"Terimakasih banyak, Pak Fabyan, Bu Clara!" ucap Rafael.
Fabyan mengantarkan Rafael sampai depan rumah. Kedua orang tua Rafael tidak satupun yang datang. Mereka berada di luar negeri. Fabyan tidak mungkin membiarkan anak itu pulang sendiri. Sekarang giliran dia mengantarkan dosen cantik itu.
"Sama-sama. Jika butuh sesuatu, Kau bisa telfon Bapak atau Bu Clara!"
"Baik, Pak! Saya masuk ke dalam dulu, Pak, Bu!" Fabyan dan Clara menganggukkan kepalanya.
"Ingat Rafael! Berhenti membuat masalah!" timpal Clara. Pria muda itu hanya mengulas senyum tipis.
Rumah Rafael cukup elite. Clara yakin, Rafael terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tapi yang membuat Clara heran, rumah nampak sepi seperti tidak berpenghuni. Ada dua security yang berjaga di depan gerbang.
"Sekarang aku akan mengantarmu pulang!" ucap Fabyan. Lagi-lagi ucapan manis Fabyan membuat Clara terpaku.
Ck, kenapa sih dengan jantungku? Setiap pria ini bicara, membuat jantungku berdebar!
"Ibu melamun?" pertanyaan Fabyan membuyarkan lamunannya.
"Eh, nggak siapa yang melamun?" elaknya.
"Dimana alamat ibu?"
"Rumah Sofia."
"A-pa?" Fabyan sedikit bingung. Pertanyaannya apa jawabnya apa, Fabyan jadi frustasi sendiri.
"Ibu dengar saya kan?"
"Iya, Pak. Saya dengar kok!" Fabyan mengernyitkan dahinya, Clara menoleh ke arah rektor muda tersebut. Kemudian dia nyengir kuda. Seolah-olah tidak bersalah.
"Maksud saya, Saya menyewa kamar di rumah Sofia, Pak!"
"Kalian tinggal satu atap?"
"Iya."
"Oh."
"Bapak lurus aja, nanti kalau saya suruh berhenti! Berhenti ya, Pak!"
Ck, dia pikir aku ini sopirnya? Main suruh segala!
_____
_____
Senyap, tidak ada pembicaraan diantara mereka.
"Sebenarnya Bu Clara itu siapa?" tanya Fabyan tiba-tiba.
Degh ...
Apa? Apakah dia mulai curiga? Apakah dia tahu kalau aku bukanlah dosen?
"Saya yakin, Anda bukan orang biasa!"
"Pak Fabyan ini bicara apa! Saya hanya wanita biasa. Kebetulan saja, saya ini bisa beladiri! Dan itupun saya tidak terlalu pandai, Pak! Masih banyak belajar!" jawabnya.
Cieeeeeeeeet ...
Fabyan menghentikan mobilnya.
Dia menatap ke arah Clara, dengan tatapan menyelidik. Tangannya bergerak naik. Clara pikir pria itu akan berbuat sesuatu, ternyata hanya menyelipkan untaian hitam yang menutupi wajah cantik Clara ke telinga.
"Kau sangat cantik jika tidak memakai kacamata tebal. Sepertinya matamu tidak bermasalah, kenapa memakai kacamata tebal?"
Haaaaaa, dia hanya ingin bertanya itu!
"Ah, Bapak bisa saja. Mata saya memang bermasalah kok, Pak!" jawabnya memaksa tersenyum.
"Baiklah, Ayo kita jalan lagi!"
Masih tidak ada obrolan yang harus diobrolkan. Karena memang mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Eh, Pak. Berhenti di depan gang!"
"Sini!"
"Iya, Pak." Clara keluar dari mobil. Dan mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih banyak, Pak. Bapak sudah mengantarkan saya sampai sini!"
"Sama-sama!"
"Baiklah, Silahkan jika Bapak mau pergi! Hati-hati dijalan ya!"
"Oke." Fabyan mulai menjalankan mobilnya, "Bye, Bye!"
Fabyan masih tidak berhenti berpikir. Disepanjang perjalanan, Fabyan terus memikirkan apa yang dilakukan dosen baru itu. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan dosen baru itu. Tapi apa? Itulah yang harus diselidiki Fabyan.
Clara sampai di rumah. Dia melihat Sofia sedang melamun di depan teras rumah. Clara yakin, hati gadis itu pasti sedang khawatir dan cemas memikirkan pacarnya.
Clara mendekati Sofia, dan menepuk bahu gadis itu.
"Ah, Ibu bikin kaget saja!" berengutnya.
"Kau tidak usah khawatir. Aku dan Pak Fabyan sudah mengantarkan Rafael dengan selamat!" gadis itu menoleh ke arah Clara. Kemudian dia memeluk tubuh Clara. Menangis.
Clara bisa merasakan kesedihannya. Dia pun mengusap-usap punggung Sofia. Berusaha untuk menenangkan hati Sofia.
"Ibu memang tidak tahu apa masalah kalian semua? Tapi, Ibu bisa merasakan kesedihan dan kesepian jiwa muda kalian!"
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Kami memang bersalah, Bu. Kami memang urakan. Kami juga nakal. Tapi kami bukanlah seorang pemakai obat-obat terlarang! Ibu percaya kan?"
"Tentu Ibu percaya! Bukankah di kantor polisi sudah jelas, hasilnya memang negatif. Kalian memang bukan pemakai juga pengedar. Kamu tidak perlu takut. Rafael juga sudah diantar pulang sama Pak Fabyan dan Ibu. Jadi kau tidak perlu mencemaskan keadaannya!"
"Terimakasih banyak, Bu. Jika bukan karena Ibu mungkin mereka tidak akan selamat!"
"Sama-sama. Ibu juga ikut bertanggung jawab. Karena bagaimanapun kalian kan mahasiswa, tempat dimana Ibu mengajar!"
"Sebenarnya Rafael itu baik, Bu. Dia hanya kurang kasih sayang saja. Seperti saya juga. Kebanyakan anak-anak yang bergabung dengan geng kami adalah anak-anak yang kurang perhatian dari orang tuanya. Rafael juga seperti itu. Kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada waktu untuk sekedar bicara ataupun mengobrol!"
"Iya, mungkin itu bisa ibu bicarakan dengan Pak Rektor. Mungkin saja Pak Rektor mempunyai solusinya!" tutur Clara, "Lalu, Bagaimana denganmu? Kenapa kau juga ikut-ikutan? Bukankah kamu juga memiliki ibu yang harus dijaga perasaannya? Apakah kamu nggak kasihan dengan ibumu, Sofia?"
Sofia tertunduk. Menyeka air mata yang terus tumpah.
"Saya sangat marah dengan keadaan, Bu."
"Sejak kecil, Ibu tidak memperbolehkan Sofia bertemu dengan ayah. Ayah juga tidak berusaha untuk mencari kami. Sofia dengar, kalau Ayah menikah lagi dengan seorang wanita kaya. Bahkan Ibu, tidak memperbolehkan Sofia menyebut nama Ayah!"
"Apakah kamu tahu, apa yang menyebabkan ibumu sangat membenci ayahmu?"
"Saya kurang tahu, Bu. Setiap Sofia menyebutkan nama ayah, Ibu sangat marah. Sejak saat itu, Sofia tidak berani untuk menyebut namanya!"
Ada apa ya? Kenapa Bu Laura sangat membenci Papa?
Aku harus mencari tahu!
"Oya, Bu. Saya sempat melihat. Saat Ibu menolong Rafael dan teman-teman, ada orang berpakaian serba hitam, mereka memakai topeng. Mereka membantu ibu dan teman-teman Sofia. Apakah itu teman Ibu?"
"A-pa?" Clara tersenyum simpul, "Kamu salah lihat kali!"
"Nggak, Bu. Saya benar-benar melihatnya! Gerakan mereka sangat cepat. Sofia yakin mereka orang-orang terlatih!"
Tentu saja, itu adalah pengawal bayangan. Orang yang sengaja kubayar
mahal untuk menjagaku! Tapi, Sofia tidak perlu tahu!
"Bu!"
Clara tersenyum tipis, "Ibu nggak tahu.'
"Ibu mau kemana?"
"Tidur lah. Mau apa lagi?"
"Tunggu!"
"Sana istirahat!" suruh Clara.
°°°°°°°°
"Selamat pagi, Bu!" sapa Clara baru saja pulang joging.
"Pagi, Neng. Habis joging ya, Neng!"
"Iya nih, Bu," ujarnya sambil menyeka keringat.
"Ibu sudah menyiapkan sarapan. Mandi dulu kali ya, biar Neng seger. Baru sarapan!"
"Iya deh, Bu. Saya memang harus mandi! Saya ke atas dulu ya, Bu!"
Selesai mandi dan berpakaian santai, Clara turun untuk sarapan. Kebetulan dia ada kelas mengajar nanti siang. Jadi, dia bisa sedikit bersantai.
"Ini Bu!" Clara menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Apa ini, Neng?"
"Uang yang saya janjikan. Uang ini berjumlah 500 juta. Ibu bisa langsung memberikannya pada rentenir itu!"
"Terimakasih banyak, Neng! Ibu tidak tahu, membalasnya dengan apa!"
Clara tersenyum.
"Itu sudah menjadi hak ibu!"
"Maksud, Neng?"
"Eh, maksud saya!" hampir saja Clara keceplosan, "Bukankah manusia itu harus saling tolong menolong. Jadi ibu berhak mendapat pertolongan dari orang lain! Iya kan?"
"Eh, iya juga! Ibu sangat berterimakasih pada Neng yang sudah bersedia menolong Ibu!"
"Iya, Bu. Saya senang kok melakukannya!" jawabnya tersenyum tipis.
To be continued ....
Mana dukungannya???????
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
lagi2 bilang sy harus mencari tau
2024-07-22
1
Firman Firman
lnjut
2024-06-28
0
R yuyun Saribanon
Cerita bagus n apik .. lanjut Thor
2023-07-31
0