Setelah keluar dari ruangan Fabyan, Clara menarik tangan Shane ke tempat yang sepi. Wanita cantik itu benar-benar dibuat gemas dengan tingkah laku sahabat sekaligus asistennya.
Bugh ...
Auw ...
"Kenapa Nona menendang kakiku?" pekik Shane yang baru saja mendapatkan tendangan maut dari Clara.
"Itu karena kau sudah berani datang kemari tanpa memberitahu padaku!" hardiknya, "Dan Kau juga berani mengatasnamakan Perusahaan LNK tanpa berbicara dulu padaku!"
"Nona, tapi Anda bisa lihat kan! Rencanaku berhasil!" ucap Shane yang masih mengusap-usap tulang keringnya karena merasa sakit.
"Itu berbahaya Shane! Kedokku setiap saat bisa terbongkar! Dan Kau tidak tahu Pak Fabyan itu seperti apa! Dia itu pria yang sangat pintar! Aku tidak bisa meremehkan kemampuan Fabyan!"
"Oke, Saya minta maaf, karena saya tidak memberitahu Nona dulu!" ujarnya, "Tapi lihat! Berhasil kan!" gelaknya.
Ck, benar-benar kau ini menyebalkan!
"Aku tidak bisa bicara panjang lebar disini! Nanti kita ketemu saja!"
"Wow, Apakah Nona masih kangen dengan asistenmu yang tampan ini!" kekeh Shane.
"Berhentilah bercanda Shane Kendderick! Aku sedang berbicara serius!"
"Oke, Oke. Slow! Kita kembali berbicara serius!"
Huft ...
"Jadi, Kau sudah lama tinggal di kota ini? Berapa hari Kau sudah berada di kota ini?" selidik Clara, dia memicingkan satu matanya. "Jangan katakan selama ini kau tinggal di sini!" Clara sudah mengepalkan tangannya hendak menghajar pria itu.
Hahahaha ...
"Astaga, Nona ini benar-benar galak! Pantas saja Nona nggak punya pacar!"
"Apa kau bilang?"
Hahahaha ...
"Nggak Nona! Saya baru datang tadi malam! Sekarang saya check in di hotel xx. Lumayanlah wanita di sana cantik-cantik! Nggak seperti wanita yang ada dihadapan ku! Cantik tapi GALAK!"
"Ck, Kau ini!"
Clara memukulkan tinju ke arah Shane, Shane berhasil menangkap tangan bos-nya. Kemudian kaki Clara berusaha untuk menendang kaki Shane. Pria itu dengan gesit menghindarinya. Adu jotos dan tinju pun terjadi, hingga Shane berhasil mengunci pergerakan Clara yang sedang kesal karena lelucon garing yang diberikan Shane.
"Nona jangan sampai mahasiswa Anda tahu! Itu akan menjadi masalah besar!" bisiknya.
Clara baru ingat, dia masih ada di kampus. Bisa gawat kalau ada yang tahu. Kedekatan dia dengan Shane.
Shane melepaskan tangan Clara. Begitu juga Clara. Dia mendesis kesal dengan pria didepannya, Shane kalau bicara suka ada benarnya.
"Pulanglah! Biar aku yang menemuimu!"
"Oke! Saya pergi!" ujarnya sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut, "Oya, Sebenarnya niat Saya kesini, saya ingin menyampaikan sesuatu! Nona harus berhati-hati! Black Shadow sedang mencari Nona!"
"A-pa?"
"Anak buahnya ada dimana-mana! Saya yakin mereka sedang mencari Nona!"
"Apakah Black Shadow tahu kalau Papa punya keluarga lain?"
"Tidak, Nona. Tapi saya yakin, mereka akan segera tahu!"
"Baiklah, Aku akan berhati-hati!" ujarnya, "Cepat kirimkan pengawal bayangan untuk mengintai pergerakan mereka! Sampai dimana mereka bergerak!"
"Baik."
"Lindungi semua yang bisa Kau lindungi! Jangan biarkan musuh meretas keamanan kita!" ujarnya, "Shane, Aku percayakan ini padamu! Karena aku tahu kemampuan mu!"
"Siap, Nona! Aku akan menyuruh pengawal bayangan untuk menjaga Anda!" Clara menganggukkan kepalanya, "Saya pergi!"
"Oke."
Dari kejauhan, Fabyan melihat Clara yang sedang bicara serius dengan seseorang. Tapi dia tidak bisa melihat jelas, siapa yang sedang mengobrol dengan dosen itu.
Hhhhhhhh, Bu Clara sedang ngobrol dengan siapa sih?
Sementara Clara bisa bernafas lega. Setidaknya satu masalahnya terselesaikan. Dia pun kembali ke kelasnya untuk mengajar.
____
____
"Selamat siang!"
Clara duduk di kursinya. Rasanya sangat aneh. Dia merasa ada sesuatu di bawah pantatnya.
"Selamat siang, Bu!" Sambil mengucapkan salam, mereka berusaha menahan ketawa. Terutama Ando cs, mereka tertawa dalam diam.
Fix, Gue sedang dikerjain!
Sabar!
Sabar!
Sabar!
Clara berdiri dari tempat duduknya. Ternyata di kursi yang ia duduki ada permen karet yang melekat. Tentu saja yang melakukan itu adalah mahasiswanya yang super duper jahil.
Hahahaha ...
Mereka sudah tidak mampu menahan tawanya. Mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan saat Clara menatap mereka dengan tatapan menghunus.
"Oh, lucu bagi kalian!" kesal Clara, "Apakah hanya ini yang bisa kalian lakukan?" bentak Clara, membuat mereka terdiam.
"Puas kalian!" marah Clara.
"Siapa yang mengerjai saya?"
Mereka saling tunjuk.
Ck, dasar anak-anak bandel!
Oke, aku balas ya!
"Mereka, Bu!" Sofia menunjuk Ando cs sebagai biang masalah dikelasnya.
Oh, jadi kalian mau bermain-main denganku!
Clara tersenyum penuh arti. Dia berjalan ke arah Ando cs. Tiba-tiba Ia melayangkan tinjunya ke arah perut dan kaki Ando, menghajar Ando dan teman-temannya yang sudah mengerjai dirinya. Sementara mahasiswa yang lain terperanjat sekaligus terkejut.
Dan hebatnya, Clara sengaja tidak menyerang wajah mereka. Agar wajah mereka tidak terlihat jelas babak belur.
"Mau lagi?" Clara memelintir tangan Ando.
"Auw, Sakit, Bu!"
"Kapok!"
"I-iya, Bu! Maafkan ka-mi!"
"Cih! Memalukan! Hanya segitu kekuatan kamu!" Clara menepis kasar tangan Ando.
"Kalian itu datang kesini untuk belajar! Bukan untuk bermain-main! Jadi belajarlah dengan tekun!" seru Clara.
"Baik, Bu!" seru mereka serempak.
"Kasihan orang tua kalian yang sudah mengeluarkan uang banyak untuk membayar biaya kuliah kalian!"
"Iya, Kalau kalian anak orang kaya! Uang segitu tidak ada artinya! Tapi bagaimana kalau sebaliknya! Apakah kalian tidak iba dengan perjuangan orang tua kalian?" Mereka tertunduk.
"Ando, Tomy, Heru dan kalian semua! Karena kalian sudah mengerjai Ibu, jadi Ibu akan memberikan hukuman buat kalian!"
"A-pa? Hukuman apa, Bu? Kami kan sudah meminta maaf!"
"Cari referensi buku lainnya untuk materi pelajaran yang sudah saya ajarkan! Rakum semuanya dari awal sampai akhir! Kalian mengerti!"
"Jangan begitu dong, Bu! Kenapa kami harus dihukum? Kami bukan anak kecil, Bu!"
"Oh, kalian bukan anak kecil rupanya! Kalau begitu, kenapa sikap kalian seperti anak kecil? Pokoknya ibu nggak mau tahu, kerjakan atau saya beri kalian nilai C minus!"
"Iya, Iya, Bu. Kami kerjakan!" jawab mereka serempak.
"Huuuuuuh, rasain tuh!" cibir mahasiswa yang lain terkekeh.
"Jahil sih!" jawab satunya.
°°°°°°°°
Clara sudah mandi, dia memakai hodie warna biru tua. Dipadukan dengan celana jeans warna hitam. Rambutnya ia cepol satu. Masih dengan memakai kaca mata tebalnya.
Rencananya, dia ingin menemui Shane di cafe. Ada sesuatu yang penting harus dia bicarakan dengan Shane. Dia pun berpamitan dengan Bu Laura yang sedang menonton televisi.
Sampai di Cafe, Shane ternyata sudah datang lebih dulu. Dia melambaikan tangannya saat melihat Clara masuk. Clara pun langsung menuju meja Shane.
"Silahkan, Nona! Saya sudah memesankan makanan dan minuman untuk Anda!"
"Terimakasih, Shane!"
"Ada apa, Nona? Kenapa Anda minta bertemu?"
"Shane, Aku ingin bercerita sesuatu!"
"Ceritakan saja, Nona. Saya siap mendengarkan!"
"Kau tahu kan aku tinggal dengan Bu Laura!"
"Iya, Lalu?"
"Sepertinya Bu Laura sangat membenci Papa ku!"
"Kok bisa?"
"Mana aku tahu," jawab Clara sambil mengunyah daging sticknya.
"Mungkin Pak Bos nggak ngasih nafkah lahir batin kali!" ujarnya asal.
Hahahaha ...
PLAKKK ...
Tangan Clara memukul lengan Shane. Dia memberengut kesal.
"Bisa-bisanya ya kau bercanda di situasi seperti ini!"
Hehehehe ...
"Iya, Maaf, Nona!"
Clara menggelengkan kepalanya.
"Aku serius Shane!"
"Okey. Saya juga serius!"
Bersambung ....
Mana dukungannya??????
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
agoes Rezha
kasian
2024-06-06
2
Mulan Jameela
aku berikan bunga untuk ceritamu yang keren Thor.....
2022-09-29
1
Mulan Jameela
ih, kepoooooo!!!🤣🤣
2022-09-29
1