***Mansion Watson***
"Emma! Keluarlah! Aku membawa banyak hadiah untukmu!"
William sudah berada di depan Mansion Watson selama sepuluh menit, tetapi pintu mansion tidak terbuka sama sekali untuknya sehingga William hanya bisa berteriak dari luar memanggil Emma.
Pak Gusti, kepala pelayan mansion keluar menemui William setelah mendapatkan perintah dari Tom.
"Tuan William! Nona Emma tidak ada di mansion. Silakan Tuan William pulang sekarang!" ucap Pak Gusti dengan sopan.
"Aku ingin menemui Om Tom!" kata William.
William tidak mempercayai perkataan Pak Gusti sehingga beralasan ingin menemui Tom agar diizinkan masuk ke mansion.
"Maaf Tuan William! Tuan besar paling tidak suka kegiatan memancingnya diganggu," tolak Pak Gusti tanpa ragu.
Pak Gusti memberi isyarat mata kepada dua bodyguard yang berjaga di sana sehingga mereka menghampiri Pak Gusti dengan cepat serta berdiri di sisi kiri dan kanan kepala pelayan itu.
"Sial! Om Tom mengutusnya untuk mengusirku!" batin William.
"Aku membawa banyak hadiah untuk Emma!" ujar William sambil menunjuk satu mobil luggage van yang parkir di belakang mobil mewahnya.
"Aku akan sampaikan ke Nona Emma nanti," jawab Pak Gusti.
"Baiklah. Tolong beritahu Emma, besok aku datang lagi," pesan William.
"Baik tuan William," jawab Pak Gusti.
***Lantai dua Toko Baju Pengantin Tiffany***
Dylan duduk di sofa sambil menatap intens Chris yang duduk tepat di hadapannya, sedangkan Chris sedang menatap serius layar handphone di tangannya.
Rio mengirimkan foto dua pasang cincin kawin Cartier, yang merupakan produk terbaru untuk menanyakan pilihan Chris. Chris memilih cincin pernikahan emas 18 karat.
Beberapa saat kemudian, Chris menyimpan kembali handphone ke dalam saku jas dan membalas tatapan Dylan.
"Kenapa menatapku terus?" tanya Chris dengan suara lembut dan tenang.
Dylan tidak menjawab pertanyaan Chris, melainkan melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Sepuluh menit lagi," ujar Dylan dengan wajah datar.
Chris hanya terdiam dan menunggu Dylan berbicara lagi. Chris tidak bisa menebak apa arti sepuluh menit itu.
"Jika Emma tidak muncul dalam sepuluh menit, maka pernikahan kalian akan dibatalkan," kata Dylan.
"Baiklah," jawab Chris.
Lima menit berlalu dengan cepat. Dylan semakin penasaran melihat sikap tenang Chris.
"Kamu tidak kecewa pernikahan dibatalkan?" tanya Dylan.
"Aku percaya sama Emma," jawab Chris dengan yakin.
"Nona Emma!" sapa karyawan toko, yang berdiri di depan lift.
Dylan dan Chris menoleh ke sana bersamaan. Emma berjalan keluar dari lift diikuti oleh Rocky.
Chris tersenyum lebar melihat penampilan sempurna calon istrinya. Chris pun berdiri dari sofa dan menganggukkan kepalanya sedikit ke Dylan.
"Kak Dylan. Aku dan Emma foto pre-wedding dulu," kata Chris, sebelum berjalan menghampiri Emma.
Dylan menatap ke arah Rocky. Rocky memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya pertanda dirinya sudah menceritakan semua informasi mengenai Chris ke Emma.
Gerakan kecil Rocky terekam jelas di mata Chris. Chris menduga bodyguard kepercayaan Emma itu pasti sudah melacak identitas pribadinya dan melaporkannya ke Emma.
Emma menyambut Chris dengan memberikan senyum termanis dan merangkul lengan pria muda itu.
"Emma. Kamu yakin mau menjadi istriku? Tidak boleh berubah pikiran lagi setelah pemotretan foto pre-wedding," ucap Chris dengan wajah serius.
"Aku sangat yakin. Ayo kita foto sekarang," kata Emma.
Mereka berdua pun mengambil posisi dan bergaya mengikuti arahan juru kamera. Suara jepretan kamera dan kilatan kamera menggema di lantai dua.
Sesekali terdengar suara pujian dari juru kamera karena kedua sejoli seakan memiliki chemistry dalam setiap foto yang dihasilkan.
***
Tanpa terasa Emma dan Chris melakukan pemotretan pre-wedding indoor selama satu jam. Dylan setia menunggu di sana sambil membalas email di ipad mini. Dylan mendukung sepenuhnya hasil keputusan akhir Emma.
"Kak Dylan. Aku ganti baju dulu," kata Emma.
"Iya. Nanti kita makan siang bersama. Setelah itu Rocky akan mengikuti mobil kalian ke Medical Health. Aku ada meeting penting setelah lunch. Liam akan mengurus semuanya di sana," ucap Dylan.
"Terima kasih Kak Dylan," ucap Emma. Gadis muda itu menghampiri Dylan yang masih duduk di sofa dan memberikan satu pelukan hangat, sebelum berjalan menuju ruang ganti.
"Kak Dylan. Aku permisi ke ruang ganti," ucap Chris dengan sopan.
"Sebentar Chris!" panggil Dylan sambil berdiri dari sofa.
Dalam waktu singkat Dylan sudah berdiri tepat di hadapan Chris. "Keluarga besar Watson menghormati pilihan Emma. Jaga dan perlakukan Emma dengan baik. Jika tidak, Keluarga Watson akan menjadi lawanmu!" kata Dylan dengan tegas.
"Aku pasti akan melindungi dan menyayangi istriku sendiri," jawab Chris dengan yakin.
"Jangan ingkari janjimu!" pesan Dylan sekali lagi.
Chris menjawab dengan anggukkan kepala, lalu menuju ruang ganti. Sementara Dylan menatap punggung Chris yang mulai menghilang dengan raut wajah serius.
Sebenarnya latar belakang Chris sebagai duda dan mempunyai putra, tidaklah membuat Dylan merasa anti terhadap pria muda itu selama Emma merasa nyaman dan menyukai Chris.
Hanya saja ada sesuatu yang janggal menguasai pikiran Dylan. Latar belakang Chris terlalu mudah didapatkan dan sangat bersih seolah-olah memang sengaja dipersiapkan untuk orang yang melacaknya.
Sementara informasi mengenai masa kecil maupun siapa kedua orang tua Chris, tidak terlacak sama sekali.
Dylan sempat mencurigai Chris mempunyai hubungan dengan Keluarga Alexander yang terkenal di Amerika, tetapi hasilnya nihil dan tidak menemukan jejak Chris di sana.
***Mansion Watson***
Emma dan Liam pulang bersama ke Mansion Watson setelah sibuk seharian di luar mengurus persiapan pernikahan kilatnya dengan Chris besok.
Tom Watson sedang menonton tv di ruang keluarga. "Papa!" panggil Emma dan duduk di samping Tom, sedangkan Liam duduk di sofa lain.
"Putriku sayang. Semuanya sudah beres?" tanya Tom dengan suara lembut.
"Sudah Pa! Aku hanya perlu muncul sebagai pengantin yang cantik saja. Resepsi pernikahan diatur Kak Dylan. Hasil medical check up pranikah Chris pun sudah keluar tadi," jawab Emma.
Medical Health merupakan rumah sakit milik Liam, kakak kedua Emma sehingga tidak sulit bagi Liam mendapatkan hasil medical check up pranikah dalam waktu singkat.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tom sambil menatap Liam.
"Sangat sehat dan tidak ada penyakit. Papa bisa mendapatkan cucu dengan cepat," jawab Liam.
"Ha ha ha! Bagus!" kata Tom sambil tertawa keras.
Pipi Emma merona merah seketika. Emma berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pa! Apa isi mobil putih luggage van di tempat parkir?" tanya Emma.
Luggage van itu terlihat sangat mencolok karena berada di samping mobil mewah milik Keluarga Watson.
"Tadi Will breng*ek datang mencarimu. Semua hadiah untukmu ada di dalam luggage van itu," jawab Tom.
"Dasar pria gila! Dia masih mengira dirinya suami pilihan terbaik untukku," batin Emma.
Tom dan Liam bisa merasakan suasana hati Emma menjadi jelek karena William.
"Aku minta Pak Gusti buang semua itu sekarang," kata Tom.
"Tidak perlu, Pa! Aku bisa
menggunakan hadiahnya di pesta pernikahanku besok!" kata Emma sambil tersenyum samar.
***
Selamat malam readers tercinta. Semoga bab ini lancar ya karena banyak teman mengeluh lagi error dan terpending lama 😭
SEE YOU TOMORROW.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
lily
kasihkan ke aku aja hadiahnyaa hahahahah
2024-06-28
0
NOiR🥀
mengantuk terus 😌😴😴
2023-04-13
0
Imam Sutoto Suro
mantap thor lanjut
2023-04-13
0