***Lounge Airport Ngurah Rai***
Setengah jam kemudian, Chris datang menghampiri Emma, Dylan, dan Liam yang masih mengobrol. Kedua kakak posesif itu sedang memberikan ceramah panjang lebar agar Emma bisa menjaga diri dengan baik di Sydney dan jangan dibutakan oleh cinta terhadap Chris, yang memang berpenampilan sempurna.
Dylan dan Liam meminta Emma menelepon mereka setiap hari untuk mengabarkan keadaan Emma selama tinggal bersama Chris. Bahkan Dylan akan berkunjung ke Sydney minggu depan, dengan alasan bertemu rekan bisnis. Tentu saja tujuan utama Dylan adalah memeriksa keadaan Emma di sana.
"Emma. Sudah waktunya kita ke boarding lounge," ucap Chris.
Dylan, Liam, dan Emma melihat jam tangan di pergelangan tangan mereka secara bersamaan saat mendengar ucapan Chris. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih.
Biasanya boarding time dilakukan sekitar 20-30 menit sebelum waktu keberangkatan sehingga sudah saatnya bagi rombongan Chris menuju boarding lounge dan menunggu pesawat mereka.
Emma, Dylan, dan Liam berdiri dari tempat duduk mereka. Rocky dan Rio pun sudah menghampiri tempat duduk Emma. Mereka berdua berdiri di belakang Chris.
"Bye Kak Dylan, Kak Liam!" kata Emma sambil membuka lebar kedua tangannya ke arah kedua kakak kesayangannya.
Dylan dan Liam memeluk Emma bersamaan. Mereka saling berpelukan bertiga hingga beberapa detik.
Chris yang berdiri di samping Emma tersenyum tipis melihat keakraban mereka bertiga. Hubungan persaudaraan yang erat dan saling menyayangi satu sama lain membuat Chris mengingat Jordan lagi.
Entah mengapa, sejak Chris bertemu Emma, ingatan kebersamaannya dengan Jordan selalu terbayang di pikiran maupun di pelupuk matanya.
Kemungkinan besar dikarenakan kehadiran Emma membuat Chris merasakan lagi kebahagiaan dan kekeluargaan seperti yang selama ini didapatkannya dari Jordan, satu-satu anggota keluarga yang peduli padanya, meskipun ibu kandung mereka berbeda.
Beberapa saat kemudian, Emma melepaskan pelukannya. Dylan dan Liam menatap intens ke arah Chris.
"Chris! Jaga Emma baik-baik! Aku akan membawanya pulang jika kamu membuatnya menangis!" ucap Dylan dengan tegas.
Chris merangkul pundak Emma dengan lembut. "Aku tidak akan pernah membuat istriku menangis!" ucap Chris dengan pasti.
"Chris! Hasil medical check up mu sangat bagus. Papa sudah tidak sabar menunggu kehadiran cucu," kata Liam dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kak Liam!"
"Liam!"
Teriak Emma dan Dylan bersamaan. Pipi Emma sudah merona merah seperti kepiting rebus. Sementara Liam menoleh ke arah Dylan. "Aku hanya menyampaikan pesan Papa!" jawab Liam tanpa merasa bersalah.
"Baik Kak Liam! Aku dan Emma akan berusaha keras," jawab Chris tanpa beban.
"Safe flight!" ucap Dylan dan Liam bersamaan.
"Thank you Kak Dylan, Kak Liam!" kata Emma.
Rombongan Chris pun meninggalkan Dylan dan Liam menuju boarding lounge.
***
Dua puluh menit kemudian, Chris dan Emma sudah berada di dalam pesawat. Chris memeriksa dan memastikan sabuk safety belt pesawat sudah terpasang sempurna di pinggang Emma.
"Emma! Kamu dingin gak?" tanya Chris sambil mengatur besar kecilnya suhu AC pesawat, yang berada di bagian atas kepala Emma.
"Aku gak kedinginan," jawab Emma.
Walaupun Emma tidak merasa kedinginan saat ini, tetapi Chris tetap meminta satu buah selimut dari pramugari pesawat.
Beberapa saat kemudian, pesawat pun terbang meninggalkan Airport Ngurah Rai.
"Emma. Kamu bisa tidur nyenyak sekarang," ucap Chris.
"Iya," jawab Emma.
Emma merangkul lengan Chris dan menyandarkan kepalanya di pundak Chris, lalu memejamkan rapat kedua matanya.
Chris menutupi tubuh Emma dengan selimut. Setelah memastikan semuanya nyaman dan Emma sudah tertidur pulas, Chris pun menyusul Emma ke dalam dunia mimpi.
***Sydney, Australia***
Sebuah mobil Toyota Land Cruiser warna hitam dengan kecepatan sedang melaju keluar dari Bandar Udara Kingsford-Smith (Bandar Udara Sydney) menuju Kediaman Chris.
Rocky duduk di samping sopir pribadi Chris yang menjemput mereka di bandar udara Kingsford-Smith tadi, sedangkan Rio berada di mobil Toyota Camry hitam, yang mengikuti mobil Toyota Land Cruiser dari belakang.
"Nyonya muda sangat cantik dan serasi dengan Tuan Chris," batin Pak Endy, sopir pribadi Chris.
Suasana di dalam mobil sangat tenang dan hanya terdengar alunan music box yang dinyalakan oleh Pak Endy atas perintah Chris.
Semua dikarenakan Emma tertidur pulas di dalam rangkulan pelukan Chris.
Sebenarnya saat pesawat mendarat di Bandar Udara Kingsford-Smith, Emma sudah bangun. Akan tetapi, Emma melanjutkan tidurnya setelah dirinya berada di dalam mobil karena masih mengantuk.
Sesekali Chris menepuk punggung Emma dengan lembut agar Emma tidur lebih nyenyak. Chris juga merapikan rambut-rambut kecil Emma yang berantakan sedikit dan menutupi pipi Emma.
Tatapan mata lembut Chris tidak pernah terlepas dari wajah polos sang istri. Chris merasa dirinya terkena sihir dan hipnotis dari Emma karena seolah sudah menjadi candu baginya untuk selalu berada di sisi Emma.
Chris bersyukur Emma bersedia mengikutinya ke Sydney. Jika tidak, Chris bisa bayangkan hari-harinya akan terasa hampa tanpa keberadaan Emma di sisinya.
Empat puluh menit kemudian, mobil Toyota Land Cruiser berhenti di sebuah rumah besar bertingkat dua.
Pak Endy turun dari mobil dengan cepat dan membukakan pintu mobil bagian penumpang.
"Emma! Kita sudah tiba di rumah," ucap Chris sambil membelai wajah Emma dengan lembut.
Emma merangkul leher Chris dan terlihat jelas gadis muda itu masih mengantuk berat. Kedua matanya masih tertutup rapat.
Chris tersenyum tipis dan menggendong Emma turun dari mobil secara perlahan. Chris melangkahkan kakinya dengan santai masuk ke rumah besar, sedangkan Rocky mengikutinya dari belakang.
Seorang pria paruh baya dan lima pelayan wanita berbaris rapi menyambut kedatangan Chris.
"Welcome home, Tuan Chris!" sapa Pak Panca, pria paruh baya yang merupakan kepala pelayan.
"Semua sudah dipersiapkan?" tanya Chris.
"Sudah, Tuan Chris! Semua sudah dipersiapkan untuk nyonya muda sesuai perintah Tuan Chris!" jawab Pak Panca dengan yakin.
"Thank you Pak Panca!" ucap Chris dan menggendong Emma naik ke lantai dua menuju kamar tidur mereka.
Sementara Pak Panca menunjukkan kamar tamu yang sudah dipersiapkan sebelumnya ke Rocky.
***Kamar tidur Emma dan Chris***
Chris membaringkan tubuh Emma di atas tempat tidur yang empuk, lalu membantu membuka sepasang sepatu high heels dari kaki Emma.
"Tidur yang nyenyak, honey!" ucap Chris sambil mengecup kening Emma dan menarik selimut menutupi tubuh Emma sebelum keluar dari kamar tidur.
Chris menuju ruang kerjanya. Rio sudah menunggu di depan pintu ruang kerja. Banyak pekerjaan kantor yang harus di follow up oleh Chris karena menunda kepulangannya beberapa hari disebabkan pernikahan dadakan dengan Emma.
Sementara Rocky berkeliling di dalam rumah besar Chris untuk memeriksa keadaan sekitarnya. Pak Panca dan para pelayan bersikap ramah terhadap Rocky.
Sebenarnya Chris yang sudah memberi perintah kepada Pak Panca untuk membiarkan Rocky bertindak bebas di rumah besar karena Chris yakin tujuan Rocky hanyalah untuk melindungi dan menjaga keselamatan Emma.
Rocky menelepon Dylan untuk melaporkan keberadaannya dan Emma setelah selesai berpatroli keliling rumah Chris.
Kekhawatiran Dylan berkurang sedikit karena laporan Rocky, tetapi Dylan memberi pesan kepada Rocky untuk selalu bersikap waspada.
Jika Emma tidak betah di rumah besar Chris, Rocky harus membawa Emma meninggalkan tempat itu.
***
Rocky berjaga di depan pintu kamar Emma dan Chris setelah selesai berbicara di telepon dengan Dylan.
Rocky tahu saat ini Chris sedang sibuk di ruang kerja bersama Rio. Ruang kerja Chris juga berada di lantai dua dan letaknya tidak jauh dari kamar tidur.
Satu jam kemudian, Chris dan Rio keluar dari ruang kerja. Rio berangkat ke Perusahaan Christian dengan membawa beberapa dokumen penting yang sudah ditandatangani oleh Chris, sedangkan Chris berjalan menghampiri Rocky.
"Tuan Chris!" sapa Rocky dengan sopan.
"Emma belum bangun?" tanya Chris.
"Belum, Tuan Chris! Biasanya Nona Emma akan bangun saat merasa lapar," jawab Rocky.
Rocky yang sudah menjadi pengawal pribadi Emma selama bertahun-tahun, sangat mengetahui kebiasaan nona muda nya.
"Nanti aku akan membangunkan Emma saat makan siang," ucap Chris.
"Baik, Tuan Chris!" jawab Rocky.
Chris melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju lantai satu. Ada hal penting yang harus dilakukannya sebelum membangunkan Emma untuk makan siang bersama.
***
Selamat malam readers tercinta. Jangan lupa besok hari senin. Ditunggu vote nya ya 🥰🥰
Apa hal penting yang harus dilakukan Chris?
Apakah Emma bisa membiasakan diri dengan lingkungan tempat tinggal Chris?
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
excellent story'thor lanjutkan
2023-04-13
0
PeQueena
tenang saja tuan. rocky selalu tanggap akan hal semacam itu.
penciuman dan pengelihatan rocky sangat tajam...(penciuman tajam,dikata Herder x aah 🤭🤭)
2022-11-08
3
Black Moon
Pas jam makan siang, kirim makanan ke rumah aku juga ya. Sebelum jam makan siang juga boleh ko 😁
2022-11-07
1