Sejak sakit Tisya tidur di kamar dengan Bagas. Hubungan mereka semakin dekat. Bagas memberikan banyak perhatian. Seperti hari ini, pulang dari kerja Bagas membawa sup dan kue kesukaan Tisya.
"Sayang, aku bawa sup ikan dan seafood kesukaanmu." Bagas memberikan sup yang dibawanya. Tisya yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Bagas meminta Bibi mengambil mangkuk dan sepiring nasi untuk Tisya.
"Biar aku suapin," ucap Bagas. Pria itu menyuapi Tisya dengan telaten hingga nasi dipiring habis.
"Aku juga beli brownies."
"Nanti aja aku makan, Mas. Aku masih kenyang."
"Aku mandi dulu, setelah itu aku temani kamu nonton."
Bagas masuk ke kamar dan mandi, setelah rapi Bagas ikutan nonton. Bagas memeluk bahu Tisya dan membawa kepala wanita itu ke dalam dekapan dadanya. Pria itu mengecup kepala Tisya sambil menonton.
Tisya yang mengantuk akhirnya tertidur di pelukan Bagas. Pria itu menggendong tubuh Tisya kedalam kamar. Meletakkan tubuh itu secara pelan. Saat Bagas ingin kembali ke sofa, tangannya di tahan Tisya.
Biasanya Bagas tidur di sofa yang ada di kamar. Pria itu takut tidak bisa menahan diri jika tidur seranjang. Bagaimanapun Bagas pria normal.
"Tidurlah di sini, temani aku Mas."
"Kamu tahu artinya, jika aku tidur di sini?"
"Jika memang Mas ingin menuntut hak sebagai suami, malam ini aku telah siap."
"Apakah kamu yakin? Kamu tidak ragu lagi dengan perasaanku?"
"Jika Mas tanya, apakah aku udah yakin dengan perasan mas saat ini, jawabnya belum. Namun, apa aku akan terus begini. Aku nggak akan pernah tahu kedalaman perasaan Mas jika aku tidak juga membuka hatiku untukmu. Seandainya aku telah memberikan segalanya, dan ternyata Mas meninggalkan aku, mungkin itu telah menjadi takdirku."
"Percayalah Tisya, aku juga tidak ingin membuat kamu kecewa. Aku juga sedang berusaha melupakan masa laluku. Jika memang aku masih mencintai Tika, kenapa aku memilih putus dan menikah denganmu. Lebih baik aku menunggu kepulangannya kembali."
"Aku akan mencoba percaya, Mas. Kita akan saling bantu menjaga perasaan ini."
"Cinta itu seharusnya mengajarkan kita bagaimana bisa saling percaya. Bukan untuk saling curiga, Tisya. Jangan menunggu hari yang terbaik untuk melangkah karena setiap hari sangatlah berharga."
"Yang terbaik bukan dia yang datang dengan kelebihannya, melainkan dia yang tidak pergi dengan segala kekurangan tetapi tetap belajar dan berusaha. Aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta padaku, dan hanya namaku yang ada dihatimu nantinya."
"Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya."
Bagas memeluk Tisya dan mengecup bibirnya. Ciuman yang awalnya biasa, lama-lama menuntut. Mereka akhirnya saling membelit lidah.
Bagas berpindah ke atas tubuh Tisya dan mengecup seluruh bagian di wajah wanita itu. Bagas mengecup seluruh bagian di wajah Tisya. Setelah puas dengan wajah, ciuman turun ke leher. Bagas meninggalkan banyak tanda di leher Tisya.
"Apakah kamu sudah yakin akan memberikan hak aku sebagai suami. Jika kamu ragu katakan saat ini juga. Kalau aku sudah mulai membuka kain penutup tubuhmu ini, kamu menangis memohon untuk berhenti, mungkin tidak akan aku dengar."
"Aku telah siap Mas," ujar Tisya pelan.
Bagas berdiri dan menanggalkan helai perhelai kain yang menutup bagian tubuhnya. Setelah itu Bagas kembali naik ke tempat tidur. Bagas membuka kancing baju Tisya, dan meloloskan dari tubuh Tisya. Kemudian Bagas meloloskan kain bagian bawah tubuh. Tersisa hanya pakaian dalam saja yang melekat di tubuh wanita itu.
...****************...
Bersambung
Selamat sore. Mama minta maaf kalau hari ini mama belum bisa update dua bab. Mungkin mulai senin baru mama coba. Hari ini dan besok mama ada acara.
Nantikan terus kelanjutan novel ini. 😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Liana Rismawati
piyo to tis jane karepmu ki
2023-01-02
1
Jasmine
jinak2 macam kucing juga si tisya...tdk punya pendirian
2022-12-05
0
Meis Mudeng Tuwo
👍👍
2022-10-20
0