Clara memandangi rumah mewah bercat putih dan kuning gading itu. Dan tentunya sangat nyaman jika ditinggali. Namun, kenapa Rafael sampai tidak betah di rumah seperti itu? Itu yang menjadikan sebuah PR untuk Clara sendiri.
Clara dan Sofia masuk, setelah dipersilahkan masuk si empunya rumah. Bu Han terlihat ramah, sedangkan suaminya terlihat sangat judes. Lalat saja nggak akan mau melihat muka judesnya Pak Han.
Untung Rafael yang terlihat ganteng ikut Mamanya, coba kalau Bapaknya! batin Clara.
"Silahkan duduk!" Bu Han mempersilahkan Clara duduk. Clara pun duduk, di ikuti oleh Sofia.
"Terimakasih." Karena mendapat perlakuan yang ramah dari Bu Han, tentu Clara harus mengulas senyumnya dong!
"Ada apa Bu Dosen kemari?" tanya Pak Han sedikit ketus.
"Saya to the points saja, Pak Han! Pertama saya ingin meminta maaf karena kemarin saya sudah berbicara tidak sopan pada Anda! Dan yang kedua, Saya mohon, Anda jangan bersikap egois! Hanya masalah seperti ini, Anda langsung mengundurkan diri sebagai seorang donatur!" ujarnya.
"Wah, Wah! Anda sangat jujur sekali ya! Langsung ke inti masalahnya!" ucapnya tersenyum penuh arti.
"Tentu. Karena saya tipikal orang yang tidak suka berbelit-belit!" sahutnya.
"Tapi sayangnya jawaban yang akan saya berikan pada Ibu dosen, tidak sesuai harapan Ibu dosen!"
"Maksud Bapak?" Clara mengerutkan keningnya.
"Maksud saya sudah jelas. Saya sudah tidak mau menjadi donatur tetap kampus itu!" tegas Han.
Dasar pria tua bangka! Keras kepala!
"Dan Saya berencana memindahkan Rafael ke universitas luar negeri!" imbuhnya lagi.
Sofia yang sedari tadi hanya duduk diam mendengarkan obrolan kami, tiba-tiba saja terkejut.
Hhhhhhhhh, percuma bicara sopan dengan orang seperti itu!
Sabar Clara! Kamu harus sabar!
Sabar!
Sabar!
"Baiklah, jika memang itu keputusan Bapak! Saya juga tidak akan memaksa! Yang terpenting saya sudah meminta maaf. Bukankah yang muda harus meminta maaf terlebih dulu pada orang tua seperti Anda!" ujarnya, Han manggut -manggut sambil tersenyum, "Apalagi pada orang tua yang sudah bau tanah!" lirih Clara namun masih bisa didengar oleh pria tua itu.
Tiba-tiba Han mendelik kan matanya. Menatap tajam ke arah Clara. Kemudian Istrinya menarik lengan suaminya, dia tidak mau sampai suaminya memaki-maki seorang dosen perempuan.
"Sofia, Ayo kita pulang!" ajak Clara.
"Iya, Bu!"
"Permisi Pak Han, Bu Han! Kami pulang!"
"Silahkan! Hati-hati di jalan, Bu!" ucap Cynthia ramah. Sementara suaminya hanya membuang mukanya kesal.
_____
_____
Clara mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, namun tiba-tiba Sofia menepuk pundak Clara agar berhenti. Dengan sigap Clara pun menghentikan motor maticnya.
Ciiiieeeeeeetttt ..
"Ish, Ada apa sih?" gerutu dosennya.
"Bu, Saya berhenti di depan!"
"Kamu mau kemana?"
"Saya ada urusan, Bu!"
"Yakin turun disini?"
"Iya, Bu."
"Baiklah. Kamu hati-hati ya!"
"Terimakasih banyak ya, Bu!"
Dia hanya bisa melihat Sofia menaiki angkutan umum. Entah mau kemana anak itu. Clara pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
____
____
Sofia mencari Rafael di basecamp nya. Hanya tempat itu, tempat ternyaman bagi Rafael.
"Rafael!" panggil Sofia melihat sang kekasih duduk melamun di atas atap.
"Sofia! Kemana saja kamu? Dari tadi aku berusaha menghubungimu!"
"Maafkan aku! Aku ada kelas siang!"
"Duduklah!"
Mereka terdiam sejenak. Kemudian Sofia menoleh ke arah kekasihnya. Dia pun berhambur ke pelukan Rafael. Terisak di sana. Di dada bidang Rafael. Tempat paling ternyaman.
"Tadi aku dan Bu Clara datang ke rumah mu!"
"Ke rumah! Untuk apa?"
"Bu Clara ingin meminta maaf pada Papamu! Dan Bu Clara juga membujuk Papamu untuk menjadi donatur lagi di kampus, tapi Papamu menolak!" jelas Sofia, "Apakah benar kau akan pindah ke luar negeri?" manik gadis itu meminta jawaban pasti dari kekasihnya.
"Itu. I-ya, Sofia," jawab Rafael tertunduk lesu, "Tapi aku tidak akan menuruti keinginan Papa. Aku akan tetap disini! Kau jangan khawatir!"
"Rafael, Papamu sangat berkuasa. Dia pasti akan menggunakan segala cara untuk membujuk mu atau paling nggak dia akan melakukan berbagai cara agar kamu mau menurutinya!"
"Kau tenang saja! Aku akan selalu ada di dekatmu!"
"Benarkah?"
"Tentu. Aku sayang kamu Sofia!"
"Aku juga!"
"Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama! Kita tidak terpisahkan! Kau ingat itu!" Sofia menganggukkan kepalanya. Dia sangat terharu mendengarkan kata-kata Rafael.
Rafael itu sosok yang penyayang. Meskipun terlihat urakan, sebenarnya dia pria yang baik. Dia hanya seorang anak yang kesepian. Kehadiran Sofia merubah segalanya. Dan merubah dunianya.
°°°°°°
Keesokkan Paginya
Clara memarkirkan kendaraannya di parkiran khusus dosen. Kemudian dia melihat Pak Bima, tentu Clara menyapanya dengan ramah. Begitu juga sebaliknya.
Sebenarnya Pak Bima lumayan ganteng. Tapi Clara pikir, ada sesuatu yang aneh dengan bujang lapuk itu. Jika diajak mengobrol, entah kenapa tatapannya selalu menunduk.
"Selamat pagi, Pak Bima!" sapa Clara
"Pagi, Bu Clara!"
"Wah, Pak Bima terlihat sangat senang hari ini!" ujarnya.
"Ah, Ibu tahu saja kalau saya sedang senang!" gelaknya.
"Habis dapat lotre ya, Pak!"
Hahahaha ...
"Ibu bisa saja!" kekehnya.
"Bu Clara!" panggil seseorang.
"Iya,"
"Ibu dipanggil Pak Rektor! Katanya penting!"
Ada apa ya?
"Okey, Okey, Bu Lidia! Saya langsung ke sana! Terimakasih banyak, Bu!"
"Iya, Bu!"
"Mari Pak Bima!" pamit Clara.
"Silahkan, Bu Clara!"
Dengan terburu-buru Clara mendatangi ruangan Fabyan. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di dalam otaknya. Kenapa Pak Rektor tiba-tiba menginginkan dia untuk datang ke ruangannya. Apakah ini terkait masalah Rafael? Atau masalah yang lain!
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!" suara Fabyan dari dalam.
"Apakah Pak Rektor ada perlu dengan saya?"
"Iya, Bu! Silahkan duduk!" Fabyan mempersilahkan Clara duduk.
Clara melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ternyata ada tamu di ruangan Pak Fabyan. Clara pun hendak menyapa tamu tersebut.
Namun betapa terkejut Clara, setelah mengetahui siapakah tamu yang sedang duduk itu.
"Bu Clara perkenalkan, Ini Pak Shane! Dia adalah kaki tangan dari pemilik Perusahaan LNX!"
"A-pa?"
Terkejut! Itulah yang sekarang sedang dirasakan Clara Lunoks. Bagaimana tidak terkejut. Dia berjumpa dengan Shane di sini. Di kota ini. Dan kampus ini.
"Perusahaan besar LNX adalah salah satu Perusahaan besar di Indonesia. Dan pimpinan Perusahaan tersebut bersedia menjadi donatur tetap kampus kita! Dan Pak Shane ini adalah asisten yang mengurus semua!" jelas Fabyan.
OMG! Berani-beraninya Shane melakukan sebuah tindakan tanpa meminta persetujuan dariku! Awas Kau ya!
"Lalu siapa pemilik Perusahaan LNX? Kenapa pemiliknya nggak langsung datang kemari?" sebuah pertanyaan jebakan dilontarkan Clara.
Hahaha ...
"Maaf, Bu Dosen! Pemilik Perusahaan kami sibuk. Jarang di Indonesia! Jadi, Saya adalah perwakilan beliau!"
Oh, pintar sekali Kau Shane! Apakah Kau sedang mengerjai ku Shane?
"Bu Dosen bisa memeriksa surat-suratnya! Semuanya asli! Kami tidak menipu!"
Hahahaha ...
Ternyata dia ingin bermain-main denganku!
Lucu sekali!
"Bagaimana Bu Clara?" tanya Fabyan.
"Eh, itu sih terserah Pak Fabyan saja! Karena Pak Fabyan kan putra pemilik kampus! Jadi mana berani saya yang memberikan keputusan!" jawabnya.
"Kalau begitu, baiklah! Kami menyetujuinya!" ucap Fabyan. Mereka pun saling berjabat tangan.
Shane terlihat bahagia. Kemudian mengulas senyum di bibirnya. Dia melempar pandangannya ke arah Clara. Mengedipkan satu matanya, memberi kode bahwa rencananya sudah berhasil.
"Ck."
To be continued .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Firman Firman
lnjut
2024-06-28
1
Natalia Luis Naik0fi
Si Clara msa mafia ko trllu lemot
2024-06-03
0
Daniela Whu
knp clara jd lemot otakx... suruh sj shean cari tau perusahanx pak han lalu hancurkan diam" beres kan kl gk mau jd donatur lg kan ada kmu yg super kaya... shen sruh nyamar jd donatur baru gitu lo
2023-05-22
0