"Elia, sayang. Kamu tak papa Nak?" tanya wanita paruh baya sambil mengambil alih Elia dari dekapan Zifana. Zifana tampak terkejut dan menatap kedua orang itu.
"Aku tidak papa Oma," ucap gadis kecil itu.
Zifana yang semula berlutut di bawah, kini berdiri dengan tenang. Dia menatap wanita paruh baya dan gadis kecil yang bernama Elia itu. Mobil yang tadinya hampir menabrak telah kembali berjalan setelah memastikan bahwa Elia tidak apa apa.
"Oma, ayo ajak mama pulang. Bial mama, Elia dan papa berkumpul di lumah. Elia pasti senang sekali," ucap gadis itu dengan tingkah polosnya.
Zifana yang semula menolak dan memberontak kini kembali berpikir ulang. Apa dia salah mencerna ucapan? Dia mencoba untuk kembali mengingat ucapan wanita paruh baya di depannya.
"Pekerjaanmu mudah saja, menjadi ibu untuk cucuku. Maka aku akan mencukupi segala kebutuhanmu, bukankah itu mudah?" pertanyaan yang dilontarkan wanita paruh baya tadi.
Zifana menghela napas panjang, apa maksud dari wanita paruh baya ini adalah menjadi baby siter? Lalu dia akan mendapatkan semua fasilitas? Zifana tampak berbunga. Jika yang diasuhnya adalah gadis kecil ini dia sangat bahagia. Bagaimana bisa dia menolak jika yang dia rawat ternyata gadis yang menyukainya.
Tadi tawarannya adalah mengasuh cucunya kan? Tidak ada salahnya mencoba, lagi pula hanya bekerja dan dia bisa mendapatkan fasilitas yang dia mau.
"Ayo ajak Mama pulang oma," lirih gadis kecil itu lagi.
"Oma sudah membujuk, tapi mama menolak. Jadi, sebaiknya kita pulang. Oma yakin, Elia gadis yang pandai dan pintar, Elia pasti tidak nakal dan mau pulang tanpa mama sekalipun," ucap Mama Amel dengan melirik ke arah Zifana yang tampak ragu dan berdiri di sampingnya.
"Tapi Elia mau sama mama," ucap gadis itu yang kini tampak bersedih. Matanya tampak berkaca kaca.
Zifana memejamkan matanya, jika melihat gadis kecil menangis, dia benar benar tidak sanggup.
"Tapi mama tidak mau pulang sama Elia, mama tidak perduli dengan Elia dan mama tidak mau Elia ada bersamanya. Lalu, apa Elia masih berharap mama ikut?" tanya Mama Amel sambil menyentuh dua pipi Gempul gadis kecil itu.
Tes
Satu tetesan air mata jatuh, Zifana bisa melihat dengan jelas jika hati gadis itu terluka karna ucapan omanya. Ucapan oma yang ditujukan kepadanya dan terlontar pada gadis kecil itu.
"Apa Elia nakal oma? Kenapa mama tak mau sama Elia? Kalau Elia mau belajal, Elia mau baik dan nulut, apa mama mau pulang sama kita?" tanya gadis kecil itu lagi sambil terisak.
Zifana merasakan sesak, dia tak bisa lagi menahan lelehan tangis dalam hatinya. Bahkan air mata mengalir, dia benar benar tak sanggup. Pada akhirnya Zifana maju dan menatap Elia sambil mengusap air matanya.
"Sayang, sini gendong mama. Mama akan ikut pulang bersamamu," ucapnya ditengah isak tangisnya.
Deg
Elia yang semula bersedih tampak berbinar, dia minta turun dari gendongan omanya dan berlari ke arah Zifana. Zifana merentangkan kedua tangannya. Elia beehambur ke pelukan Zifana.
"Mama mau pulang belsama kami?" tanyanya. Zifana yang masih dalam keraguan tampak mengganggukan kepalanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya untuk bisa bertahan sampai dia mendapatkan pekerjaan yang lain. Dia juga akan mengasuh Elia seperti anaknya sendiri.
"Terimakasih Ma, Elia sayang sama Mama," ucapnya.
"Mama juga sayang dengan Elia," lirih Zifana.
Mama Amel tersenyum tipis, akhirnya dia bisa menjerat Zifana.
"Oke kalau begitu kita harus pulang Elia, kita harus merayakan kepulangan mama," ucap Mama Amel.
"Oke oma," ucap gadis kecil itu sambil melepaskan pelukannya dan menarik tangan Zifana menuju ke arah mobil.
Zifana mengikuti tarikan tangan gadia kecil itu dengan sedikit berlari.
"Ma, nanti Elia, mama dan papa tidul bersama ya," ucapnya.
Deg
Zifana menghentikan langkahnya, apa tidak salah?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
cadzburyy
kebanyakan deg nya hadehhh
2023-01-17
0
mintil
disini yang normal cuman pemeran utama cewek. lainnya pada edan
2022-10-29
4
Uswatul Khasana
lanjut
2022-09-08
2