Clara
Aku memarkiran motorku diparkiran kampus. Para mahasiswa menyapaku dengan ramah, Aku pun tidak kalah ramah membalasnya. Aku menampilkan deretan gigi putihku, gigi yang setiap hari aku gosok.
Namun saat Aku hendak memasuki area kelas, Dua orang polisi menghampiriku. Tentu aku terkejut. Tapi sebisa mungkin Aku menguasai diriku. Supaya tidak ada banyak pertanyaan dari mahasiswa dan dosen di sana.
"Permisi, Apakah benar Anda yang bernama Clara?" tanya Polisi satu.
"Iya. Itu saya sendiri! Ada apa ya, Pak?" tanyaku sopan.
"Kami membawa surat laporan untuk membawa Anda. Pak Han melaporkan Anda dengan tuduhan penyerangan! Bisakah Anda ikut ke kantor polisi?"
Hahhhhhhh! Pria itu masih belum kapok juga! Baiklah aku turuti permainannya!
"Baik, Saya akan ikut Anda!" ujar ku masih sopan.
Aku ingat bahwa aku ini seorang dosen kampus, Aku harus menunjukkan kewibawaan ku sebagai seorang dosen. Bukankah begitu?
"Ada apa ini?" Pak Fabyan tiba-tiba datang. Aku lihat dia nampak mencemaskan keadaan ku.
"Ada apa ini, Pak Polisi? Kenapa Bu Clara harus dibawa?"
"Kami mendapatkan surat perintah untuk membawa Bu Clara. Sesuai laporan dari Pak Han! Jika Bu Clara tidak terbukti bersalah, Kami akan langsung membebaskannya, Pak!" ujar Polisi.
"Tidak apa-apa, Pak Febyan! Ini hanyalah kesalahpahaman!" ujar ku berusaha untuk menenangkan hati pangeran ku.
Apa pangeran?
Aduh, Ada apa dengan otakku? Apakah otakku sudah konslet?
"Mari ikut, Bu!"
"Oke." Jawabku sambil tersenyum kecut. Padahal di dalam hatiku, beberapa kali mengumpat perbuatan pria bau tanah itu.
Fabyan tidak bisa tinggal diam melihat salah satu dosennya dibawa polisi. Dia yakin bahwa aku tidak bersalah. Bergegas dia menyusul mobil polisi yang membawa ku.
____
____
Aku berusaha bersikap tenang di dalam mobil polisi. Aku tidak akan menunjukkan rasa takut sedikitpun. Urusan dengan polisi bagiku sudah bukan hal baru. Lalu, Aku meminta izin pada Polisi untuk menelfon seseorang. Polisi pun mengizinkannya.
"Shane, dengarkan aku baik-baik! Ada yang sudah bermain-main denganku! Urus orang ini! Buat dia ketakutan! Dan buat dia mencabut laporannya pada Polisi! Katakan padanya siapa Aku di Tiger Eye! Aku yakin orang seperti dia tahu siapa kita!"
"Baik, Nona! Anda tidak perlu khawatir! Saya akan mengurusnya!"
Maaf Han. Terpaksa aku memakai cara ini!
Sampai di kantor polisi. Polisi mulai melakukan penyelidikan terkait laporan dari Pak Han. Selama penyelidikan pun Aku berusaha berbicara sejujurnya. Aku tidak menutupi kenyataan bahwa Aku memang sudah menghajar dua pengawal Han. Sebagai bentuk pembelaan untuk diriku sendiri.
"Jadi Anda tidak menghajar Pak Han?" tanya Polisi mengintimidasiku.
"Pak Polisi bisa bertanya pada Pak Han. Apakah saya melukainya? Apakah ada tanda-tanda saya melukainya? Atau bukti lain yang memberatkan saya!" Polisi mengernyitkan alisnya. Jawabku cukup logis.
"Bukankah untuk menangkap saya, harus ada bukti yang akurat!" memang laporan yang diberikan Han tidak akurat. Han hanya melapor kepada polisi secara tertulis tanpa memberikan bukti yang akurat.
____
____
Satu jam kemudian. Han dan dua pengawalnya datang. Fabyan ternyata menungguku di depan ruangan. Dia menunggu penyelidikanku selesai. Senangnya aku ...
Apakah ini bentuk perhatiannya padaku?
"Pak Han! Anda harus mencabut laporan Anda!" ujar Fabyan, "Kita bisa bicarakan ini baik-baik!"
"Huft." Han menghela nafasnya panjang.
"Saya masuk dulu!" tanpa menjawab pertanyaan dari Fabyan. Han masuk ke dalam.
Fabyan menunggu selama setengah jam. Kemudian mereka semua keluar dari ruangan tersebut. Penat rasanya menunggu. Tapi, dia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi denganku.
"Bu Clara!" panggil Fabyan.
"Pak Fabyan. Kok Anda ada disini?" Aku pura-pura terkejut, padahal aku sudah tahu kalau dia menungguiku di depan ruang penyidik.
"Saya menyusul Ibu kesini! Saya takut terjadi sesuatu dengan Ibu! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Apakah Pak Fabyan khawatir denganku? Jadi dia mengkhawatirkan ku!
Ah, senangnya!
"Bu, Ditanya kok malah senyum-senyum?" tanya Fabyan lagi.
Hahahaha ...
"Apakah Pak Rektor mengkhawatirkan saya?" godaku.
Astaga Clara! Bisa-bisanya ya Kau bersikap centil seperti itu!
"Tentu saja saya khawatir! Ibu adalah seorang dosen. Salah satu pengajar di kampus saya. Tentu saya ikut bertanggungjawab jika terjadi sesuatu dengan Ibu!"
"Benarkah?" wajah ku langsung sumringah.
"Ibu jangan berpikir yang tidak-tidak! Saya akan melakukan hal yang sama pada semua dosen!" ujarnya.
Hhhhhhhh, Aku nggak perduli! Rasanya aku begitu senang bisa diperhatikan oleh Anda!
"Bu Clara, Sekali lagi saya minta maaf! Ini hanya salah paham saja! Jadi saya mohon, jangan diperpanjang lagi!" ujar Han yang baru keluar dari ruangan polisi. Nampak wajahnya pias ketakutan. Sementara Clara hanya tersenyum manis.
"Ah, Pak Han. Jangan seperti itu, Pak! Saya sudah memaafkan Anda kok! Lain kali kita bicarakan baik-baik ya, Pak!" ucapku, "Ehm, jadi Anda tidak menyuruh Rafael untuk pindah ke Luar negeri kan?"
"Tidak, Bu! Biar Rafael disini saja!" ujarnya, "Iya sudah, Bu! Saya permisi! Mari Pak Fabyan!"
"Silahkan, Silahkan!"
"Apakah masalahnya selesai?" tanya Fabyan selepas kepergian Han.
"Sudah, Pak! Pak Han sudah mencabut laporannya! Lagipula Saya memang tidak bersalah! Tidak ada bukti yang memberatkan saya!"
"Oh."
Rasanya sangat aneh! Bagaimana bisa seorang Han melepaskan musuhnya? Aku kenal betul siapa Han!
"Mari saya antar ke kampus!" tawar Fabyan.
"Terimakasih banyak, Pak! Saya merepotkan Anda terus!"
"Tidak! Saya tidak merasa direpotkan! Mari!"
Fabyan membantuku memasangkan seal belt. Aroma parfum Fabyan wangi sekali. Aroma maskulin. Aromanya membuat bulu kuduk wanita berdiri.
Aku dibuat terlena dengan bau parfumnya! Ini baru parfumnya lho ya! Camkan, Baru Parfum!
Manik kami saling bertemu. Menatap satu arah. Dalam satu pandangan. Saling menatap penuh arti. Ditatap seperti itu, membuat ku tersipu malu. Pipiku merona merah. Merah seperti buah apel.
Astaga, jantungku berdetak sangat cepat! Tolong jangan menatapku seperti itu!
"Terimakasih," lirih Clara tersenyum.
"Sama-sama."
Fabyan mulai menjalankan mobilnya. Tidak ada pembicaraan lagi diantara kami. Kami sibuk dengan pikiran kami. Aku sibuk memikirkan jantungku yang berdetak kencang, sedangkan Pak Fabyan, entah apa yang sekarang ada dipikirannya.
Aku kah yang sedang dia pikirkan? Hahahaha ...
Akhirnya mobil sampai di parkiran kampus. Aku menundukkan sedikit kepalaku, sebagai ungkapan rasa terimakasih ku pada Pak Rektor tampan. Sementara Fabyan mengulas senyum tipis.
"Sekali lagi terimakasih banyak, Pak! Saya masuk kelas dulu!"
"Silahkan!" tidak terasa Fabyan mengulas senyumnya. Memperhatikanku hingga masuk ke dalam kampus.
"Aku akan menyelidiki siapa kau sebenarnya! Aku yakin Kau bukanlah wanita sembarangan!" gumam Fabyan. Kemudian dia melajukan kembali mobilnya. Menuju suatu tempat. Tempat yang tidak seorangpun tahu.
Dengan kecepatan maksimum. Fabyan mengendarai mobilnya. Membelah jalanan yang sepi.
To be continued ....
°°°°°°°°°
Kasih Clara gift, like dan banyak komentar nya......🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Firman Firman
dasar babng Febian diam diam mencuri perhatian 😄🤭
2024-06-28
0
Fano Jawakonora
wah kalau setiap hari bertatapsn lgsung dgn febian pasti apem clara nyut" terus dan akhirn basah dan menimbulskn aroma tak sedap😂😂😂😂
2023-05-18
0
Bei Ming.liancheng{CSKT}
terjawab sudah,, ternyata cowok kemarin yg liat Clara menghajar anak buah Han adalah pak rektor toh author,, horeeeeeeeee.
2022-09-21
1