"Kita apa? Hem?" tanya Delon lagi.
Zifana merasa deg degan. Dia memang pernah dekat dengan beberapa orang laki laki. Pernah berpacaran dan pernah juga hampir bertunangan. Tapi mereka tidak seintim ini. Bahkan, Zifana tidak sekalipun membiarkan lelaki dekat dekat dengannya.
Zifana mendorong tubuh Delon hingga lelaki tampan yang begitu dekat dengannya itu menjauh. Bahkan wangi parfum yang tadi semerbak di hidungnya juga perlahan hilang.
Delon tampak memandang Zifana yang kini menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"Apa yang kau inginkan? Jangan membuatku muak dengan segala tingkahmu yang menyita waktuku," ucap Delon. Matanya menatap Zifana yang ragu itu. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita didepannya? royalty yang ingin ditambah? Atau apa? Delon juga semakin penasaran.
"Aku minta kita tidak melakukan hubungan suami istri," cetus Zifana.
Delon membelalakkan matanya, dia menatap Zifana. Dia terkekeh dan mendekat ke arah wanita yang usianya kira kira enam tahun dibawahnya itu. Tawanya menghilang saat dia tepat berada di depan Zifana.
"Apa kau pikir kau menarik? Kau pikir kau cantik dan mampu memikatku begitu?" tanya Delon.
Zifana hanya diam, dia tak mau menjawab dan pada akhirnya nanti akan memperpanjang masalah.
"Maaf Tuan Delon, aku hanya tidak ingin ada masalah di kemudian hari. Pernikahan ini hanya sebuah kontrak dan itu pasti tidak penting bagimu, lagi pula kau juga beristri. Jadi, aku hanya ingin membatasinya," ucap Zifana.
"Tapi sekedar menyentuh itu diperlukan, kita butuh totalitas di depan Elia," ucapnya.
Delon menatap calon istri kontraknya itu, menatap wanita yang dari tadi lebih banyak diam dan mengalah itu.
"Menyentuh?" tanya Zifana.
"Hem," jawab Delon.
"Jangan berpikir berlebihan. Bukankah semua sudah jelas, kau hanya untuk Elia. Kau hanya istri simpanan, keberadaanmu tak ada artinya bagiku, perlu kau tau Zifana Aurora Manda, aku sangat mencintai istriku," ucap Delon lagi dengan tegas.
Deg
Jantung Zifana berdetak lebih cepat, sepertinya kedepan dia harus menyiapkan mental baja untuk menghadapi hidupnya. Dia hidup bagaikan mengiris bawang merah. Sering sekali dia meneteskan air mata. Sanggupkah dia? Menikah? Terpaksa? Dengan orang beristri? Kenapa hidupnya miris sekali?
"Tanda tangani sekarang juga dan kita menikah lusa siang, berikan berkasmu padaku. Pagi pagi asistenku akan mengurusnya," ucap Delon.
"Aku kabur, tidak membawa apapun," ucap Zifana. Delon menghela napas panjang.
"Oke, aku akan meminta orangku mengambilnya di rumahmu," ucap Delon.
Zifana mencoba tenang dia membubuhkan tanda tangan diatas kertas bermatrai itu.
"Hanya satu tahun Zifa, kau pasti bisa," ucapnya dalam hati.
Dia telah menandatangani surat itu, Delon mengambil surat kesepakatan itu dan menyimpannya.
Terdengar ketukan pintu dari luar, segera Delon menyahutnya.
"Masuk," ucapnya.
Tak lama dari itu terlihat kepala pelayan masuk dan menunduk sejenak.
"Maaf Tuan Muda dan Nona Zifa, makan malam sudah siap, Nyonya besar dan Nona Elia sudah menunggu di bawah," ucap Mbak Nur dengan tenang.
"Aku akan segera turun, katakan pada mereka untuk menunggu sejenak," ucap Delon dan diangguki oleh mbak Nur.
"Baik Tuan Delon," ucap Mbak Nur kamudian melangkah pergi.
Delon menatap ke arah Zifana yang masih berdiam. Ditatap Delon membuatnya menunduk, benar benar Zifana yang dulu entah kemana. Di depan Delon semua seakan berubah, kondisinya yang begitu miris menjadikan kesombongannya hilang.
"Apa kau tak dengar? Mama dan Elia menunggu, kenapa masih terdiam di situ?" ketus Delon.
Zifana hampir saja melangkah, dengan cekatan Delon meraih pinggang Zifana dan mengajaknya untuk berjalan bersama.
Zifana terkejut dan menatap Delon dengan mata tajamnya.
"Ini salah satu totalitas yang dimainkan di depan Elia," ucap Delon.
"Tapi kita belum menikah Tuan Delon," sanggah Zifana.
Delon tersenyum sinis.
"Diamlah! Setelah menikah malah kita akan sering seperti ini di depan Elia, ini baru permulaan," jawabnya.
Zifana mengikuti langkah Delon, mereka keluar dari ruang kerja, Zifana tampak tak tenang. Dia tak paham dengan semua ini. Bagaimana semua ini terjadi?
Mereka turun, beriringan menapaki anak tangga demi anak tangga, di bawah sana Elia dan Mama Amel tampak menatap pemandangan yang sangat indah itu. Senyum indah terbit dari bibir mama Amel dan Elia.
"Mama, Papi," ucap Elia yang tampak bahagia sekali itu.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Wilana wilana
sabar zipana.klu orng yg mau bertobat itu mmng banyak ujiannya.nnt Delon akn temakan ucapannya sendiri
2022-09-30
2
nurstyaningsih
helehhhh si Delon pakek gak minat sama zifa,ntar juga bucin ny berlebihan apa lagi kalau tau si istri sah nya gak sakit beneran,,,gak ada seorang istri yang mau suaminya menikah lagi
2022-09-17
2
nurcahaya
awalnya drama,benci gk cinta.
unung2nya juga nanti kau kena bucin cinta lon.
karna cinta tumbuh krna terbiasa bersama
2022-09-17
0