Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
Bab 3
Malam ini Allura berdandan secantik mungkin dan memakai pakaian paling bagus yang dia miliki. Itu karena malam ini dia akan makan malam bersama dengan Xavier di rumahnya. Allura sendiri menyebutnya dengan kencan.
Tadinya mereka akan makan malam bersama di Fairy Garden. Namun, Allura menginginkan makan malam di rumah saja. Sebenarnya dalam hati sangat dia penasaran ingin mengetahui di mana rumah Xavier.
"Ternyata aku ini sangat cantik sekali," gumam Allura sambil mematut di depan cermin. Senyum bahagianya terus tercipta sejak dia keluar dari ruangan Xavier tadi siang di gedung kantornya.
"Apa aku harus memakai minyak wangi?" Allura pernah mendengar kalau lelaki itu pernah memarahi seorang wanita karena memakai parfum yang baunya menyengat.
"Sudahlah, tidak perlu memakai minyak wangi aku juga sudah mandi dan tubuhku tidak bau," ada Allura bermonolog.
Begitu Allura keluar dari rumah ternyata sudah ada sebuah mobil yang menunggu di depan pintu gerbang. Ternyata mobil itu sengaja dikirim oleh Xavier untuk menjemput dirinya.
***
Mata Allura terbelalak saat mobil itu memasuki sebuah bangunan kastil yang berada di puncak bukit. Tempat yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Begitu masuk ke pintu gerbang ada taman yang luas dan begitu indah tertata dengan rapi. Ada sebuah kolam air mancur yang berukuran besar di tengah-tengah taman itu. Bunga-bunga yang bermekaran tertata rapi mengelilinginya.
"Indah sekali taman di rumah ini," gumam Allura dengan tatapan tidak bisa berpaling dari keindahan taman itu.
Semakin ke dalam memasuki halaman itu nampak kemegahan yang terlihat di sana. patung-patung tinggi dan pohon-pohon yang rimbun dan rindang berjajar di dekat bangunan kastil.
"Selamat datang, Nona Allura," sambut Cedric di depan pintu.
"Selamat malam, Tuan Cedric," balas Allura dengan senyum tipisnya.
Begitu masuk ke dalam kastil itu terdapat ruang yang sangat luas dan hanya ada satu kursi yang berada di atas anak tangga. Layaknya kursi singgasana seorang raja.
Cedric pun membawa Allura ke ruangan lainnya. Sebuah ruangan yang mirip seperti ruang tamu atau ruang keluarga lainnya dengan sofa yang saling berhadapan. Ada banyak lukisan yang terpajang di dinding dan ada juga foto yang berukuran sangat besar.
'Siapa mereka? Kenapa wajahnya mirip dengan Xavier. Apa itu leluhurnya karena wajah mereka sangat mirip bagai pinang dibelah dua,' kata Allura dalam hatinya.
Allura mengira akan disuruh menunggu di ruangan itu. Ternyata Cedric masih mengajaknya ke ruangan yang lain. Dia dibawa ke sebuah ruang makan yang begitu megah dan elegan. Meja makan yang berukuran besar dan panjang dengan banyak anak kursi yang mengelilinginya.
"Nona Allura, mohon tunggu sebentar. Tuan Xavier akan turun untuk menemui Anda," kata Cedric sambil menarik satu kursi agar Allura duduk di sana.
Setelah menunggu sekitar lima menit, terlihat Xavier memasuki ruang makan dengan penampilannya yang cool dan fresh. Laki-laki berwajah dingin itu terlihat sangat tampan dan gagah di mata Allura. Dia sampai tidak berkedip saat melihat sang pujaan hati berjalan ke arahnya.
"Selamat malam, Allura. Selamat datang di rumahku," kata Xavier sambil tersenyum.
Jantung Allura seakan berhenti saat melihat senyum Xavier. Seumur hidupnya dia baru pertama kali melihat laki-laki itu tersenyum dan itu terlihat sangat menawan, sampai rasanya lupa akan segalanya.
Xavier menatap Allura karena tidak mendapat balasan dari gadis itu. Dia melihat gadis itu hanya diam sambil menatapnya.
'Ada apa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?' tanya Xavier di dalam hatinya.
"Hem!" Xavier pun berdeham untuk menyadarkan kesadaran Allura.
"Eh, maaf Tuan. Sepertinya saya sudah melamun karena terpesona dengan ketampanan wajah Anda," jujur Aurora dengan tersenyum dan tersipu malu.
Xavier pun hanya diam saja, ini bukan pertama kalinya ada seorang gadis memuja akan ketampanan yang dia miliki. Sudah ada ratusan ribu bahkan jutaan perempuan sejak dulu mengagumi dan memberikan pujian akan wajahnya yang begitu tampan di atas rata-rata.
"Duduklah! Kita akan memulai makan malam bersama. Semoga kamu suka akan menu yang kami sajikan," ucap Xavier dan masih melayangkan senyuman tipis kepada Allura.
'Ya Tuhan, kenapa Engaku menciptakan makhluk seperti ini. Dia ini terlalu tampan seakan bukan manusia saja,' kata Allura dalam hatinya.
Mereka makan dalam keadaan diam. Namun, sesekali Xavier memberikan makanan yang dianggap enak menurutnya kepada Allura.
"Allura bolehkah aku menanyakan sesuatu yang pribadi kepadamu?" tanya Xavier sambil menatap lekat ke arah wajah Allura.
Ditatap secara intens seperti itu oleh Xavier, membuat jantung Allura berdebar kencang. Dia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa kamu sudah punya seorang kekasih?" tanya Xavier.
"Belum, Tuan. Kenapa?" tanya Allura balik dengan gugup.
"Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak dulu. Hanya saja aku takut kalau kamu sedang menjalin hubungan dengan Edmond," jawab Xavier dengan wajah yang serius dan tatapan mata masih mengarah kepada Allura.
"Kami hanya berteman." Allura menimpali.
"Benarkah?" tanya Xavier dan Allura pun mengangguk.
Allura sangat bahagia sekali saat mendengar apa yang dikatakan oleh Xavier barusan. Seakan hatinya berubah menjadi sebuah taman bunga yang sangat indah, dengan berjuta kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
"Aku sangat menyukai (darah) kamu," ucap Xavier.
"Maksud Anda ... Anda mencintai saya?" tanya Allura dengan tergagap karena tidak percaya.
"Iya, itu benar. Aku sangat mencintaimu Allura. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Xavier.
"Istri?" tanya Allura mengulangi ucapan Xavier karena takut salah dengar.
"Iya. Saya ingin menjadikan kamu sebagai istriku," balas laki-laki yang kini mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin permata berwarna merah darah.
Air mata Allura langsung menggenang di pelupuk netranya yang memiliki bulu mata lentik. Dia sangat terharu dan tidak percaya karena laki-laki yang dia cintai itu kini sedang melamar dirinya.
"Anda saat ini sedang bersungguh-sungguh? Tuan tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Allura masih tidak percaya dengan yang dialaminya saat ini.
"Iya. Kalau kamu tidak percaya, ayo kita menikah minggu depan!" balas Xavier.
***
Acara pernikahan Xavier dan Allura digelar secara megah dan membuat orang tidak percaya akan adanya pernikahan ini. Bahkan banyak orang-orang di kantor yang langsung bertanya kepada Allura akan acara pernikahan mereka. Berbagai macam pertanyaan mereka tanyakan kepada Allura soal hubungannya dengan Xavier.
Pasangan pengantin yang bagaikan raja dan ratu itu kini sedang berdiri di altar pelaminan dan mendapat berkat dari seorang pendeta. Semua orang menahan nafas saat melihat Xavier mencium bibir Allura dengan sangat mesra.
Allura yang hanya hidup sebatang kara itu merasa bahagia, walau hanya dengan kehadiran para sahabatnya di hari pernikahan dia dan orang yang dicintainya.
"Apa kamu bahagia Allura?" tanya Xavier.
***
Sementara itu, di tempat lain Zero mengumpulkan beberapa orang untuk mencari tahu identitas siapa Allura sebenarnya.
"Apapun yang berhubungan dengan gadis itu semua laporkan kepadaku!" perintah Zero.
'Aku yakin pasti wanita itu memiliki nilai yang spesial di mata Xavier yang selama ini belum pernah menjalin hubungan asmara selama hidupnya.'
***
Akankah kelebihan yang dimiliki oleh Arora diketahui oleh Zero? Tunggu kelanjutannya ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
mungkin sebagai pancingan jak.. agar Allura jatuh ke pelukan Xavier..
2025-03-31
1
Yunerty Blessa
hati² Allura, darah mu akan di hisap nya...seram sejuk eehh
2025-03-31
1
Triiyyaazz Ajuach
waduh ketahuan Zero bsa dlm bahaya Allura
2024-01-07
1