Tisya mengendarai mobil meninggalkan halaman gedung perusahaan milik keluarga Bagas. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Bagas, pria yang sangat dicintainya.
Sampai di rumah Tisya memasukan bahan makanan yang tadi dia beli. Setelah itu Tisya mengambil tas-nya dan memasukan beberapa helai bajunya.
Tisya menulis sebuah surat untuk Bagas. Wanita itu telah memblokir nomor Bagas. Agar tiada lagi komunikasi diantara mereka, hati Tisya sudah terlanjur sakit.
"Mas Bagas,
Maaf aku pergi tanpa pesan. Aku takut jika aku bertemu kamu, pendirianku goyah kembali. Aku pergi dan berhenti berharap akan cintamu lagi.
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku telah pergi jauh. Jangan lupa makan. Jaga kesehatanmu. Kita mungkin ditakdirkan hanya bertemu sesaat.
Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan. Kau mengajarkan aku jatuh cinta, kesabaran dan keikhlasan. Namun, kamu lupa mengajarkan aku bagaimana mengucapkan kata perpisahan. Dulu dirimu pernah membuatku terbang bahkan hingga naik ke bintang-bintang, namun kini diriku kau hempaskan jauh ke dalam jurang yang curam. Ragaku memang terlihat masih tetap seperti dulu, tapi tidak dengan hatiku.
Kau bagai duri yang menyakiti sebegitu parah, namun bedanya luka yang diberikan olehmu tak dapat ku obati secara instan. Hatiku seakan berdarah karena menggenggammu terlalu erat. Bagaimanapun aku berusaha kau tidak akan pernah melihat ke arahku, maka kucukupkan aku dan hatiku untuk saling menyakiti. Aku pergi. Selamat tinggal."
Tisya menemui bibi dan menitipkan surat buat Bagas."Bi, jika nanti Pak Bagas pulang, berikan surat ini. Katakan saja aku telah pergi. Jangan lupa buatkan sarapan untuk Bapak," ucap Tisya dengan menahan air mata.
"Ibu mau kemana?"
"Nggak tau, Bi."
"Bu, kalau memang ibu dan bapak lagi ada salah paham, sebaiknya bicara dulu. Jangan pergi, Bu."
"Aku nggak bisa bertahan lagi. Bibi jangan lupa ingatkan Bapak untuk sarapan. Aku pergi. Taksi udah menunggu." Tisya memeluk bibi sebelum pergi.
Sementara itu di ruang kantornya Bagas, Tika masih berada di sana. Wanita itu masih tidak percaya jika Bagas telah melupakan dirinya.
"Aku awalnya memang menjadikan Tisya pelarian karena wajahnya yang begitu mirip denganmu. Namun, setelah kebersamaan kami, aku menyadari jika aku memang mencintai Tisya. Bukan karena wajahnya yang mirip kamu, tapi karena sikap dan sifatnya yang apa adanya."
"Aku nggak percaya jika kamu bisa secepat ini berpaling!"
"Tika, dalam satu detik saja hati seseorang itu bisa berubah. Apa lagi kita telah berpisah lima bulan lebih. Itu bukan waktu yang singkat. Saat ini aku sudah mulai mencintai Tisya. Aku harap kamu mengerti. Mungkin memang kita tidak berjodoh. Semoga kamu dapat pengganti aku yang lebih baik."
"Aku tidak mau pria lain. Aku mencintaimu Bagas. Kita mulai lagi dari awal. Aku yakin dihatimu masih ada aku."
"Aku telah menikah, Tika. Kita tidak mungkin bersama."
Tika mendekati Bagas dan memeluk tubuh pria itu. Tangganya pecah dalam pelukan Bagas."Seandainya aku bisa, aku akan mencintaimu untuk kembali kepadaku sekarang juga. Maafkan aku karena telah mengabaikanmu dulu."
Saat Bagas dan Tika berpelukan, Tisya yang datang kembali ke kantor suaminya buat pamit, kaget melihat semua itu.
"Ya Tuhan, jadi Tika masih ada di sini. Tampaknya benar yang Tika katakan, jika Mas Bagas memang masih mencintainya. Memang tidak pernah ada aku dihatinya. Baiklah, Mas. Tadinya aku masih ragu meninggalkan kamu, tapi saat ini aku telah bertekat untuk pergi jauh dari kehidupanmu. Semoga kamu dan Tika bahagia."
Tisya menyeret langkahnya dengan berat menjauh dari ruang kerja suaminya. Tadi Tisya sempat ragu, dan ingin minta penjelasan Bagas seperti yang Bibi sarankan. Namun, setelah melihat Bagas dan Tika yang saling berpelukan membuat Tisya mengurungkan niatnya.
Bagas mendorong tubuh Tika. Wanita itu tersenyum, hatinya senang karena yakin Tisya pasti akan salah paham dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Tika memeluk Bagas saat dia melihat Tisya yang ingin membuka pintu ruang kerja istrinya.
"Maaf, Tika. Aku harap kamu jangan temui aku lagi. Aku nggak mau Tisya jadi salah paham. Cerita antara kita telah usai saat kamu menolk lamaranku. Aku mau pulang. Aku harus menemui Tisya. Aku nggak mau, dia salah paham."
Bagas berjalan meninggalkan Tika dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Tika mengikuti dari belakang.
Dalam perjalanan hidup ini kamu pasti melewati pahit dan manisnya pengalaman. Semua hal tersebut tersebut dapat menjadi pelajaran yang berharga.
Melalui masa lalu yang kamu konversi sebagai pelajaran, akan membuatmu menjadi lebih arif dan bijaksana dalam bersikap.
Meski masa lalu terkadang menimbulkan luka yang membekas, cobalah untuk selalu mengambil pelajaran serta hal baik dari momen tersebut.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
tris tanto
bego ya tisya,ktnya mo kabur udh nulis surat tp kok mo pamit othor pikunkah??
2023-08-15
0
Jasmine
bagas hrs berjuang keras tuk.mendapatkan tisya kembali
2022-12-05
1
Ella Sikumbang
tuuu kaaaan pergi deeeh tisya ny
2022-10-21
0