Clara berjalan melewati perkampungan kumuh, dengan padat penduduk. Dia membutuhkan kos-kosan untuk sekarang ini. Tempat untuk berteduh. Dari panas dan hujan.
Panas terik matahari, membuat ia sedikit berkeringat. Dia seka peluhnya dengan tangan, dan mengipas-ngipas dirinya. Cuaca hari ini sangatlah panas.
Clara bingung, dimana dia harus mencari tempat tinggal.
"Bu, air mineralnya!"
"Ini, Neng!" seorang penjual air mineral menyodorkan air minum ke arah Clara. Clara duduk di bangku kayu. Sambil menenggak air minum, dia mengamati daerah sekelilingnya.
"Kejarrrrrr!"
Segerombolan anak muda saling mengejar. Baku hantam tidak terelakkan lagi. Ada yang membawa kayu. Membawa spatula. Membawa tutup panci. Ada juga yang membawa galon dan peralatan dapur lainnya.
Tutup panci dan galon beterbangan. Spatula juga tidak tinggal diam. Apalagi kayu. Mereka memiliki peran masing-masing untuk mengalahkan lawan.
"Serbuuuuuuuu!" seru seorang pemuda.
"Ayo hajar!"
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
BRAKK ...
BRAKK ...
"Auw," pekik gadis cantik. Tubuhnya terdorong, dan dia terjungkal ke belakang. Dari arah belakang, seorang wanita akan memukulkan kayu ke arah gadis itu.
Dari arah jauh, Clara melihat kejadian tersebut. Dia menendang pot yang ada di dekatnya. Mengenai tangan wanita yang hendak memukulkan benda tumpul ke arah gadis itu. Gadis itu berlari entah kemana. Segera Clara mendekat. Membantu gadis itu berdiri. Mengulurkan tangannya.
Sofia!
"Bukankah kamu mahasiswi Universitas Panca Bhakti?"
"Bu Dosen!" wajah Sofia sedikit terkejut. Ternyata yang menolongnya adalah dosennya sendiri.
"Bagaimana kamu bisa ... !" belum menyelesaikan kalimatnya. Sofia menarik tangan Clara untuk menjauhi kerumunan itu.
"Yang dikeroyok itu teman-teman kamu!" Sofia mengangguk, "Bukannya mereka juga kuliah di sana!" Sofia hanya tersenyum.
Astaga! Ternyata Sofia ada di gerombolan itu. Apa yang dia lakukan?
"Berhenti!" teriak Clara. Berusaha menghentikan perkelahian antar mahasiswa. Dan sebagiannya adalah mahasiswanya sendiri, dan setengahnya, entah dari Universitas mana. Clara tidak begitu tahu.
"Kalau kalian tidak berhenti, saya akan melaporkan ini pada Polisi. Saya seorang dosen dari Universitas Panca Bhakti. Jadi tidak sulit bagi saya untuk melaporkan kalian semua kepada pihak yang berwajib!" gertaknya.
Seketika mereka berhenti. Anak muda yang merasa takut karena gertakan sambel dari Clara, mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Urusan polisi pastilah akan berbuntut panjang. Dan mereka tidak mau itu terjadi.
"Kenapa Anda menghentikan kami, Bu?" bentak seorang pemuda. Clara menoleh ke arah mahasiswanya.
"Iya, Benar," jawab mereka serempak berusaha untuk menyalahkan Clara.
"Hey, Aku ini dosen kalian. Apakah tidak bisa kalian lebih menghormati ku?" serunya.
"Apakah dengan melakukan tawuran seperti ini, orang tua kalian bangga dengan perbuatan kalian?" teriak Clara lagi.
"Ibu tahu apa tentang kami? Jika ibu nggak tahu apa-apa, lebih baik Ibu diam!" bentaknya lagi.
"Rafael!" teriak Sofia, "Jangan begitu, bagaimanapun dia adalah dosen kita!"
"Lo takut?" Rafel tersenyum sinis, "Gue nggak takut! Cuma hanya dengan dosen cupu seperti dia, Gue nggak akan pernah takut!"
Prokkk ...
Prokkk ..
Horeeeee ....
Tepuk tangan mereka riuh.
"Rafael!"
"Ayo guys kita pergi dari sini!"
Sial! Mereka mengataiku Dosen cupu! Andai saja aku tidak sedang menyamar, aku cincang kalian semua!
Mereka semua meninggalkan tempat tersebut. Clara hanya melongo di tempatnya berdiri. Dia hampir tidak percaya, seorang mafia bisa dibentak oleh seorang bocah kemarin sore. Kemudian dia berusaha untuk menguasai dirinya.
"Maafkan teman-teman saya, Bu!" ujarnya.
"Siapa nama kamu?"
"Sofia, Bu!" Sofia merasa diintimidasi, "Bu, Tolong jangan laporkan hal ini kepada Rektor. Jika itu terjadi, Saya bisa diskors, Bu! Kalau saya diskors, Ibu saya akan sedih!"
"Lalu, kenapa kamu ikut-ikutan?"
"Karena .. ! E, itu!"
"Ayo jawab!"
"Karena pemuda yang tadi membentak ibu adalah pacar saya, Bu!" lirihnya sambil menundukkan kepalanya, "Saya hanya ikut-ikutan saja!"
Clara menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak tahu, kehidupan macam apa yang sedang adiknya jalani. Berpacaran dengan pria yang akan menghancurkan masa depannya sendiri.
Oh, Papa. Kenapa amanahmu begitu membuatku frustrasi? Andai saja Kau menyuruhku untuk menembak seseorang, itu tidak akan terlalu sulit bagiku, Pah!
"Wah, ibu sedang mencari tempat tinggal ya?" ucap Sofia tiba-tiba. Maniknya melirik ke arah tas yang dibawa Clara.
"Iya. Aku memang sedang mencari kontrakan!"
"Wah, kalau begitu kita berjodoh!" ujarnya sambil tersenyum, "Di rumahku ada kamar kosong. Jika ibu mau, Ibu bisa ngekos di rumah Sofia!"
"Punyamu?"
"Bukan. Punya Pak Rusli, tetanggaku. Pemiliknya tinggal dengan anak dan menantunya! Rumah itu dikontrakkan, dan Ibu Sofia yang mengontraknya."
"Oh, Aku kira milikmu!"
"Untuk makan saja susah. Bagaimana kami bisa memiliki rumah?" gelaknya, "Rumahnya cukup besar. Ada tiga kamar. Dan kamar atas kosong. Ibu bisa
tinggal di sana! Bagaimana?"
"Ehm." Clara pura-pura sedang berpikir.
"Baiklah."
"Tapi, Ibu harus janji!"
"Janji apa?"
Ck, rupanya anak ini mengajak ku bernegosiasi!
"Ibu tidak boleh menceritakan kejadian hari ini pada Ibuku!" pintanya.
"Deal. Aku tidak akan mengatakan kepada ibumu!"
"Janji!"
"Ish, iya janji!"
Mereka berdua pun berjalan beriringan melangkahkan kakinya melewati gang-gang kecil. Kumuh. Itulah yang dirasakan oleh Clara. Jalannya becek, kotor dan bau. Clara sampai menutup hidungnya, mencium aroma tidak sedap pada sampah yang berserakan di sisi jalan besar itu.
"Masih jauh?"
"Iya, Bu!" sahutnya.
Melewati beberapa rumah saja, sudah sampai di depan rumah yang sangat, sangat sederhana. Dengan teras yang sempit. Apalagi ruangan di dalamnya.
"Kamu bilang masih jauh?"
"Hehehe. Maaf, Bu. Ini rumah saya!"
Benar-benar anak ini! Menyebalkan sekali!
"Ibu!" panggilnya.
"Sofia! Kamu sudah pulang? Tumben jam segini sudah pulang!"
"Eh, siapa wanita cantik ini?" Clara tersenyum manis.
"Oya, Bu. Ini dosen baru di kampus Sofia. Namanya Bu Clara!"
"Wah, cantiknya!" Clara mencium punggung tangan wanita itu. Wanita separuh baya itu, mengusap rambutnya lembut. Butiran kristal terus menetes di sudut matanya. Dia tidak menyangka, jalannya dipermudah untuk bertemu orang yang dicarinya.
"Bu Clara sedang mencari tempat tinggal, Bu!" Bergegas Clara mengusap buliran bening itu.
"Oh." Wanita separuh baya itu membulatkan bibirnya.
"Bukankah kamar atas kosong, Bu!"
"Tapi ... !" belum selesai meneruskan kalimatnya, Sofia menggandeng ibunya untuk menjauh dari Clara.
"Kita sewakan saja, Bu. Uangnya lumayan, untuk tambah-tambah uang belanjaan Ibu!" bisik Sofia. Wanita paruh baya itu nampak sedang berpikir.
"Baiklah."
"Jadi, Bu Clara butuh kamar?"
"Iya, Bu!"
"Panggil saja Laura."
"Ah, nggak enak. Masa saya hanya panggil nama. Saya panggil Bu Laura!"
"Ah, Bu Clara bisa saja. Masa panggil saya Bu. Padahal saya ini sudah tua," gelaknya.
"Ehm, Ibu bisa panggil saya Clara saja. Lagian saya dan Sofia juga jarak usianya tidak terlalu jauh!"
"Ah, Bisa saja! Masa saya harus panggil dosen anak saya dengan panggilan namanya saja! Nggak sopan nanti!" kekeh Laura, "Saya panggil Neng saja ya!"
"Iya, Sudah terserah Ibu saja!"
"Saya bersihkan kamarnya dulu!"
"Nggak usah, Bu. Biar saya saja yang membersihkannya!"
"Ah, nggak apa-apa. Biar kami saja!"
Secara bersama-sama mereka bertiga membersihkan kamar tersebut. Bercanda dan tertawa, seperti keluarga bahagia. Inilah yang diinginkan Papanya. Clara masih merasa aneh, bagaimana bisa rumah adiknya tidak ada satupun foto sang Papa.
Apakah mereka benar adalah istri dan anak Papa? Aku harus mencari tahu!
To be continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
JD keinget pilm India main hona si ram di utus ayah mencari adik dn istrinya klu kilasan blik si Clara nya adalah si ram nya haha
2024-07-22
2
Khoerun Nisa
prcaya egaknya wlu mafia kan emng bodoh tingkahnya mkanya di katain ma anak2 tunjukin dong ma tuh murid skill Mun hebat
2024-07-22
0
Mulan Jameela
wah penasaran jadinya kakak Author
2022-09-27
0