Clara Lunoks
Aku pernah berada di dunia bawah. Dimana tidak ada peraturan yang mengikat, sehingga pembunuhan, pencurian ataupun tindakan kriminal lainnya menjadi suatu yang legal. Bahkan aparat keamanan saja tidak berani mengusik apapun masalah yang ada di dunia bawah.
Dunia bawah terbagi menjadi dua wilayah yakni dunia yang dikuasai para mafia kejam, dan dunia yang dikuasai para mafia yang masih memiliki hati.
Aku dan Tiger Eye misalnya. Kami dibawah komando Papa tidak diperbolehkan untuk mencuri, merampas atau menyakiti orang lain. Setidaknya kami masih memiliki hati kepada orang lain. Namun siapa yang berani mengusik kami terlebih dulu, maka pistol dan pisau akan menjadi senjata untuk membela diri kami.
Papa juga tidak mengajariku berbisnis ilegal, kami berbisnis seperti pembisnis pada umumnya. Kelompok kami juga membantu polisi, membocorkan informasi perdagangan bebas mafia-mafia kejam yang tersebar di Indonesia.
Pergerakan kami tercium oleh mafia Black Shadow. Mafia yang terkenal dengan kekejamannya. Mafia ini memiliki wilayah perdagangan paling terbesar dan ilegal.
Dari perdagangan obat-obatan terlarang, perdagangan persenjataan sampai perdagangan manusia. Membuat resah aparatur negara. Namun mereka seperti belut. Sangat licin. Selalu terhindar dari hukum yang berlaku.
Mereka menyerang Mansion Tiger Eye. Saat kami sedang lengah. Anak buah kami dibantai habis oleh mafia Black Shadow, hingga pimpinannya pula, mereka menghabisinya dengan kejam.
Aku tidak akan tinggal diam. Aku sengaja bersembunyi untuk mengatur sebuah strategi besar mengalahkan mereka. Tidak akan aku biarkan mereka bebas begitu saja.
Tapi, Amanah terakhir yang diberikan Papa kepadaku adalah agar aku meninggalkan dunia hitam. Dan hidup normal seperti orang lain pada umumnya. Tidak ada kekerasan, perkelahian dan saling menyakiti. Untuk itulah aku memilih untuk bersembunyi dan mengatur siasat.
_______________
Clara mengerjapkan mata, kala mendengar drama keluarga dipagi hari. Suara cerewet dari seorang ibu sedang memarahi putrinya, membuat Clara terbangun.
Clara melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Bergegas dia bangun dan mandi. Karena hari ini adalah hari kedua, Clara ke kampus untuk mengajar.
Clara sudah rapih memakai kemeja dan celana panjangnya. Tidak lupa juga dengan kaca mata tebalnya. Menuruni tangga, dan menyapa penghuni rumah ini dengan ramah.
"Eh, Sudah bangun! Ayo silahkan sarapan!" Laura mempersilahkan Clara untuk bergabung di meja makan.
Apakah mendapatkan sarapan juga termasuk dari perjanjian awal?
Sofia sudah rapi dan sedang menikmati sarapannya. Memakai kaos putih dengan jaket berwarna hitam. Penampilannya tidak berubah. Selalu sama.
Apakah dia tidak memiliki baju lain? Gumam Clara.
"Terimakasih, Bu. Apakah ibu yang memasak?"
"Iya, Neng. Maaf seadanya. Masakan rumahan!" ujar Laura sambil tersenyum. Clara menoleh ke arah masakan yang disajikan di atas meja makan. Tempe, tahu dan cah kangkung.
Apakah ini yang setiap hari mereka makan? Padahal kalau dirumahku hampir setiap hari aku makan ayam dan daging. Tapi disini aku melihat suatu kenyataan yang lain.
"Ayo makan, kenapa melamun?" ucapnya membuatku terkejut.
"Iya, Bu!" jawab Clara, seraya mendudukkan bokongnya di kursi.
"Silahkan makan, Bu Clara!" sela Sofia disaat makan.
"Terimakasih."
Mereka bertiga menikmati sarapan tanpa berkata apa-apa. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Rasanya sangat sulit untuk menelan makanan yang sangat sederhana tersebut. Namun untuk menghargai tuan rumah, dia harus memakannya juga.
Ehm, rasanya tidak terlalu buruk! Mungkin semalam aku tidak makan. Perutku terasa sangat lapar.
"Oya, Bu. Ini uang mukanya!" Clara menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Laura setelah dia menghabiskan sarapannya.
"Apa ini?"
Bisa dilihat isinya, sepertinya memang uang. Tapi Laura berpura-pura tidak tahu apa isi dari amplop coklat tersebut.
"Uang, Bu Laura,"
Laura mengintip isi amplop tersebut. Betapa terkejutnya dia. Uang dalam jumlah banyak, ada diamplop tersebut. Wanita separuh baya itu membulatkan matanya.
"Ini uang apa? Kenapa banyak sekali, Neng?"
"Saya bayar selama satu tahun beserta bonus untuk ibu karena sudah bersusah-payah membuatkan saya sarapan!"
"Nggak usah, Neng! Ibu ikhlas memasak untuk Neng kok! Memang makanannya sederhana. Tapi satu yang harus diingat! Masakan ini dimasak dengan cinta!" gelaknya. Clara dan Sofia ikut tergelak.
"Sudah Ibu simpan saja! Pokoknya saya membayar biayanya di muka. Saya jadi tidak merasa terbebani!" ujar Clara, "Tolong terima ya, Bu. Ibu dan Sofia berhak menerima uang ini!"
Laura nampak berfikir. Kedua alisnya saling bertautan.
"Baik. Ibu terima ya, Neng geulis!" ujarnya tersenyum.
"Iya, Bu."
Selesai sarapan, Sofia langsung berangkat ke kampus. Kebetulan, Rafael juga sudah menjemputnya ditempat biasa. Sofia bergegas berpamitan dengan sang Ibu.
"Dah, Bu. Sofia ke kampus dulu!" serunya.
"Kok nggak bareng saja sama Bu Clara?"
"Ehm, Sofia ada tugas kelompok dengan teman-teman!" serunya sambil berlalu pergi.
"Oh."
____
____
"Sudah, biarkan saja, Bu! Namanya juga anak-anak!"
"Maafkan anak saya ya, Neng!" ucap Laura, "Saya justru tidak mau dia terlalu dekat dengan teman-temannya yang nggak jelas itu!"
Clara hanya tersenyum.
"Kenapa, Bu?"
"Ah, Neng. Masa nggak tahu. Teman-teman Sofia itu nggak ada yang benar! Ibu takut, Sofia akan ikut-ikutan mereka! Boleh nggak Ibu minta tolong sama, Neng?"
"Minta tolong apa, Bu?"
"Neng kan dosennya di kampus. Tolong dinasehati anak saya. Saya takut dia terjerumus dengan hal-hal yang tidak baik!"
Clara bisa merasakan kekhawatiran seorang ibu kepada putrinya. Putri semata wayangnya. Bagaimanapun juga semua ibu di dunia pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Seketika Clara ingat dengan Mamanya. Mamanya meninggal saat dia berusia sepuluh tahun karena sebuah kecelakaan tragis. Dia dibesarkan oleh sang Papa, tanpa kasih sayang seorang Mama. Oleh Papanya dia menjadi seorang gadis yang kuat dan pemberani. Tidak takut oleh apapun dan kepada siapapun.
"Neng?" Ibu Laura memanggilnya, membuat lamunan Clara buyar.
"Iya, Bu."
"Tolong nasehati anak Ibu. Saya tuh ingin Sofia menjadi anak pintar, anak yang berguna. Saya sudah membanting tulang untuk menyekolahkannya. Supaya dia mendapatkan pendidikan yang baik!" ujarnya panjang lebar. Clara tersenyum.
"Saya akan berusaha, Bu!"
"Oya, Memangnya dimana ayah Sofia?"
Degh ...
Bu Laura beranjak dari tempat duduknya. Mukanya terlihat berubah saat Clara membuat Ayah Sofia.
"Nggak usah membicarakannya, Neng! Ayah Sofia sudah lama meninggal! Kami juga tidak pernah mengingatnya lagi!"
"A-pa?"
Ini pasti ada yang salah. Kenapa Ibu sangat membenci Papa? Ada apa ini?
"Lagian Sofia sudah terbiasa hidup tanpa ayah. Jadi ibu mohon jangan pernah bertanya tentang Ayahnya Sofia!"
"Ba-baik, Bu!"
Ah, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi!
Clara pun berpamitan untuk mengajar ke kampus. Ini adalah hari keduanya, dia tidak mau sampai terlambat datang. Apa kata orang, ada dosen yang datang terlambat. Ah, bisa malu dirinya ...
To be continued ...
Mana dukungannya Sayang??????
Bantu gift yuk, Beb......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Firman Firman
lanjut
2024-06-28
0
Mulan Jameela
Aku simak dulu ya Thor, Baru kasih bunga....
2022-09-27
0
Puja Kesuma
sofia anak yg baik... kemungkinan ada kesalahfahaman antara papamu dan ibu tirimu itu clara
2022-09-19
1