***Toko baju pengantin Tiffany***
"Kak Dylan. Aku coba gaun pengantin dulu," kata Emma saat berjalan melewati Dylan.
"Iya. Jika cocok, kalian bisa foto pre-wedding di studio lantai dua. Aku sudah memesan tempat," ucap Dylan.
"Thank you Kak Dylan," jawab Emma.
Emma dan Chris mengikuti kedua karyawan toko menuju dua kamar ganti yang letaknya bersebelahan.
"Nona Emma, Tuan Chris! Silakan tunggu sebentar. Kita akan menyiapkan pakaiannya," ucap karyawan wanita dengan ramah.
"Baiklah," jawab Emma dan Christian bersamaan.
Mereka berdua duduk di sofa yang dekat dengan ruang ganti. Perasaan Emma semakin antusias dan bersemangat menunggu gaun pengantin yang akan dipakainya tidak lama lagi.
Perasaan itu belum pernah ada saat dirinya mencoba pakaian pengantin dengan William. Emma melirik sekilas ke arah Chris. Pria muda itu terlihat sangat tenang.
"Chris! Kamu pasti tidak gugup karena ini kedua kalinya kamu memakai setelan jas pengantin," ucap Emma.
"Ini pertama kalinya aku memakai setelan jas pengantin," kata Chris dengan jujur.
"Mungkin waktu itu Chris tidak ada uang untuk membeli pakaian pengantin," batin Emma.
Chris tertawa kecil karena bisa membaca isi pikiran Emma dari wajah polos gadis muda itu. Walaupun tidak seperti isi pikiran Emma, tetapi Chris tidak menjelaskannya.
Pernikahan pertamanya memang rumit dan menyimpan banyak rahasia. Sekarang belum saat yang tepat untuk menceritakan semuanya ke Emma.
Mungkin saja Emma menyesal dengan pernikahan kedua ini dan meminta cerai dalam waktu dekat sehingga rahasia itu lebih baik tersimpan selamanya.
Jika Emma memang belahan jiwanya dan bersedia menerima Chris apa adanya, Chris bertekad dalam hati untuk menceritakan semua rahasia masa lalunya pada saat yang tepat.
"Jangan khawatir, Emma. Aku bisa membelikan gaun pengantin pilihanmu tadi. Apa saja yang harus diperoleh seorang pengantin wanita, kamu akan mendapatkan semuanya," janji Chris.
"Baiklah, tetapi Kak Dylan yang akan membayar tempat resepsi pernikahan besok. Gaun pengantin dan cincin nikah, kamu yang bayar, " jawab Emma.
"Deal! Kamu suka rumah view laut ?" tanya Chris dengan serius.
"Suka!" jawab Emma spontan.
Chris tersenyum tipis dan memegang jemari tangan Emma. Gadis muda itu tidak menyadari Chris sedang mengamati ukuran jari manisnya.
Pikiran Emma masih fokus pada pertanyaan Chris sebelumnya. "Rumah view laut?" batin Emma.
"Chris! Kamu punya rumah di Bali?" tanya Emma.
"Iya. Aku baru membelinya dua hari yang lalu dan sedang direnovasi. Kita bisa tinggal di sana kalau kamu mau," jawab Chris.
"Tentu saja aku mau," jawab Emma dengan semangat.
Chris merasa senang dengan jawaban Emma. Chris tidak menyangka niatnya semula untuk investasi rumah view laut dan dijadikan tempat tinggal saat dirinya mengunjungi Bali lagi, bisa menjadi tempat tinggal barunya bersama Emma.
Beberapa saat kemudian, dua karyawan wanita membawa gaun pilihan Emma dengan hati-hati, sedangkan karyawan pria yang tadi membawa setelan jas pilihan Chris.
"Ayo, coba dulu gaun pengantinnya," kata Chris sambil menepuk lembut punggung tangan Emma.
Mereka berdua berdiri bersamaan dari sofa menuju kamar ganti.
***
Chris keluar dari kamar ganti dan duduk kembali di sofa. Pria muda itu menelepon sekretaris pribadinya sambil menunggu Emma.
"Selamat siang Tuan Chris!" sapa Rio saat mengangkat telepon.
"Rio! Tolong beli sepasang cincin kawin di toko Cartier, DFS T Galleria. Cincin wanita ukuran 6 dan cincin pria ukuran 9. Pilih produk terbaru dan termahal!" perintah Chris.
"Baik Tuan Chris!" jawab Rio dengan patuh.
Bertepatan dengan Chris menutup sambungan telepon, pintu kamar ganti terbuka. Emma berjalan keluar dengan gaun pengantin yang pilihannya.
Chris terpaku menatap intens Emma. "Bagaimana?" tanya Emma.
Chris tidak menjawab pertanyaan Emma, melainkan melangkahkan kaki mendekati gadis muda itu. Saat Chris berhenti tepat di hadapan Emma, Chris menyilangkan sedikit tangan kanan ke pinggangnya sendiri.
Emma mengerti maksud Chris. Emma tersenyum lebar dan mengalungkan tangannya di tangan kanan Chris, lalu mengikuti langkah kaki pria muda itu.
Chris berhenti tepat di hadapan cermin besar yang memantulkan bayangan mereka berdua di sana.
"Sangat cantik!" puji Chris. Sepasang mata Chris tidak beralih dari wajah Emma di dalam cermin besar.
"Serasi dan sempurna!" ucap Emma dengan nada puas.
Mereka berdua menoleh ke samping bersamaan dan saling berpandangan satu sama lain. Tangan Emma dan Chris saling bergenggaman erat. Para karyawan toko yang berada di sana bisa merasakan gelembung-gelembung cinta berterbangan di sekitar sepasang sejoli yang sangat serasi itu.
Kalau saja tidak teringat akan peringatan Rocky sebelumnya, sebagian dari mereka ingin mengabadikan pasangan serasi itu di dalam galeri handphone mereka.
***
"Nona Emma. Mari kita ke kamar VVIP. Penata rambut dan rias wajah sudah menunggu di sana."
"Tuan Chris bisa menunggu di studio foto lantai dua."
Emma melepaskan tangannya dengan perasaan enggan. Emma tahu dirinya tidak boleh membuang waktu karena masih banyak yang harus dilakukannya bersama Chris agar pesta pernikahan besok berjalan lancar.
"Emma! Aku tunggu kamu di lantai dua," ucap Chris, lalu memberikan kecupan singkat di puncak kepala Emma.
Pipi Emma pun merona merah seketika. Gadis muda itu segera mengalihkan perhatiannya dengan mengikuti karyawan wanita menuju kamar VVIP. Sementara Chris naik lift menuju lantai dua.
***Kamar VVIP***
Emma mengagumi make up flawless di wajahnya melalui pantulan cermin di depannya. Suara ketukan pintu dari luar membuat Emma mengalihkan perhatiannya ke sana.
"Kak Dylan," sapa Emma saat melihat Dylan berjalan menghampirinya, diikuti Rocky.
"Adikku pengantin paling cantik sedunia," puji Dylan.
"Tentu saja," jawab Emma dengan yakin.
"Emma. Kakak nanya sekali lagi. Kamu yakin mau menikah dengan Chris?" tanya Dylan dengan wajah serius.
"Yakin!" jawab Emma dengan cepat.
"Rocky sudah menyelidiki asal usul Chris. Kamu bisa memikirkan dengan saksama setelah mendengar laporan dari Rocky. Aku tunggu di lantai dua. Jika dalam setengah jam kamu tidak ke sana, aku yang akan membatalkan pernikahanmu dengan Chris!" kata Dylan.
Dylan ingin memberi kesempatan kepada Emma untuk memikirkan baik-baik pernikahannya dengan Chris. Dylan lebih mementingkan kebahagiaan Emma di masa yang akan datang.
Walaupun di kemudian hari Emma hamil akibat hubungan mesra semalam dengan Chris, Dylan yakin Keluarga besar Watson bisa memberikan kasih sayang penuh ke bayi Emma jika Emma memilih tidak menikah dengan Chris.
"Baik kak Dylan," jawab Emma dengan patuh.
***
"Apa hasil penyelidikanmu, Rocky?" tanya Emma.
"Nona Emma! Tuan Chris sudah pernah menikah."
"Tidak apa-apa. Duda lebih berpengalaman," jawab Emma.
"Nona Emma. Tuan Chris sudah punya putra."
"Tidak apa-apa. Aku suka buy one get one."
Rocky terdiam mematung setelah mendengar jawaban santai dari mulut Emma. "Nona Emma benar-benar menyukai Tuan Chris," batin Rocky.
"Ada yang lain lagi?" tanya Emma.
"Tuan Chris tinggal di Australia bersama putranya. Perusahaan Christian termasuk salah satu Perusahaan besar di Australia. Tuan Chris datang ke Bali empat hari yang lalu untuk bertemu rekan bisnis. Tiket pulang ke Australia sudah dibeli dan jadwalnya besok," jawab Rocky panjang lebar.
Emma akui hati kecilnya terasa lega karena laporan hasil penyelidikan Rocky sama persis dengan yang dikatakan Chris kepadanya.
Emma menghargai kejujuran Chris terhadapnya, tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Emma tahu Rocky pasti mengetahui jawabannya.
"Rocky. Istri Chris meninggal karena apa?" tanya Emma.
"Pendarahan postpartum," jawab Rocky dengan hati-hati.
Mata Emma berkaca-kaca seketika saat mendengar kata pendarahan postpartum, yang merupakan pendarahan parah setelah melahirkan.
Ibu Emma meninggal dikarenakan hal yang sama sehingga Emma tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu sejak bayi.
Emma menghargai kasih sayang yang melimpah dari Tom, Dylan, dan Liam. Saat ini Emma pun bertekad akan memberikan kasih sayang yang melimpah kepada putra Chris nantinya.
***
Selamat malam readers tercinta. See you all di bab besok ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
lily
aku salut sama didikan ayahnya Emma , walaupun istri yg dicintainya meninggal setlh melahirkan tpi dia tidak menyalahkan Emma , dia ttep menyayangi Emma yg mana merupakan anak perempuan sendri begtupun kedua kakknya ,,, kadang ada yg ayah dan kakknya malah menyalahkan anaknya krna menjadi penyebab ibunya meninggal pdhl meninggal itu takdir
2024-06-28
1
Imam Sutoto Suro
good luck thor lanjutkan
2023-04-13
0
Rosalinda Yo_2
Keren....👏🏻👏🏻👏🏻
2022-10-29
1