"Bu Clara, uang 500 juta itu tidak sedikit. Bagaimana Ibu bisa mencari uang sebanyak itu?" tanya Sofia. Clara hanya mengulas senyum tipis.
"Dengan tabunganku."
"Tapi nanti saya merepotkan Bu Clara!"
Clara menatap manik bening itu. Dia memegang bahu Sofia. Menatapnya dalam.
"Jika saya merasa direpotkan, untuk apa tadi saya menolongmu dan ibumu! Saya tidak pernah merasa direpotkan!" ujarnya santai.
"Saya janji. Setelah saya mendapatkan pekerjaan, saya akan menyicilnya pada Ibu!"
"Memangnya kamu mau kerja apa?"
"Apa saja, Bu! Yang penting saya bisa mendapatkan uang!"
"Sofia, Kamu itu masih sangat muda. Jadi tugasmu adalah belajar. Kau harus mendapatkan nilai yang bagus untuk itu. Buat ibumu bangga!"
"Tapi, Bu ... !"
"Jangan Kau pikirkan uang 500 juta itu. Ibu akan menagihnya jika Kau sudah sukses!" gelak Clara.
"Neng Clara, Ini ibu buat teh herbal. Coba deh, Neng!"
"Terimakasih, Bu!" Laura duduk di samping Clara.
"Ibu penasaran. Neng itu sebenarnya siapa sih?" tanya Laura.
Degh ...
"Neng tuh seperti bidadari tak bersayap. Udah cantik, baik lagi!"
Uh, aku pikir Bu Laura curiga ...
Ternyata dia sedang memujiku!
"Saya bukan siapa-siapa! Saya hanya orang biasa seperti kalian. Kebetulan saja saya punya tabungan. Dari pada tidak dipakai, alangkah baiknya kan untuk menolong orang!"
"Wah, Bu Clara baik!" Sofia mengacungi jempol.
"Saya sangat salut! Di jaman serba susah seperti ini, sedikit lho orang baik. Tapi Neng sudi membantu orang susah seperti kami!"
"Papa saya selalu mengajarkan berbuat baik kepada orang lain. Dan tidak boleh memandang status sosial. Karena pada dasarnya semua manusia itu sama!"
"Hebat Papanya Neng! Bolehlah kapan-kapan Ibu bisa bertemu dengan Papa Neng!"
"Papa saya sudah meninggal." lirih Clara.
"Oh, Maafkan saya, Neng. Ibu nggak tahu kalau Papa Neng meninggal!"
Bu Laura! Papa saya juga suami Ibu!
"Nggak apa-apa, Bu! Kedua orang tua saya sudah meninggal. Papa baru seminggu meninggal. Dan Mama saya meninggal saat saya berusia sepuluh tahun. Kakek saya juga sudah meninggal! Saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini!"
"Astaga, kasihan sekali!" Laura ikut merasakan sedih juga, "Nggak apa-apa, Neng. Kan masih ada Ibu dan Sofia. Anggap saja kami keluarga Neng!" Clara tergelak di dalam hati.
Memang ibu dan Sofia adalah keluargaku sekarang. Aku sudah tidak memilki keluarga lain selain kalian!
"Tapi Papanya Neng hebat! Berhasil membesarkan anak sebaik Neng!"
"Ah, Ibu bisa saja! Saya tidak sebaik yang Ibu kira! Jika orang sudah mengenal saya, mereka akan ketakutan!" gelak Clara.
Ya iyalah, Bu! Saya ini seorang mafia. Jika seseorang berbuat kesalahan sedikit pada saya, maka akan saya tembak! Bagaimana mereka nggak takut coba!
"Emangnya Neng harimau, Orang Neng cantik begini kok!" mereka tergelak bersama.
...****************...
Bulan bersinar sangat terang. Clara duduk sendiri, melamun menatap langit.
Terkadang dia merasa sangat heran. Kenapa dia terlahir sebagai seorang anak mafia. Dia juga ingin hidup normal seperti anak lainnya. Banyak teman, shopping, jalan-jalan, dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, dia tidak punya waktu untuk itu.
Clara Lunoks, dia harus belajar dan belajar. Membekali diri dengan ilmu bela diri dan latihan menembak. Bukan hanya itu, dia dididik sejak kecil memimpin Perusahaan besar di Indonesia. Tapi yang membuatnya aneh sampai sekarang, Papanya melarang keras menunjukkan identitas sebagai pemilik Perusahaan tersebut.
Ada apakah ini?
Clara berusaha keras untuk memecahkan misteri itu.
Sejak kecil, kelahirannya disembunyikan. Dia tidak boleh bergaul dengan sembarang orang. Hari-harinya hanya dirumah. Bahkan sekolah pun harus di rumah.
Dulu saat mamanya masih hidup, Mamanya melarang keras untuk keluar rumah. Setelah Mamanya meninggal, Clara kecil diberikan kebebasan oleh sang Papa untuk keluar rumah. Namun papanya masih membatasi pergaulannya.
Clara menghela nafasnya panjang. Dia sedikit terkejut kala ponselnya bergetar. Dia melihat nama yang tertera di kontak ponselnya. Ternyata Sane yang menghubungi.
"Hallo, Sane! Ada apa? Kenapa malam-malam telfon aku?" galak Clara memberondong dengan banyak pertanyaan.
"Aish, Suara Nona seperti biasanya! Cerewet dan galak!" jawabnya sambil menggaruk telinga.
"Kau mau mati!"
"Nona, seorang dosen itu nggak boleh galak-galak! Bisa-bisa mahasiswamu kabur semua!" gelaknya.
"Oh, Kau mau meledekku!"
"Nggak, Nona!"
"Nggak apa maksudnya?"
"Nggak salah!"
Ha ... Ha ... Ha
"Ish, dasar Sane! Awas Kau nanti!" Clara mengepalkan tangannya, "Ada apa kau menelfonku?"
"Slow, Nona! Besok motor tiba, dan ada orang yang akan mengantar ke alamat yang Nona kirimkan!"
"Ah, baguslah! Aku suka kerjamu Sane! Kau memang bisa diandalkan!" puji Clara, "Oya, aku butuh uang 500 juta! Tolong siapkan besok!"
"Untuk apa uang sebanyak itu, Nona?"
"Untuk adikku dan Bu Laura. Ibu Laura itu adalah istri Papa yang lain!"
"Oh."
"Baiklah, Apa ada kabar yang lain yang ingin kau beritahu?"
"Tidak ada, Nona."
"Baiklah, kalau begitu. Aku tutup! Aku mau bobo cantik! JADI KAU JANGAN MENGGANGGU WAKTUKU DI MALAM HARI!" teriak wanita cantik itu mematikan ponselnya.
Tut ... Tut ... Tut
"Ish, dasar wanita galak! Pantas saja nggak ada satupun laki-laki yang mendekatimu!" cebiknya dari telepon seberang sana.
...****************...
Clara melangkahkan kakinya masuk ke ruangan dosen. Seperti biasa, dia menyapa semua dosen di sana dengan ramah. Juga sebaliknya, mereka juga menyambut kedatangan Clara tidak kalah ramah.
Apalagi Pak Bima. Pak Bima nampak memperhatikan penampilan Clara dari ujung rambut hingga kaki. Mata nakalnya tidak berkedip menatap wanita ayu itu.
Meskipun sudah memakai kacamata tebal. Tetap saja tidak menutupi wajah ayu seorang Clara. Wajah blesteran yang dimiliki wanita itu memiliki daya pikat tersendiri bagi kaum Adam.
"Bu Clara mau langsung mengajar!" ucap Bu Cynthia.
"Nanti, Bu. Saya ada kelas jam 9 nanti!"
"Oh, kalau begitu saya ke kelas duluan ya!"
"Oke, Bu Cynthia!" Clara melambaikan tangannya.
Di ruang dosen nampak hanya ada dirinya dengan Pak Bima. Clara yang sedang sibuk membaca materi yang akan dia ajarkan pada mahasiswanya, tidak tahu bahwa dirinya sedang ditatap intens oleh bujang lapuk tersebut.
Pak Bima mendekat ke arah Clara, tanpa Clara sadari. Tangannya hendak memegang bahu wanita cantik itu. Namun seseorang memanggil namanya.
"Bu Clara!" sontak Clara menoleh. Dia sedikit terkejut, karena Pak Bima sudah berdiri di belakangnya.
"Pak Bima. Anda sedang apa disini?"
"Eh, itu, Bu!" suaranya terdengar gagap.
Orang ini benar-benar aneh!
"Saya cuma mau tanya, Apakah Ibu butuh bantuan untuk mengajar anak-anak? Kalau butuh, saya siap membantu!"
"Ah, tidak usah, Pak!"
"Bu Clara!" Fabyan mendekat ke arah mereka.
"Pak Fabyan," manik Clara memutar ke arah seseorang yang memanggil namanya, "Ada apa, Pak?"
"Eh, ada Pak Bima juga!" ujarnya.
"Iya, nih, Pak!" sahutnya sambil tersenyum, "Kalau begitu saya permisi dulu!"
"Iya, Silahkan!"
"Bu Clara, saya mau berbicara sedikit, Boleh?"
Clara mengulas senyum, "Tentu saja boleh dong, Pak. Masa iya saya melarang Bapak berbicara!"
"Ibu bisa saja!" dia terkekeh.
Ya Ampun, senyum saja sangat tampan! Apalagi kalau tertawa! Hatiku benar-benar meleleh!
"Anda tidak apa-apa kan, Bu!"
"Bapak tampan banget!" lirihnya.
"A-pa?"
"Eh, maksud saya, kucing saya di rumah tampan, Pak!"
"Ha ... Ha ... Ha." tawanya yang sengaja ia paksakan.
Astaga! Mulutku ini memang perlu disemen! Memalukan sekali!
Fabyan hanya tersenyum.
"Saya dapat laporan kalau mahasiswa Ibu yang bernama Rudi, sudah satu Minggu absen. Dan kasusnya sama dengan kelas sebelah. Rafael dan anak-anak lainnya juga absen. Semuanya berjumlah 10 anak. Apakah ibu mengetahui sesuatu?"
Clara mengernyitkan alisnya.
"Saya kurang tahu, Pak. Saya pikir yang namanya Rudi itu tidak ke kampus karena sakit!"
"Apakah ada izinnya, Bu?"
"Tidak ada, Pak!"
"Tolong lain kali di cek ya, Bu! Mahasiswa dan mahasiswi yang tidak mengikuti kelas!"
"Bbbb-baik, Pak!"
"Kalau seperti ini, nanti pasti ada keluhan dari para orang tua! Jika keluhannya tidak baik, itu akan menjatuhkan Universitas ini, Bu!"
"Iya, Maafkan keteledoran saya, Pak! Lain kali saya akan lebih memperhatikan hal-hal kecil seperti ini!"
"Oke. Saya terima penjelasan Ibu!" ujarnya, "Kalau begitu saya permisi, Silahkan ibu melanjutkan tugas Ibu!"
"Oke, Pak. Terimakasih banyak!"
Clara mendudukkan pantatnya di kursi. Dia tidak menyangka, pria itu ternyata tegas juga. Kata-katanya membuat dia harus berpikir keras.
Ah, benar-benar menyebalkan! Kenapa aku harus mencari tahu kemana Rudi pergi? Dia mau kemana kan bukan urusanku? Rudi, Rudi ...
To be continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Rianti Dumai
mafia kocax nie nama'a,,😅🤣
2024-07-27
1
Firman Firman
lnjut ada ada neng gelis 😄🤭
2024-06-28
0
Mulan Jameela
semen, hahahaha....ngakak aku....🤣🤣🤣
2022-09-29
0