Bagas dan Tisya akhirnya resmi menjalin kasih. Setiap hari Bagas menjemput dan mengantar Tisya pulang kerja.
Di kantor hubungan mereka mulai tercium karyawannya Bagas. Namun, Bagas tidak peduli.
Seperti Biasa, saat Bagas baru sampai di kantor, Tisya segera membuatkan minum untuk bos sekaligus kekasihnya itu.
Saat Tisya sedang membuat kopi buat Bagas di pantry, seorang karyawan wanita mendekati Tisya.
"Enak banget kerjaannya kamu. Hanya membuat kopi dan menyiapkan makan siang Pak Bagas."
"Alhamdulillah, Mbak Wati," ujar Tisya dengan tersenyum.
"Berapa Pak Bagas memberikan gaji untuk pekerjaan semudah ini. Office girl yang hanya melayani atasan. Atau kamu juga melayani pak Bagas dengan yang lainnya?"
"Maksud Mbak Wati apa?"
"Jangan pura-pura lugu. Kamu sengaja manfaatin pak Bagas dengan wajahmu itu'kan?"
"Aku makin tidak mengerti maksud Mbak Wati. Katakan aja dengan jelas."
Seorang karyawan wanita teman akrab Wati ikut nimbrung. Dia duduk di dekat Wati dan Tisya berdiri.
"Semua karyawan lama pasti tau jika Pak Bagas memiliki seorang kekasih yang sangat cantik seorang model papan atas bernama Tika."
"Apa hubungan mantan kekasih Pak Bagas yang bernama Tika denganku? Aku makin tidak mengerti ucapan Mbak Wati."
"Kamu itu pura-pura bodoh atau emang bodoh. Pak Bagas itu baik denganmu pasti hanya karena wajahmu yang mirip dengan kekasihnya pak Bagas itu. Kamu bisa tanya Leni kalau tidak percaya."
"Kamu itu ada sedikit kemiripan. Namun, wajah Mbak Tika jauh lebih elegan dan cantik dari kamu," ucap Leni.
Saat Leni mengobrol, datang lagi seorang karyawan wanita yang bernama Linda menghampiri mereka.
"Ada gosip terbaru," ucap wanita itu.
Leni dan Wati langsung memandang ke arah Linda dengan antusias.
"Gosip apa," ucap mereka berdua serempak.
"Tisya seminggu yang lalu menemani Pak Bagas ke pesta dan wajahnya jadi mirip Mbak Tika. Lihat saja fotonya ini."
Linda menyodorkan ponselnya pada Leni dan Wati. Tampak kedua wanita itu kaget dan langsung memandangi Tisya. Wati merapatkan tubuhnya pada Tisya.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Pak Bagas? Jadi kamu di kantor hanya pura-pura lugu. Apa pikiranku benar jika kamu juga melayani Pak Bagas di luar kantor. Kamu sengaja manfaatkan wajahmu yang mirip Mbak Tika itu."
"Mbak Wati, aku tidak mengerti apa maksud perkataan 'melayani Pak Bagas di luar kantor itu'?" tanya Tisya.
Dia bukan tidak mengerti maksud ucapan Mbak Wati,cuma Tisya masih berpikir positif. Mungkin saja yang ada dipikirannya saat ini berbeda dengan apa yang ada dipikiran wanita itu.
Linda dan Leni juga ikutan mengelilingi Tisya menunggu jawaban dari wanita itu. Karyawan yang lain hanya melihat dari kejauhan.
"Apa hubungan kamu dengan Pak Bagas?" tanya Leni lagi.
"Ada hubungan apa antara aku dan pak Bagas itu bukan urusan Mbak-mbak semua. Permisi! Aku mau antar minuman Pak Bagas dulu."
"Kamu jangan sok ya. Mentang-mentang bisa dekat Pak Bagas. Dengan modal wajahmu yang sedikit mirip Tika kamu sengaja menggoda Pak Bagas," ucap Leni.
"Aku yakin kamu juga telah menyerahkan tubuhmu untuk Pak Bagas. Pasti kamu dengan suka rela ditiduri hanya untuk mendekati bos kamu," ucap Wati.
Tanpa mereka sadari Bagas telah berdiri di belakang mereka. Mendengar ucapan Wati, Bagas menjadi naik darah.
Pak Bagas memukul meja dengan keras membuat semua yang berada di pantry dan juga yang berada di meja kerja menjadi kaget.
"Kenapa kalian bertiga berada di sini? Apa kalian sudah tidak ingin bekerja lagi?" tanya Bagas dengan suara tinggi.
"Pak Bagas ...," ucap ketiganya serempak. Tampak wajah mereka berubah pucat terutama wajah Wati.
"Coba ulangi sekarang apa yang kamu ucapkan tadi. Aku mau mendengar sekali lagi!"
"Maaf, Pak. Kami hanya bercanda. Bukankah begitu, Tisya!" ucap Wati.
"Saya juga minta maaf,Pak. Saya tadi ingin membuat air minum saja," ucap Leni.
Linda hanya menunduk tidak berani mengatakan apa pun. Tubuhnya tampak sedikit gemetar.
"Dengarkan baik-baik,bukan untuk kalian bertiga saja, tapi untuk semuanya." Bagas mendekati Tisya dan memeluk pundaknya.
"Tisya ini adalah kekasihku. Siapa yang berani mengganggu Tisya, harus berhadapan denganku," ucap Bagas dengan suara keras.
Bukan hanya Leni, Wati dan Linda yang kaget mendengar ucapan Bagas, tapi juga seluruh karyawan. Mereka serempak memandangi Tisya dan Bagas. Bagas makin merapatkan tubuh Tisya ke tubuhnya.
"Kalian bertiga silakan ke bagian keuangan.Minta gaji bulan ini. Mulai besok jangan datang lagi ke kantor ini!" ucap Bagas.
"Maafkan kami Pak. Jangan pecat kami." Ketiga wanita itu tampak memohon.
Wati mendekati Tisya dan menggenggam tangan Tisya. Dengan tanpa malu dia meminta bantuan Tisya.
"Tisya, katakan pada Pak Bagas jika kita tadi hanya bercanda," ucap Wati.
Bagas menarik tangan Tisya yang di pegang wanita itu.
"Lepaskan tanganmu. Tisya mari ikuti aku. Lain kali jika ada orang yang meremehkan kamu, katakan padaku. Jangan diam aja," ucap Bagas.
Bagas berjalan dengan memegang tangan Tisya. Saat berada di depan meja karyawan yang lain, Bagas berhenti.
"Kalian semua dengar, jika kalian berani menghina Tisya dan merendahkan dirinya itu sama saja kalian menghinaku. Kalian akan berhadapan denganku. Dia bekerja di sini hanya untuk menemani aku saja. Melayani aku. Kalian yang berani perintahkan Tisya berarti kalian sama saja memerintahkan aku!" ucap Bagas.
Semua karyawan hanya menunduk, tidak berani menjawab ucapan Bagas. Setelah mengucapkan itu Bagas berjalan meninggalkan meja karyawan itu sambil memeluk pinggang Tisya.
"Pak Bagas, membuat aku malu saja. Kenapa harus mengumumkan itu di depan semua karyawan?" ucap Tisya begitu sampai di dalam ruang kerja Bagas.
"Kenapa emangnya? Semua karyawan dan juga rekan kerjaku harus tahu jika kamu kekasihku saat ini."
"Apa nanti yang orang katakan. Apa Bapak tidak malu jika orang tahu Bapak berpacaran dengan seorang karyawan rendahan seperti saya?"
"Jangan panggil saya Bapak lagi. Mulai harmoni kamu panggil saya Mas atau Kakak. Kenapa saya harus malu? Saya tidak melakukan kesalahan jika jatuh cinta denganmu."
"Apa kata orang-orang jika sekarang Bapak, eh Mas Bagas memiliki kekasih seperti aku. Dulu pacar Mas Bagas seorang model terkenal. Aku masih kurang percaya diri."
"Kamu tidak boleh minder begitu. Semua manusia itu sama. Cinta tak pernah membeda-bedakan sifat, raga, jasmani harta seseorang. Karena cinta hanya keikhlasan dan ketulusan hati kita untuk seseorang.Cinta tak pernah memandang harta atau pun jabatan, jika kita mendasari nya dengan ketulusan dan keikhlasan."
Tisya tersenyum semringah mendengar ucapan Bagas. Memang benar cinta tidak memandang logika, tapi orang-orang pasti akan tetap memandang sebelah mata terhadap dirinya.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
fitriani
untung bagas taw kl karyawannya ngomong gitu kl gak kan kasihan tisya
2023-01-10
0
Jasmine
Salah Tika sendiri kenapa menolak lamaran Bagas dan pergi jauh mengutamakan kariernya..Jgn salahkan Tisya hadir di kehidupan Bagas
2022-12-05
0
Berlyan Syana
apakah ucapan bagas tetap berlaku kalau tika datang
2022-11-16
0