Bagas duduk kembali dihadapan pak penghulu, begitu juga Tisya kembali ke kursi tempat dirinya tadi duduk. Tampak Bagas menarik napas dalam. Pak penghulu dan pembawa acara mengatakan akad nikah akan kembali diulang.
"Baiklah Pak Bagas kita ulangi lagi. Saya harap Bapak lebih konsentrasi. Atau perlu saya buatkan catatan, jadi Bapak bisa tinggal baca saja," ucap Penghulu.
"Nggak perlu, Pak. Saya pasti bisa kali ini." Bagas tampak kembali menarik napasnya.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Penghulu lagi.
"Bisa, Pak."
"Baiklah, Bismillah. Pamungkas Bagas Dhefin Adibrata," panggil Penghulu.
"Saya, Pak," jawab Bagas.
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Latisha Elanora Felicity binti Almarhum Muhammad Rizky dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, di bayar Tunai," ujar Pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Latisha Elanora Felicity binti Almarhum Muhammad Rizky dengan mas kawin tersebut di atas, di bayar Tunai," ucap Bagas.
"Bagaimana saksi," tanya Penghulu.
"Sahhh," ucap saksi serempak.
Pak Penghulu menyatakan pernikahan sah. Bagas merasa lega, dan mengucapkan syukur. Pengantin wanita diminta mendampingi pengantin pria.
Kedua pengantin baru itu menanda tangani buku nikah. Setelah itu pemasangan cincin kawin untuk kedua pengantin.
Bagas dan Tisya saat ini berdiri berhadapan untuk penyerahan mas kawin.
"Tisya, istriku yang cantik, ini aku menyerahkan mas kawin sesuai dengan yang diminta, diucapkan di ijab kabul tadi. Mudah-mudahan ini mas kawin dariku bermanfaat," ucap Bagas.
"Terima kasih, Mas. Ini mas kawin dari Mas Bagas saya terima, mudah-mudahan bermanfaat." Tisya mencium tangan Bagas setelah menerima mas kawin.
Semua rangkaian pernikahan ditutup dengan doa. Para tamu undangan di minta menyantap hidangan setelah pembacaan doa selesai.
Siang hari pesta berlangsung meriah. Bagas tampak tersenyum semringah menyambut setiap tamu yang datang. Berbeda dengan Tisya, dirinya masih teringat saat Bagas dua kali salah menyebut namanya.
Kenapa nama Tika hampir sama dengan namaku? Apakah karena itu Mas Bagas salah menyebut namaku?
Bagas bukannya tidak memperhatikan raut wajah Tisya. Namun, dirinya tidak ingin berdebat saat ini. Tamu undangan makin ramai memenuhi gedung.
Tisya tampak sangat cantik dengan gaun merah mudanya. Wajahnya makin terlihat mirip dengan Tika. Banyak tamu undangan yang mengira Bagas menikah dengan Tika.
Saat Bagas mengatakan jika istrinya bukan Rika, tapi Tisya, para tamu undangan bahkan menyebut mereka saudara.
"Aku kira Tika. Wajahnya mirip banget. Apa Tisya ini saudara kembar atau adiknya Tika?" tanya salah seorang rekan kerja Bagas.
"Bukan, Tika dan Tisya tidak ada hubungan. Kebetulan aja wajahnya mirip."
"Kamu sengaja mencari wanita yang wajahnya mirip sebagai pengganti Tika?" tanya rekan kerja itu lagi.
"Bukanlah, ini hanya kebetulan."
"Asal jangan nanti kamu jadikan sebagai pelarian saja," bisiknya.
Tisya yang bersanding dengan Bagas tampak mulai jengah. Wanita itu akhirnya minta pamit. Padahal tamu undangan masih banyak.
"Mas, kepalaku pusing. Aku istirahat dulu. Kamu sendiri aja bersandingnya."
"Pasti nanti banyak yang menanyakan keberadaan pengantin wanitanya. Apakah sakit banget?" tanya Bagas.
Hatiku yang sakit, Mas. Aku seperti menjadi bayangnya Tika. Seandainya para tamu undangan belum hadir dan kamu belum mengeluarkan uang yang banyak, mungkin aku telah memilih mundur. Aku hanya masih ingin menjaga nama baik kamu. Jika aku pergi, kamu pasti akan malu.
"Aku takut nggak kuat Mas jika dipaksakan."
"Baiklah, aku antar kamu ke kamar."
Bagas pamit dengan kedua orang tuanya. Pria itu mengantar Tisya ke kamar yang akan menjadi kamar pengantin mereka. Kamar tampak sangat indah dan romantis. Tisya langsung membaringkan tubuhnya mengacuhkan Bagas. Pria itu mendekati Tisya.
"Tisya, aku tau kamu masih marah atas kejadian tadi pagi. Percayalah Tisya, aku nggak sengaja menyebut nama Tika."
"Itu karena Tika-lah yang masih bersemayam di hatimu, Mas." Tisya bangun dari tidurnya.
"Walau aku menerima pernikahan ini bukan berarti aku telah memaafkan kamu, Mas. Kamu sudah membuat aku malu. Namun, aku tidak ingin membalas mempermalukan kami dengan meninggalkan pernikahan. Aku masih memikirkan nama baikmu."
"Maafkan aku, Tisya. Aku mohon maaf. Saya tidak pernah berpikir untuk menyakitimu dengan sengaja, apa pun yang saya lakukan kepadamu tidak sengaja. Tolong maafkan aku," ucap Bagas dari tempatnya duduk.
"Maafkan aku bila aku telah banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula jika aku telah banyak meneteskan air mata yang keluar dari matamu. Yang ku lakukan hanya bisa meminta maaf bila aku tidak bisa memahamimu, memahami keinginanmu. Tapi yang perlu kamu tahu, bahwa hanya kaulah yang ingin ku jadikan satu-satunya menjadi pendimping hidupku, dan aku benar-benar menyayangimu," ucap Bagas selanjutnya.
"Aku tahu, aku mungkin tak pernah ada dalam hatimu. Aku juga tau, bahwa kau tak pernah menganggapku ada. Kau tak pernah melihat segala ketulusan-ku. Aku memang selalu ada untukmu, tapi bagimu aku tak ada. Tak pernah ada. Dihatimu hanya ada Tika," ujar Tisya.
"Bak alas dari kaca lantas berjalan diatas paku, setapak demi setapak pedih amat tercampak, memendap pedih kelu saat kau sebut nama Tika di hadapanku tiap kali bersama. Jika engkau berniat untuk mengajakku terbang tinggi, seharusnya dirimu tidak menjatuhkan diriku sebelum sampai di tempat yang di tuju," ucap Tisya lagi.
"Aku tau Tisya, kesalahanku begitu fatal saat ijab kabul tadi pagi. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku? Percayalah semua itu tidak sengaja aku lakukan."
"Kita tidak usah berhubungan badan, layaknya suami istri sampai kamu bisa membuktikan jika aku yang kini ada di hatimu!" ucap Tisya penuh penekanan.
Bagai di sambar petir Bagas mendengar ucapan Tisya. Jadi wanita itu ingin menggantung pernikahan mereka. Tisya hanya terpaksa menerima dirinya.
"Maksud kamu kita tidak akan berhubungan suami istri sampai kamu percaya jika aku telah melupakan Tika."
"Ya. Dan aku hanya memberikan kamu waktu satu bulan untuk buktikan jika memang aku yang ada dihatimu. Jika terbukti kamu belum bisa melupakan Tika, kita bisa pisah tanpa terikat apapun karena kita belum berhubungan badan."
"Baiklah Tisya. Akan aku buktikan jika kamu bukanlah bayangan Tika. Kamu telah memiliki tempat di hati ini."
Setelah kesepakatan, Bagas kembali ke aula tempat berlangsungnya pesta. Sedangkan Tisya memilih tetap di kamar.
...****************...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Putri Maharani
keputusan yg bagus tisya, good job
2023-02-06
2
fitriani
bagus tisya... emang harus d tegasin si bagas ini
2023-01-10
0
Jasmine
itu keputusan yg lbh baik tisya drpd sakit selamanya mendingan sakit sekarang
2022-12-05
0