Kilas balik pertemuan beberapa minggu yang lalu mengiang dalam benak kedua orang yang saat ini saling terdiam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pertemuan pertama, hanya sekilas tau di pesta Marvel Raditya Dika.( Novel Author Pelabuhan Cinta Sang Casanova)
*
*
*
Pertemuan ke 2. Waktu itu, saat Delon, Radit dan Vino mempunyai misi menyelamatkan Nada istri Radit yang disekap oleh Gino dan Zifana putra putri keluarga Sinatria di sebuah gedung tua.
Delon, mengamati Vino yang tampak kualahan menghadapi lawannya. Dua orang mendatangi Vino, dengan gerakan cekatan Vino menumbangkan dua orang yang menghadangnya dengan tendangan kaki nya.
Delon segera mendekat, melayangkan beberapa pukulan pada para preman. Bahkan, beberapa bodyguard yang dibawanya masih saja berkelahi dengan penjaga.
Delon terperanjat kaget ketika tiba-tiba beberapa orang menyerangnya. Delon segera mengambil gerakan gesit dan berhasil menumbangkan mereka.
Delon kembali berjalan. Netranya menangkap bayangan wanita yang saat ini berada bersama dengan Gino di atas sana. Sepertinya mereka tengah bertengkar. Entah apa yang menjadi perdebatan dua orang di atas sana.
Delon menatap gelagat tak beres, saat wanita itu mundur dari atas lantai tiga itu. Wanita itu mundur, sedangkan sudah tidak ada pijakan, Delon dengan sigap berlari.
Zifana terkejut, saat dirinya harus mundur dan ternyata tak ada pijakan. Pertengkaran dengan Gino masih berlanjut saat Gino tak mau menghentikan pergulatan dan malah menembakkan peluru.
Zifana menjerit histeris saat tubuhnya terlempar dari lantai atas.
"Tuhan maafkan aku, jika aku harus mati saat ini," lirihnya sambil memejamkan mata.
Gino terkejut, maju dan mau menahan tubuh adiknyapun sudah tidak bisa. Netranya hanya bisa melihat tubuh Zifana yang terlempar ke bawah.
"Zifana," teriaknya.
Dor
Satu kali lagi Gino melanyangkan satu tembakan ke atas, membuat semua orang yang tampak berkelahi menghentikan aksinya. Mereka menatap ke arah Gino yang seolah sedang murka dan berlari menuju ke atas.
Di saat yang bersamaan, Zifana tengah mendarat sempurna di atas tubuh Delon, tadinya Delon mau menangkapnya. Akan tetapi, keadaanya yang lelah tak kuat menangkap bobot tubuh Zifana, alhasil mereka berdua berguling di atas tanah. Beruntung bagi Zifana ditolong Delon, dari pada harus berakhir patah tulang atau mati sia-sia.
Zifana dan Delon saling menatap lekat, bahkan Zifana tak pernah membayangkan dirinya bisa selamat. Bukankah Delon sahabat Radit? Bisa saja dia membiarkannya mati konyol, atau tertawa di atas penderitaanya. Akan tetapi, dia mau menolongnya. Hais, hutang nyawa dia pada orang yang berhubungan dengan Radit itu.
"Delon, kau tidak papa?" Vino mendatangi sahabatnya, sehingga Delon dan Zifana tersadar dari lamunannya.
Zifana segera bangkit, Delon juga sama. Keduanya saling menatap, ini adalah pertemuan ke dua setelah acara pesta MRD groub beberapa bulan yang lalu. Zifana terdiam.
Delon tampak menatap Zifana dengan sorot mata yang tajam. Bahkan tak sepatah kata terimakasih muncul?
"Apa mulutmu tak bisa bicara? Atau kau memang terlahir tanpa hati? Kau begitu angkuh sombong dan tidak tau diri," sentaknya pada Zifana.
Deg, jantung Zifana merasa sesak. Bahkan memang dirinya sangat angkuh, sombong, judes dan sangat manja. Tapi kenapa sesak sekali saat dirinya dicaci oleh Delon? Zifana masih terdiam, bahkan mulutnya terasa kelu.
"Kau yang melakukan penculikan pada Nada, Nona Zifana? Kau juga yang membuat aku babak belur seperti ini? Sepertinya jeruji besi bisa menyembuhkan pikiran dangkalmu itu," sentaknya kemudian melenggang pergi dan diikuti oleh Vino.
Zifana menghela napas kasar, Zifana dengan karakter sombong, jutek dan keras itu hanya diam mendengar cacian dari Delon. Zifana menatap dua punggung orang yang kini menjauh darinya.
"****, kenapa aku tak mampu menjawab ucapannya?" lirih Zifana. Bahkan setelah ditolong, diapun tak mau menurunkan egonya.
Dengan emosi dirinya mengejar langkah Delon dan menarik tangan Delon dengan paksa. Mereka saling menatap tajam.
"Bisa kau berbicara sedikit sopan? Bisakah kau melihat keadaan orang lain?" bantah Zifana. Delon tersenyum sinis.
"Kau punya kaca? Apa tidak bisa mengaca? Bahkan dirimu sendiri yang seharusnya kau tanya," ucap Delon.
"Apa maksudmu?"
"Sopan katamu? Bagaimana bisa kau mempertanyakan kesopanan pada orang yang tak kau hargai sama sekali? Kau tau, aku bersikap seperti yang kau lakukan padaku. Kau hargai aku, aku akan menghargaimu. Kau sombong, angkuh dan tak tau diri? Bahkan aku bisa melakukan hal yang sama," sentak Delon.
Zifana tampak mengepalkan tangannya. Haish, entahlah, Delon telah merusak otaknya.
"Jangan harap kau akan lepas begitu saja, Nona. Kita bertemu besok lagi," ucap Delon kemudian kembali melangkah pergi.
"****," umpat Zifana.
"Zifa, kau tidak papa?" tanya kakaknya yang kini mendekat dan tampak mengkhawatirkan dirinya. Zifana menatap ke arah Gino dengan murka.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya kemudian melenggang pergi.
"Zifa, aku kakakmu, bisakah kau berdiam sejenak?" tanyanya.
"Maaf kak, aku harus pulang," ucap Zifana dan melangkah pergi meninggalkan arena gudang tua itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Kesadaran Zifana...
POV Zifana.
Semula aku ingin menghabisinya, tak pernah berpikir untuk diam saja. Bahkan, aku ingin dia menderita. Dia harus menderita, aku tidak memiliki Radit. Artinya dia juga tidak boleh memiliki Radit. Dia hamil, hamil seorang anak yang tak berdosa. Lalu, aku tega melakukannya? Demi apa? Cinta? Cinta yang mana? Ketika aku melihat binar indah yang berkilau dari tatapan teduhnya, aku tau dia wanita yang istimewa.
Ketika aku tau tatapan indahnya aku tau, dia wanita yang begitu sempurna. Siapa wanita itu? Bahkan hati keras seorang Tante Mira bisa luluh? Hati Radit yang begitu keras padaku dan dingin padaku, tetapi luluh dengan pesona seorang Nada.
Bahkan, Kak Gino, kakak yang selalu saja melakukan apapun yang aku mau itu mengirimkan pesan padaku untuk tidak menyakitinya sedikitpun.
Seistimewakah wanita yang kini menjadi perbincangan publik karna berita miring tentangnya itu? Berita yang di buat oleh Kak Gino?
Bahkan saat ini aku membawa sebuah pisau yang tajam, dengan kemarahan aku berpikir untuk segera menghabisinya. Akan tetapi, melihat mata indahnya semua seakan sirna tak bersisa. Aku ragu, aku tidak bisa melakukannya. Ini salah, kenapa aku sejahat ini? Kenapa? Hati dan pikiranku tak sejalan.
Air mataku seakan mau menetes tak beraturan, aku melepaskan pisau itu hingga pisau itu terjatuh dan memperdengarkan suara yang sangat nyaring.
Nada, wanita itu tampak menghela napas lega. Aku takjub, bahkan dia tak mengeluh sedikitpun, dia tetap tenang dan tak memberontak sedikitpun.
Saat ini pikiranku benar benar terbuka. Aku yang biasanya tak sejalan dengan pemikiran papa dan Kak Gino kenapa mendadak selalu mengikuti kemauannya? Aku yang biasanya tak mau mengikuti semua yang mereka mau kenapa akhir ini seakan terpancing?
Radit? Pernah aku menolak perjodohan dengannya, karna aku tak mau terlibat dengan urusan bisnis Papa dak Kak Gino yang hampir saja menjadikan aku sebagai alat untuk menambah kekayaan dengan menikah dengan Radit.
Lalu, kenapa sekarang aku seolah berambisi? Hanya karna mengetahui Radit tampan? Aku ingat betul, bagaimana Kak Gino mengomporiku beberapa hari yang lalu.
Apa karna Ingin memiliki Nada dia melakukan ini semua? Memberikan sejuta alasan agar aku mengejar Radit juga? Radit yang memang sempat masuk ke dalam hatiku, tapi aku menolak untuk bersamanya. Akan tetapi saat itu, entah kenapa aku jadi menggebu seperti ini. Aku memejamkan mata sejenak, bahkan aku telah mengotori hatiku sendiri karna ulah kakakku?
Aku mengepalkan tanganku erat, bahkan Nada menikah terpaksa dengan Radit. Menikah karna Ide gila dari papanya, sebenarnya agar Radit bisa menikah denganku akan tetapi ternyata Radit memilih jalannya bersama dengan Nada.
Lalu masih sanggupkan aku menggorbankan kebahagiaan Nada? Menikah terpaksa, bukankah itu menyakitkan? Mungkin saja Nada pernah menderita karna pernikahan itu, jika sekarang Radit mencintainya itu pasti karna Nada memang wanita yang pantas untuk dicintai. Aku tak mau larut dalam dosa, aku harus menghentikan semua ini.
Aku mundur beberapa langkah, langkahku terhenti saat aku menabrak tubuh tegap yang ada dibelakangku.
POV Zifana berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*
*
*
Pertemuan ke tiga, di acara besar butik Sheyna bontique saat dia akan meminta bantuan dan kerja sama.
Zifana melenggang ke depan. Kedatangan pemilik Zif bontique itu menyita banyak perhatian. Dengan tenang dia duduk di barisan kursi paling depan. Tak sadar saja, dia duduk di sebelah orang yang menatapnya dengan sorot mata benci yang mendominasi.
"Selamat Siang Nona Angkuh," sapanya.
Deg, jantung Zifana berdetak kencang. Apa dia yang diajak bicara? Wajah sombongnya seakan hilang entah kemana, ingin rasanya menoleh tapi dirinya tampak ragu.
Delon menatap wajah di sampingnya dengan takjub. Tak disangka, wanita di sampingnya begitu cantik. Aish, cantik tapi angkuh dan sangat jutek sekali. Jahat dan berhati iblis.
"Tak disangka kita bertemu lagi disini, Nona sombong. Padahal niatnya mau aku bawa polisi ke rumahmu." Delon kembali pada posisinya, menatap ke depan sana.
Zifana menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya, ada sahabat Radit di sini yang pandai sekali mengobrak abrik hatinya dengan kata tajam setajam pisau asahan.
Keduanya saling diam menghadap ke depan. Bahkan Zifana masih berhutang nyawa pada lelaki di sampingnya, tapi untuk sekedar berterimakasih rasanya lidahnya begitu kelu. Kelu sekali, selama ini tak pernah dia temukan orang seketus orang yang ada di sampingnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali di saat ini.
Zifana dan Delon saling berpandangan. Senyum sinis tampak dari wajah Delon. Dia memandang ke arah wajah cantik Zifana. Cantik? Benar, sangat cantik sampai sampai Elia tertipu dengan kecantikannya.
"Jadi kau, wanita yang sanggup mengambil hati putriku?" tanya Delon.
Zifana terdiam, bahkan dia ingat betul kalau saja orang di depannya tak menolongnya mungkin saja dia telah mati jatuh dari lantai tiga. Tapi bagaimana bisa Delon sudah mempunyai anak? Entahlah, itu bukan urusannya.
"Kau sengaja mengikutiku? Setelah tidak bisa mendapatkan sahabatku Radit kau mau mengusikku?" tanya Delon lagi.
Deg
Zifana tampak tak suka dengan ucapan Delon. Bahkan dia tak merencanakan apapun. Bagaimana bisa dia dituduh seperti itu.
"Kau dan keluargamu manusia berhati iblis. Lalu, apa setelah aku dan Radit menghukum keluargamu dengan menghancurkan perusahaan, kau dan keluargamu tak punya uang dan kini mau memanfaatkanku? Jangan harap kau bisa, Nona iblis," ucap Delon dengan ketus.
Deg
Hati Zifana sakit, sakit sekali. Dulu memang dia jahat, tapi sekarang dia ingin berubah. Lalu, sesakit inikah kosekwensinya? Air mata Zifana mengalir deras. Bahkan saat ini dia kabur dari rumah, perusahaan dan juga butik yang dia bangun sendiri juga diambil papa dan kakaknya. Dia tak punya apapun. Lalu, dia dituduh? Bukankah ini sangat menyakitkan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
ArKen
ini part terpanjang dalam novel ini ya Thor..... pertemuan zifana dan Delon sebelumnya memang bukan dlm situasi yg baik
2022-11-14
1
nurcahaya
hey tuan Delon .kau juga sombong gitu
2022-09-16
0
Angga Anggi
lanjut thoor..maaf thoor mau taxa bukanx di crta nada dan Radit dcrtkn Delon blom memiliki psngn thoor...qho dsni Delon sdh puxA anak...Khan crta slng bbrpa Minggu ajch thoor...🙏🙏🙏
2022-09-16
3