Dret ... Dret ... Dret
Ponsel Clara bergetar. Sudah berkali-kali. Tapi sang empunya belum keluar dari kamar mandi.
Satu jam kemudian. Wanita berparas ayu itu baru keluar dari kamar mandi. Dengan melilitkan handuk di kepalanya.
Dia berjalan menuju tempat tidur. Meraih benda pipih, yang tergeletak begitu saja. Setelah benda pipih itu dibuka, banyak sekali panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Clara mengernyitkan alisnya. Menerka-nerka siapa gerangan yang menelfon. Padahal nomor yang dia gunakan adalah nomor rahasia. Nomor yang hanya Papa dan Sane yang tahu. Sedangkan nomornya yang lama, sudah tidak aktif. Dengan kata lain Ponsel satunya, sudah tidak ia gunakan.
Clara sengaja melakukan itu. Supaya tidak ada seorangpun bisa melacak keberadaannya. Bergegas Clara menelfonnya balik.
Siapa? Siapa yang menghubungiku? Apakah Sane?
"Hallo?" aku langsung bertanya. Karena aku penasaran dengan penelfon misterius itu.
"Hallo, Nona! Bagaimana kabar Anda?"
"Sane. Kau kah itu?"
"Iya, Nona. Ini saya. Sane!"
"Oh, Syukurlah. Jadi Kau selamat?"
"Iya, Nona."
"Sekarang, Kau ada di mana?"
"Saya ada ditempat yang tidak seorangpun tahu, Nona. Saya aman!"
"Syukurlah, Sane. Aku senang mendengarnya!" ujar Clara, "Oya, Bagaimana dengan jenazah Papaku?"
"Sudah di makamkan, Nona. Di pemakaman keluarga. Tepat di samping Mama Anda. Jadi, Nona tenang saja!"
"Terimakasih banyak, Sane! Bagaimana dengan Perusahaan Papa?"
"Nona tenang saja. Tidak ada yang tahu siapa pemilik Perusahaan itu. Karena pemiliknya masih dirahasiakan sampai sekarang. Perusahaan aman!"
"Bagus, Sane! Aku suka dengan kerjamu!"
"Oya, Sane. Aku butuh motor. Bisakah Kau mengurusnya untukku? Jika aku membelinya sendiri, Aku tidak ada waktu. Sekarang aku bekerja!"
"Bekerja? Nona bekerja Apa?" heran Sane.
"Dosen."
"A-pa? Dosen!"
____
____
Senyap.
____
Hahahaha ...
Hahahaha ...
____
"Jangan menertawakan ku! Jika kita bertemu, Ku habisi Kau!"
"Iya, Iya, Nona. Maaf. Kelepasan!" Sane berusaha untuk menahan tawanya.
"Kok bisa Anda jadi dosen?" heran Sane.
"Aku tidak tahu. Aku sedang mengintai adikku. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Dia mengira aku ini dosen baru!"
____
Hahahaha ...
Sane kembali menertawakannya.
"Sane, berhentilah tertawa!" bentak Clara.
"Jika kau tidak berhenti tertawa, aku tutup teleponnya!"
"Iya, Iya. Maaf, Nona!"
"Aku terpaksa menjadi dosen di kampus itu. Tempat adikku menuntut ilmu!"
"Lalu?"
"Sane, Aku butuh motor untuk kendaraan."
"Kenapa tidak mobil saja, Nona?"
"Mau aku taruh dimana? Rumah adikku itu masuk gang!"
"Oh."
"Baiklah, Nona. Nanti saya suruh orang untuk mengantarkan ke Anda. Saya juga akan mengirim pengawal bayangan untuk melindungi Anda di sana!"
"Sane. Aku tidak butuh pengawal bayangan. Aku bisa mengatasi sendiri jika ada bahaya yang mengancam!"
"Iya. Aku tidak meragukan kemampuan Nona. Tapi, Anda harus hati-hati, Nona!"
"Lalu, Apa yang Kau lakukan disitu?"
"Hahahaha, tentu saja saya sedang berlibur, Nona!"
"Ish, Bisa-bisanya dalam suasana genting seperti ini Kau berlibur!"
"Astaga, Nona. Nona tenang saja. Meskipun aku sedang liburan, tapi, diam-diam aku sedang menyusun strategi untuk menghancurkan musuh!"
"Ck, Dasar kau ini!"
"Baiklah, Nona. Saya tutup dulu teleponnya! Nona tunggu saja, motor akan segera terkirim ke tempat Nona. Kirimkan saja alamat Nona!"
"Oke, Sane! Aku tunggu!"
Hhhhhhhhhh, akhirnya. Sebentar lagi aku punya motor!
Dari lantai atas, sayup-sayup Clara mendengar kalau ada orang yang sedang marah-marah. Dia dekatkan telinganya ke pintu. Dan benar, memang ada yang sedang marah. Sepertinya sedang memarahi Ibu Laura. Dengan sumpah serapahnya.
Tapi siapa ya?
Bergegas Clara turun ke bawah. Bu Laura dan Sofia sudah tersungkur di lantai. Sepertinya didorong oleh dua orang pengawal. Dan seorang lagi, memaki serta mengumpat dengan kata-kata yang kotor dan kasar.
Sofia bangun. Karena tidak terima ibunya diperlukan seperti itu. Dengan berani dia menampar pria yang nampak sudah berumur.
PLAKKK ...
Ibu Laura terkejut dengan perbuatan anaknya. Sofia juga terkejut. Dia tidak menyangka dirinya berani menampar rentenir itu. Rentenir yang terkenal kejam dan tak punya hati.
Pria itu terlihat sangat marah. Tatapan matanya tajam. Tangannya terangkat hendak memukul Sofia. Gegas Clara menepisnya.
"Siapa kalian? Beraninya melawan kaum lemah?" bentak Clara.
"Harusnya, Aku yang bertanya. Kau ini siapa? Dia sudah berani menamparku. Jadi terimalah balasanku!" teriaknya dengan lantang. Berusaha untuk menghajar wajah polos Sofia.
Clara menggenggam tangan kokoh itu. Menepisnya kasar. Menghajar perut buncit pria tua itu. Pria itu jatuh tersungkur. Mengaduh kesakitan di bagian perutnya.
"Dasar kurang ajar!" serunya, "Bagong, Bejo! Hajar wanita itu!"
Bugh .. Bugh ... Bugh
BRAKK ...
Perkelahiannpun tidak terelakkan, Clara menghajar kedua pengawal dengan tendangan dan tinjunya. Dia tak memakai senjata tajam. Hanya dengan tangan kosong sudah membuat dua pengawal itu babak belur.
Bu Laura yang tadinya berteriak melarang Clara untuk melawan rentenir itu. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Dia menelan salivanya dengan susah payah.
BUGH ... BUGH ... BUGH
Clara menghajarnya lagi. Tanpa ampun, tanpa perasaan. Seperti dirinya saat menjadi seorang Queen Mafia.
Bu Laura tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu orang perempuan berhasil mengalahkan dua orang preman bertubuh besar. Dua preman itu keok. Mereka jatuh tersungkur dengan muka yang babak belur. Juragan Pendi meminta maaf. Dia nampak ketakutan.
Sementara Sofia tidak berhenti berkedip. Dia pikir wanita yang berpenampilan cupu, adalah seorang wanita lemah. Ternyata dibalik kaca mata tebalnya, dia wanita yang sangat hebat.
Sssss-siapa dia sebenarnya?
"Aku tidak suka ada seseorang yang menyakiti perempuan. Apalagi sampai melukainya!"
"Ma-maafkan Saya. Saya hanya menagih uang saja!"
"Menagih uang?"
"Iya. Bu Laura berhutang kepada saya sebesar Lima ratus juta!"
"A-pa?"
"Saya belum punya uang sebanyak itu. Saya hanya memiliki uang ini!" Bu Laura menyodorkan amplop coklat yang Clara berikan tadi pagi, "Inipun uang dari Neng Clara. Tapi orang-orang ini tidak mau terima. Dia malah memaksa mengambil rumah ini! Jika rumah ini diambil, saya dan anak saya tinggal dimana? Terpaksa saya melawannya!" isaknya.
"Lima ratus juta! Akan saya berikan besok!"
"Apa?" juragan Pendi menatap penuh keheranan dengan wanita cantik yang barusan menghajarnya.
"Apa Kau sudah tuli? Akan aku berikan BESOK!" bentak Clara, membuat juragan Pendi menciut.
"Kau tidak bohong kan?"
"Aku bukan seorang pembohong!" teriaknya lagi.
"Ba-baiklah. Aku percaya. Besok aku akan datang kesini lagi!"
Hush ... Hush ... Hush
"Pergilah!" Clara mengepalkan tangannya ke udara.
"Iya, Iya, Nona. Kami akan pergi!" bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Mereka takut dibuat babak belur lagi. Karena Juragan Pendi merasa kalau dirinya memiliki wajah yang jelek, jika dibuat babak belur, dia takut istrinya tidak mengenalinya lagi.
"Waaaah! Bu Clara keren!" Sofia mengacungi tiga jempol ke arah Clara. Dan jempol satunya jempol kaki. Membuat Clara mendengus kesal.
"Terima kasih banyak, Neng. Ibu nggak nyangka Neng tuh hebat banget!" puji Bu Laura.
"Ah, Bu Laura bisa saja! Saya bisa bela diri untuk diri saya sendiri. Banyak orang jahat sekarang ini, jadi, seorang wanita harus belajar membela dirinya sendiri!" kekehnya, "Kenapa ibu bisa sampai hutang sebanyak itu?"
Bu Laura mendudukkan pantatnya dikursi. Dia nampak sedih mengingat masa lalu. Sementara Sofia duduk disebelah ibunya.
"Saya terpaksa, Neng! Saya butuh uang banyak saat itu. Untuk mengobati Sofia yang sempat dirawat di RS!"
"Kenapa memangnya?" Clara berusaha untuk mengorek informasi dari wanita paruh baya itu.
"Saat Sofia berumur empat belas tahun, ginjal Sofia bermasalah. Dokter menyarankan untuk transplantasi ginjal agar Sofia selamat! Saat itu, ibu hanya berpikir untuk kesembuhan Sofia. Ibu nggak perduli dampak setelah itu. Ibu pun meminjam uang ke Juragan Pendi yang seorang rentenir! Awalnya hanya pinjam 300 juta, tapi, sekian tahun bunganya bertambah hingga 500 juta!" jelas Laura.
Aku tidak menyangka kehidupan saudara tiri ku dengan ibunya berbanding terbalik dengan diriku. Di rumah, Apapun yang aku inginkan selalu terpenuhi! Apapun yang aku mau selalu ada. Tapi, mereka ...
Clara menghela nafasnya panjang.
Papa, Apakah ini yang Kau maksud, supaya aku bisa melindungi dan menjaga mereka? Tapi kenapa, Pa? Kenapa tidak dari dulu Papa membantu kehidupan mereka? Kenapa tugas ini kau serahkan padaku?
To be continued ...
Mana dukungannya?????
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
NOiR🥀
struggle is real 💪...dude
2024-08-27
1
Firman Firman
lnjut mntab
2024-06-28
0
Mulan Jameela
Wkwkwk....
2022-09-29
0