Amnesia

Kini Debora dan sopir kantor duduk menunggu di ruang UGD setelah hampir satu jam menunggu akhirnya pintu dibuka membuat Debora turun dari kursi dan berjalan ke arah dokter tersebut.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Debora.

"Untung dibawa tepat waktu kalau tidak—" jawab dokter tersebut menggantungkan kalimatnya sambil mengembuskan napasnya dengan perlahan.

"Apakah Nona keluarganya?" tanya dokter tersebut.

"Maaf, Dok, aku bukan keluarganya," jawab Debora dengan jujur.

"Bisa minta menghubungi keluarganya?" tanya dokter tersebut.

"Maaf, Dok, aku tidak tahu karena aku menemukannya di pinggir jalan raya. Maaf apakah tuan itu membawa dompet? Kita bisa tahu identitasnya," jawab Debora.

"Maaf, di kantongnya tidak ada dompet. Jadi bagaimana? Karena harus ada tanda tangan surat persetujuan operasi karena lukanya lumayan parah," ucap dokter tersebut.

"Aku yang akan bertanggung jawab dan menandatangani surat pernyataan karena nyawanya lebih penting," ucap Debora.

"Baiklah, silahkan nona menulis surat pernyataan dengan di antar oleh perawat sekalian membayar deposit," ucap dokter tersebut yang memang tidak ada pilihan lain karena nyawa pasiennya lebih penting.

"Baik," jawab Debora singkat.

‘Untung aku punya tabungan kalau tidak darimana aku membayar uang rumah sakit,’ ucap Debora dalam hati.

Debora mengikuti perawat tersebut dan mulai menulis surat pernyataan dan membayar deposit setelah selesai Debora dan sopir kantor menunggu kembali di ruang tunggu operasi.

"Kalau Paman lelah, Paman pulang saja biar aku menunggu di sini," ucap Debora dengan nada lembut.

"Tidak, Nona," jawab sopir tersebut.

"Maaf, Nona, apakah Nona akan menunggunya sampai sadar?" tanya sopir tersebut ingin tahu.

"Benar, Paman. Kalau kita berbuat baik jangan sepotong terlebih kasihan pria itu tidak ada yang menunggunya," jawab Debora.

‘Nona, sangat baik pantas saja Tuan Besar menganggap nona Debora sebagai putrinya yang sudah lama tiada,’ ucap sopir tersebut dalam hati.

“Tuan Besar” yang dimaksud sopir kantor adalah pemilik perusahaan di mana Debora berkerja. Tuan Besar melihat Debora berbeda dengan pegawai lainnya karena itulah dia membiayai kuliah berikut sopir pribadi.

Tuan Besar hidup sendiri karena anak dan istrinya meninggal di tempat dalam kecelakaan ketika mereka melakukan liburan keluarga. Sejak kehadiran Debora yang berkerja di perusahaan miliknya dan wajahnya agak mirip dengan putri kandungnya membuat Tuan Besar sangat sayang dengan Debora dan menganggapnya sebagai anak kandungnya namun disalahartikan oleh para pegawainya.

Sopir tersebut hanya menganggukkan kepalanya setelah dua jam lebih menunggu pintu operasi di buka membuat Debora turun dari kursi dan berjalan kearah pintu tersebut di mana dokter tersebut juga keluar dari ruang operasi.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Debora dengan nada khawatir.

"Operasinya berjalan lancar dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut.

"Ke ruang perawatan kelas dua, Dok," ucap Debora.

"Baik, Nona," jawab dokter tersebut.

***

Kini Debora duduk di ruang perawatan sedangkan sopir tersebut pergi ke kantin untuk membeli kopi hitam untuk dirinya dan susu coklat hangat untuk Debora.

"Semoga kamu cepat sadar dan bisa berkumpul bersama keluarga," ucap Debora sambil menggenggam tangan pemuda tampan tersebut.

Walau wajahnya masih lebam-lebam namun terlihat masih tampan dengan kepalanya dibalut perban. Tidak berapa lama jari jemari pemuda tampan tersebut mulai bergerak membuat Debora tersenyum dan tidak berapa lama pemuda tampan tersebut membuka matanya.

"Aku di mana?" tanya pemuda tampan tersebut.

"Di rumah sakit," jawab Debora.

"Kamu siapa?" tanya pemuda tampan tersebut.

"Aku Debora, aku melihat Tuan tergeletak di pinggir jalan karena itulah aku membawanya ke rumah sakit. Adakah saudara yang bisa dihubungi? Supaya bisa datang ke sini?" tanya Debora.

"Saudara?" tanya pemuda tampan tersebut sambil memegangi kepalanya.

"Iya saudara? Apakah Tuan tidak mempunyai saudara?" tanya Debora.

"Aku tidak tahu dan aku juga tidak tahu siapa namaku," jawab pemuda tampan tersebut sambil masih memegangi kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya.

"Akh! Sakit!" teriak pemuda tampan tersebut.

Debora langsung turun dari kursinya dan menekan tombol darurat dan tidak berapa lama dokter dan perawat datang.

"Maaf, Nona, silakan menunggu di luar," ucap dokter tersebut.

"Baik, Dok," jawab Debora.

Debora berjalan ke arah pintu ruang perawatan dan keluar dari ruangan tersebut. Setengah jam kemudian dokter dan perawat tersebut keluar dari ruang perawatan.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Debora dengan wajah khawatir.

"Pasien mengalami amnesia dan tidak ingat siapa dirinya jadi saya minta usahakan jangan memintanya untuk mengingat sesuatu karena bisa membahayakan jiwanya," ucap dokter tersebut.

"Baik, Dok, aku akan ingat pesan dokter.”

"Satu lagi jika tiba-tiba pasien berusaha mengingat masa lalu dan membuatnya kesakitan, tolong hentikan untuk mengingatnya dan atur napas untuk menghilangkan rasa sakit yang menyiksa di kepalanya," ucap dokter tersebut.

"Baik, Dok, sekarang aku boleh melihatnya?" tanya Debora.

"Silakan," jawab dokter tersebut.

"Terima kasih, Dok," jawab Debora.

Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Debora sedangkan Debora masuk ke dalam ruang perawatan.

Debora melihat pemuda tampan tersebut tidur dengan nyenyak dan tiba-tiba ponsel milik Debora berdering membuat Debora keluar dari ruangan tersebut agar tidak mengganggu istirahatnya.

Debora mengambil ponselnya yang di simpannya di dalam tasnya kemudian melihat siapa yang menghubungi dirinya.

"Steven?" ucap Debora.

Steven adalah kekasih Debora sekaligus calon suaminya di mana mereka sebentar lagi akan menikah.

("Hallo honey," panggil Debora sambil tersenyum bahagia karena kekasihnya menghubungi dirinya).

("Ada di mana?" tanya Steven dengan nada curiga).

("Di rumah sakit," jawab Debora).

("Sayangku sakit apa?" tanya Steven dari curiga berubah menjadi khawatir).

("Aku tidak apa-apa, aku menolong seseorang yang tergeletak di pinggir jalan dan membawanya ke rumah sakit," jawab Debora menjelaskan ke calon suaminya).

("Kenapa kamu menolongnya?Biarkan itu menjadi tugas polisi dan mobil ambulans," ucap Steven dengan nada kesal).

("Aku tidak tega melihat orang menderita karena itulah aku menolongnya," jawab Debora berusaha untuk bersabar menghadapi sifat Stevan yang tidak perduli dengan orang lain).

("Pria atau perempuan ?" tanya Steven tanpa memperdulikan jawaban Debora karena dirinya sudah tahu akan sifat calon istrinya).

("Pria," jawab Debora yang tidak ingin berbohong).

("Sekarang ke kantor dan tinggalkan pria tersebut," perintah Steve).

("Maaf aku tidak bisa karena pria tersebut mengalami amnesia," tolak Debora).

Tut! Tut!

Sambungan komunikasi langsung diputuskan oleh Steven membuat Debora mengembuskan napasnya dengan perlahan.

"Maaf aku tidak tega meninggalkan pria itu," ucap Debora sambil membalikkan badannya dan masuk ke dalam ruang perawatan yang kebetulan hanya pemuda tampan tersebut yang sedang di rawat.

Debora kembali duduk di kursi dekat ranjang sambil menatap pemuda tampan tersebut dan entah kenapa dirinya tidak tega meninggalkannya terlebih pemuda tampan tersebut tidak ingat siapa dirinya.

Tidak berapa lama pemuda tampan tersebut perlahan membuka matanya dan menatap wajah cantik Debora.

"Maaf ngerepotin kamu terus," ucap pemuda tampan tersebut merasa tidak enak hati.

"Santai saja, aku tidak merasa direpotkan," jawab Debora sambil tersenyum.

"Kakak mau apa?" Tanya Debora dengan nada lembut ketika melihat pemuda tampan tersebut sambil meringis menahan sakit karena ingin bangun dari ranjangnya.

"Aku mau minum," jawab pemuda tampan tersebut.

"Berbaringlah, biarkan aku yang ambil minumannya," jawab Debora sambil mengambil gelas yang berada di meja dekat ranjang.

Pemuda tampan tersebut meminum dengan menggunakan sedotan hingga habis tanpa sisa kemudian Debora meletakkan gelas tersebut di meja.

"Bolehkah aku memanggil “kakak”?" tanya Debora.

"Boleh," jawab pemuda tampan tersebut dengan singkat.

"Karena Kakak tidak ingat namanya bagaimana kalau aku memanggil Kak Deren?" tanya Debora.

"Deren, bagus juga," jawab Deren sambil tersenyum menatap wajah cantik Debora.

Debora membalas senyuman Deren hingga Deren melihat cincin di jari manis Debora membuat wajah Deren berubah. Entah kenapa dirinya kecewa dan hatinya terluka ketika mengetahui Debora sudah mempunyai kekasih padahal dirinya bukan siapa-siapa.

"Itu cincin tunangan?" tanya Deren sambil menunjuk jari manis Debora.

"Benar, satu minggu lagi kami akan menikah," jawab Debora.

Deren hanya diam namun kedua tangannya mencengkram dengan erat dan wajahnya terlihat jelas antara sedih, kecewa, dan cemburu menjadi satu membuat Deren menghembuskan napasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.

‘Kenapa aku cemburu? Debora ‘kan bukan siapa-siapa aku,’ ucap Deren dalam hati.

"Kamu tidak menemani kekasihmu? Nanti cemburu kalau merawat ku," ucap Deren walau dalam hatinya ingin Debora bersamanya.

"Kekasihku kerja dan aku sudah bilang padanya. Oh iya, apakah mau makan?" tanya Debora mengalihkan pembicaraan.

"Iya, kebetulan aku sangat lapar," ucap Deren.

"Oke, aku suapi ya," ucap Debora sambil mengambil mangkok yang berisi bubur.

"Tidak, biar aku makan sendiri," jawab Deren.

"Kak Deren masih sakit jadi biar aku menyuapi Kak Deren," ucap Debora.

Deren hanya diam namun dalam hatinya sangat bahagia karena diperhatikan oleh Debora. Debora mulai menyuapi sesuap demi suap hingga tidak terasa bubur tersebut habis tanpa sisa kemudian Debora meletakkan mangkuk yang kosong tersebut ke meja.

Debora menuangkan air di gelas yang kosong dengan menggunakan teko kemudian memberikannya ke Deren.

"Nanti sore aku pulang. Kak Deren tidak apa-apa kan di sini sendirian? Besok pagi aku akan ke sini lagi sebelum berangkat ke kantor," ucap Debora.

"Tidak apa-apa, santai saja dan mengenai datang ke sini jika merasa repot atau kekasihmu marah, lebih baik tidak usah," jawab Deren walau dalam hatinya bertentangan.

"Aku tidak merasa repot dan kekasihku tidak mungkin marah," jawab Debora berbohong.

Entah kenapa Debora sungguh tidak tega jika membiarkan pria itu sendirian di rumah sakit tanpa ada sanak saudara yang menungguinya.

"Terima kasih," jawab Deren.

"Terima kasih untuk apa?" tanya Debora.

"Untuk semua yang kamu lakukan untukku," jawab Deren.

"Sesama manusia itu harus saling tolong menolong," ucap Debora.

‘Kamu memang gadis yang berbeda karena tidak semua gadis mempunyai pikiran yang sama sepertimu,’ ucap Deren dalam hati.

"Oh iya, setelah sembuh apa rencana Kakak?" tanya Debora.

"Aku tidak tahu," jawab Deren.

"Bisa mengendarai mobil?" tanya Debora.

"Aku tidak tahu," jawab Deren.

"Bagaimana kalau Kak Deren diajari cara mengendarai mobil dan nanti bisa berkerja menjadi sopir di perusahaan milik bos ku, karena kebetulan sopir kantor sebentar lagi mau pensiun?" tanya Debora memberikan usul.

"Aku merasa ngerepotin kamu terus," ucap Deren tidak enak hati.

"Santai saja," jawab Debora sambil tersenyum.

"Bagaimana caranya aku berterima kasih padamu?" tanya Deren.

"Apa yang aku lakukan pada Kak Deren berbuatlah juga pada orang yang membutuhkannya," jawab Debora.

‘Kamu memang gadis yang berbeda, sayang sudah ada yang memilikinya,’ ucap Deren dalam hati.

Waktu berlalu dengan cepatnya dan tidak terasa hari sudah sore membuat Debora bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Tidak terasa sudah sore, aku pulang dulu," pamit Debora.

"Hati-hati di jalan," ucap Deren.

"Terima kasih, kakak juga jaga kesehatan," jawab Debora.

Debora tersenyum kemudian keluar dari ruang perawatan dengan diikuti oleh sopir kantor yang sejak tadi menunggu di luar.

**

"Ayah, tadi Debora menolong orang dan membawanya ke rumah sakit tapi sayang orang itu mengalami amnesia. Apakah Ayah boleh mengijinkan orang itu untuk tinggal di rumah ini sementara waktu?" tanya Debora penuh harap yang sudah selesai makan malam dan kini berada di ruang keluarga.

"Laki-laki atau perempuan?" tanya Ayahnya.

"Laki-laki, Ayah. Kasihan dia tidak ingat siapa keluarganya," ucap Debora.

"Ibu tidak setuju," jawab ibu tirinya.

"Kenapa Ibu tidak setuju?" tanya Debora.

"Bagaimana kalau pria itu ternyata penjahat? Pokoknya Ibu tidak setuju terlebih rumah kita sangat sempit dan tidak ada kamar," ucap Ibu tirinya dengan tegas.

"Karena ibumu tidak setuju berarti Ayah tidak setuju," ucap Ayahnya.

"Aku setuju dengan Debora," jawab Valen, adik tirinya.

"Kenapa kamu setuju?" tanya ibunya sambil menatap tajam ke arah Valen.

"Bu, kita sebagai orang saling tolong menolong jadi sudah sepantasnya kita menolong pria itu untuk tinggal sementara di rumah kita," jawab Valen sambil memberikan kode ke arah ibunya.

"Putriku memang baik hati. Karena ucapan mu, Ibu merasa bersalah jadi Ibu setuju dengan permintaan Valen, putriku yang baik hati dan tidak sombong," puji ibunya.

"Terima kasih, Bu," jawab Valen sambil tersenyum menyeringai.

"Ayah, lebih baik kita menolong pria itu," ucap istrinya.

"Terserah kalian saja," jawab ayahnya yang malas berdebat dengan hal yang tidak penting.

"Terima kasih Ayah, Ibu, dan Valen," jawab Debora sambil tersenyum kemudian turun dari kursi meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamarnya.

***

Enam hari kemudian.

Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya dan kini Deren tinggal sementara di rumah milik keluarga Debora sebagai sopir.

Gudang yang penuh barang di jual oleh ibu tirinya karena gudang itu digunakan untuk tempat tinggal sementara Deren, sedangkan hasil penjualan barang bekas digunakan untuk berfoya-foya oleh ibu tirinya dan adik tirinya.

Debora sudah mengatakan ke pemilik perusahaan di mana dirinya berkerja dan pemiliknya langsung setuju. Sopir yang ingin pensiun mengajarkan Deren mengendarai mobil dan tidak membutuhkan waktu lama Deren bisa mengendarai mobil, terlebih Deren memang sebenarnya bisa mengendarai mobil tapi karena kehilangan ingatan membuatnya lupa akan semua yang pernah dilakukannya.

Deren kini bekerja sebagai sopir perusahaan di mana Debora berkerja menggantikan sopir yang pensiun. Pemilik perusahaan sangat puas dengan pekerjaan Deren dan mengajarkan Deren tentang bisnis.

Deren yang sangat pintar langsung menguasai pekerjaannya dan diangkat jadi karyawannya.

**

Acara pesta pernikahan tinggal satu hari lagi tapi suasana di rumah sudah mulai sibuk dan mulai memasang pernak pernik untuk acara pesta pernikahan Debora dengan Steven.

Tapi tanpa sepengetahuan Debora, Valen meracuni pikiran Steven dan sayangnya Steven percaya, terlebih di tambah adanya bukti palsu. Hingga suatu ketika Debora sedang duduk di sisi ranjang tiba-tiba ponselnya berdering membuat Debora mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.

"Kak Steven tumben menghubungi aku?" ucap Debora sambil menggeser tombol warna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.

("Sayang, kita melakukan di ranjang tempat aku akan menikah dengan kakakmu," ucap Steven dengan napas memburu dan suara berat).

("Baiklah, Sayang," ucap Valen dengan suara menggoda).

Terpopuler

Comments

Apiq

Apiq

bagus Thor critanya 😍

2022-12-26

0

Sumawita

Sumawita

Steven kamu akan menyesal

2022-09-28

0

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

kasian debora yg ga tau apa² di hianati sm ade tiriy yg ga tau malu itu dan steven jg laki² lemah ga pants buat debora...sabar ya denora smg di ksh pengganti yg lbh baik lg...thoor ceritay bagus too thebpoint ga bertele2 dan ringan..smg ga ada konplik berat ya thoor.
lanjuut dobel up thoor

2022-09-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!