Kini Debora dan Deren berada di hotel, seorang fotografer memfoto Debora dan Deren yang saling menatap satu sama lainnya dan saling tersenyum tampak wajah bahagia mereka berdua kemudian fotografer memberikan ucapan selamat atas pernikahan Debora dan Deren.
Tamu undangan satu persatu datang dan memberikan ucapan selamat atas pernikahan Valen dengan Steven namun ketika mereka ingin mengucapkan selamat ke Deren dan Debora maka Ibu tirinya langsung menjelekkan mereka berdua hingga mereka membatalkan untuk memberikan ucapan selamat.
Bukan itu saja semua orang kantor di mana Debora dan Deren berkerja tidak luput dari ucapan pedas yang ditujukan ke Debora dan Deren hingga tidak ada satupun yang memberikan ucapan selamat malah mendapatkan tatapan sinis dari para teman kantornya.
"Kak Deren, lebih baik kita pulang saja," ucap Debora yang sangat kecewa sekaligus marah terhadap Ibu tirinya.
"Ok, jawab Deren yang mengerti akan kesedihan Debora.
Debora dan Deren pergi meninggalkan tempat pesta pernikahan tersebut menuju ke parkiran mobil.
Dalam perjalanan pulang mereka saling diam tanpa ada bicara sedikitpun hingga mereka tiba di rumah minimalis milik Darren.
Ceklek
Deren mengeluarkan kunci rumah kemudian memasukkan kunci di lubang pintu dan membuka pintu tersebut. Mereka masuk ke dalam rumah minimalis kemudian Deren menekan tombol saklar agar rumah tersebut menyala.
"Rumahnya minimalis tapi sangat nyaman," ucap Debora sambil berkeliling melihat rumah tersebut untuk pertama kalinya.
"Syukurlah kalau kamu suka, sebelumnya rumah ini milik bos kita dan di suruh menempati rumah ini tapi setelah mengetahui kalau kita akan menikah, kakak membelinya dengan cara mencicil rumah ini. Maaf kakak belum bisa membeli rumah yang lebih besar," ucap Deren sambil menutup pintu utama kemudian menguncinya.
"Debora tidak butuh itu kak karena bagi Debora rumah itu terasa indah jika ada kasih sayang dan saling mencintai. Untuk apa rumah besar kalau setiap hari bertengkar dan saling menyakiti," ucap Debora sambil tersenyum.
Grep
"Kakak akan selalu menyayangimu dan mencintaimu dan akan kakak jadikan rumah ini seperti surga," ucap Deren sambil memeluk istrinya dari arah belakang.
"Terima kasih, kamar mandinya di mana kak?" tanya Debora sambil mengalihkan pembicaraan karena jantungnya selalu berdetak kencang jika dekat dengan Deren.
"Ada di lantai satu sebelah kiri dan di lantai dua yang berada di dalam kamar kita," ucap Deren.
"Aku mau mandi dulu kak, badanku sangat lengket," ucap Debora sambil melepaskan pelukan Deren.
"Ok," jawab Deren.
Debora berjalan menaiki anak tangga satu demi satu hingga di depan pintu Debora membuka pintu tersebut. Debora meraba dinding kamarnya untuk mencari saklar lampu.
ctak
Lampu di kamar itupun menyala dan menerangi kamar yang akan di tempati oleh Debora dan Deren.
Debora berjalan ke meja rias kemudian melepaskan satu persatu aksesoris yang menempel di kepalanya kemudian berlanjut melepaskan cincin pernikahan dan terakhir kalung untuk diletakkan di meja rias.
Debora meraba punggungnya untuk membuka resleting gaun pengantin namun Debora mengalami kesulitan.
"Bagaimana membukanya?" tanya Debora sambil masih berusaha.
ceklek
Pintu kamarnya terbuka dan Debora melihat Deren dari kaca meja rias sedang berjalan ke arahnya.
"Kok belum mandi?" tanya Deren dengan nada lembut.
"Aku ingin menarik resleting susah kak," jawab Debora.
Tanpa menjawab Deren mengarahkan ke dua tangannya untuk menarik resleting gaun pengantin hingga Deren melihat punggung mulus Debora.
Glek
Deren menelan saliva nya dengan kasar kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping.
Debora yang sangat malu berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi dan langsung masuk ke dalam dan menguncinya.
"Kalau setiap hari ini melihat yang mulus - mulus tanpa bisa menyentuhnya bisa - bisa setiap hari mandi air dingin," ucap Deren sambil melepaskan pakaiannya satu demi satu pakaiannya dan membuangnya secara asal hingga menyisakan celana boxernya.
Deren berjalan ke arah balkon dan menatap orang lalu lalang dari jendela balkon untuk menghilangkan pikiran mesumnya karena bagai manapun dirinya adalah pria normal.
Hingga lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit dan kepala Debora menjulur keluar.
"Kak Deren," panggil Debora dengan wajah memerah.
"Ya," jawab Deren singkat sambil memalingkan wajahnya ke arah Debora.
"Aku lupa bawa handuk dan handukku berada di dalam koper, kak Deren bisa tidak ambil handuknya?" tanya Debora.
"Pakai handuk kakak saja, sebentar kakak ambilkan," ucap Deren sambil berjalan ke arah lemari pakaian.
Deren mengambil handuk dan berjalan ke arah kamar mandi sedangkan Debora yang sangat malu memasukkan kembali kepalanya ke dalam kamar mandi dan berganti tangan kanannya keluar untuk mengambil handuk.
Entah kenapa Deren berbuat iseng, Deren tidak memberikan handuk ke tangan Debora membuat Debora mengeluarkan kepalanya.
Grep
"Akhhhhhhhh,"
Bruk
Deren menarik tangan Debora membuat Debora berteriak bersamaan tubuh polosnya menabrak dada bidang Deren.
Deg
Deg
Deg
Deg
Jantung ke duanya berdetak kencang, dua pasang mata menatap dan saling mengunci kemudian tangan kanan Deren memeluk tubuh polos istrinya.
Deren mendekatkan wajahnya ke arah wajah Debora membuat Debora memejamkan matanya.
Cup
Deren mengecup bibir Debora untuk pertama kalinya membuat Deren ingin merasakan kembali. Deren kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Debora kemudian mencium kembali namun tidak singkat melainkan berupa lu ma tan.
Awalnya Debora ingin mendorong tubuh Deren namun tangan kiri Deren mengarahkan ke tengkuk Debora agar tidak melepaskan ciumannya.
Setelah beberapa saat Debora memukul bahu Deren dan Deren yang mengeri kalau Debora kehabisan nafas melepaskan ciumannya.
"Hah .... Hah ... Hah ...,"
Debora menghirup udara sebanyak-banyaknya membuat Deren tersenyum kemudian Deren mendekatkan wajahnya ke arah leher jenjang Debora sambil mendorong tubuh Debora ke arah ranjang.
Bruk
Debora berjalan mundur hingga dirinya jatuh terlentang. Deren melepaskan celana boxer nya dan membuangnya secara asal kemudian menaiki tubuh polos Debora.
Deren memberikan pemanasan terlebih dahulu sesuai yang ditontonnya dari video yang dikirimkan oleh teman kantornya. Hingga terdengar suara merdu dari mulut Debora.
"Sayang bolehkah?" tanya Deren dengan suara berat karena dirinya ingin segera dituntaskan dengan wajah penuh harap.
Debora yang menatap wajah suaminya tidak tega dan hanya menganggukkan kepalanya membuat Deren sangat bahagia. Deren mulai memasukkan tombak saktinya ke dalam goa yang masih sempit namun baru saja masuk kepala tombak saktinya Debora mendorong tubuh Deren.
"Sakit kak, jangan," mohon Debora dengan mata berkaca-kaca.
Deren langsung menghentikan nya dan melihat wajah Debora yang berkaca-kaca membuat Deren tidak tega dan langsung turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mendinginkan tombak sakti miliknya.
"Maafkan aku kak," ucap Debora sambil turun dari ranjang dengan perasaan bersalah.
Debora membuka koper miliknya kemudian mengambil satu stell pakaian tidur dan dengan cepat memakai pakaiannya.
Setelah hampir setengah jam mandi air dingin Deren keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, Deren melihat Debora merapikan pakaiannya.
"Masukkan semua pakaianmu di sebelah pakaianku. Kakak sengaja mengosongkan 3 rak untukmu," ucap Deren sambil membuka lemari dengan lebar.
Deren melakukan itu karena Deren ingin mengambil pakaiannya sekaligus agar Debora bisa memasukkan pakaian miliknya ke dalam lemari pakaiannya.
"Baik kak," jawab Debora.
Debora mulai menyusun pakaiannya sedangkan Deren memakai pakaian santai hingga Deren melihat kotak perhiasan berwarna merah.
"Kotak itu berisi perhiasan?" tanya Deren sambil duduk di sisi ranjang.
"Iya kak peninggalan almarhum Ibuku dan ada kalung peninggalan dari teman masa kecilku," ucap Debora.
"Oh ya, laki - laki atau perempuan?" tanya Deren dengan nada cemburu.
"Laki - laki," jawab Debora yang tidak ingin berbohong.
"Apa teman masa kecilmu yang bernama Steven?" tanya Deren sambil menggenggam erat ke dua tangannya untuk menahan amarahnya.
"Bukan," jawab Debora singkat yang masih memasukkan pakaiannya.
"Lalu kemana teman masa kecilmu?" tanya Deren dengan suara masih berbeda tanpa disadari oleh Debora.
"Aku tidak tahu karena setelah aku menyelamatkan kakak itu sebelum pergi memberikan kalungnya milik Ibunya begitu pula dengan ku karena itulah aku menyimpannya sampai sekarang," jawab Debora sambil membawa kotak perhiasan berwarna merah.
Debora duduk di sisi ranjang suaminya kemudian sepasang matanya yang indah menatap wajah tampan suaminya sambil tersenyum.
"Jangan cemburu, dia hanya teman masa kecilku apalagi sampai sekarang kami belum pernah dipertemukan," ucap Debora.
"Jika kalian berdua dipertemukan dan pria itu menyatakan cinta, apakah kamu mau menerimanya?" tanya Deren sambil menatap ke arah samping.
Cup
Debora langsung turun dari ranjang kemudian mencium pipi suaminya secara tiba-tiba membuat Deren tersenyum bahagia.
"Walau suatu saat nanti dia datang dan ternyata pria itu sangat kaya aku tidak tertarik karena aku sudah mempunyai suami yang sangat baik padaku. Aku menyimpan kalung ini bukan karena aku menyukainya tapi aku menyimpan kalungnya karena kalung itu pemberian ibunya dan tentu saja aku tidak tega untuk tidak menyimpannya," ucap Debora menjelaskan.
"Aku hanya berharap teman masa kecilku juga merawat perhiasan milik Ibuku dan melakukannya seperti yang aku lakukan," sambung Debora.
"Boleh kakak melihatnya?" tanya Deren penasaran seperti apa bentuk kalungnya.
"Boleh," jawab Debora singkat.
Debora membuka kotak perhiasan berwarna merah membuat Deren matanya membulat dengan sempurna.
"Kalung itu seperti ... Akhhhhhhhh.... sakit.. !!! teriak Deren sambil memegangi kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Tini Jifi
Daren ayo cepat sembuh supaya ingat
2023-03-14
1
🌷💚SITI.R💚🌷
smg derren sadar dr amnesisy ya thoor dsn mereka saling menyadari kli memang mereka itu teman masa kecily..debora sm derren adalah temsn masa kecily...lanjuut
2022-09-30
1