Pertunjukkan air mancur buatan berlangsung selama dua puluh menit. Emma mengeluarkan handphone untuk merekamnya, sedangkan Chris duduk tenang di samping Emma.
"Aku yakin pertunjukkan air mancur di The Grand Masked Ball of Kamel Ouali lebih menarik," gumam Emma.
"Emma! Kamu tahu tempat pesta topeng di Perancis?" tanya Chris secara tiba-tiba.
Emma menoleh ke samping sehingga saling bertatapan dengan Chris. Gadis muda itu tidak menyangka Chris mendengar perkataannya.
"Iya. Aku menghadiri pesta topeng ini sebagai pengganti karena tidak bisa ke Perancis," jawab Emma jujur.
"Banyak pertunjukkan menarik di The Grand Masked Ball of Kamel Ouali. Ada penampilan akrobatik dan juga penampilan live music," kata Chris.
"Chris! Kamu pernah ke sana?" tanya Emma antusias.
"Iya. Aku pergi bersama adikku," jawab Chris.
"Apakah kamu dan adikmu akan ke sana tahun depan? Mungkin kita bisa bertemu di sana," kata Emma.
Pertolongan Chris tadi membuat Emma sudah menganggap pria itu sebagai temannya.
"Adikku sudah meninggal. Aku tidak akan pergi ke sana lagi," jawab Chris.
"Maaf Chris. Aku tidak bermaksud membuatmu teringat kenangan menyakitkan," ucap Emma.
"Tidak apa-apa Emma," jawab Chris.
Pelayan hotel datang menghampiri Chris sambil menyerahkan sepasang sandal kamar hotel yang baru.
"Terima kasih," ucap Chris dan memberikan tips untuk pelayan hotel.
"Emma. Ini pengganti sepatu high heels mu yang rusak," kata Chris.
Emma menatap sol sepatu high heels sebelah kanan yang patah dan tidak bisa dipergunakan lagi.
"Untung aku bertemu denganmu. Jika tidak, aku akan pulang dengan kaki lecet dan terpincang-pincang," ucap Emma.
Chris tersenyum tipis mendengar pujian Emma, sedangkan gadis muda itu semakin kagum dengan kecekatan Chris menyelesaikan masalah.
Suara handphone Chris berbunyi sehingga Chris mengeluarkannya dari kantong jas dan melihat nama panggilan yang muncul di layar handphone.
"Emma. Aku terima panggilan telepon sebentar!" kata Chris.
Emma menjawab dengan anggukkan kepala. Chris berdiri dari tempat duduk dan berjalan menjauh dari keramaian untuk menerima panggilan telepon.
Emma mengedarkan pandangan ke sekeliling. Para tamu undangan mulai meninggalkan tempat itu karena pertunjukkan air mancur sudah selesai.
Emma memicingkan matanya saat melihat sepasang pria dan wanita berjalan melewatinya sambil bergandengan mesra. Bahkan wanita itu meraba-raba bagian dada pria dengan agresif, sedangkan pria itu berusaha menahan tangan nakal pasangannya.
Walaupun keduanya masih mengenakan topeng wajah, Emma merasa jijik melihat perilaku wanita itu yang terkesan murahan.
Mata Emma membulat besar saat melihat jelas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan pria itu. Jam tangan couple limited edition yang sangat familiar di matanya karena di meja riasnya ada satu jam tangan yang sama.
"Will?" batin Emma.
Emma mengeluarkan handphone dari tas pesta kecil yang menggantung di pergelangan tangannya dan menelepon seseorang.
"Halo Nona Emma. Mobil sudah parkir di depan ballroom hotel," ucap Rocky saat menjawab telepon Emma.
"Rocky! Ikuti pria berjas hitam dan wanita bergaun merah pendek secara diam-diam. Pria itu William!" perintah Emma.
"Baik, nona Emma. Aku akan mengirim mobil lain untuk menjemput nona sekarang," ucap Rocky.
"Tidak perlu! Aku akan menghubungimu nanti!" tolak Emma.
"Baik nona Emma. Hati-hati di jalan," jawab Rocky.
Apa pun perintah Emma selalu dilakukan oleh Rocky tanpa banyak bertanya. Rocky sudah menjadi bodyguard kepercayaan Emma selama tiga tahun sehingga bodyguard itu sangat mengetahui kepintaran dan kecerdikan Emma dalam menyelesaikan masalah.
Lagi pula handphone Emma terpasang sinyal pelacak sehingga Rocky bisa mengetahui lokasi Emma setiap saat.
Rocky menjalankan perintah Emma dan meminta Pak Heri mengikuti mobil William secara diam-diam setelah melihat pria itu keluar dari dalam hotel.
Rocky berhasil memotret foto William bersama wanita murahan itu saat mereka berdua keluar dalam keadaan tanpa topeng, sebelum masuk ke dalam mobil. Rocky mengirimkan foto itu ke handphone Emma.
***
Emma tersenyum sinis melihat foto yang dikirim oleh Rocky. "Saatnya menangkap pasangan selingkuh," batin Emma.
Tepat saat itu Chris sedang berjalan ke arah Emma karena sudah selesai berbicara di telepon.
"Chris! Bisakah kamu mengantarku?" tanya Emma tanpa basa-basi.
"Bisa!" jawab Chris.
Chris bisa merasakan perubahan sikap Emma secara tiba-tiba. Gadis muda di hadapannya berubah menjadi serius. Entah apa yang telah terjadi saat dirinya menerima telepon dalam waktu singkat.
"Terima kasih," ucap Emma.
Emma melepaskan sepatu high heels sebelah kiri dengan cepat dan memakai sandal hotel yang telah dipersiapkan oleh Chris tadi, lalu berdiri dari kursinya.
"Emma. Rangkul lenganku agar kakimu lebih leluasa berjalan," ucap Chris.
Emma menganggukkan kepala dan merangkul lengan Chris. Mereka berdua berjalan berdampingan. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tiba di depan ballroom hotel.
Chris membawa Emma menuju mobil BMW berwarna hitam. Sopir mobil membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat.
"Tuan Chris!" sapa sopir sambil membuka pintu belakang mobil.
Chris mempersilakan Emma masuk duluan, sebelum dirinya duduk di samping Emma. Sopir segera ikut masuk ke dalam mobil bagian kemudi.
Chris dan Emma melepaskan topeng dari wajah mereka bersamaan. Sementara sopir mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, keluar dari hotel.
"Pak Chris. Kita ke mana sekarang?" tanya sopir dengan sopan sambil fokus menyetir mobil.
Chris menoleh ke arah Emma. Gadis muda itu sedang menundukkan wajahnya sambil mengetik sms di handphone. Chris terkagum melihat bulu mata lentik dan hidung mancung Emma dari samping.
"Emma. Di mana alamat rumahmu?" tanya Chris.
"Hotel W. Tolong antar aku ke Hotel W," jawab Emma setelah membaca sms balasan dari Rocky.
"Hotel W," kata Chris ke sopir.
"Baik Pak Chris," jawab sopir dengan patuh.
Entah secara kebetulan atau tidak, tempat tujuan Emma merupakan hotel tempat Chris menginap sehingga sopir mengira Emma sengaja mendekati Chris di dalam acara pesta topeng dan sekarang ingin mengikuti pria itu pulang ke hotel.
Sementara di dalam pikiran Chris, tidak tercetus pikiran negatif yang sama dengan sopir.
Walaupun dirinya baru saja bertemu dengan Emma dalam waktu singkat, Chris bisa menilai Emma bukanlah wanita murahan.
Lagi pula di dalam pesta topeng, Chris yang berinisiatif menolong Emma karena dirinya tidak sengaja mendengar rencana jahat dari beberapa wanita yang ingin mencelakai Emma di sana.
Sepanjang perjalanan menuju Hotel W, Chris mengamati saksama ekspresi wajah Emma. Gadis muda itu diam seribu bahasa dan terlihat sedang berpikir keras. Chris penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh Emma.
Pada saat mobil BMW hitam berhenti di depan lobi Hotel W, Emma segera membuka seat belt mobil. "Terima kasih tumpangannya, Chris!" ucap Emma.
"Sama-sama," jawab Chris.
Emma membuka pintu mobil dengan cepat dan berjalan masuk ke Hotel W. Chris ikut turun dari mobil dan mengikuti Emma dari belakang.
Rocky yang menunggu di lobi segera berlari kecil menghampiri Emma.
"Nona Emma," sapa Rocky sambil menyerahkan kunci kamar hotel ke Emma.
Emma tidak perlu menanyakan dari mana Rocky mendapatkan kunci hotel itu karena kehebatan bodyguard kepercayaannya tidak diragukan lagi.
"Lantai berapa?" tanya Emma.
"Lantai lima," jawab Rocky.
Emma berjalan menuju lift, diikuti oleh Rocky. Mereka berdua masuk ke dalam lift, tanpa menyadari Chris masih berdiri tidak jauh dari mereka.
Chris menekan tombol lift yang satunya lagi. Walaupun kamar Chris juga berada di lantai 5, tetapi dirinya berfirasat Emma sedang mengurus masalah yang serius sehingga dirinya tidak ikut masuk ke dalam lift yang sama.
***Lantai lima Hotel W***
Emma membuka pintu kamar hotel dengan tenang, lalu memberi isyarat mata ke Rocky.
Rocky melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan langsung menuju tempat tidur. Suara menjijikkan dari sana berubah menjadi suara teriakan wanita dan umpatan amarah dari pria.
Sementara Emma sengaja menutup pintu kamar hotel dengan keras dan berjalan menuju sofa yang berada di sudut kamar serta duduk di sana.
Beberapa saat kemudian, Rocky berjalan menghampiri Emma. "Nona Emma. Semuanya sudah direkam dan difoto dengan jelas," lapor Rocky sambil menyimpan handphone ke dalam saku celananya.
Rocky sengaja berbicara dengan suara keras agar sepasang pria dan wanita tidak tahu malu itu mendengarnya dengan jelas.
***
Selamat sore readers. Terima kasih dukungannya. Yeay...dapat dua vote nih 🥰🥰🥰
Ayuk follow author LYTIE Di noveltoon dan akun media sosial lainnya ya 🤗
IG: lytie777
FB: Lytie
tiktok: lytie777
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
lily
aku suka Rocky hahaha
2024-06-28
0
Imam Sutoto Suro
good luck thor lanjutkan
2023-04-12
1
lina
lanjut
2022-12-19
0