadi lebih dekat, sebelum tiba hari pernikahan besar mereka.
Tom menyetujui syarat William, tetapi hanya sebatas dinner saja dan William harus mengantarkan Emma pulang ke Mansion Watson tepat waktu.
William memperlakukan Emma seperti putri bangsawan. William ingin menampilkan pribadi yang baik di hadapan Emma.
William selalu memberikan hadiah yang mahal ke Emma saat dinner bersama. William tidak akan pernah menyangka salah satu hadiahnya berupa jam tangan couple limited edition membuat Emma mengenalinya di pesta topeng sehingga menangkap basah perselingkuhannya dengan Lily.
"Aku harus berperilaku baik agar papa tenang dan tidak mengirim bodyguard untuk mengawasi ku lagi," batin William.
William menekan tombol dekat tempat tidur untuk memanggil suster jaga. Beberapa saat kemudian, suster jaga yang mengobati luka tangan William menghampiri pria muda itu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kali ini dua bodyguard baru yang mengikuti suster itu masuk ke kamar.
"Papa pasti menambah bodyguard untuk mengawasiku. Aku terlalu gegabah tadi!" batin William.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan William?" tanya suster jaga.
"Tolong siapkan baju pasien yang baru," jawab William sambil menunjuk jubah mandi yang masih dipakainya.
"Baik Tuan William," ucap suster jaga.
"Suster. Apakah aku harus melakukan tes yang lain lagi? Jika iya, tolong diatur prosedurnya sekarang agar hasilnya cepat keluar," kata William.
"Semua tes yang diperlukan sudah dilakukan kemarin, Tuan William. Nanti sore hasil tes darah akan keluar, sedangkan hasil tes lainnya paling cepat lusa sudah ada," jelas suster jaga panjang lebar.
"Berarti aku hanya perlu menginap di sini dua hingga tiga hari lagi," batin William.
"Terima kasih infonya, suster!" kata William.
"Sama-sama Tuan William. Saya permisi dulu!" kata suster jaga.
Ketika kedua bodyguard ingin keluar dari kamar pasien VVIP, William memanggil mereka.
"Ada apa Tuan muda William?" tanya salah satu bodyguard dengan sopan.
"Aku mau pindah kamar. Kalian bereskan semua kekacauan ini!" ujar William sambil menunjuk perabot yang rusak akibat kemarahannya tadi.
"Baik Tuan muda William! Kita akan mengurusnya sekarang!" jawab bodyguard lainnya.
Lima belas menit kemudian, William sudah berada di kamar pasien VVIP baru. Tentu saja para bodyguard sudah mengurus proses ganti rugi barang yang rusak di kamar sebelumnya.
Wajah keempat bodyguard tidak tegang seperti sebelumnya dikarenakan sikap William yang lebih melunak dan tidak mengamuk lagi.
Hans merasa lebih tenang setelah mendapat laporan dari bodyguard mengenai perkembangan William. Bahkan Hans menelepon William untuk menanyakan luka tangan putra kesayangannya apakah masih sakit dan meminta perawatan rontgen tangan William.
William tersenyum samar karena Hans tidak mencurigai sikap pura-pura nya. William berencana untuk menemui Emma saat dirinya terbebas dari karantina serta pengawasan bodyguard.
"Emma! Aku akan menghancurkan pria yang berani merebutmu dariku!" tekad William di dalam hatinya.
***Hotel S tempat Emma dan Chris menginap***
Sepasang pengantin baru itu bangun dengan suasana hati ceria, sangat berbeda jauh dengan suasana hati William. Semalam Chris dan Emma sudah janjian untuk menikmati semua fasilitas mewah yang tersedia di Hotel S.
Chris mandi terlebih dahulu, lalu menyiapkan air hangat di bathtub untuk Emma. Emma berendam di bathtub yang penuh dengan gelembung wangi dari bath bomb.
Ketika Emma selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian kasual yang santai, Chris membantu mengeringkan rambut gadis muda itu. Emma menikmati pelayanan Chris dengan senang hati.
Pukul sepuluh pagi, Chris membuka pintu kamar setelah mendengar bunyi bel pintu. Seorang koki spesial yang khusus melayani tamu Suite Room menyapa Chris terlebih dahulu, sebelum menuju dapur untuk mempersiapkan breakfast bagi pasangan pengantin baru itu.
Emma dan Chris duduk saling berhadapan di ruang makan. Mereka mencicipi breakfast sambil mengobrol ringan.
"Chris! Kamu asli orang Australia?" tanya Emma.
"Iya. Aku lahir di Australia," jawab Chris.
"Kenapa kamu bisa fasih Bahasa Indonesia?" tanya Emma penasaran.
"Aku pernah private Bahasa Indonesia," jawab Chris dengan jujur.
"Benar juga. Kamu melakukan bisnis di sini. Private Bahasa Indonesia membuatmu tidak mudah tertipu," kata Emma.
"Tetapi aku sudah kena tipu di sini," ucap Chris dengan wajah serius.
"Siapa yang berani menipumu? Sebutkan namanya! Aku minta Rocky memeriksanya," kata Emma.
Emma mengira Chris tertipu oleh salah satu pengusaha dari Bali sehingga ingin membantu Chris membalas dendam.
Chris tertawa kecil melihat sikap polos Emma. "Aku tertipu olehmu," jawab Chris.
Wajah Emma merona merah seketika. Ingatan akan jebakannya terhadap Chris muncul dalam pikiran Emma.
"Aku senang kamu menjebakku malam itu. Ciumanmu sangat manis," canda Chris.
"Ciumanmu juga sangat profesional," balas Emma, tidak mau kalah.
"Benarkah?" tanya Chris.
"Iya," jawab Emma sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Tiba-tiba Chris berdiri dari kursinya. Kedua tangannya menekan meja di sisi kiri dan kanan. Emma menatap Chris dengan ekspresi wajah bingung.
"Kita coba lagi!" kata Chris.
Emma masih mencoba mencerna arti perkataan Chris, pria muda itu sudah memajukan tubuh dan menundukkan wajahnya.
Bibir Chris menyentuh bibir stroberi Emma. Ciuman yang dalam dan saling membalas satu sama lain membuat gelembung-gelembung cinta bertebaran di sekeliling mereka berdua.
Chris menghentikan ciuman, lalu menyentuh sudut bibir Emma dengan jempol tangan kanannya. "Sama manisnya dengan ciuman pertama dan kedua," ucap Chris.
Chris menarik kursinya dan duduk lagi di hadapan Emma. "Ayo makan lagi breakfast nya," ucap Chris dengan suara lembut dan terdengar sangat seksi di telinga Emma.
Emma menundukkan kepala dengan cepat dan pura-pura konsentrasi mencicipi makanan di atas piringnya.
Emma teringat akan jawabannya ke Rocky di kamar rias toko baju pengantin Tiffany beberapa waktu yang lalu.
"Apa benar duda lebih berpengalaman?" batin Emma.
***
Selamat malam readers tercinta. Setelah membaca aksi Will yang menyebalkan, dilanjutkan dengan sweet moment Chris-Emma 🥰
Sampai jumpa di bab besok 🤗
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
lily
biasanya memang gtu duda lebh pengalaman hahhaa
2024-06-28
0
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
iya emma duda itu emang hot 🔥
2024-03-16
0
Imam Sutoto Suro
top markotop story'lanjut thor
2023-04-13
0