Tisya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Mungkinkah Bagas sang CEO jatuh cinta dengannya.
Terus terang, sejak bekerja di perusahaan milik Bagas, sebenarnya Tisya juga menyukai pria itu. Namun, Tisya sadar jika dirinya dan Bagas tidaklah sepadan. Bagai langit dan bumi.
"Untukmu yang memberiku arti, kuharap jangan biarkan rasa ini mati. Cinta itu sederhana, sesederhana mencintai apa adanya dan seadanya. Karena, cinta itu hadir untuk saling melengkapi agar cinta bisa menjadi sempurna. Sekali lagi aku meminta padamu, maukah menjadi pendampingku."
"Saya tidak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu cepat dan mengejutkan bagi saya. Lagi pula saya merasa tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Apa mungkin, seorang CEO bisa jatuh cinta dengan wanita seperti saya?"
"Kenapa tidak mungkin? Cinta itu datang dari hati. Cinta itu anugerah,Tuhan tak pernah salah menghadirkan cinta dalam diri setiap insan manusia."
"Aku perlu tahu alasan Bapak bisa bisa jatuh cinta denganku. Di lihat dari manapun,rasanya tidak mungkin Bapak bisa jatuh cinta denganku."
"Cinta tidak butuh alasan, karena cinta bukan sebuah alasan.Cinta itu tidak perlu alasan karena jika alasan itu hilang, maka cinta tersebut akan ikut menghilang bersamanya," ucap Bagas.
"Aku tak mau nanti jatuhnya pelampiasan, memang cinta tak butuh alasan, tapi bagiku cinta itu menyangkut soal perasaan."
"Ketika kita mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh, kita tidak butuh alasan, mengapa? Karena pada dasarnya cinta itu bukan hal yang membuat kita berani melakukan hal-hal bodoh. Aku mencintaimu tanpa karena. Jatuh cinta tidak butuh alasan, jika ada alasan bukan cinta namanya."
"Aku mau Bapak memberikan waktu untukku berpikir. Karena aku masih merasa kaget dengan semua ini."
"Aku tidak mau membuang waktu lagi, Tisya. Aku hanya memberi kamu waktu satu hari untuk berpikir. Semoga jawaban yang akan kamu berikan sesuai dengan keinginanku."
Bagas berdiri dan mengajak Tisya untuk berdansa dengan tamu undangan lainnya. Bagas memeluk pinggang Tisya saat berdansa.
Tisya yang tidak pernah berdansa, tampak canggung dan gugup. Beruntung Bagas bisa seimbangkan dengan Tisya.
Tampak banyak mata tamu undangan memandang ke arah mereka. Wajah Tisya yang begitu mirip dengan Tika membuat semua tamu yang mengenal Bagas bertanya dalam hati. Siapa sebenarnya Tisya?
Jam dua belas malam pesta telah usai. Bagas mengantar Tisya pulang ke rumah kontrakannya.
...----------------...
Pagi harinya, Tisya bekerja seperti biasanya. Saat Bagas datang, Tisya langsung membuatkan kopi untuk Bagas.
Tisya meletakkan segelas kopi kehadapan Bagas. Saat Tisya akan pergi, Bagas memintanya duduk.
"Duduklah dulu! Aku ingin bicara."
"Masalah apa ya, Pak?" tanya Tisya. Walau Tisya tahu pastilah Bagas akan pertanyakan mengenai keputusan dirinya, namun Tisya pura-pura tidak mengerti.
"Bagaimana dengan jawaban dari kemarin? Apakah kamu sudah bisa memberikan jawabannya?"
"Setelah aku berpikir semalaman, aku bisa memberikan jawabannya. Aku bersedia menjadi kekasih Bapak," ucap Tisya.
"Benarkah itu Tisya?" Bagas langsung berdiri dari duduknya dan memeluk Tisya.
"Aku tahu, kamu dan semua orang pasti meragukan ucapan cintaku yang bagi mereka mungkin terlalu cepat dan dini. Namun, mereka lupa jika cinta itu tidak bisa menunggu. Dia hadir di hati ini secara tiba-tiba dan bersemayam dalam hati tanpa bisa dicegah. Jika kita bisa ungkapkan cinta hari ini kenapa harus menunggu hingga esok. Sesuatu yang baik itu bukankah harus disegerakan."
"Aku tidak tahu, apakah keputusan yang aku ambil ini benar. Namun seperti kata Bapak, jika itu niat baik kenapa kita menundanya. Aku yakinkan diri ini jika semua akan berjalan baik jika kita juga berpikir baik. Jika itu cinta, berhentilah menghakimi masa lalunya. Lebih baik berdirilah di sampingnya, bantu dia memperindah masa depannya."
"Terima kasih karena telah menerima cintaku. Aku akan buktikan pada dunia jika aku benar mencintai kamu, bukan hanya pelarian."
"Aku tidak butuh kata-kata janji, aku hanya ingin Bapak membuktikan semua itu dengan sikap dan perbuatan. Aku tidak akan tau apa yang akan terjadi jika aku tidak berani melangkah masuk. Jika memang nantinya cinta Bapak padaku hanya pelarian, aku anggap itu semua memang takdirnya cintaku begitu."
Bagas kembali memeluk Tisya. Walau sebenarnya hati Bagas masih ragu akan cintanya, tapi Bagas telah bertekat akan mencintai Tisya apa adanya bukan karena wajahnya yang begitu mirip Tika.
"Yakinlah Tisya, jika Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya," ucap Bagas masih dengan memeluk tubuh Tisya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
~Sapardi Djoko Damono~
...****************...
Bersambung
Quote atau puisi dikutip dari Google
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Jasmine
cpt bgt prosesnya langsung diterima
2022-12-05
0
Julio Stevaning
benarkah Bagas benar2 cinta
2022-10-31
0
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
semoga benar2 tulus y bagas
2022-10-30
0