Mereka membagi tiga kelompok. Kelompok satu dipimpin oleh Felix, kelompok dua dipimpin Canon, dan kelompok tiga dipimpin oleh Niko. Mereka membabat habis anak buah Sebastian Croft. Mereka menghabisi nyawa korban secara membabi buta.
Dooor ...
Dooor ...
Dooor ...
Suara tembakan terdengar jelas. Mereka membersihkan wilayah kekuasaan Tiger Eye, yang sudah dikuasai oleh Black Shadow. Desingan peluru menembus kulit para musuh. Sayatan pisau menembus pembuluh darah mereka. Suara teriakkan memekikkan genderang telinga. Simbahan darah bagaikan sungai darah yang menggenang.
Mereka lari pontang-panting meninggalkan wilayah tersebut. Tiga bersaudara itu berhasil menghabisi mereka semua, dan sisanya mereka biarkan lari kembali ke kandang musuh.
"Horeeeeee!" anak buah tiga saudara itu berteriak senang. Akhirnya Black Shadow kalah. Dan mereka berlari ketakutan.
"Laporkan pada Shane dan Queen kita, Katakan kita berhasil membersihkan wilayah A!"
Prokk ...
Prokk ...
Prokk ...
°°°°°°
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi dosen tersebut. Banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan. Salah satunya mengoreksi pekerjaan mahasiswanya.
Tringgggggg ...
Satu notifikasi masuk ke ponsel Clara. Dia buka. Kemudian dia tersenyum lebar. Dia senang mengetahui keberhasilan anak buahnya membabat habis anak buah Black Shadow.
"Heum, Aku yakin! Bastian pasti sangat marah mengetahui anak buahnya mati sangat mengenaskan!"
Hahahaha ...
"Bu Clara!" sebuah tangan mendarat tepat dibahunya.
"Iya, Pak Bima!" Clara menoleh ke arah suara tersebut.
"Kok Ibu belum pulang?"
"Belum, Pak!" jawab Clara.
"Memangnya, Apa sih yang Ibu kerjakan?"
"Memeriksa pekerjaan mahasiswa saja kok, Pak! Sebentar lagi juga sudah selesai!"
Clara melihat ada sesuatu yang aneh kali ini. Tatapan Pak Bima. Dan tangannya.
"Maaf ya, Pak!" Clara menepis tangan Pak Bima dari pundaknya.
"Aduh, Bu Clara! Jangan sok jual mahal deh!" ujarnya, "Saya tahu, Anda wanita seperti apa!"
Apa? Apakah dia tahu sesuatu mengenai ku?
Apa itu? Bagaimana bisa dia tahu tentang aku?
"Bapak ini bicara apa? Jangan sembarangan kalau ngomong!" kesal Clara.
"Sudahlah, Bu! Saya tahu Anda kok! Kadang berjalan dengan Pak Rektor! Bahkan berjalan dengan para donatur kampus! Anda dibayar berapa per malam?" tanyanya sangat menyebalkan.
Apa?
Apakah dia sedang berusaha membuat lelucon?
Hello! Aku ini donatur nya! Bukan Shane! Apakah dia pikir aku dan Shane memiliki hubungan spesial!
Oh my God! Dia sudah kehilangan akal!
"Nggak lucu, Pak! Saya nggak mengerti dengan apa yang Bapak katakan! Dan saya juga nggak mau tahu!" ujar Clara sambil tersenyum.
"Maaf, Saya harus pergi!"
Saat hendak pergi, tangan Clara dicekal oleh bujang lapuk itu. Clara menepis tangan itu dengan kasar. Pak Bima tersenyum penuh arti. Clara merasakan aneh pada diri orang itu.
Dasar gila!
"Tunggu, Bu!" Pak Bima tetap menarik tangan Clara, "Ibu kenapa selalu jual mahal sih? Saya tahu Ibu kalau diluar sana kok!"
"Bapak jangan macam-macam ya! Saya bisa laporkan tindakan tidak menyenangkan Bapak pada Pak Rektor!" ancam Clara.
"Oya." Bima menyeringai lebar.
Dia mendekati. Langkahnya semakin mendekat. Hendak meraih pipi mulus dan putih Clara. Namun gerakan Clara lebih gesit, dia memelintir tangan Bima hingga ke belakang.
"Anda jangan macam-macam ya!" gertaknya.
"Auw, sakit!"
Clara mendorong tubuh Bima hingga terjerembab ke depan. Bergegas dia mengambil tas dan bukunya. Meninggalkan pria itu seorang diri di ruangan dosen.
"Dasar, dosen gila!" umpat Clara keluar dari ruang itu.
"Sialan! Dia cukup kuat juga!"
BRAKK ...
Bima menendang meja dihadapannya. Dengan perasaan dongkol dia keluar dari ruangan dosen.
"Sialan!" umpatnya.
____
____
Bima menunggu salah satu mahasiswanya di sebuah gudang rahasia. Hanya dia yang tahu tempat itu. Karena kalau dilihat, ruangan tersebut nampak seperti gudang biasa. Tapi kalau dilihat di dalamnya, ruangan tersebut nampak rapi dan nyaman.
"Ba-pak me-manggil sa-ya?" tanyanya dengan tergagap.
"Wu-lan! Kamu cantik se-ka-li, Sayang! Ayo duduklah!" ajak Bima.
"Ini tempat apa, Pak? Saya baru tahu ada tempat seperti ini!" ujar Wulan sedikit ketakutan.
"Oh, kamu jangan takut, Sayang! Kemarilah!" ajak Bima.
Wulan tetap saja ketakutan. Jika bukan karena ancaman dari dosennya, mana mungkin dia mau datang kesini. Baru saja Wulan mendapatkan nilai C pada ujiannya, dan Bima menjanjikan sesuatu pada gadis muda itu.
Bima berjanji akan membantunya memberikan nilai A pada ujiannya. Gadis labil itu tentu bersedia.
"Aku akan memberikan nilai A pada ujian mu nanti! Tapi Kau harus ... !" Bima membelai wajah gadis lugu itu.
"Saya harus apa, Pak?"
"Tentunya kamu tahu dong?" bisik Bima tepat ditelinga Wulan.
"Tapi, Pak ... ! Saya takut!" Wulan bergidik ngeri. Dia membayangkan bagaimana masa depannya kalau memberikan kehormatannya pada dosen satu itu hanya untuk mendapatkan nilai A.
"Jangan takut! Jika kamu menurut, pasti akan baik-baik saja!"
"Tetap saja saya takut, Pak!"
"Kenapa?"
"Saya baru pertama kali melakukannya. Saya takut sakit!"
Hahahaha ...
"Jangan takut, Sayang! Aku akan melakukannya pelan-pelan!"
"Tapi .. !"
"Sudah, Jangan tapi-tapian!"
Bima mendorong tubuh Wulan ke matras. Pria dewasa itu menindih tubuh mahasiswanya. Memaksa dan berusaha menerobos paksa pertahanan yang selama ini gadis itu jaga. Membuat pertahanan itu jebol. Mengakibatkan luka menganga pada bagian inti gadis lugu itu.
Sebuah pelepasan dengan sedikit paksaan adalah suatu sensasi yang luar biasa dirasakan Dosen itu. Dia terus menghentakkan, membuat irama yang sangat menggoda.
Si wanita hanya pasrah. Rasanya sangat perih, ada benda tumpul yang berusaha menerobos paksa pertahanannya. Dari sudut matanya mengalir cairan bening. Ditandai dengan rasa perih tidak terkira. Dia sangat menyesal dengan perbuatannya.
Selama dua jam, Bima menggagahi gadis itu. Seakan-akan tidak ada kepuasan pada dirinya. Dia ingin lagi, lagi, dan lagi. Hormon seksualnya sangatlah tinggi. Dia butuh pelampiasan hasrat yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.
Wulan menangis sesenggukan. Dia menyesal telah mengikuti nafsu syetan sang dosen. Masa depannya hancur. Harapannya untuk mencapai cita-citanya kandas, karena sebuah perbuatan yang membekas pada tubuhnya sendiri.
Siapa yang akan menikahi wanita kotor sepertiku?
Siapa yang mau dengan wanita yang tidak perawan lagi sepertiku?
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Sudahlah, Wulan! Tidak perlu kau tangisi lagi! Semuanya juga sudah terjadi! Tidak perlu disesali!" tutur Bima.
"Tapi Pak, Masa depan saya hancur! Siapa yang mau menikahi saya? Wanita yang sudah tidak perawan lagi?"
"Tentu saja pasti ada! Kamu tenang saja!"
"Bagaimana kalau saya hamil, Pak? Bukankah tadi Bapak menembakannya di dalam?"
"Oh, masalah itu! Kau tenang saja!" Bima mengambil sesuatu ditasnya. Dan memberikan bungkusan itu pada Wulan.
"Minumlah ini!" suruhnya.
"Apa ini, Pak?"
"Ini adalah pil. Supaya kau tidak hamil!" ucap Bima.
"Pil."
"Ayo minum!" Bima mengambilkan air minum, kemudian memberikannya pada gadis itu.
Glek ...
Wulan meminum pil yang diberikan oleh dosennya. Dia takut. Sungguh sangat takut, jika dia sampai hamil. Bukan hanya malu, masa depannya juga bisa hancur. Dia pun menurut, minum dua pil. Supaya tidak ada ****** yang berhasil membuahinya.
"Cepat pakai bajumu! Aku antarkan pulang ke rumah!"
"Bbbb-baik, Pak!"
To be continued ....
Mana dukungannya?????????😆😆😆😆😆🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Siti Masitah
mahasiswi kok botol..
2024-09-18
0
Firman Firman
knpa ada selingnnya seperti ini athour 🤦
2024-06-28
1
Natalia Luis Naik0fi
Thor ko bisa buat crita mcm in gk dosa ya
2024-06-03
0