"Ternyata kalian memang ingin bermain-main denganku!" geramnya, "SERANG!!!!"
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
BRAKK ...
BRAKK ...
Perkelahian hebat pun terjadi. Kedua Geng saling menyerang. Clara juga tidak tinggal diam. Dia ikut serta dalam perkelahian itu. Untuk melindungi anak didiknya.
Pengawal bayangan juga bertugas melindungi bos-nya. Clara menggiring mahasiswanya untuk mencari tempat yang aman. Dari tempat dia berdiri, dia melihat Sofia yang hendak menolong Rafael. Karena lengah, tubuh Sofia terpental di dorong seseorang.
Orang itu hendak memukul kepala Sofia dengan sebilah kayu. Dengan gerakan refleks, Clara menendang peti kosong di depannya tepat mengenai bagian punggung orang itu.
"Rafael, Bawa Sofia pergi!" teriaknya pada Rafael.
"Cepat, Bawa dia pergi!" teriak Clara lagi.
"Baik, Bu!" jawab Rafael.
Mereka pun mencari tempat yang aman. Clara menjentikkan jarinya kepada pengawal bayangan untuk mengamankan anak-anak lebih dulu. Sekarang tinggal dirinya dan pimpinan Geng.
"Siapa Kau sebenarnya? Aku yakin Kau bukan orang biasa?" ujarnya.
"Aku hanyalah seorang dosen! Dan tugasku adalah melindungi anak didikku!"
Hahahaha ...
"Kau luar biasa. Aku yakin kau bukan hanya dosen!"
"Hentikan omong kosong mu!"
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
BRAKK ...
Tubuh Clara terjungkal, kala perutnya kena tendangan. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit. Pimpinan Geng tersenyum lebar, melihat lawannya jatuh. Dia pun mengambil pisau yang sempat terjatuh. Dia arahkan ke wanita berparas cantik itu, tapi seseorang menahan tangannya dengan kuat.
"JANGAN COBA-COBA MENYAKITI WANITA!" ujarnya.
"Pak Fabyan!" Clara sangat terkejut. Ternyata seseorang yang menolongnya adalah Fabyan.
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
Fabyan menghajar pimpinan Geng hingga tersungkur. Ternyata Pak Fabyan juga jago beladiri. Dengan tiga jurus saja, membuat pimpinan Geng jatuh tersungkur dengan wajah babak belur.
"JANGAN BERGERAK!" polisi datang menodongkan senjata ke arah Geng tersebut. Mereka yang belum siap untuk kabur, dengan terpaksa mereka menyerahkan diri kepada polisi.
"Kau tidak apa-apa?" Fabyan mengulurkan tangannya membantu Clara berdiri. Clara hanya tersenyum simpul.
Terkejut dan bingung. Itulah yang sedang dirasakan oleh Clara. Namun sebisa mungkin dia berusaha untuk bersikap tenang.
"Pak Fabyan terimakasih banyak atas kerjasamanya! Kami memang sedang mencari mereka! Sekelompok Geng yang hanya bisa meresahkan masyarakat! Dan kami juga mendapat laporan, bukan hanya meresahkan masyarakat tapi mereka juga orang-orang berbahaya. Mereka membegal dan suka merampok. Dan parahnya, mereka adalah penjual barang terlarang!" ucap Polisi.
"A-pa?" Clara nampak terkejut.
Jika mereka sebahaya itu! Kenapa Sofia dan Rafael bisa terlibat?
"Sama-sama, Pak! Saya juga sudah lama mengintai mereka!"
"Baiklah. Kami permisi!"
"Silahkan!"
"Bagaimana Bapak bisa ada disini?" tanya Clara merasa tidak enak. Pertanyaan Clara bukannya di jawab, Pria tampan itu justru pergi meninggalkannya. Clara jadi sedikit kesal.
Manik Clara melihat sekeliling. Dia sudah tidak menemukan pengawal bayangan.
Kemana mereka pergi?
"Maaf, Pak Byan. Kami harus membawa Mahasiswa dan mahasiswi Anda untuk tes urine. Karena dikhawatirkan mereka juga seorang pemakai!" ucap Polisi, "Oya, Ibu juga ikut kami ke kantor polisi untuk menjadi saksi!"
"I-iya, Pak!" jawab Clara tergagap.
Kan aku kena!
"Silahkan lakukan, Pak!" suruh Byan dengan tegas.
Rafael dan teman-temannya ikut ke dalam mobil polisi. Begitu juga Sofia. Sofia juga termasuk salah satu anggota mereka. Tentu dia harus di periksa.
Sementara Fabyan masuk ke mobilnya, mengikuti mobil polisi yang membawa mahasiswanya. Sedangkan Clara hanya menggerutu di dalam hati karena kesal.
Bisa-bisanya seorang laki-laki tidak peka dengan wanita cantik seperti ku! Ajak naik mobilnya kek! Atau menanyakan keadaan ku yang hampir kehilangan nyawa gara-gara mahasiswanya! Ini malah nyuekin!
Menyebalkan!
Kenapa coba aku harus berurusan dengan mahasiswa yang nggak jelas?
Dan semua ini gara-gara Sofia! Aku harus berurusan dengan hukum!
Clara pun menyusul mereka semua ke tempat polisi dengan motor butut Sofia tentunya. Dimana mahasiswa dan mahasiswinya melakukan tes urine.
Satu jam berlalu. Hasilnya sudah keluar. Mereka semua bersih. Mereka bukan pemakai. Mereka juga bukan pengedar.
Ternyata yang membawa barang haram itu adalah teman Rafael yang bernama Yudit. Dia bukanlah salah satu mahasiswa universitas Panca Bhakti. Dia hanyalah salah satu anak jalanan, yang kebetulan bergabung dengan Geng Rafael. Yudit yang saat itu dalam misi pencarian, akhirnya ditemukan. Dan dia mengakui semuanya.
Fabyan mendekat ke arah Clara yang sedang duduk menunduk. Pria tampan itu berdiri tepat di depan Clara. Membuat Clara terkejut, dan hendak berdiri juga. Namun karena ketidakhatian dirinya, membuat kepalanya membentur dagu lancip Fabyan.
"Auw." pekik Fabyan.
"Astaga. Aduh. Maaf, Pak! Saya nggak sengaja!" daftar kesalahan Clara menjadi bertambah.
"Ck, Kau ini benar-benar sangat ceroboh!" ucapnya sambil mengusap-usap dagunya yang sakit.
"Maaf, Pak!" Clara benar-benar merutuki kebodohannya, "Saya benar-benar minta maaf. Mana yang sakit!" seperti anak kecil, Clara meniup dagu Fabyan. Manik mereka bertemu. Saling menatap penuh arti.
Tubuh Fabyan semakin mendekat ke arah wanita cantik itu, membuat jarak mereka semakin intens. Sementara Clara sudah panas dingin. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Memarahi dirinya kah? Atau dia akan menciumnya.
Duh, kalau mau cium jangan di kantor polisi dong! Banyak orang!
Cari tempat romantis kek! Atau tempat yang sunyi!
Clara berjalan mundur, hingga mentok ke dinding dan terduduk dibangku.
Mau apa dia?
Apakah dia benar-benar akan menciumku? Oh, tidak. Berhenti! Jantungku berdebar kencang nih! Tolong berhenti, malu banyak orang!
Fabyan nampak mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ternyata plester. Dia menempelkan plester itu tepat di dahi Clara yang terluka.
Ahhhh, ternyata dia hanya ingin menempelkan plester!
Ya Ampun, apa yang kupikirkan!
Aku pikir dia akan menciumiku di depan anak-anak.
Bodohnya aku! Hehehehe ...
"Jangan berpikir kotor!" ujarnya tanpa ekspresi.
"Haaaa!"
Astaga. Apa dia tahu apa yang ada di otakku?
"Siapa yang berpikir kotor? Saya tidak pernah berpikir kotor!" lirihnya.
Clara tersenyum sendiri saat itu. Membuat Sofia tersenyum penuh arti.
_____
_____
Karena mereka bersih. Sebagian anak yang di jemput oleh orang tua diperbolehkan pulang. Begitu juga Bu Laura datang untuk menjemput Sofia.
Wajah Bu Laura nampak sangat marah, setelah mendapat penjelasan dari polisi. Dia tidak percaya kalau anaknya berteman dengan sekelompok geng yang tidak jelas. Dan tentu itu membuatnya sangat kecewa.
Tidak berhenti ibu Laura memarahi putrinya. Sofia hanya tertunduk tidak berani menjawab perkataan sang ibu. Sedangkan Rafael dia hanya duduk di sudut ruangan kantor polisi. Tidak satupun dari keluarganya datang untuk menjemput atau sekedar melihatnya.
"Rafael!" panggil Fabyan.
"Iya, Pak Rektor!"
"Dimana orang tuamu?"
"Mereka tidak akan peduli, Pak! Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing!" jawab Rafael masih bisa didengar oleh Clara.
"Ayo aku antarkan pulang!" tawar Fabyan.
"Tidak usah, Pak. Saya biasa sendiri. Bapak tidak usah repot-repot mengantarkan saya pulang!"
"Tapi Kau akan pulang dengan apa?"
"Pak, biarkan saya mengantarkan Rafael pulang!" tawar Sofia. Fabyan dan Clara saling berpandangan.
"Tidak. Kamu harus pulang dengan ibu! Berhenti berteman dengannya! Dia hanya akan memberikan pengaruh buruk buatmu!" seloroh Ibu Laura.
"Bu, Kasihan Rafael. Kedua orang tuanya tidak akan pernah menjemputnya. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka tidak akan perduli dengan Rafael. Tolong Bu, biarkan Sofia mengantarkannya pulang! Setelah itu Sofia janji akan langsung pulang ke rumah!"
"Sekali tidak tetap tidak!" ketus ibu Laura.
"Tidak apa-apa, Sofia! Aku bisa pulang sendiri!"
"Sofia, Ayo kita pulang!" ajak Ibu Laura. Lalu ibu Laura memandang Clara.
"Sudah, Bu Laura pulang saja! Nanti saya akan naik taksi. Oya, ini kunci motornya, Sofia!"
"Iya, Bu!"
"Sudah Kau pulang dulu! Biarkan ibumu tenang! Masalah Rafael ada ibu dan pak rektor di sini!" bisik Clara di telinga Sofia.
"Baiklah, Bu. Saya titip Rafael!" Clara menganggukan kepalanya. Kemudian
Sofia dan ibunya keluar dari kantor polisi pulang ke rumah.
To be continued ...
Ayo Beb, berikan karya ini Gift! Tahu dong caranya....
Ayo kasih semangat untuk Authornya......😁😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Rianti Dumai
owalla clara²,kata'a Queen mafia,,,tapi ngadepin curut² az pun bisa kena tendangan,,,😅
2024-07-27
0
Firman Firman
semngat
2024-06-28
0
Mulan Jameela
Ya Ampun Clara, kok ngeres.....🤣🤣
2022-09-29
1