Kampus
Clara berjalan dengan santai. Tentu saja masih memakai kacamata tebalnya. Menjadi sebuah perhatian di kampus. Termasuk mahasiswa cowok, yang berusaha menggoda atau mengejek. Dia tidak perduli.
Menyapa beberapa dosen. Dan menyapa rektor tampan yang sangat mempesona. Entah kenapa jika didekati olehnya jantungnya berdegup dengan kencang. Biasanya juga pria-pria yang mendekati dirinya, tidak pernah sekalipun membuatnya berdetak seperti ini. Clara merutuki jantungnya sendiri.
Ck, benar-benar memalukan!
"Selamat pagi, Bu Clara!" sapa Byan. Berhenti sebentar untuk menyapa Clara. Lalu berjalan kembali menuju ruangannya.
Siapa coba yang tidak terpesona dengannya? Saat menyapa saja, membuat hatiku meleleh!
Ish, Apa yang kau pikirkan Clara? Kau ini seperti tidak pernah melihat pria tampan saja! gerutunya sambil memukul pelan otaknya yang sedikit koslet.
Tapi dia memang sangat tampan sih!
"Hayo! Lagi terpesona sama Pak Rektor ya!" suara itu membuat Clara terkejut. Dia menoleh ke arah sumber suara itu, kemudian mencebikkan bibirnya hingga lima centi.
"Sofia!"
"Hehehehe."
"Pak Rektor itu memang tampan. Dan ketampanannya memang tidak diragukan kembali. Tapi sayang ... !"
"Sayang kenapa?"
"Dia sudah punya calon istri."
"Hehehehe. Memangnya itu penting bagi saya!" jawab Clara seraya berlalu pergi. Sofia mengejar Clara dibelakangnya.
"Pak Rektor itu selain tampan, keluarganya adalah pemilik kampus ini!" ujar Sofia membuat langkah Clara terhenti.
"Jadi dia anak pemilik kampus ini?"
Sofia menganggukkan kepalanya.
"Tapi Ibu jangan coba-coba jatuh cinta pada Pak Rektor. Kalau tidak mau berurusan dengan calon istri Pak Rektor yang super galak itu!"
"Ck," Clara mencebik kesal.
Siapa coba yang jatuh cinta? Aku ini hanya sedikit terpesona dengan keramahan Pak Rektor saja!
"Cepat masuk! Nanti Kau terlambat!"
Clara memasuki ruangan dosen. Semua dosen di sana menyapanya dengan ramah. Termasuk Pak Bima.
Pria lajang yang sering dipanggil bujang lapuk ini terus memperhatikannya. Clara mengulas senyum manis, sebagai awal keramah tamahan sesama dosen. Pak Bima pun membalas senyuman itu.
Dia mengambil beberapa buku, dan sebentar mempelajarinya. Meskipun pernah duduk di bangku kuliah, dia sedikit lupa dengan apa yang dipelajarinya. Maklumlah, dunia hitam sudah mengubah cara pandang dan berpikir seseorang.
Clara termasuk wanita yang cerdas. Sebentar belajar, cukup ilmu yang akan dia bagikan hari ini untuk kelasnya nanti. Setidaknya hari ini akan menjadi awal yang baik selama menjadi seorang dosen.
Clara masuk ke kelasnya. Menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya. Ah, apakah karena gugup. Perutnya terasa mulas. Dia menggerutu sendiri di dalam hati.
"Selamat pagi anak-anak!" sapanya.
"Selamat pagi, Bu!"
"Kalian sudah mengenal saya bukan?"
"Iya, Bu."
"Karena sudah mengenal saya, kita tidak perlu berkenalan lagi. Oke!" serunya kepada semua mahasiswa dan mahasiswa di kelasnya, "Sekarang kalian buka buku kalian halaman 126, dan saya akan menjelaskan sedikit disini!"
Layaknya seorang yang profesional, Clara mengajar di depan mahasiswa dan mahasiswinya. Untung, dia pernah menjadi pelatih beladiri. Jadi tidak sulit untuknya untuk bersosialisasi dengan banyak orang.
Cara mengajarnya yang santai dan mudah dimengerti banyak anak didiknya yang bisa menerima materi yang diajarkan oleh sang dosen. Dua jam pelajaran dia memberikan materi. Akhirnya kelas selesai juga.
Ah, lelahnya!
Clara menyenderkan tubuhnya di kursi. Menarik otot-ototnya. Sedikit menyeka keringat yang mengalir di dahi. Dan itu keringat yang dihasilkan karena andrenalin nya merasa tertantang di dalam kelas.
Ya Ampun. Aku harusnya menjadi guru bela diri atau pelatih menembak. Kenapa harus jadi dosen sih?
"Wah, Ibu hebat! Dalam sekejap mereka menyukai Ibu!" ucap Sofie mendekat ke arahnya.
Aku baru sadar ternyata Sofia adalah anak didiknya juga!
"Sofia! Ternyata kau mahasiswi ku?"
"Iya, Bu." kekehnya, "Iya sudah. Sofia gabung sama teman-teman ya, Bu!"
"Tunggu! Kamu mau nyamperin pacar kamu!"
"Hehehe. Iya, Bu!"
"Sofia, Kamu harus dengar pesan Ibumu! Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan cowok seperti ... !"
"Rafael. Maksud ibu!"
"Yups."
"Bu, dia itu cowok saya. Jadi kemanapun dia pergi saya akan mengikutinya!"
"Melompat ke sumur sekalipun!" seru Clara, "Jika memang dia itu cowok kamu, harusnya mengajarimu sesuatu yang positif. Bukan malah mengajakmu tawuran atau sebagainya!"
"Ingat, Sofia. Di belakang kamu ada seorang ibu yang menaruh harapan besar padamu. Apakah Kau tega mengecewakannya?"
Sofia menoleh ke arah Clara. Sedikit ada rasa bersalah di hati Sofia. Matanya sedikit berair, tapi, dia mengusapnya dengan cepat.
"Ibu tidak tahu kehidupan seperti apa yang saya jalani! Sejak dulu, hidup saya sudah susah. Dihina dan dicaci maki, adalah makanan keseharian saya. Hanya mereka yang mau menerima saya dengan tangan terbuka. Rafael dan juga teman-temannya!" seru Sofia. Kemudian dia berlalu begitu saja, meninggalkan Clara yang menatap kepergian adiknya.
Ada apa ini? Kenapa seolah-olah dia hidup sangat menderita? Aku harus mencari tahu!
Kelas mengajar selesai. Clara bersiap-siap untuk pulang. Dia melangkahkan kakinya keluar kantor dosen. Saat melewati gedung olahraga, dia dikejutkan dengan suara rintihan seseorang. Clara mendekat ke arah gedung olahraga tersebut, namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Bu Clara!"
"Pak Bima."
Heran? Itu yang sekarang ada di otaknya. Bagaimana bisa tiba-tiba ada Pak Bima dibelakangnya. Clara sedikit menautkan kedua alisnya mencari sebuah jawaban.
"Anda sedang apa?"
"Tadi saya mendengar suara rintihan, Pak. Apakah Anda mendengarnya juga?"
"Ti-tidak. Saya tidak mendengarkan apapun!"
"Benarkah?"
"Saya memang tidak mendengarkan suara apapun, Bu! Sebaiknya Ibu pulang!"
"Baiklah."
Clara memutar tubuhnya pergi menjauh dari gedung tersebut. Dia jelas mendengar ada suara, tapi, Pak Bima bilang tidak ada. Ah, biarlah ...
Clara menunggu ojek online yang dipesannya tidak kunjung datang. Dia mendengus sangat kesal.
Sepertinya aku harus membeli motor ataupun mobil. Tapi jika aku membeli mobil, mau ditaruh di mana? Sedangkan rumah Sofia masuk gang. Mungkin motor untuk saat ini cocok untukku!
Tin ... Tin ... Tin
Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Membuat dia sedikit terkejut. Seorang pria berkacamata hitam turun dari mobil tersebut.
"Bu Clara belum pulang?" tanya pria itu. Setelah kacamatanya dilepas ternyata Fabyan.
"Pak Fabyan." Entah kenapa jika berdekatan dengannya detak jantungku mau copot.
Sebaiknya aku periksakan ke Dokter? Tapi Dokter apa yang bisa mengobati jantung yang akan copot? Apakah ada Dokter yang seperti itu?
Hahhhhhhh ...
"Bu Clara!" panggilnya lagi.
"Eh, Pak Fabyan."
"Bu Clara, sedang menunggu angkutan?"
"Saya sedang menunggu ojek online, Pak. Tapi nggak datang-datang!"
"Oh, begitu. Kalau memang lama biar saya antar saja!"
"Nggak usah, Pak. Saya nggak mau merepotkan Bapak!"
Berhadapan saja jantungku sudah berdetak kencang, apalagi kalau berlama-lama di dalam mobil. Aku bisa mati karena penyakit jantung.
Clara menyeka keringatnya lagi!
"Beneran nggak mau?"
"Iya, Pak. Kasihan juga nanti Abang ojeknya, sudah dipesan malah dibatalkan!"
"Baiklah kalau begitu!"
"Sepertinya ibu bukan orang sini ya?"
"A-pa?" wajah Clara nampak pias.
"Terlihat dari dialeknya, Ibu bukan orang sini!"
Hahahaha ...
Aku hanya tersenyum kecut!
"Saya memang bukan orang sini, Pak!"
"Iya, Sudah. Saya pulang duluan, sampai jumpa lagi!"
"Iya, Pak."
Ihhhhhhhh. Bikin deg-degan saja!
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
dri tdi sllu bilang..aku harus mencari tau..nyatanya ko belum mulai nyari taunya
2024-07-22
2
Firman Firman
lnjut
2024-06-28
0
Osie
fabyan dekan kali ya thor..krn mainnya di fakultas..rektor kan jarang ketemu dosen..palingan kalau dosen ke biro rektor baru dah bs ketemu rektor..maaf ini thor..rektor itukan bos sebuah kampus yg melingkupi beberapa fakultas kan/Pray//Pray/
2024-02-23
0