Setelah seminggu, ibu Tisya meninggalkan dunia ini, gadis itu kembali ke kota bersama kekasihnya Bagas. Rumah kediaman ibunya, Tisya titipkan dengan tetangga. Jika ada yang ingin mengontrak, bisa hubungi dirinya.
Tisya ke makam ibunya sebelum berangkat kembali ke kota. Tisya membacakan doa dan setelah itu menaburkan bunga ke pusara ibunya.
Ibu, maafkan segenap kesalahanku di kala kita masih dekat dan bersama-sama. Kini, esok, dan selamanya cintamu akan selalu ada dan dekat dengan hatiku. Ibu, dahulu aku masih sangat sedikit berbakti kepadamu. Sekarang aku sadar bahwa penyesalan itu sering kali tiada berguna. Ibu, kepadamulah tempatku menata hati yang sering disakiti oleh dunia. Tapi maafkan aku, Ibu, karena aku pula sering menyakitimu. Untuk ibu yang jauh di sana. Dalam hariku, dalam setiap langkahku dan dalam setiap doa-doaku ku selipkan namamu selalu. Ibu, aku sangat rindu. Semoga surga, adalah tempat kelak kita bertemu.
Tampak air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Bagas berjongkok di samping kekasihnya itu. Menghapus air mata di kedua pipi Tisya.
"Sayang, jangan kamu tangisi lagi kepergian Ibu. Percayalah Ibu telah tenang di sana. Jika kamu menangis terus, pasti Ibu juga akan sedih."
"Seharusnya aku tidak meninggalkan ibu sendiri. Seharusnya aku tidak bekerja di kota, agar waktuku lebih banyak bersama ibu. Sejak ayah meninggal sepuluh tahun lalu, hanya aku tempat ibu mengadu. Namun, setelah dewasa, bahkan aku lebih memilih bekerja di kota. Ibu pasti kesepian."
"Jangan terus menyalahkan dirimu, Tisya. Semua telah menjadi takdir Tuhan."
Bagas memegang nisan pusara Ibu-nya Tisya. Tampak Bagas menarik napasnya.
"Ibu, di depan pusaramu, aku berjanji akan menikahi Tisya secepatnya dan akan aku bahagiakan anakmu ini," ucap Bagas.
Tisya memandangi Bagas, tidak percaya mendengar ucapan Bagas. Sebenarnya Tisya sedikit ragu melangkah, mengingat perbedaan status sosial diantara mereka. Namun, Tisya juga tidak bisa menolak, karena dia juga mencintai Bagas.
Dalam perjalanan menuju ke kota, wajah Tisya tampak masih murung. Terbayang hari yang harus dijalani tanpa kedua orang tuanya. Rasa penyesalan karena tidak bisa melepaskan kepergian orang tuanya masih terus menghantui pikiran Tisya.
...----------------...
Bagas meminta bantuan bawahannya untuk mengurus pernikahannya. Kedua orang tua Bagas saat ini ada di luar negeri. Dia membebaskan anaknya untuk menentukan pilihan jodohnya.
Satu minggu lagi waktu yang Bagas inginkan untuk pernikahannya. Bagas ingin pesta yang meriah dan mengundang banyak teman serta rekan kerja.
Bagas menjemput Tisya untuk mengukur pakaian pesta. Bagas membawa Tisya ke butik langganan Tika. Para pelayan butik melihat Tisya dengan wajah keheranan. Saat di dalam ruang manajer untuk mengukur pakaian Tisya, manajer itu juga tampak keheranan.
"Mbak Tika ...? tanya manajer toko. Kelihatan wanita itu juga ragu memanggil nama Tika.
"Maaf, Mbak. Saya Tisya bukan Tika."
"Oh ... pantas wajahnya sedikit berbeda. Mbak Tika cantik dan Mbak Tisya lebih manis. Apa Mbak Tisya saudaranya Mbak Tika?" tanya manajer butik itu lagi.
"Bukan Mbak, saya nggak kenal Mbak Tika."
"Saya pikir saudara. Dari kabar yang saya dengar Mbak Tika saat ini ada di luar negeri. Makanya saat Pak Bagas mengatakan akan membuat baju pesta, saya sedikit kaget. Saya pikir akan menikah dengan mbak Tika."
Tisya hanya tersenyum menanggapi ucapan manajer itu. Saat pengukuran baju, Manajer itu tidak berhentinya bicara mengenai Tika. Mulai dari wanita itu yang pelanggan butiknya, hingga cintanya Bagas pada Tika yang selalu menemani dan membelikan apa saja yang Tika inginkan.
"Sudah selesai pengukurannya, Mbak? Aku boleh keluar?" tanya Tisya.
"Sudah Mbak Tika, eh maaf... Mbak Tisya."
"Kalau gitu saya keluar. Mas Bagas pasti udah menunggu lama."
"Mbak Tika aja kalau sedang memesan baju hingga 2 atau 3 jam tetap Pak Bagas menunggu. Nggak pernah bosan apa lagi marah, saat Mbak Tika membeli pakaian di sini."
"Iya, Mbak. Terima kasih." Tisya melayalami manajer toko pamit.
Sampai di ruang tunggu, Tisya melihat Bagas yang sedang asyik bermain ponsel. Tisya mendekati calon suaminya itu.
"Mas Bagas, kita mau kemana lagi?" tanya Tisya.
"Kita akan ke toko perhiasan. Mencari cincin buat pernikahan." Bagas berdiri dan mengajak Tisya meninggalkan butik. Di dalam mobil Tisya yang penasaran akhirnya bertanya dengan Bagas.
"Apa wajahku ini mirip banget dengan Mbak Tika, Mas?" tanya Tisya penasaran.
"Ya, mirip. Kenapa?"
"Manajer toko itu awalnya mengira aku ini Mbak Tika, tapi setelah dia amati benar wajahku, baru sadar jika aku bukan Tika."
"Itu butik langganannya Tika. Dia akan betah berlama-lama di butik kalau sedang mencari dan membutuhkan pakaian. Pernah 3 jam mencari pakaian untuk ke pesta, semua dicoba dan di acak. Namun, satu pun dari pakaian yang di coba tidak ada yang cocok. Terpaksa aku berikan uang untuk seluruh karyawan. Pasti mereka capek menyusun dan merapikan pakaian itu lagi."
"Mas sabar benar menghadapi Mbak Tika," gumam Tisya.
"Jika kamu melakukan itu, aku pasti akan melakukan hal yang sama."
Bagas melajukan mobilnya menuju salah satu toko perhiasan langganan Tika juga. Kembali para pelayan salah memanggil nama Tisya. Setelah semua yang dibutuhkan telah siap, mereka pulang. Bagas membawa Tisya untuk makan malam di salah satu restoran ternama. Bagas juga sekalian ingin pesan makanan buat pestanya.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Diah Elmawati
Laki-laki seperti Bagas yang penuh kesabaran harus dapar acungan jempol
2024-01-01
0
tris tanto
disini apa tfk ada penjelasannya ttg perasaan tisya ya,,apa dibb belkng ya
2023-08-15
0
Athallah Linggar
Kno tisya dr situ ga sadar klo disamakan dg tika Dan bagas,knp selalubawa tisya ke tmpt yg selalu didtgi tika?😡😡
2023-05-07
0