Bab 7 : Kembali Mengajar

"Bu Clara, uang 500 juta itu tidak sedikit. Bagaimana Ibu bisa mencari uang sebanyak itu?" tanya Sofia. Clara hanya mengulas senyum tipis.

"Dengan tabunganku."

"Tapi nanti saya merepotkan Bu Clara!"

Clara menatap manik bening itu. Dia memegang bahu Sofia. Menatapnya dalam.

"Jika saya merasa direpotkan, untuk apa tadi saya menolongmu dan ibumu! Saya tidak pernah merasa direpotkan!" ujarnya santai.

"Saya janji. Setelah saya mendapatkan pekerjaan, saya akan menyicilnya pada Ibu!"

"Memangnya kamu mau kerja apa?"

"Apa saja, Bu! Yang penting saya bisa mendapatkan uang!"

"Sofia, Kamu itu masih sangat muda. Jadi tugasmu adalah belajar. Kau harus mendapatkan nilai yang bagus untuk itu. Buat ibumu bangga!"

"Tapi, Bu ... !"

"Jangan Kau pikirkan uang 500 juta itu. Ibu akan menagihnya jika Kau sudah sukses!" gelak Clara.

"Neng Clara, Ini ibu buat teh herbal. Coba deh, Neng!"

"Terimakasih, Bu!" Laura duduk di samping Clara.

"Ibu penasaran. Neng itu sebenarnya siapa sih?" tanya Laura.

Degh ...

"Neng tuh seperti bidadari tak bersayap. Udah cantik, baik lagi!"

Uh, aku pikir Bu Laura curiga ...

Ternyata dia sedang memujiku!

"Saya bukan siapa-siapa! Saya hanya orang biasa seperti kalian. Kebetulan saja saya punya tabungan. Dari pada tidak dipakai, alangkah baiknya kan untuk menolong orang!"

"Wah, Bu Clara baik!" Sofia mengacungi jempol.

"Saya sangat salut! Di jaman serba susah seperti ini, sedikit lho orang baik. Tapi Neng sudi membantu orang susah seperti kami!"

"Papa saya selalu mengajarkan berbuat baik kepada orang lain. Dan tidak boleh memandang status sosial. Karena pada dasarnya semua manusia itu sama!"

"Hebat Papanya Neng! Bolehlah kapan-kapan Ibu bisa bertemu dengan Papa Neng!"

"Papa saya sudah meninggal." lirih Clara.

"Oh, Maafkan saya, Neng. Ibu nggak tahu kalau Papa Neng meninggal!"

Bu Laura! Papa saya juga suami Ibu!

"Nggak apa-apa, Bu! Kedua orang tua saya sudah meninggal. Papa baru seminggu meninggal. Dan Mama saya meninggal saat saya berusia sepuluh tahun. Kakek saya juga sudah meninggal! Saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini!"

"Astaga, kasihan sekali!" Laura ikut merasakan sedih juga, "Nggak apa-apa, Neng. Kan masih ada Ibu dan Sofia. Anggap saja kami keluarga Neng!" Clara tergelak di dalam hati.

Memang ibu dan Sofia adalah keluargaku sekarang. Aku sudah tidak memilki keluarga lain selain kalian!

"Tapi Papanya Neng hebat! Berhasil membesarkan anak sebaik Neng!"

"Ah, Ibu bisa saja! Saya tidak sebaik yang Ibu kira! Jika orang sudah mengenal saya, mereka akan ketakutan!" gelak Clara.

Ya iyalah, Bu! Saya ini seorang mafia. Jika seseorang berbuat kesalahan sedikit pada saya, maka akan saya tembak! Bagaimana mereka nggak takut coba!

"Emangnya Neng harimau, Orang Neng cantik begini kok!" mereka tergelak bersama.

...****************...

Bulan bersinar sangat terang. Clara duduk sendiri, melamun menatap langit.

Terkadang dia merasa sangat heran. Kenapa dia terlahir sebagai seorang anak mafia. Dia juga ingin hidup normal seperti anak lainnya. Banyak teman, shopping, jalan-jalan, dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, dia tidak punya waktu untuk itu.

Clara Lunoks, dia harus belajar dan belajar. Membekali diri dengan ilmu bela diri dan latihan menembak. Bukan hanya itu, dia dididik sejak kecil memimpin Perusahaan besar di Indonesia. Tapi yang membuatnya aneh sampai sekarang, Papanya melarang keras menunjukkan identitas sebagai pemilik Perusahaan tersebut.

Ada apakah ini?

Clara berusaha keras untuk memecahkan misteri itu.

Sejak kecil, kelahirannya disembunyikan. Dia tidak boleh bergaul dengan sembarang orang. Hari-harinya hanya dirumah. Bahkan sekolah pun harus di rumah.

Dulu saat mamanya masih hidup, Mamanya melarang keras untuk keluar rumah. Setelah Mamanya meninggal, Clara kecil diberikan kebebasan oleh sang Papa untuk keluar rumah. Namun papanya masih membatasi pergaulannya.

Clara menghela nafasnya panjang. Dia sedikit terkejut kala ponselnya bergetar. Dia melihat nama yang tertera di kontak ponselnya. Ternyata Sane yang menghubungi.

"Hallo, Sane! Ada apa? Kenapa malam-malam telfon aku?" galak Clara memberondong dengan banyak pertanyaan.

"Aish, Suara Nona seperti biasanya! Cerewet dan galak!" jawabnya sambil menggaruk telinga.

"Kau mau mati!"

"Nona, seorang dosen itu nggak boleh galak-galak! Bisa-bisa mahasiswamu kabur semua!" gelaknya.

"Oh, Kau mau meledekku!"

"Nggak, Nona!"

"Nggak apa maksudnya?"

"Nggak salah!"

Ha ... Ha ... Ha

"Ish, dasar Sane! Awas Kau nanti!" Clara mengepalkan tangannya, "Ada apa kau menelfonku?"

"Slow, Nona! Besok motor tiba, dan ada orang yang akan mengantar ke alamat yang Nona kirimkan!"

"Ah, baguslah! Aku suka kerjamu Sane! Kau memang bisa diandalkan!" puji Clara, "Oya, aku butuh uang 500 juta! Tolong siapkan besok!"

"Untuk apa uang sebanyak itu, Nona?"

"Untuk adikku dan Bu Laura. Ibu Laura itu adalah istri Papa yang lain!"

"Oh."

"Baiklah, Apa ada kabar yang lain yang ingin kau beritahu?"

"Tidak ada, Nona."

"Baiklah, kalau begitu. Aku tutup! Aku mau bobo cantik! JADI KAU JANGAN MENGGANGGU WAKTUKU DI MALAM HARI!" teriak wanita cantik itu mematikan ponselnya.

Tut ... Tut ... Tut

"Ish, dasar wanita galak! Pantas saja nggak ada satupun laki-laki yang mendekatimu!" cebiknya dari telepon seberang sana.

...****************...

Clara melangkahkan kakinya masuk ke ruangan dosen. Seperti biasa, dia menyapa semua dosen di sana dengan ramah. Juga sebaliknya, mereka juga menyambut kedatangan Clara tidak kalah ramah.

Apalagi Pak Bima. Pak Bima nampak memperhatikan penampilan Clara dari ujung rambut hingga kaki. Mata nakalnya tidak berkedip menatap wanita ayu itu.

Meskipun sudah memakai kacamata tebal. Tetap saja tidak menutupi wajah ayu seorang Clara. Wajah blesteran yang dimiliki wanita itu memiliki daya pikat tersendiri bagi kaum Adam.

"Bu Clara mau langsung mengajar!" ucap Bu Cynthia.

"Nanti, Bu. Saya ada kelas jam 9 nanti!"

"Oh, kalau begitu saya ke kelas duluan ya!"

"Oke, Bu Cynthia!" Clara melambaikan tangannya.

Di ruang dosen nampak hanya ada dirinya dengan Pak Bima. Clara yang sedang sibuk membaca materi yang akan dia ajarkan pada mahasiswanya, tidak tahu bahwa dirinya sedang ditatap intens oleh bujang lapuk tersebut.

Pak Bima mendekat ke arah Clara, tanpa Clara sadari. Tangannya hendak memegang bahu wanita cantik itu. Namun seseorang memanggil namanya.

"Bu Clara!" sontak Clara menoleh. Dia sedikit terkejut, karena Pak Bima sudah berdiri di belakangnya.

"Pak Bima. Anda sedang apa disini?"

"Eh, itu, Bu!" suaranya terdengar gagap.

Orang ini benar-benar aneh!

"Saya cuma mau tanya, Apakah Ibu butuh bantuan untuk mengajar anak-anak? Kalau butuh, saya siap membantu!"

"Ah, tidak usah, Pak!"

"Bu Clara!" Fabyan mendekat ke arah mereka.

"Pak Fabyan," manik Clara memutar ke arah seseorang yang memanggil namanya, "Ada apa, Pak?"

"Eh, ada Pak Bima juga!" ujarnya.

"Iya, nih, Pak!" sahutnya sambil tersenyum, "Kalau begitu saya permisi dulu!"

"Iya, Silahkan!"

"Bu Clara, saya mau berbicara sedikit, Boleh?"

Clara mengulas senyum, "Tentu saja boleh dong, Pak. Masa iya saya melarang Bapak berbicara!"

"Ibu bisa saja!" dia terkekeh.

Ya Ampun, senyum saja sangat tampan! Apalagi kalau tertawa! Hatiku benar-benar meleleh!

"Anda tidak apa-apa kan, Bu!"

"Bapak tampan banget!" lirihnya.

"A-pa?"

"Eh, maksud saya, kucing saya di rumah tampan, Pak!"

"Ha ... Ha ... Ha." tawanya yang sengaja ia paksakan.

Astaga! Mulutku ini memang perlu disemen! Memalukan sekali!

Fabyan hanya tersenyum.

"Saya dapat laporan kalau mahasiswa Ibu yang bernama Rudi, sudah satu Minggu absen. Dan kasusnya sama dengan kelas sebelah. Rafael dan anak-anak lainnya juga absen. Semuanya berjumlah 10 anak. Apakah ibu mengetahui sesuatu?"

Clara mengernyitkan alisnya.

"Saya kurang tahu, Pak. Saya pikir yang namanya Rudi itu tidak ke kampus karena sakit!"

"Apakah ada izinnya, Bu?"

"Tidak ada, Pak!"

"Tolong lain kali di cek ya, Bu! Mahasiswa dan mahasiswi yang tidak mengikuti kelas!"

"Bbbb-baik, Pak!"

"Kalau seperti ini, nanti pasti ada keluhan dari para orang tua! Jika keluhannya tidak baik, itu akan menjatuhkan Universitas ini, Bu!"

"Iya, Maafkan keteledoran saya, Pak! Lain kali saya akan lebih memperhatikan hal-hal kecil seperti ini!"

"Oke. Saya terima penjelasan Ibu!" ujarnya, "Kalau begitu saya permisi, Silahkan ibu melanjutkan tugas Ibu!"

"Oke, Pak. Terimakasih banyak!"

Clara mendudukkan pantatnya di kursi. Dia tidak menyangka, pria itu ternyata tegas juga. Kata-katanya membuat dia harus berpikir keras.

Ah, benar-benar menyebalkan! Kenapa aku harus mencari tahu kemana Rudi pergi? Dia mau kemana kan bukan urusanku? Rudi, Rudi ...

To be continued ...

Terpopuler

Comments

Rianti Dumai

Rianti Dumai

mafia kocax nie nama'a,,😅🤣

2024-07-27

1

Firman Firman

Firman Firman

lnjut ada ada neng gelis 😄🤭

2024-06-28

0

Mulan Jameela

Mulan Jameela

semen, hahahaha....ngakak aku....🤣🤣🤣

2022-09-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2 Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3 Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4 Bab 4 : Clara Lunoks
5 Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6 Bab 6 : Kabar dari Sane
7 Bab 7 : Kembali Mengajar
8 Bab 8 : Mencari Rafael 1
9 Bab 9 : Mencari Rafael 2
10 Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11 Bab 11 : Mengulik Informasi
12 Bab 12 : Motor Baru
13 Bab 13 : Tentang Rafael
14 Bab 14 : Tamu tak Diundang
15 Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16 Bab 16 : Kabar Kematian
17 Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18 Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19 Bab 19 : Dosen Cabul
20 Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21 Bab 21 : Empat Begal
22 Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23 Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24 Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25 Bab 25 : Tentang Bastian
26 Bab 26 : Penjahat Kelamin
27 Bab 27 : Eksekusi
28 Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29 Bab 29 : Penyerangan
30 Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31 Bab 31 : Tugas Dari Clara
32 Bab 32 : Mafia Liar
33 Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34 Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35 Bab 35 : Kencan 1
36 Bab 36 : Kencan 2
37 Bab 37 : Numpang Promo
38 Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39 Bab 39 : Kepergian Clara
40 Bab 40 : Perasaan Kecewa
41 Bab 41 : Finlandia
42 Bab 42 : Kekesalan Hati
43 Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44 Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45 Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46 Bab 46 : Penyerangan
47 Bab 47 : Clara anakmu
48 Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49 Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50 Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51 Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52 Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53 Bab 53 : Latihan Dansa
54 Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55 Bab 55 : Perkenalan
56 Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57 Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58 Bab 58 : Mendapat Restu
59 Bab 59 : Isi Hati Shane
60 Bab 60 : Di Begal
61 Bab 61 : Acara Lamaran
62 Bab 62 : Hari Pernikahan
63 Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64 Bab 64 : Malam Pertama 1
65 Bab 65 : Pesta Dansa
66 Bab 66 : Martin mati Kutu
67 Bab 67 : Malam Pertama 2
68 Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69 Bab 69 : Penculikan
70 Bab 70 : Mafia Queen 1
71 Bab 71 : Queen Mafia 2
72 Bab 72 : Queen Mafia 3
73 Bab 73 : Mencari Clara 1
74 Bab 74 : Mencari Clara 2
75 Bab 75 : Kedatangan Niko
76 Bab 76 : Promosi
77 Bab 77 : Mencintaimu
78 Bab 78 : Honey Moon 1
79 Bab 79 : Honey Moon 2
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2
Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3
Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4
Bab 4 : Clara Lunoks
5
Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6
Bab 6 : Kabar dari Sane
7
Bab 7 : Kembali Mengajar
8
Bab 8 : Mencari Rafael 1
9
Bab 9 : Mencari Rafael 2
10
Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11
Bab 11 : Mengulik Informasi
12
Bab 12 : Motor Baru
13
Bab 13 : Tentang Rafael
14
Bab 14 : Tamu tak Diundang
15
Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16
Bab 16 : Kabar Kematian
17
Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18
Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19
Bab 19 : Dosen Cabul
20
Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21
Bab 21 : Empat Begal
22
Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23
Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24
Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25
Bab 25 : Tentang Bastian
26
Bab 26 : Penjahat Kelamin
27
Bab 27 : Eksekusi
28
Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29
Bab 29 : Penyerangan
30
Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31
Bab 31 : Tugas Dari Clara
32
Bab 32 : Mafia Liar
33
Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34
Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35
Bab 35 : Kencan 1
36
Bab 36 : Kencan 2
37
Bab 37 : Numpang Promo
38
Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39
Bab 39 : Kepergian Clara
40
Bab 40 : Perasaan Kecewa
41
Bab 41 : Finlandia
42
Bab 42 : Kekesalan Hati
43
Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44
Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45
Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46
Bab 46 : Penyerangan
47
Bab 47 : Clara anakmu
48
Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49
Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50
Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51
Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52
Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53
Bab 53 : Latihan Dansa
54
Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55
Bab 55 : Perkenalan
56
Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57
Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58
Bab 58 : Mendapat Restu
59
Bab 59 : Isi Hati Shane
60
Bab 60 : Di Begal
61
Bab 61 : Acara Lamaran
62
Bab 62 : Hari Pernikahan
63
Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64
Bab 64 : Malam Pertama 1
65
Bab 65 : Pesta Dansa
66
Bab 66 : Martin mati Kutu
67
Bab 67 : Malam Pertama 2
68
Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69
Bab 69 : Penculikan
70
Bab 70 : Mafia Queen 1
71
Bab 71 : Queen Mafia 2
72
Bab 72 : Queen Mafia 3
73
Bab 73 : Mencari Clara 1
74
Bab 74 : Mencari Clara 2
75
Bab 75 : Kedatangan Niko
76
Bab 76 : Promosi
77
Bab 77 : Mencintaimu
78
Bab 78 : Honey Moon 1
79
Bab 79 : Honey Moon 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!