Selesai bicara sendiri Debora mengambil ponselnya untuk menghubungi Deren dan panggilan pertama langsung di angkat oleh Deren.
("Kangen ya?" goda Deren).
("Aish... kenapa kak Deren jadi berubah menggodaku?" tanya Debora).
("Hehehe... Ada apa Alona?" tanya Deren mengalihkan pembicaraan).
("Besok pagi setelah acara pernikahan di rumah, aku minta tolong kak Deren membawa koperku," jawab Debora).
("Kenapa tidak sekalian pulang dari gedung mampir ke tempat orang tuamu?" tanya Deren penasaran)
("Di dalam koper ada barang peninggalan Ibu ku dan aku tidak ingin Ibu tiri ku dan adik tiri ku mengambilnya," ucap Debora).
("Kalau begitu sekarang saja aku ke sana," ucap Deren sambil bangun dari ranjangnya dan mengambil kunci mobil).
Tut tut tut
"Kak Deren besok sa ... Aish malah dimatikan lagi ponselnya," ucap Debora dengan kesal.
"Tapi lebih baik sekarang saja dari pada nanti besok pas acara pernikahan ke dua wanita ular itu membongkar koperku," ucap Debora.
Debora duduk di ranjang sambil menunggu kedatangan Deren hingga dua puluh lima menit kemudian terdengar suara makian dari mulut Ibu tirinya.
"Besok kamu menikah, besok saja ke sini," ucap Ibu nya Valen.
Ceklek
Deren yang ingin menjawab ucapan calon Ibu mertuanya tidak jadi karena pintu kamar Debora terbuka.
"Debora mana kopernya?" tanya Deren sambil berjalan melewati calon Ibu mertuanya tanpa memperdulikan ucapannya.
"Ini kak," jawab Debora sambil mendorong kopernya.
"Debora kamu menginap?" tanya Ibu tirinya sambil menahan amarahnya.
"Tidak Bu," jawab Debora.
"Lalu kenapa koper mu di bawa sama Deren?" tanya Ibu tirinya kepo.
"Kepo," jawab Debora
"Kak Deren pulanglah dan terima kasih atas bantuannya," ucap Debora sambil mengedipkan matanya dan tersenyum ke arah Deren.
Deg
Deg
Jantung Deren berdetak kencang ketika Debora mengedipkan matanya dan tersenyum manis namun dirinya tersadar kalau Debora melakukan itu karena ingin Ibu tirinya marah.
"Kamu.." ucap Ibu tirinya sambil mengangkat tangannya ke atas.
Grep
"Dulu aku selalu diam ketika aku di tampar dan di pukul oleh mu dan putrimu tapi kini jangan pernah lagi untuk melakukannya karena aku akan melawan dirimu," ucap Debora sambil menahan tangan Ibu tirinya.
(" Ini baru calon istriku," ucap Deren dalam hati).
Awalnya Deren ingin menahan tangan calon Ibu mertuanya namun Deren melihat kalau Debora akan menahan tangannya karena itulah Deren hanya diam dan melihat apa yang terjadi.
Bruk
"Akhhhhhhh," teriak Ibu tirinya ketika Debora mendorong tubuhnya.
"Ada apa ini?" tanya Ayahnya yang tiba - tiba datang karena mendengar suara keributan.
"Aduh Ibu, kenapa jatuh?" tanya Debora pura - pura dengan wajah sedih.
Ibu tirinya sangat kesal melihat Debora yang pura-pura sedih membuat Ibu tirinya mendorong tubuh Debora.
Bruk
"Akhhhhhhh.... Sakit hiks... Hiks .... hiks ...." teriak Debora sambil terisak.
Deren langsung membantu Debora untuk berdiri dan tiba - tiba Debora memeluk Deren dari arah samping sambil pura - pura memijat pahanya.
Namun tanpa disadari oleh Debora kalau Deren pria normal mendapatkan sentuhan dari Debora membuat tombak sakti nya mulai menegang membuat Deren memalingkan wajahnya sambil berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.
"Ayah, Debora berbo..." ucapan Ibu tirinya terpotong oleh Debora.
"Ayah ... Hiks.. Hiks ... Hiks ... Debora ingin membantu Ibu yang jatuh tapi hiks ... hiks ... hiks ... " ucap Debora menggantungkan kalimatnya sambil terisak di dada bidang Deren.
("Aduh Debora, kamu membuatku ingin memakanmu," ucap Deren dalam hati sambil masih memalingkan wajahnya).
Deren membelai punggung Debora membuat Debora menatap tajam ke arah Deren namun Deren pura-pura tidak melihatnya.
"Debora berbo..." ucapan Ibu tirinya terpotong kembali tapi kali ini terpotong oleh suaminya.
"Cukup!!! kalian bikin aku pusing," ucap suaminya sambil memijat keningnya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya pria tersebut ke arah Deren.
"Aku membawa koper milik Debora biar besok siang selesai acara pernikahan Debora tinggal bersamaku," jawab Deren.
"Sekarang koper ada di tanganmu sekarang kamu pulanglah," ucap pria tersebut mengusir secara terang - terangan.
"Baik," jawab Deren singkat sambil melepaskan pelukannya walau dirinya tidak rela.
Debora ikut melepaskan pelukannya walau dalam hatinya masih ingin memeluk Deren.
"Aku pulang dulu, besok aku ke sini," ucap Deren.
"Ok, hati - hati di jalan," ucap Debora.
"Terima kasih," jawab Deren sambil mendorong koper milik Debora.
Sebenarnya Debora ingin mengantar Deren ke depan tapi tidak mungkin karena para tetangga pasti mencoba Debora dan Deren mengingat Debora seharusnya menikah dengan Steven.
Debora membalikkan badannya dan berjalan ke arah kamarnya tanpa memperdulikan tatapan sinis Ibu Tirinya.
"Si*l dia mulai berani karena besok tidak tinggal di sini lagi. Awas kamu Debora akan aku buat acara pernikahan mu sangat memalukan begitu pula dengan calon suami mu," ucap Ibu tirinya ketika melihat Debora masuk ke dalam kamarnya.
xxxxxxxxxx
Malam berganti pagi para anggota keluarga akan di hias terlebih Debora dan Valen karena hari ini mereka akan menikah dengan pasangan masing-masing.
"Lebih baik putriku dulu karena putriku yang akan menikah dengan Steven," ucap Ibu tirinya Debora.
Bukannya tuan Steven akan menikah dengan nona Debora?" tanya perias pengantin.
"Tidak, putriku yang akan menikah dengan Steven menantuku yang sangat kaya raya sedangkan Debora menikah dengan pria miskin," ucap Ibu tiri nya sambil menatap sinis ke arah Debora.
"Benar kata Ibu ku, kalau kakak kesayanganku akan menikah dengan pria miskin jadi cepat hias dan bikin aku bertambah cantik," ucap Valen bangga.
"Merebut calon suami orang kok bangga," cibir Debora.
"Apa maksudmu?" tanya Valen dengan nada kesal.
"Permisi saya diperintahkan oleh tuan Deren untuk membantu nona Debora untuk merias wajah nona di kamar nona Debora," ucap seorang wanita cantik yang tiba-tiba datang bersama anak buahnya.
"Ok," jawab Debora singkat.
Debora turun dari kursi kemudian berjalan ke luar dari kamar pengantinnya yang seharusnya di pakai untuk dirinya namun kini digunakan oleh Valen.
Ibu tirinya dan Valen yang melihat hal tersebut menggenggam ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya karena Debora mendapatkan perlakuan istimewa oleh Deren sedangkan Steven tidak memperdulikannya.
Ceklek
Debora membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam dengan diikuti oleh ke dua wanita yang masih muda dan cantik. Debora duduk di kursi kemudian mereka mulai menghasilkan Debora hingga setengah jam kemudian Debora sudah selesai di rias dan kini memakai gaun pengantin.
"Silahkan memakai gaun pengantinnya," ucap wanita cantik tersebut.
Debora dengan patuh memakai gaun pengantin hingga sepuluh menit kemudian Debora sudah selesai memakai gaun pengantin.
Ke dua perias pengantin tersebut mulai merapikan apa yang kurang hingga lima belas menit kemudian sudah selesai.
"Sudah selesai nona," jawab ke duanya denah serempak.
"Kalau nona mau melihat hasil rasanya silahkan melihat kaca ini," ucap pemilik perias wajah.
Debora menatap ke arah kaca dan dirinya tidak percaya kalau wajahnya sangat cantik karena dirinya tidak pernah berdandan.
"Nona sangat cantik sekali dan sangat cocok dengan tuan Deren," ucap pemilik perias wajah.
"Terima kasih," jawab Debora sambil tersenyum.
"Sekarang kita keluar nona," ucap ke duanya dengan serempak.
Debora hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka keluar dari kamar Debora. Ketika Debora sampai di ruang keluarga yang sudah di sulap menjadi tempat untuk pernikahan mereka banyak mata memandangi Debora karena ternyata Debora sangat cantik begitu pula dengan Deren yang arah pandangannya tidak pernah lepas memandangi wajah cantik calon istrinya.
("Sangat cantik dan aku sangat bersyukur akhirnya sebentar lagi kami akan menikah," ucap Deren dalam hati).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Tini Jifi
jadi ibuk tiri kok jahat banget si , Alhamdulillah q jadi ibu tiri g begitu, karena dia anak yatim yang harus disayang
2023-03-14
1
Yayuk Triatmaja
maaf akan author perbaiki
2022-11-21
0
Audya
typo kak
2022-11-21
0