Tangisan Tisha pecah ketika sampai di parkiran. Dari tadi Tisha sudah berusaha menahan agar air matanya tidak tumpah membasahi pipi. Tisha tidak ingin Bagas melihat kelemahannya.
"Sekarang kamu pasti tahu, siapa yang benar-benar Bagas cintai. Di depan kamu aja, Bagas masih menerima pelukanku. Apa lagi jika dibelakangmu," ucap Tika.
Tisya yang baru menyadari kehadiran Tika, memandangi wajah wanita itu dengan seksama.
Ya Tuhan, kenapa aku nggak bisa mengeluarkan kata kasar untuk wanita yang saat ini berdiri dihadapanku. Aku seolah merasa ada suatu ikatan. Apa karena wajah kami yang mirip.
"Maaf Tika, apapun yang kamu katakan, aku tetap merasa akulah pemenang hatinya Bagas. Mau tau kenapa? Akulah orang pertama yang bertukar peluh dengannya, akulah wanita pertama yang rahimnya diisi dengan benih Bagas."
"Apa kamu yakin jadi yang pertama? Aku udah menjalin hubungan tiga tahun lebih dengan Bagas. Apa kamu yakin kami belum pernah bertukar peluh?" tanya Tika.
Ya Tuhan, semoga ini hanya omongan Tika. Bagas tidak mungkin menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan. Aku yakin, akulah orang pertama yang Bagas sentuh.
"Tetap saja aku yang jadi pemenangnya, Tika. Namaku telah tertulis di buku nikah, bukan hanya dihatinya."
"Pernikahan diatas kertas. Itu yang kamu banggakan. Aku udah tahu, jika namaku yang Bagas sebut saat akad nikah. Kamu tau kenapa? Karena hanya aku yang Bagas harapkan menjadi pendampingnya. Jika kamu masih ingin tau dan memastikan seberapa cintanya Bagas denganku, mari lihat dan dengar obrolan kami. Aku akan menemui Bagas lagi. Kamu bisa lihat, apakah dia akan mengusirku saat kamu tidak ada. Tadi dia hanya kasihan denganmu, sehingga pura-pura mengusirku," ucap Tika dengan tersenyum miring.
Tika berjalan meninggalkan Tisya. Baru beberapa langkah, Tika membalikkan badannya."Kamu tau apa yang aku bisikan tadi. Kami berjanji akan berbagi peluh," ujar Tika. Wanita kembu melangkah setelah mengucapkan itu.
Tisya menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Tisya merasa semuanya akan berakhir. Mungkin hanya sampai di sini hubungannya dengan Bagas.
Sebelum masuk ke ruang kerja Bagas, Tika menghubungi nomor ponsel Tisya yang di dapat dari salah seorang karyawan.
"Jangan matikan ponselmu jika ingin mendengar apa yang aku dan Bagas obrolkan. Kamu bisa buktikan, ucapanku itu benar atau salah."
Tisya yang memang penasaran mengikuti saran Tika untuk tetap menghidupkan ponselnya. Tisya masuk ke mobil dan membesarkan suara ponselnya.
Tika masuk keruangan Bagas tanpa mengetuk pintu. Bagas mengira itu Tisya yang kembali lagi.
"Sayang, kamu kembali lagi."
"Ternyata kamu memang menungguku, Sayang," ujar Tika.
"Kamu Tika, aku kira Tisya. Untuk apa kamu kembali lagi."
"Aku nggak akan pergi sebelum yakin dan mendengar langsung jawaban pertanyaanku dari mulutmu."
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Jawab dengan jujur pertanyaanku. Setelah itu aku akan pergi."
"Apa yang harus aku jawab."
"Awalnya kamu mendekati Tisya hanya karena dia mirip denganku. Benar'kan?"
"Terus terang, ya. Awalnya aku mendekati Tisya emang karena wajahnya sangat mirip dengan kamu."
"Berarti saat itu yang ada dipikiran kamu hanya aku'kan, Sayang?"
"Kenapa kamu bertanya itu, Tika. Tiga tahun kita menjalin hubungan. Aku serius menjalin hubungan ini dari awal kita kenal. Kamu nggak tahu, bagaimana kecewanya aku saat kamu menolak lamaranku. Kuakui saat melihat Tisya pertama kali, aku seakan menemukan kamu kembali." Bagas menjeda ucapannya.
"Berarti kamu mendekati Tisya hanya sebagai pelarian, iya'kan."
"Mungkin awalnya memang begitu. Aku mendekati Tisya hanya sebagai pelarian."
Tika tersenyum mendengar jawaban dari Bagas. Tika mematikan sambungan ponsel itu. Targetnya Tisya mendengar pengakuan dari Bagas jika awal pria itu mendekati dirinya hanyalah sebagai pelarian telah tercapai. Dia ingin Tisya sadar jika dirinya hanyalah pelarian bagi Bagas.
Tisya yang mendengar semua obrolan Tika dan Bagas tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan dari Bagas suaminya.
Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah ia menjadi senang karena telah dihargai atau menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai. Ada saatnya seseorang yang benar–benar tulus itu memilih untuk pergi menjauh saat ketulusannya tidak pernah dihargai sedikit pun. Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Putri Maharani
gedeg aku sama ulahnya tika 🤬
2023-05-19
0
Jasmine
klu parasit lama2 akan terhempas jauh
2022-12-05
0
Fhebrie
tika licik ternyata tlpnnya langsung di matika sebelum obrolannya selesai
2022-11-08
1