Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal

Clara berjalan melewati perkampungan kumuh, dengan padat penduduk. Dia membutuhkan kos-kosan untuk sekarang ini. Tempat untuk berteduh. Dari panas dan hujan.

Panas terik matahari, membuat ia sedikit berkeringat. Dia seka peluhnya dengan tangan, dan mengipas-ngipas dirinya. Cuaca hari ini sangatlah panas.

Clara bingung, dimana dia harus mencari tempat tinggal.

"Bu, air mineralnya!"

"Ini, Neng!" seorang penjual air mineral menyodorkan air minum ke arah Clara. Clara duduk di bangku kayu. Sambil menenggak air minum, dia mengamati daerah sekelilingnya.

"Kejarrrrrr!"

Segerombolan anak muda saling mengejar. Baku hantam tidak terelakkan lagi. Ada yang membawa kayu. Membawa spatula. Membawa tutup panci. Ada juga yang membawa galon dan peralatan dapur lainnya.

Tutup panci dan galon beterbangan. Spatula juga tidak tinggal diam. Apalagi kayu. Mereka memiliki peran masing-masing untuk mengalahkan lawan.

"Serbuuuuuuuu!" seru seorang pemuda.

"Ayo hajar!"

BUGH ...

BUGH ...

BUGH ...

BRAKK ...

BRAKK ...

"Auw," pekik gadis cantik. Tubuhnya terdorong, dan dia terjungkal ke belakang. Dari arah belakang, seorang wanita akan memukulkan kayu ke arah gadis itu.

Dari arah jauh, Clara melihat kejadian tersebut. Dia menendang pot yang ada di dekatnya. Mengenai tangan wanita yang hendak memukulkan benda tumpul ke arah gadis itu. Gadis itu berlari entah kemana. Segera Clara mendekat. Membantu gadis itu berdiri. Mengulurkan tangannya.

Sofia!

"Bukankah kamu mahasiswi Universitas Panca Bhakti?"

"Bu Dosen!" wajah Sofia sedikit terkejut. Ternyata yang menolongnya adalah dosennya sendiri.

"Bagaimana kamu bisa ... !" belum menyelesaikan kalimatnya. Sofia menarik tangan Clara untuk menjauhi kerumunan itu.

"Yang dikeroyok itu teman-teman kamu!" Sofia mengangguk, "Bukannya mereka juga kuliah di sana!" Sofia hanya tersenyum.

Astaga! Ternyata Sofia ada di gerombolan itu. Apa yang dia lakukan?

"Berhenti!" teriak Clara. Berusaha menghentikan perkelahian antar mahasiswa. Dan sebagiannya adalah mahasiswanya sendiri, dan setengahnya, entah dari Universitas mana. Clara tidak begitu tahu.

"Kalau kalian tidak berhenti, saya akan melaporkan ini pada Polisi. Saya seorang dosen dari Universitas Panca Bhakti. Jadi tidak sulit bagi saya untuk melaporkan kalian semua kepada pihak yang berwajib!" gertaknya.

Seketika mereka berhenti. Anak muda yang merasa takut karena gertakan sambel dari Clara, mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Urusan polisi pastilah akan berbuntut panjang. Dan mereka tidak mau itu terjadi.

"Kenapa Anda menghentikan kami, Bu?" bentak seorang pemuda. Clara menoleh ke arah mahasiswanya.

"Iya, Benar," jawab mereka serempak berusaha untuk menyalahkan Clara.

"Hey, Aku ini dosen kalian. Apakah tidak bisa kalian lebih menghormati ku?" serunya.

"Apakah dengan melakukan tawuran seperti ini, orang tua kalian bangga dengan perbuatan kalian?" teriak Clara lagi.

"Ibu tahu apa tentang kami? Jika ibu nggak tahu apa-apa, lebih baik Ibu diam!" bentaknya lagi.

"Rafael!" teriak Sofia, "Jangan begitu, bagaimanapun dia adalah dosen kita!"

"Lo takut?" Rafel tersenyum sinis, "Gue nggak takut! Cuma hanya dengan dosen cupu seperti dia, Gue nggak akan pernah takut!"

Prokkk ...

Prokkk ..

Horeeeee ....

Tepuk tangan mereka riuh.

"Rafael!"

"Ayo guys kita pergi dari sini!"

Sial! Mereka mengataiku Dosen cupu! Andai saja aku tidak sedang menyamar, aku cincang kalian semua!

Mereka semua meninggalkan tempat tersebut. Clara hanya melongo di tempatnya berdiri. Dia hampir tidak percaya, seorang mafia bisa dibentak oleh seorang bocah kemarin sore. Kemudian dia berusaha untuk menguasai dirinya.

"Maafkan teman-teman saya, Bu!" ujarnya.

"Siapa nama kamu?"

"Sofia, Bu!" Sofia merasa diintimidasi, "Bu, Tolong jangan laporkan hal ini kepada Rektor. Jika itu terjadi, Saya bisa diskors, Bu! Kalau saya diskors, Ibu saya akan sedih!"

"Lalu, kenapa kamu ikut-ikutan?"

"Karena .. ! E, itu!"

"Ayo jawab!"

"Karena pemuda yang tadi membentak ibu adalah pacar saya, Bu!" lirihnya sambil menundukkan kepalanya, "Saya hanya ikut-ikutan saja!"

Clara menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak tahu, kehidupan macam apa yang sedang adiknya jalani. Berpacaran dengan pria yang akan menghancurkan masa depannya sendiri.

Oh, Papa. Kenapa amanahmu begitu membuatku frustrasi? Andai saja Kau menyuruhku untuk menembak seseorang, itu tidak akan terlalu sulit bagiku, Pah!

"Wah, ibu sedang mencari tempat tinggal ya?" ucap Sofia tiba-tiba. Maniknya melirik ke arah tas yang dibawa Clara.

"Iya. Aku memang sedang mencari kontrakan!"

"Wah, kalau begitu kita berjodoh!" ujarnya sambil tersenyum, "Di rumahku ada kamar kosong. Jika ibu mau, Ibu bisa ngekos di rumah Sofia!"

"Punyamu?"

"Bukan. Punya Pak Rusli, tetanggaku. Pemiliknya tinggal dengan anak dan menantunya! Rumah itu dikontrakkan, dan Ibu Sofia yang mengontraknya."

"Oh, Aku kira milikmu!"

"Untuk makan saja susah. Bagaimana kami bisa memiliki rumah?" gelaknya, "Rumahnya cukup besar. Ada tiga kamar. Dan kamar atas kosong. Ibu bisa

tinggal di sana! Bagaimana?"

"Ehm." Clara pura-pura sedang berpikir.

"Baiklah."

"Tapi, Ibu harus janji!"

"Janji apa?"

Ck, rupanya anak ini mengajak ku bernegosiasi!

"Ibu tidak boleh menceritakan kejadian hari ini pada Ibuku!" pintanya.

"Deal. Aku tidak akan mengatakan kepada ibumu!"

"Janji!"

"Ish, iya janji!"

Mereka berdua pun berjalan beriringan melangkahkan kakinya melewati gang-gang kecil. Kumuh. Itulah yang dirasakan oleh Clara. Jalannya becek, kotor dan bau. Clara sampai menutup hidungnya, mencium aroma tidak sedap pada sampah yang berserakan di sisi jalan besar itu.

"Masih jauh?"

"Iya, Bu!" sahutnya.

Melewati beberapa rumah saja, sudah sampai di depan rumah yang sangat, sangat sederhana. Dengan teras yang sempit. Apalagi ruangan di dalamnya.

"Kamu bilang masih jauh?"

"Hehehe. Maaf, Bu. Ini rumah saya!"

Benar-benar anak ini! Menyebalkan sekali!

"Ibu!" panggilnya.

"Sofia! Kamu sudah pulang? Tumben jam segini sudah pulang!"

"Eh, siapa wanita cantik ini?" Clara tersenyum manis.

"Oya, Bu. Ini dosen baru di kampus Sofia. Namanya Bu Clara!"

"Wah, cantiknya!" Clara mencium punggung tangan wanita itu. Wanita separuh baya itu, mengusap rambutnya lembut. Butiran kristal terus menetes di sudut matanya. Dia tidak menyangka, jalannya dipermudah untuk bertemu orang yang dicarinya.

"Bu Clara sedang mencari tempat tinggal, Bu!" Bergegas Clara mengusap buliran bening itu.

"Oh." Wanita separuh baya itu membulatkan bibirnya.

"Bukankah kamar atas kosong, Bu!"

"Tapi ... !" belum selesai meneruskan kalimatnya, Sofia menggandeng ibunya untuk menjauh dari Clara.

"Kita sewakan saja, Bu. Uangnya lumayan, untuk tambah-tambah uang belanjaan Ibu!" bisik Sofia. Wanita paruh baya itu nampak sedang berpikir.

"Baiklah."

"Jadi, Bu Clara butuh kamar?"

"Iya, Bu!"

"Panggil saja Laura."

"Ah, nggak enak. Masa saya hanya panggil nama. Saya panggil Bu Laura!"

"Ah, Bu Clara bisa saja. Masa panggil saya Bu. Padahal saya ini sudah tua," gelaknya.

"Ehm, Ibu bisa panggil saya Clara saja. Lagian saya dan Sofia juga jarak usianya tidak terlalu jauh!"

"Ah, Bisa saja! Masa saya harus panggil dosen anak saya dengan panggilan namanya saja! Nggak sopan nanti!" kekeh Laura, "Saya panggil Neng saja ya!"

"Iya, Sudah terserah Ibu saja!"

"Saya bersihkan kamarnya dulu!"

"Nggak usah, Bu. Biar saya saja yang membersihkannya!"

"Ah, nggak apa-apa. Biar kami saja!"

Secara bersama-sama mereka bertiga membersihkan kamar tersebut. Bercanda dan tertawa, seperti keluarga bahagia. Inilah yang diinginkan Papanya. Clara masih merasa aneh, bagaimana bisa rumah adiknya tidak ada satupun foto sang Papa.

Apakah mereka benar adalah istri dan anak Papa? Aku harus mencari tahu!

To be continued ...

Terpopuler

Comments

Khoerun Nisa

Khoerun Nisa

JD keinget pilm India main hona si ram di utus ayah mencari adik dn istrinya klu kilasan blik si Clara nya adalah si ram nya haha

2024-07-22

2

Khoerun Nisa

Khoerun Nisa

prcaya egaknya wlu mafia kan emng bodoh tingkahnya mkanya di katain ma anak2 tunjukin dong ma tuh murid skill Mun hebat

2024-07-22

0

Mulan Jameela

Mulan Jameela

wah penasaran jadinya kakak Author

2022-09-27

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2 Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3 Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4 Bab 4 : Clara Lunoks
5 Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6 Bab 6 : Kabar dari Sane
7 Bab 7 : Kembali Mengajar
8 Bab 8 : Mencari Rafael 1
9 Bab 9 : Mencari Rafael 2
10 Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11 Bab 11 : Mengulik Informasi
12 Bab 12 : Motor Baru
13 Bab 13 : Tentang Rafael
14 Bab 14 : Tamu tak Diundang
15 Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16 Bab 16 : Kabar Kematian
17 Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18 Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19 Bab 19 : Dosen Cabul
20 Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21 Bab 21 : Empat Begal
22 Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23 Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24 Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25 Bab 25 : Tentang Bastian
26 Bab 26 : Penjahat Kelamin
27 Bab 27 : Eksekusi
28 Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29 Bab 29 : Penyerangan
30 Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31 Bab 31 : Tugas Dari Clara
32 Bab 32 : Mafia Liar
33 Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34 Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35 Bab 35 : Kencan 1
36 Bab 36 : Kencan 2
37 Bab 37 : Numpang Promo
38 Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39 Bab 39 : Kepergian Clara
40 Bab 40 : Perasaan Kecewa
41 Bab 41 : Finlandia
42 Bab 42 : Kekesalan Hati
43 Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44 Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45 Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46 Bab 46 : Penyerangan
47 Bab 47 : Clara anakmu
48 Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49 Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50 Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51 Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52 Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53 Bab 53 : Latihan Dansa
54 Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55 Bab 55 : Perkenalan
56 Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57 Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58 Bab 58 : Mendapat Restu
59 Bab 59 : Isi Hati Shane
60 Bab 60 : Di Begal
61 Bab 61 : Acara Lamaran
62 Bab 62 : Hari Pernikahan
63 Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64 Bab 64 : Malam Pertama 1
65 Bab 65 : Pesta Dansa
66 Bab 66 : Martin mati Kutu
67 Bab 67 : Malam Pertama 2
68 Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69 Bab 69 : Penculikan
70 Bab 70 : Mafia Queen 1
71 Bab 71 : Queen Mafia 2
72 Bab 72 : Queen Mafia 3
73 Bab 73 : Mencari Clara 1
74 Bab 74 : Mencari Clara 2
75 Bab 75 : Kedatangan Niko
76 Bab 76 : Promosi
77 Bab 77 : Mencintaimu
78 Bab 78 : Honey Moon 1
79 Bab 79 : Honey Moon 2
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Pembantaian (Tahap Revisi)
2
Bab 2 : Mendadak Dosen ( Proses Revisi)
3
Bab 3 : Mencari Tempat Tinggal
4
Bab 4 : Clara Lunoks
5
Bab 5 : Hari Pertama Mengajar
6
Bab 6 : Kabar dari Sane
7
Bab 7 : Kembali Mengajar
8
Bab 8 : Mencari Rafael 1
9
Bab 9 : Mencari Rafael 2
10
Bab 10 : Aksi Penyelamatan
11
Bab 11 : Mengulik Informasi
12
Bab 12 : Motor Baru
13
Bab 13 : Tentang Rafael
14
Bab 14 : Tamu tak Diundang
15
Bab 15 : Siapa yang berbicara dengan Clara?
16
Bab 16 : Kabar Kematian
17
Bab 17 : Pertemuan Anggota Klan
18
Bab 18 : Penyelidikan Polisi
19
Bab 19 : Dosen Cabul
20
Bab 20 : Siapa Tiga Saudara itu?
21
Bab 21 : Empat Begal
22
Bab 22 : Rumah Mewah Fabyan
23
Bab 23 : Party Ke-tiga Bersaudara
24
Bab 24 : Kepergian Tiga Bersaudara
25
Bab 25 : Tentang Bastian
26
Bab 26 : Penjahat Kelamin
27
Bab 27 : Eksekusi
28
Bab 28 : Ajakan Makan Malam
29
Bab 29 : Penyerangan
30
Bab 30 : Cerita Masa Lalu
31
Bab 31 : Tugas Dari Clara
32
Bab 32 : Mafia Liar
33
Bab 33 : Perasaan Apa ini?
34
Bab 34 : Tak Bisa Tidur
35
Bab 35 : Kencan 1
36
Bab 36 : Kencan 2
37
Bab 37 : Numpang Promo
38
Bab 38 : Fakta Yang Terungkap
39
Bab 39 : Kepergian Clara
40
Bab 40 : Perasaan Kecewa
41
Bab 41 : Finlandia
42
Bab 42 : Kekesalan Hati
43
Bab 43 : Tertangkapnya Bu Laura dan Sofia
44
Bab 44 : Apakah Kau cemburu?
45
Bab 45 : Pesan Dari Bastian
46
Bab 46 : Penyerangan
47
Bab 47 : Clara anakmu
48
Bab 48 : Markas Besar Black Rose
49
Bab 49 : Kehormatan Yang Terkoyak
50
Bab 50 : Perasaan Yang Menghangat
51
Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi
52
Bab 52 : Pasangan Menghancurkan
53
Bab 53 : Latihan Dansa
54
Bab 54 : Aku perkenalkan Kau!
55
Bab 55 : Perkenalan
56
Bab 56 : Bertemu Papa Bastian
57
Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu
58
Bab 58 : Mendapat Restu
59
Bab 59 : Isi Hati Shane
60
Bab 60 : Di Begal
61
Bab 61 : Acara Lamaran
62
Bab 62 : Hari Pernikahan
63
Bab 63 : Apakah kau mencintainya?
64
Bab 64 : Malam Pertama 1
65
Bab 65 : Pesta Dansa
66
Bab 66 : Martin mati Kutu
67
Bab 67 : Malam Pertama 2
68
Bab 68 : Apakah Benar Dia?
69
Bab 69 : Penculikan
70
Bab 70 : Mafia Queen 1
71
Bab 71 : Queen Mafia 2
72
Bab 72 : Queen Mafia 3
73
Bab 73 : Mencari Clara 1
74
Bab 74 : Mencari Clara 2
75
Bab 75 : Kedatangan Niko
76
Bab 76 : Promosi
77
Bab 77 : Mencintaimu
78
Bab 78 : Honey Moon 1
79
Bab 79 : Honey Moon 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!