Telah satu minggu berlalu, sejak berlangsunnya pesta pernikahan Bagas dan Tisya. Sampai detik ini keduanya masih belum melakukan hubungan badan. Bagas dan Tisya tidur di kamar terpisah.
Seperti janjinya, Bagas tetap memperlakukan Tisya dengan baik layaknya seorang suami kepada istrinya walau Tisya belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
Bagas berjalan ke dapur tapi tidak tampak Tisya. Jam begini biasanya Tisya sedang bergelut dengan peralatan dapur. Bagas mencoba mencari ke setiap sudut penjuru rumahnya. Tidak juga tampak Tisya.
Bagas akhirnya menemui pembantunya, dan bertanya keberadaan Tisya. Asisten rumah tangganya mengatakan jika dari bangun tidur tadi dia belum melihat Tisya. Biasa majikannya itu telah berkutat dengan peralatan dapur.
Tatapan mata Bagas tertuju ke pintu kamar tempat Tisya tidur. Pintu itu masih tertutup rapat. Pria itu berjalan mendekati pintu kamar dan mengetuknya. Berulang kali mengetuk belum juga terdengar sahutan. Suami Tisya itu mulai kuatir.
"Tisya, bangun. Sudah siang." Bagas memanggil dengan suara sedikit keras. Namun, tidak terdengar juga sahutan.
Bagas mencoba membuka pintu. Diputarnya handel pintu. Ternyata tidak di kunci. Kamar masih tampak gelap. Pria itu menghidupkan lampu kamar.
"Tisya ...," teriak Bagas melihat wanita itu yang tergeletak di lantai kamar.
Bagas menggendong tubuh Tisya dan membaringkan di kamar. Tubuh wanita yang saat ini telah sah menjadi istrinya itu terasa panas. Setelah menyelimuti tubuh Tisya, Bagas keluar dari kamar itu. Dia menghubungi dokter keluarga.
Bagas menggendong Tisya menuju kamar utama. Dia tidak ingin Dokter keluarganya bertanya kenapa Tisya ada di kamar tamu.
Setengah jam dokter datang dan memeriksa keadaan Tisya. Wanita itu mulai membuka matanya dan kaget melihat ada Dokter yang sedang memeriksa tubuhnya.
Tisya, ingat saat pagi dia ingin ke kamar mandi. Kepalanya terasa sangat pusing. Wanita itu berjalan perlahan menuju kamar mandi. Ketika ingin kembali ke tempat tidur, pandangannya gelap dan akhirnya Tisya tidak tahu apa lagi yang terjadi.
Biasanya setiap pagi Tisya akan mempersiapkan sarapan buat Bagas. Walau di rumah itu tersedia tiga pembantu, namun untuk sarapan dan makan malam Tisya berusaha membuatnya sendiri.
"Bagaimana, Dok? Tisya kenapa?" tanya Bagas begitu dokter selesai memeriksa.
"Hanya demam biasa. Istirahat dan jangan banyak pikiran, akan sembuh dalam dua hari."
"Baiklah, Dok. Berarti tidak ada penyakit yang berbahaya."
"Tidak usah kuatir. Semua akan baik-baik saja. Saya berikan resep, nanti kamu bisa tebus ke Apotik."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Bagas mengantar dokter hingga masuk ke mobil dan meninggalkan rumah mereka. Setelah mobil berjalan cukup jauh, barulah Bagas masuk. Pria itu meminta pembantu untuk membuatkan sarapan bubur dan segelas teh hangat.
Bagas membawa air hangat dan sehelai sapu tangan handuk untuk mengompres dahi Tisya. Sampai di kamar, Bagas langsung mengompresnya.
"Kenapa nggak ngomong kalau sedang sakit?" tanya Bagas.
"Kemarin malam aku hanya merasa sedikit pusing. Pagi tadi waktu mau mandi, baru aku merasakan pusing yang teramat sangat."
"Lain kali jangan menunggu hingga parah. Jika merasa sakit langsung saja periksa dan minum obat."
"Mas nggak kerja?" tanya Tisya melihat jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan.
"Kamu kira aku akan konsentrasi kerja jika kamu sakit begini."
"Aku nggak apa, Mas pergi aja kerja."
"Aku udah minta asistenku untuk menangani semuanya."
"Maaf aku jadi merepotkan Mas."
"Walau pernikahan kita belum berjalan semestinya, tapi kamu itu tetap istri sah aku. Mana mungkin aku tidak mengkuatirkan kamu."
Tisya merasa tertampar dengan ucapan Bagas. Dia yang menginginkan jika pernikahan mereka jangan ada sentuhan fisik seperti pernikahan umumnya.
Bagas menyuapi Tisya bubur yang dibawa bibi. Setelah itu Bagas meminta Tisya minum obat yang tadi telah di tebus supirnya. Bagas menyelimuti tubuh Tisya.
"Istirahatlah. Aku mau ke ruang kerja sebentar. Jika aku yang kamu inginkan, hubungi saja ponselku. Jangan banyak pikiran."
"Maafkan aku, Mas."
"Maaf untuk apa, kamu tidak ada salah."
"Maafkan karena aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai istri."
"Sudah, jangan kamu pikirkan itu. Sekarang kesembuhan kamu yang lebih penting. Tidurlah. Satu jam lagi aku kembali."
Bagas mengecup dahi Tisya sebelum meninggalkan kamar itu.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Jasmine
knp pula dgn tisya...ga diapa2in sdh sakit..
2022-12-05
0
Berlyan Syana
jangan sampai ada hub badan dulu tisya dgn bagas,sebelum benar2 bagas move on dari tika
2022-11-17
1
🌷💚SITI.R💚🌷
aduuh tisya jangan luluh duluan sm bagas ujiany blm tuntas..kamu yg sabar ya tisya jamgan sampe kamu sdh berkirban banyak..eh dia tr ktmu si tika clbk kamu di busng..
2022-10-16
1