"Apakah ini juga restoran yang biasa Mas Bagas datangi saat bersama Mbak Tika?" tanya Tisya, ketika baru saja mereka duduk dalam satu ruangan VIP.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Bagas balik memberi pertanyaan.
"Dari tadi semua tempat yang kita datangi dan kunjungi, selalu saja tempat favorit Mas dan Mbak Tika."
"Maaf, Tisya. Aku nggak sengaja melakukan itu. Yang aku tau cuma tempat-tempat yang sering aku kunjungi bersama Tika. Aku lahir dan besar di kota lain."
"Apa aku boleh memberikan pendapat?"
"Tentu saja boleh!"
"Kalau gitu, aku akan memberikan tempat rekomendasi yang kamu inginkan. Ini restoran yang biasa Mas dan Mbak Tika kunjungi juga'kan?" tanya Tisya. Bagas yang menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Mas mau makanan apa? Aku bisa berikan rekomendasi tempat lain."
"Kamu marah?" tanya Bagas.
"Aku bukan marah, tapi aku hanya ingin Mas benar-benar lepas dari Tika. Aku juga tidak ingin menjadi bayangannya terus. Mana bisa Mas melupakan Tika, jika kemanapun melangkah selalu dibayangi Tika."
"Sekali lagi, maafkan aku. Kita cari restoran lain aja."
Bagas dan Tisya keluar dari restoran itu menuju restoran yang Tisya inginkan. Bagas awalnya ragu akan masakannya. Tisya memaksa Bagas untuk mencoba sebelum pesan makanannya.
Setelah mencoba beberapa menu, dan Bagas merasa cocok dengan lidahnya, barulah pria itu memutuskan memesan makanan dari restoran yang Tisya inginkan.
Namun, tanpa Tisya ketahui diam-diam Bagas tetap pesan makanan dari restoran yang biasa dia datangi bersama Tika. Bagas merasa makanan di restoran itu lebih cocok dengan selera temannya yang ekonomi menengah ke atas. Menu di restoran yang Tisya inginkan, memang enak dam sesuai selera Bagas, tapi pria itu takut tidak sesuai dengan selera rekan kerjanya.
...----------------...
Satu bulan telah berlalu, akhirnya tiba hari yang dinantikan Tisya dan Bagas. Hari dimana mereka akan mengikat janji sebagai sepasang suami istri.
Bagas dan penghulu telah duduk berhadapan untuk mengucapkan ijab kabul. Para tamu undangan telah berkumpul. Kedua orang tua Bagas juga mendampingi putranya.
Tisya telah berkenalan dengan kedua mertuanya seminggu yang lalu. Kedua orang tua Bagas bisa menerima Tisya walaupun mereka berbeda status sosial.
"Pamungkas Bagas Dhefin Adibrata," panggil pak penghulu.
"Saya, Pak," jawab Bagas.
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Latisha Elanora Felicity binti Muhammad Rizky dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, di bayar Tunai," ujar Pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Latika Fiona Eleanor binti Candra Saputra dengan mas kawin ...." Ucapan Bagas terhenti karena seseorang memukul lengannya dengan pelan.
"Bapak, Bapak salah," ucap salah seorang yang duduk di samping bagas.
"Pak Bagas, maaf. Bisa bapak ulangi lagi. Bapak salah menyebut nama pengantin wanita," ucap Penghulu.
"Maaf, Pak."
"Kita ulangi lagi ijab kabulnya. Diharapkan Bapak dapat berkonsentrasi."
Para tamu undangan berbisik-bisik karena Bagas salah menyebut nama. Pria itu menyebut nama Tika bukannya Tisya. Terutama karyawan wanita yang kurang menyukai Tisya. Seolah mereka mengejek Tisya.
Tisya yang berada di belakang Bagas, hanya menunduk. Tidak berani menatap para tamu. Tisya merasa sangat malu.
"Pak Bagas, kita ulangi lagi ijab kabulnya," ucap petugas kantor urusan agama.
"Baik Pak," jawab Bagas. Bagas membalikan badannya, melihat Tisya yang menunduk. Bagas tampak merasa bersalah.
"Pamungkas Bagas Dhefin Adibrata," panggil pak penghulu lagi.
"Saya, Pak," jawab Bagas.
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Latisha Elanora Felicity binti Muhammad Rizky dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, di bayar Tunai," ujar Pak penghulu.
""Saya terima nikah dan kawinnya Latika Fiona Eleanor binti Candra Saputra, eh ... maaf Pak. Kita ulangi lagi. Saya akan lebih konsentrasi," ucap Bagas.
Tisya yang berada di bangku belakang bersama keluarga Bagas lainnya, berdiri dari duduknya. Tisya mendekati Bagas.
"Sebaiknya Mas pikirkan lagi pernikahan kita. Jika Mas masih ragu, lebih baik kita batalkan," ujar Tisya.
Bagas langsung berdiri dan menggenggam tangan Tisya."Tisya, aku mohon maaf. Aku mau pernikahan ini tetap berlangsung. Jika kali ini aku masih salah, kamu bisa tinggalkan aku."
"Baiklah, aku beri kamu kesempatan sekali lagi. Namun, jika kamu masih salah juga menyebut namaku, kita akhiri sampai di sini saja, Mas."
"Cobalah kamu konsentrasi, wanita mana yang tidak sakit hati jika kamu salah terus menyebut namanya," Ucap Mama Bagas.
"Baik, Ma. Aku janji tidak akan salah kali ini."
Tisya dan Mama Bagas kembali duduk di kursi belakang pria itu. Para wartawan dan tamu telah berbisik-bisik membicarakan kesalahan Bagas menyebut nama pengantin wanitanya.
...Tidak mungkin untuk melepaskan masa lalumu yang menyedihkan. Tapi kamu punya pilihan untuk terus berbenah dan menjadi diri sendiri yang lebih baik di masa depan. Masa lalu itu adalah hal di mana kita bisa kembali atau hal di mana kita bisa melupakan. Mulailah perjalanan barumu dalam hidup dengan melupakan apa yang telah berlalu dan mengganggu, melukai, atau menyakitimu dan jadikan semuanya modal dan kekuatan untuk melihat lurus ke depan....
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
fitriani
y pasti sakit hatilah kl bagasnya kyk gitu... masa iya salah nyebut nama sampai 2x...padahal kan dy yg pgn nikah sm tisya... pernikahan ini kan bukan perjodohan... kl perjodohan sm nama wajar
2023-01-10
3
ani nurhaeni
malang bngt nasiib muu tisya
2022-12-27
0
Jasmine
Bagas tak ada akhlaknya...percumalah
2022-12-05
0