Bab 6 : Kabar dari Sane

Dret ... Dret ... Dret

Ponsel Clara bergetar. Sudah berkali-kali. Tapi sang empunya belum keluar dari kamar mandi.

Satu jam kemudian. Wanita berparas ayu itu baru keluar dari kamar mandi. Dengan melilitkan handuk di kepalanya.

Dia berjalan menuju tempat tidur. Meraih benda pipih, yang tergeletak begitu saja. Setelah benda pipih itu dibuka, banyak sekali panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Clara mengernyitkan alisnya. Menerka-nerka siapa gerangan yang menelfon. Padahal nomor yang dia gunakan adalah nomor rahasia. Nomor yang hanya Papa dan Sane yang tahu. Sedangkan nomornya yang lama, sudah tidak aktif. Dengan kata lain Ponsel satunya, sudah tidak ia gunakan.

Clara sengaja melakukan itu. Supaya tidak ada seorangpun bisa melacak keberadaannya. Bergegas Clara menelfonnya balik.

Siapa? Siapa yang menghubungiku? Apakah Sane?

"Hallo?" aku langsung bertanya. Karena aku penasaran dengan penelfon misterius itu.

"Hallo, Nona! Bagaimana kabar Anda?"

"Sane. Kau kah itu?"

"Iya, Nona. Ini saya. Sane!"

"Oh, Syukurlah. Jadi Kau selamat?"

"Iya, Nona."

"Sekarang, Kau ada di mana?"

"Saya ada ditempat yang tidak seorangpun tahu, Nona. Saya aman!"

"Syukurlah, Sane. Aku senang mendengarnya!" ujar Clara, "Oya, Bagaimana dengan jenazah Papaku?"

"Sudah di makamkan, Nona. Di pemakaman keluarga. Tepat di samping Mama Anda. Jadi, Nona tenang saja!"

"Terimakasih banyak, Sane! Bagaimana dengan Perusahaan Papa?"

"Nona tenang saja. Tidak ada yang tahu siapa pemilik Perusahaan itu. Karena pemiliknya masih dirahasiakan sampai sekarang. Perusahaan aman!"

"Bagus, Sane! Aku suka dengan kerjamu!"

"Oya, Sane. Aku butuh motor. Bisakah Kau mengurusnya untukku? Jika aku membelinya sendiri, Aku tidak ada waktu. Sekarang aku bekerja!"

"Bekerja? Nona bekerja Apa?" heran Sane.

"Dosen."

"A-pa? Dosen!"

____

____

Senyap.

____

Hahahaha ...

Hahahaha ...

____

"Jangan menertawakan ku! Jika kita bertemu, Ku habisi Kau!"

"Iya, Iya, Nona. Maaf. Kelepasan!" Sane berusaha untuk menahan tawanya.

"Kok bisa Anda jadi dosen?" heran Sane.

"Aku tidak tahu. Aku sedang mengintai adikku. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Dia mengira aku ini dosen baru!"

____

Hahahaha ...

Sane kembali menertawakannya.

"Sane, berhentilah tertawa!" bentak Clara.

"Jika kau tidak berhenti tertawa, aku tutup teleponnya!"

"Iya, Iya. Maaf, Nona!"

"Aku terpaksa menjadi dosen di kampus itu. Tempat adikku menuntut ilmu!"

"Lalu?"

"Sane, Aku butuh motor untuk kendaraan."

"Kenapa tidak mobil saja, Nona?"

"Mau aku taruh dimana? Rumah adikku itu masuk gang!"

"Oh."

"Baiklah, Nona. Nanti saya suruh orang untuk mengantarkan ke Anda. Saya juga akan mengirim pengawal bayangan untuk melindungi Anda di sana!"

"Sane. Aku tidak butuh pengawal bayangan. Aku bisa mengatasi sendiri jika ada bahaya yang mengancam!"

"Iya. Aku tidak meragukan kemampuan Nona. Tapi, Anda harus hati-hati, Nona!"

"Lalu, Apa yang Kau lakukan disitu?"

"Hahahaha, tentu saja saya sedang berlibur, Nona!"

"Ish, Bisa-bisanya dalam suasana genting seperti ini Kau berlibur!"

"Astaga, Nona. Nona tenang saja. Meskipun aku sedang liburan, tapi, diam-diam aku sedang menyusun strategi untuk menghancurkan musuh!"

"Ck, Dasar kau ini!"

"Baiklah, Nona. Saya tutup dulu teleponnya! Nona tunggu saja, motor akan segera terkirim ke tempat Nona. Kirimkan saja alamat Nona!"

"Oke, Sane! Aku tunggu!"

Hhhhhhhhhh, akhirnya. Sebentar lagi aku punya motor!

Dari lantai atas, sayup-sayup Clara mendengar kalau ada orang yang sedang marah-marah. Dia dekatkan telinganya ke pintu. Dan benar, memang ada yang sedang marah. Sepertinya sedang memarahi Ibu Laura. Dengan sumpah serapahnya.

Tapi siapa ya?

Bergegas Clara turun ke bawah. Bu Laura dan Sofia sudah tersungkur di lantai. Sepertinya didorong oleh dua orang pengawal. Dan seorang lagi, memaki serta mengumpat dengan kata-kata yang kotor dan kasar.

Sofia bangun. Karena tidak terima ibunya diperlukan seperti itu. Dengan berani dia menampar pria yang nampak sudah berumur.

PLAKKK ...

Ibu Laura terkejut dengan perbuatan anaknya. Sofia juga terkejut. Dia tidak menyangka dirinya berani menampar rentenir itu. Rentenir yang terkenal kejam dan tak punya hati.

Pria itu terlihat sangat marah. Tatapan matanya tajam. Tangannya terangkat hendak memukul Sofia. Gegas Clara menepisnya.

"Siapa kalian? Beraninya melawan kaum lemah?" bentak Clara.

"Harusnya, Aku yang bertanya. Kau ini siapa? Dia sudah berani menamparku. Jadi terimalah balasanku!" teriaknya dengan lantang. Berusaha untuk menghajar wajah polos Sofia.

Clara menggenggam tangan kokoh itu. Menepisnya kasar. Menghajar perut buncit pria tua itu. Pria itu jatuh tersungkur. Mengaduh kesakitan di bagian perutnya.

"Dasar kurang ajar!" serunya, "Bagong, Bejo! Hajar wanita itu!"

Bugh .. Bugh ... Bugh

BRAKK ...

Perkelahiannpun tidak terelakkan, Clara menghajar kedua pengawal dengan tendangan dan tinjunya. Dia tak memakai senjata tajam. Hanya dengan tangan kosong sudah membuat dua pengawal itu babak belur.

Bu Laura yang tadinya berteriak melarang Clara untuk melawan rentenir itu. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Dia menelan salivanya dengan susah payah.

BUGH ... BUGH ... BUGH

Clara menghajarnya lagi. Tanpa ampun, tanpa perasaan. Seperti dirinya saat menjadi seorang Queen Mafia.

Bu Laura tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu orang perempuan berhasil mengalahkan dua orang preman bertubuh besar. Dua preman itu keok. Mereka jatuh tersungkur dengan muka yang babak belur. Juragan Pendi meminta maaf. Dia nampak ketakutan.

Sementara Sofia tidak berhenti berkedip. Dia pikir wanita yang berpenampilan cupu, adalah seorang wanita lemah. Ternyata dibalik kaca mata tebalnya, dia wanita yang sangat hebat.

Sssss-siapa dia sebenarnya?

"Aku tidak suka ada seseorang yang menyakiti perempuan. Apalagi sampai melukainya!"

"Ma-maafkan Saya. Saya hanya menagih uang saja!"

"Menagih uang?"

"Iya. Bu Laura berhutang kepada saya sebesar Lima ratus juta!"

"A-pa?"

"Saya belum punya uang sebanyak itu. Saya hanya memiliki uang ini!" Bu Laura menyodorkan amplop coklat yang Clara berikan tadi pagi, "Inipun uang dari Neng Clara. Tapi orang-orang ini tidak mau terima. Dia malah memaksa mengambil rumah ini! Jika rumah ini diambil, saya dan anak saya tinggal dimana? Terpaksa saya melawannya!" isaknya.

"Lima ratus juta! Akan saya berikan besok!"

"Apa?" juragan Pendi menatap penuh keheranan dengan wanita cantik yang barusan menghajarnya.

"Apa Kau sudah tuli? Akan aku berikan BESOK!" bentak Clara, membuat juragan Pendi menciut.

"Kau tidak bohong kan?"

"Aku bukan seorang pembohong!" teriaknya lagi.

"Ba-baiklah. Aku percaya. Besok aku akan datang kesini lagi!"

Hush ... Hush ... Hush

"Pergilah!" Clara mengepalkan tangannya ke udara.

"Iya, Iya, Nona. Kami akan pergi!" bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Mereka takut dibuat babak belur lagi. Karena Juragan Pendi merasa kalau dirinya memiliki wajah yang jelek, jika dibuat babak belur, dia takut istrinya tidak mengenalinya lagi.

"Waaaah! Bu Clara keren!" Sofia mengacungi tiga jempol ke arah Clara. Dan jempol satunya jempol kaki. Membuat Clara mendengus kesal.

"Terima kasih banyak, Neng. Ibu nggak nyangka Neng tuh hebat banget!" puji Bu Laura.

"Ah, Bu Laura bisa saja! Saya bisa bela diri untuk diri saya sendiri. Banyak orang jahat sekarang ini, jadi, seorang wanita harus belajar membela dirinya sendiri!" kekehnya, "Kenapa ibu bisa sampai hutang sebanyak itu?"

Bu Laura mendudukkan pantatnya dikursi. Dia nampak sedih mengingat masa lalu. Sementara Sofia duduk disebelah ibunya.

"Saya terpaksa, Neng! Saya butuh uang banyak saat itu. Untuk mengobati Sofia yang sempat dirawat di RS!"

"Kenapa memangnya?" Clara berusaha untuk mengorek informasi dari wanita paruh baya itu.

"Saat Sofia berumur empat belas tahun, ginjal Sofia bermasalah. Dokter menyarankan untuk transplantasi ginjal agar Sofia selamat! Saat itu, ibu hanya berpikir untuk kesembuhan Sofia. Ibu nggak perduli dampak setelah itu. Ibu pun meminjam uang ke Juragan Pendi yang seorang rentenir! Awalnya hanya pinjam 300 juta, tapi, sekian tahun bunganya bertambah hingga 500 juta!" jelas Laura.

Aku tidak menyangka kehidupan saudara tiri ku dengan ibunya berbanding terbalik dengan diriku. Di rumah, Apapun yang aku inginkan selalu terpenuhi! Apapun yang aku mau selalu ada. Tapi, mereka ...

Clara menghela nafasnya panjang.

Papa, Apakah ini yang Kau maksud, supaya aku bisa melindungi dan menjaga mereka? Tapi kenapa, Pa? Kenapa tidak dari dulu Papa membantu kehidupan mereka? Kenapa tugas ini kau serahkan padaku?

To be continued ...

Mana dukungannya?????

Terpopuler

Comments

NOiR🥀

NOiR🥀

struggle is real 💪...dude

2024-08-27

1

Firman Firman

Firman Firman

lnjut mntab

2024-06-28

0

Mulan Jameela

Mulan Jameela

Wkwkwk....

2022-09-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2 Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3 Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4 Bab 4 : Clara Lunoks
5 Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6 Bab 6 : Kabar dari Sane
7 Bab 7 : Kembali Mengajar
8 Bab 8 : Mencari Rafael 1
9 Bab 9 : Mencari Rafael 2
10 Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11 Bab 11 : Mengulik Informasi
12 Bab 12 : Motor Baru
13 Bab 13 : Tentang Rafael
14 Bab 14 : Tamu tak Diundang
15 Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16 Bab 16 : Kabar Kematian
17 Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18 Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19 Bab 19 : Dosen Cabul
20 Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21 Bab 21 : Empat Begal
22 Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23 Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24 Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25 Bab 25 : Tentang Bastian
26 Bab 26 : Penjahat Kelamin
27 Bab 27 : Eksekusi
28 Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29 Bab 29 : Penyerangan
30 Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31 Bab 31 : Tugas Dari Clara
32 Bab 32 : Mafia Liar
33 Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34 Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35 Bab 35 : Kencan 1
36 Bab 36 : Kencan 2
37 Bab 37 : Numpang Promo
38 Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39 Bab 39 : Kepergian Clara
40 Bab 40 : Perasaan Kecewa
41 Bab 41 : Finlandia
42 Bab 42 : Kekesalan Hati
43 Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44 Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45 Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46 Bab 46 : Penyerangan
47 Bab 47 : Clara anakmu
48 Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49 Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50 Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51 Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52 Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53 Bab 53 : Latihan Dansa
54 Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55 Bab 55 : Perkenalan
56 Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57 Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58 Bab 58 : Mendapat Restu
59 Bab 59 : Isi Hati Shane
60 Bab 60 : Di Begal
61 Bab 61 : Acara Lamaran
62 Bab 62 : Hari Pernikahan
63 Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64 Bab 64 : Malam Pertama 1
65 Bab 65 : Pesta Dansa
66 Bab 66 : Martin mati Kutu
67 Bab 67 : Malam Pertama 2
68 Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69 Bab 69 : Penculikan
70 Bab 70 : Mafia Queen 1
71 Bab 71 : Queen Mafia 2
72 Bab 72 : Queen Mafia 3
73 Bab 73 : Mencari Clara 1
74 Bab 74 : Mencari Clara 2
75 Bab 75 : Kedatangan Niko
76 Bab 76 : Promosi
77 Bab 77 : Mencintaimu
78 Bab 78 : Honey Moon 1
79 Bab 79 : Honey Moon 2
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2
Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3
Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4
Bab 4 : Clara Lunoks
5
Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6
Bab 6 : Kabar dari Sane
7
Bab 7 : Kembali Mengajar
8
Bab 8 : Mencari Rafael 1
9
Bab 9 : Mencari Rafael 2
10
Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11
Bab 11 : Mengulik Informasi
12
Bab 12 : Motor Baru
13
Bab 13 : Tentang Rafael
14
Bab 14 : Tamu tak Diundang
15
Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16
Bab 16 : Kabar Kematian
17
Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18
Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19
Bab 19 : Dosen Cabul
20
Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21
Bab 21 : Empat Begal
22
Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23
Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24
Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25
Bab 25 : Tentang Bastian
26
Bab 26 : Penjahat Kelamin
27
Bab 27 : Eksekusi
28
Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29
Bab 29 : Penyerangan
30
Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31
Bab 31 : Tugas Dari Clara
32
Bab 32 : Mafia Liar
33
Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34
Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35
Bab 35 : Kencan 1
36
Bab 36 : Kencan 2
37
Bab 37 : Numpang Promo
38
Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39
Bab 39 : Kepergian Clara
40
Bab 40 : Perasaan Kecewa
41
Bab 41 : Finlandia
42
Bab 42 : Kekesalan Hati
43
Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44
Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45
Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46
Bab 46 : Penyerangan
47
Bab 47 : Clara anakmu
48
Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49
Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50
Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51
Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52
Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53
Bab 53 : Latihan Dansa
54
Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55
Bab 55 : Perkenalan
56
Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57
Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58
Bab 58 : Mendapat Restu
59
Bab 59 : Isi Hati Shane
60
Bab 60 : Di Begal
61
Bab 61 : Acara Lamaran
62
Bab 62 : Hari Pernikahan
63
Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64
Bab 64 : Malam Pertama 1
65
Bab 65 : Pesta Dansa
66
Bab 66 : Martin mati Kutu
67
Bab 67 : Malam Pertama 2
68
Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69
Bab 69 : Penculikan
70
Bab 70 : Mafia Queen 1
71
Bab 71 : Queen Mafia 2
72
Bab 72 : Queen Mafia 3
73
Bab 73 : Mencari Clara 1
74
Bab 74 : Mencari Clara 2
75
Bab 75 : Kedatangan Niko
76
Bab 76 : Promosi
77
Bab 77 : Mencintaimu
78
Bab 78 : Honey Moon 1
79
Bab 79 : Honey Moon 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!